Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Mengulik Rahasia


__ADS_3

"Selalu begini, wanita itu masih tidak mau mendengarkan aku." Mark geram dibuatnya. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan keselamatan Sella, ntah mengapa hatinya selalu tertuju pada wanita itu. Khawatir Sella akan menjadi korban berikutnya. Mark yakin jika pria bertato yang membawa Sella adalah Nico calon kakak iparnya sendiri.


Pertanyaan besar muncul di kepal. Kenapa Nico mengincar Sella?


Mark meminta Ozan mengejar pelaku lalu menyutuh anak buahnya yang ada di Villa mengantarkan beberapa botol minuman untuknya.


Aroma wangi shampo yang dipakai Kate sudah mengisi ruangan, membuat Mark menoleh ke pintu kamar mandi yang sudah terbuka lebar.


Dilihatnya Katerine sudah berdiri di ambang pintu, rambutnya yang setengah basah semakin terlihat menggoda. Wanita itu tidak berhenti menunjukkan senyuman manisnya.


"Kau menungguku, sayang?" Kate melangkah bak seorang model yang melenggak-lenggokkan pinggulnya. Ia berjalan seraya membuka handuk putih yang tadi melilit di tubuhnya dan kini tubuh wanita itu terpampang nyaris tanpa busana.


Mark terkejut dengen apa yang dilakukan Kete, sebagai pria normal tentu ia tergoda dan sangat ingin menyentuh Kate yang hanya memakai ****ng dan kain penutup dada yang sintal dan sexy itu.


"Kau sudah selesai?" Mark tersenyum dan mengulurkan tangan. "Kemarilah! Duduk di pangkuanku." Mata Mark tidak sedikitpun lepas dari Kate.


Kate tersenyum senang menerima uluran tangan Mark, ia duduk di pangkuan Mark dan berbisik. "Jadikan aku milikmu, sekarang juga." Kate mencium cengkuk leher Mark dan mencium sekilas bibirnya.


Mark tidak lagi menolak, tangannya sudah mengelus punggung halus Kate, bahkan dada kate sudah menempel di dadanya yang bidang.


"Kau sangat menggoda, Kate. Aku suka kau yang liar seperti ini," ucap Mark setelah mencium pipi Kate.


Kate merona, bagaimana tidak? Selama mereka menjalin hubungan baru kali ini Mark bersikap manis padanya.


"Kau benar-benar suka?" Jemari Kate sudah bermain di rahang Mark, turun ke leher hingga perlahan membuka satu-per satu kancing benih kemeja Mark. Pria ini tidak mengelak bahkan, terkesan mengijinkan Kate melakukan apapun yang mau ia lakukan. Hingga akhirnya Kate berhasil membuka kemeja Mark dan menghempaskan kain itu ke sembarangan tempat.


"Aku mencintaimu, Mark...."


Mata Kate tampak sayu, tubuhnya tidak bisa diam, tangannya melingkar di leher Mark, mendekapnya hingga wajah Mark terbenam diantara dadanya. Kate semakin kepanasan ketika telapak tangan Mark mengelus pahanya yang putih.


Mark mengangkat kepala, membuat mereka saling memandang. "Kita mulai dari mana?" Mark menggoda dan menarik cengkuk leher Kate, jemarinya meraba bibir merah Kate.

__ADS_1


"Kau tidak pernah menciumku, kan?" Kate memegang tangan Mark dan menyatukan bibir mereka, hanya sebatas sentuhan. "Aku mau lebih dari ini." Kate meraba dada bidang Mark.


Mark tentu tahu kemana arah bicara wanita ini. Hanya saja ia mencoba mengulur waktu untuk tidak menyentuh Kate. Kate hampir menyatukan bibir mereka lagi tapi, bunyi bel mengejutkannya.


"Mengganggu saja," ucap Kate, ia kesal dan turun dari pangkuan Mark.


"Itu orangku, kau tunggulah di sini!"


Mark beranjak dan membuka pintu. Tidak butuh waktu lama, pria ini sudah kembali membawa tiga botol minuman keras kualitas terbaik yang pernah ada. Mark mengambil dua gelas di pantry kemudian kembali duduk di samping Kate.


