Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Mimpi Jadi Nyata


__ADS_3

"Aku merindukanmu, Mark ... Aku mencintaimu." Rosella memeluk dan mendekap dari belakang, menangis dan menyandarkan kepala di punggung yang masih kokoh ini. "Jangan pergi lagi, aku membutuhkanmu...."


Rasanya seperti mimpi yang sering datang dan menggangu tidur Rosella di malam hari di mana ia bisa memeluk, mendekap, merasakan kehangatan, menghirup wangi maskulin dari pria yang tidak pernah tergantikan, mimpi indah yang berakhir duka, setiap malam ketika ia membuka mata maka air mata selalu menyapa dan menemaninya.


Pelukan itu semakin erat karena Rosella sangat takut mimpi ini akan berakhir seperti yang sudah-sudah.


"Jika ini mimpi, aku tidak mau kembali ke dunia nyata, jika ini nyata aku tidak mau jauh darimu, tolong katakan kalau ini bukan mimpi."


Mark pun merasakan hal yang sama, sudah terlalu lama ia mendambakan pertemuan ini, Mark sudah siap jika Rosella menjauhinya lagi, tidak apa, asalkan dirinya masih bisa melihat Rosella. Tapi, hari ini justru berbeda, ketakutannya tidak beralasan. Sebab, wanita ini justru memeluknya sangat erat.


"Aku pun tidak mau semua ini berlalu," ucap Mark, suaranya pelan bahkan, nyaris tidak terdengar. "Tapi, aku bisa apa jika kau ingin mengakhirinya?" Sakit hati itu dirasakan lagi, membayangkan Rosella yang telah bersuami.


Tangan Rosella mulai mengendutur, mata yang sempat terpejam sudah terbuka sempurna. Rosella gagal mencerna apa yang diucapkan Mark, hingga ia berdiri tepat di depan Mark.


"Apa yang mau diakhiri kalau kisah kita belum dimulai Mark? Aku bahkan rela menunggumu sampai 1000 tahun lamanya, sampai aku mati dan sampai Tuhan menyatukan kita. Setelah apa yang sudah kita lewati kau masih tidak percaya kalau aku juga mencintaimu?" Sella memukul dada Mark.


Ucapan cinta yang dilontarkan Sella terdengar seperti syair terindah yang pernah di dengar Mark. "Kau bilang apa?" Mark sudah tidak bisa menahan bibir untuk tidak tersenyum.


Rosella berjinjit dan berbisik. "Aku mencintaimu seperti surat yang kau tulis untukku." Rosella bersemu merah, ia kembali berdiri tegak dan mengambil bunga mawar dari tangan Mark.


Mark pun tersenyum mengingat surat terakhir yang ia tulis untuk Rosella, manik matanya tidak berhenti menatap wajah Rose.


"Jadi kau belum menikah?" Mark hanya ingin memastikan status Rosella.


"Karena ini kau sengaja menghindar dan tidak menyapaku?"


"Kalian terlihat sangat dekat, pria itu bahkan menyentuh rambutmu. Aku saja tidak pernah melakukan itu padamu." Wajah Mark mulai cemberut, sepertinya ia mulai cemburu.


"Kau cemburu? Aku tidak menyangka, pria paling tampan di sekolah bisa jatuh cinta pada gadis paling cupu," celetuk Rosella.


"Kau mengejekku?" tanya Mark.

__ADS_1


"Tidak! Jelaskan, apa yang membuatmu jatuh cinta pada si culun itu." Rosella ingin menggoda dan mendengar langsung dari bibir Mark.


"Cinta tidak butuh alasan, semua terjadi begitu saja. Ketika mata polos itu menggetarkan hati ini, disitulah aku menyadari kalau aku sudah jatuh cinta padanya."


Rosella terharu mendengarnya. "Lalu kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?"


"Karena aku pengecut dan takut berakhir kecewa, Rose. Bukankah semua sudah aku tulis di surat itu?"


"Lalu kemana kau selama ini? Semua orang membicarakan kematianmu, meskipun aku tidak percaya apa kau tidak memikirkan perasaanku?"


