
Pria yang memakai pakaian casual itu berjalan mendekati Vlora, berdiri di samping Vlora hingga Vlora memutar badan menjadi memunggungi Ozan. Ntah apa yang mereka bicarakan tapi, dari jarak yang tidak terlalu jauh ia bisa melihat kedekatan pria sial*n yang menyentuh rambut Vlora, bagian yang paling membuat darah Ozan mendidih adalah, pria itu menarik tirai jendela hingga menghalangi penglihatan Ozan.
"Siapa dia? Apa yang mereka lakukan di sana?" Ozan berteriak, memukul udara seolah melampiaskan amarah yang sudah menguasai dirinya.
"Selama ini aku mencari dan mengkhawatirkanmu. Tapi, kau bersenang-senang di pulau terkutuk ini! Lihatlah, apa yang akan aku lakukan nanti, Vlo!"
Ozan berlari menuruni anak tangga, mengabaikan dua pengawal yang memanggil namanya, membawa wajah bak seorang pembun*h ia keluar dari penginapan tidak sabar untuk secepatnya menghabisi pria sialan yang sudah menyembunyikan Vlora di pulau terpencil ini.
"Kau milikku, Vlo! Sampai kapanpun kau hanya milikku! Tempat terkutuk ini bukan rumahmu, tempatmu bersamaku, di sisiku, di apartmen kita!"
Pasir putih itu meninggalkan bekas telapak kaki Ozan, ia berjalan cepat menuju penginapan yang ditempati Vlora bersama pria yang ntah datang dari antah berantah mana. Ozan yakin Vlora miliknya, Ozan yakin ia mencintai Vlora sebab melihat Vlora berdua dengan pria lain berhasil membakar hatinya.
"Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Aku begitu nyaman dan tenang saat kau di depan mataku, Ck. Cinta, aku terlambat menyadarinya!"
Ozan menepis pikiran buruk yang datang tiba-tiba, ia yakin jika dirinya adalah satu-satunya pria yang pernah menyentuh Vlora.
***
Vlora menatap lautan yang terbentang luas di depan mata, deburan ombak melambai seakan memanggil untuk datang bermain air seperti sebelumnya. Sayangnya, Vlora merasa lelah hingga memutuskan untuk istrahat di kamarnya.
Vlora hanya ingin ketenangan, berdiam diri di mana tidak ada orang yang bisa melihat dan mengganggunya. Tidaklah mudah bagi Vlora melupakan malam itu, tiga bulan lamanya ia mencoba bangkit hingga perlahan hatinya mulai pulih.
"Kau di sini, Vlo?" Eric adalah pria yang membawanya ke tempat ini, pertemuan mereka di kafe waktu itu sudah menjelaskan hubungan mereka berdua, Erick menjamin kenyamanan dan keselamatan Vlora dan mamanya selama berada di sampingnya.
Vlora memutar badan ketika Eric berdiri di sampingnya. Kini, mereka saling bersitatap muka.
"Tempat ternyamanku," jawab Vlora, ia sudah percaya kalau Eric tidak seperti pria botak itu.
"Aku tahu, itu!" Eric menyingkirkan pasir putih yang menempel di rambut Vlora. "Selalu seperti ini," ucapnya tersenyum. "Aku punya sesuatu untukmu." Eric menutup jendela lalu mengajak Vlora ke ruangan yang lain.
***
Gaun pernikahan mewah dan elegan menarik perhatiannVlora, ia meraba butiran mutiara yang hampir memenuhi gaun rancangan designer ternama itu.
"Kau suka?" tanya Erick, ia sudah duduk di sofa memerhatikan Vlora yang hampir tidak berkedip.
"Gaun tercantik yang pernah kulihat." Vlora berbohong, padahal ia pernah mendapatkan gaun lebih cantik dari Ozan.
__ADS_1
"Apa undangannya sudah selesai?" Vlora mengalihkan pembicaraan tentang gaun yang membuatnya mengingat sosok Ozan yang menjengkelkan.
"Sempurna! Undangan, souvenir, kapal persiar, semua sudah siap. Hanya menunggu tanggal pernikahan." Erick terlihat bahagia.
Vlora tersenyum. "Hari itu akan datang seperti yang kita harapkan."
Percakapan Vlora dan Erick terhenti karena mendengar keributan dari luar. Suara itu tidak terlalu jelas tapi, Vlora yakin ada seseorang yang memanggil namanya.