"Jangan buru-buru, sayang. Kita nikmati hari ini." Mark membuka tutup botol dan menuangkan isi di dalamnya. "Bersulang untuk menyambut hari pernikahan kita."


Kate menerima gelas berisi minuman dari Mark. "Kau memang tidak bisa ditebak!" Kate tertawa dan mulai meresapi minumannya.


"Kau pernah minum ini sebelumnya?" tanya Mark.


"Ntahlah ... tapi kepalaku sedikit pusing," jawab Kate, pandangannya terasa buram, melihat Mark pun seperti terbelah menjadi lima.


Kate tidak bisa menolak ucapan Mark, hingga ia meminumnya lagi dan lagi. Tubuh Kate panas tidak karuan, ia bangkit dan kembali duduk di pangkuan Mark.


"Apa yang kau berikan padaku, Mark?" Kate bersandar di dada bidang Mark, memejamkan mata ketika tangan Mark mengel us pahanya, menikmati sentuhan yang jarang ia rasakan dari Mark.


"Bukan apa-apa." Mark mengangkat dagu Kate, memerhatikan wajah sayu yang hampir mabuk kemudian merampas bibir Kate tanpa ijin, untuk sesaat bibir keduanya saling berpagutan, hingga Mark menyudahinya.


Kate sangat terbuai dibuatnya, ia menuntut agar Mark melakukan hal yang lebih dari ini.


"Lagi?" tanya Mark, Kate mengangguk kemudian Mark menggendong dan membawa Kate ke kamar pribadi milik wanita ini dan perlahan merebahkan Kate di sana.


Kate sudah hampir memejamkan mata, aroma maskulin dari tubuh Mark tidak mampu ia tolak. Pria itu berada tepat di atasnya, meraba wajah dan permukaan kulitnya.


"Kita akan menikah, aku tidak mau ada rahasia diantara kita, Kate," ucap Mark lembut setelah mengecup kening Kate.

__ADS_1


"Aa-ku tiidaak memeraahasiakan apapuuun darimuuu," jawab Kate setengah mabuk.


"Benarkah? Lalu apa yang terjadi dengam Olivia dulu?"


"Aaku tidak tauuu. Terakhir kali dia perrgi dengaan Kak Nico." Kate yang setengah sadar menarik Mark hingga pria ini berbaring di sampingnya.


Kini, keduanya saling menatap, Kate mendadak kedinginan, ia semakin memeluk Mark dan mencari kehangatan di sana.


"Apa lagi yang kau tahu tentang Nico?" Mark tau ucapan orang mabuk tidak bisa dipercaya tapi, terkadang mereka bicara apa adanya. Mark berusaha mengulik rahasia yang selama ini disembunyikan Nico.


"Ntahlah ... tapi, dia punya rahasia besar di restorannya...."


"Restoran?"


"Hmmmm ada ruang bawaaahh tanaahh di sannna. Aku dengar dijadikaaan klub malam tidak semuua oraang bisaa masuuk ke sana. Kau harus punyaa kartunya."


Kate ngelantur dan sudah hampir tidak sadarkan diri.


"Kartu apa?" Mark menepuk pelan pipi Kate,.agar wanita itu tetap menjaga kesadarnnya.


"Ada di sanna akuu mencurinya dari Kak Niko!" Kate menunjuk kesembarangan arah.


"Kau jangan datang ke tempat itu... di sana banyak jala*ng."


Mark mengepalkan tangan, ia khawatir Sella akan menjadi korban berikutnya.


"Tidak Kate, aku akan di sini bersamamu. Tidurlah Kate." Mark membelai wajah Kate sampai wanita ini tertidur pulas, tidak lupa menyelimuti tubuh Kate lalu mulai mencari kartu yang dimaksud wanita itu.


Lemari menjadi sasaran utama Mark, masih betelanjang dada ia menggeledah isi di dalamnya. Tidak sia-sia Mark memasukkan obat tidur di dalam minuman Kate hingga wanita itu tidak menuntut lebih darinya. Meskipun awalnya Mark benar-benar tergoda tapi ia masih bisa fokus pada rencana. Mengulik informasi dari Kate.


"Akhirnya!" Chips berwarna hitam itu sudah berada di tangannya. Mark tidak mau membuang waktu ia pun pergi dari apartmen Kate

__ADS_1


__ADS_2