Tanpa bicara apapun lagi, Erick bergegas mencari sumber suara diikuti Vlora dari belakang.
"Vlora! Keluarlah! Aku datang menjemputmu!" Ozan berteriak memanggil nama Vlora.
Rendahnya pengamanan membuat Ozan leluasa masuk tanpa ijin dari pemiliknya, ia menoleh ketika mendengar langkah kaki menuruni anak tangga.
"Di mana Vlora?" tanya Ozan tanpa basa-basi, ia tidak suka melihat pria yang tadi bersama Vlora.
Mendengar namanya disebut, membuat Vlora bergeming membiarkan Eric pergi seorang diri. Vlora memasang telinga di ujung anak tangga.
"Siapa kau? Apa seperti ini caramu bertamu, bung?" Eric berjalan santai memasukkan kedua tangan di saku celananya.
"Kedatanganku tidak untuk berbasa-basi. Aku datang menjemput Vlora! Sudah cukup kau sembunyikan Vlora dariku!"
"Menyembunyikan Vlora? Kau punya masalah dengan dia?" Erick berdecih. "Datanglah baik-baik tanpa emosi seperti ini!"
Ozan mengepalkan tangan, sejenak memejamkan mata, menarik nafas berusaha menetralkan emosinya
"Baiklah, sudah tiga bulan lamanya aku mencari Vlora.Panggilkan Vlora sekarang juga? Ada yang ingin aku luruskan padanya!"
"Sayangnya, Vlora tidak mau bertemu dengan siapapun!" seru Eric.
Cukup sudah! Kesabaran Ozan sudah mulai menipis, tangan kirinya mencengkram kaos Eric sementara tangan kanannya sudah melayang di udara.
"Berhenti!" teriak Vlora, ia sudah berdiri di lantai dasar tepat di belakang Eric, ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Ozan.
"Vlo ...." Ozan mendekati Vlora, ia lega melihat Vlora di depan mata, Ozan memerhatikan Vlora dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Syukurlah kau baik-baik saja."
Vlora hanya diam menatapnya.
__ADS_1
"Bicaralah, kenapa diam saja? Kau tidak senang bertemu denganku?"
Ozan meraih tangan Vlora tapi, Vlora menepis tangannya.
"Kenapa? Aku mau mengajakmu pulang."
"Kemana?" tanya Vlora, raut wajahnya masih datar tanpa ekspresi. "Apa Tuan mengenalku?"
Semangat yang tadinya menggebu runtuh seketika, Ozan merasa saat ini dunia menimpa tubuhnya, terhimpit dan akhirnya menyatu dengan tanah.
"Kau bercanda? Aku Ozan, setelah apa yang kita lalui bagaimana bisa kau melupakan aku?"
"Tapi kenyataannya aku memang tidak mengenal Anda. Keluarlah, jangan buang waktu kami di sini!" Vlora menunjuk pintu yang masih terbuka lebar.
"Kau dengar, Vlora tidak mengenalmu!" Eric menimpali, kemudian ia mendekati Vlora. "Silahkan tinggalkan kami, Ozan."
"Diam!!" sentak Ozan, wajahnya memerah, rahangnya mengeras. "Kau jangan ikut campur!" tunjuknya pada Eric.
Vlora menjatuhkan tangan Ozan. "Apa Anda sengaja datang mencari masalah dengan kami?" Detik itu juga ia mendorong punggung Ozan.
Ozan masih mencerna ucapan Vlora, tubuhnya yang seakan lemas memudahkan wanita ini membawanya sampai ke luar.
"Pergilah, jangan ganggu aku dan calon suamiku!" ketus Vlora.
"Calon suami?" Ozan menarik pergelangan tangan Vlora. "Kau tidak bisa menikah dengan pria lain. Ingat, aku yang sudah merenggut semuanya darimu. Kau lupa apa yang sudah kita lakukan?"
"Ozan, lepaskan!"
"Terus sebut namaku, agar kau ingat malam itu!" Dengan satu tangan yang bebas, Ozan meraba perut Vlora. "Bisa saja benihku sudah tumbuh di dalam rahimmu!"
"Tutup mulutmu, Ozan! Benih siapa? Aku tidak mengandung anakmu!"
Ozan melepaskan tangan Vlora, harapannya kian hancur mendengar Vlora tidak mengandung anaknya. Kalau sudah seperti ini, bisa saja Vlora akan semakin menjuhinya.
***
Hasil ketikan berapa hari terhapus😔
__ADS_1
Jangan lupa jempolin