"Terkadang, cinta bukan hanya membuat orang yang dicintai bahagia. Jika aku tidak sengaja menyakitimu dan membuatmu menunggu, itu karena waktu ingin menguji seberapa besar cinta diantara kita. Percayalah ... aku pun tidak mau ada jarak diantara kita, Rose."


"Kau janji tidak akan pergi lagi, Mark? Mulai hari ini berhentiah menduga-duga karena itu bisa menimbulkan kesalahpahaman diantara kita! Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Mark!"


Hening sesaat, Rosella dan Mark saling diam di bawah rintik gerimis yang mulai membasahi mereka.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Wajah Mark sudah terlihat lebih serius dari sebelumnya.


Rosella mengangguk.


"Aku tidak butuh pria sempurna untuk aku cintai, Mark. Tapi, aku butuh pria yang bisa melindungi dan rela mengorbankan nyawanya. Pria itulah yang sekarang berdiri di depanku, mau seperti apapun keadaanmu, aku akan tetap mencintaimu, Mark ... percayalah."


Rosella berlari dan memeluk Mark. "Kau benar, kita harus akhiri semua di sini. Akhiri kesalah pahaman yang ada di antara kita. Jadikan aku milikmu secepatnya, Mark. Aku tidak mau kita membuang waktu percuma."


Mark membelai rambut Rosella. "Kau yakin tidak akan menyesali keputusanmu?"


"Tidak, kalau perlu hari ini kita menikah." Rosella menarik diri dan memegang tangan Mark. "Ayo kita menikah!" ajaknya.


"Tunggu dulu!" Mark menahan tangan Rosella, tidak perduli saat ini hujan sudah semakin deras mengguyur mereka.


"Kenapa melihatku seperti itu?"

__ADS_1


Mark membelai pipi Rosella. "Kau kemanakakan tahi lalat di sini?" Mark hanya ingin menggoda Rosella, wajah Rosella sudah tampak kesal.


Rosella menepis tangan Mark. "Sengaja aku hilangkan supaya kau tidak bisa menangkapku!" Suaranya sudah naik satu oktaf.


Mark tertawa. "Meskipun begitu kau tidak bisa menipuku. Matamu ini tidak bisa berbohong. Mata indah ini berhasil mengalihkan duniaku." Mark menyubit pipi Sella terlalu gemas melihat wajahnya. "Sudahlah, ayo kita pergi." Ia menggandeng tangan Sella.


Rosella menepis tangan Mark, ia mundur tiga langkah dengan masih memegang mawar ia merentangkan tangan dan memejamkan mata.


"Kau ingat ini, Mark? Seperti surat yang kau tulis, bukan?" Rosella menengadahkan wajah seolah mengijinkan air hujan membasahinya.


Mark tersenyum dan berjalan pelan mendekati Rosella, posisi mereka persis ketika masih di SMA dulu. Bedanya kini, hubungan mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih. Tanpa bicara apapun, Mark memegang dagu Rosella dan mencium bibirnya, sontak apa yang dilakukan Mark, membuat Sella terkejut dan membuka mata namun, ia tidak memberontak malah menikmatinya. Sella sadar, semua ini bukanlah mimpi belaka. Melainkan, mimpi yang jadi nyata.


Rasanya tetap sama, Mark masih ingat rasa manis dari bibir wanita yang ia cintai. Kini, Mark tidak perlu khawatir Rosella akan memberontak lagi dan Mark akan memastikan tidak akan ada seorangpun yang bisa mengganggu atau mengambil Rosella darinya.


***


Sementara itu di lain tempat. Seorang wanita paruh baya terlihat fokus memerhatikan beberapa foto Mark di taman dengan seorang wanita, raut wajahnya tidak terbaca telinganya pun tetap mendengar apa yang dilaporkan dari pengawal yang tadi melihat Mark di taman tidak jauh dari rumah.


Disaat itu juga salah satu pelayan mengabarkan kalau Mark datang dengan seorang wanita. Keduanya masuk rumah dalam keadaan basah. Wanita ini pun bergegas ke ruang tamu.


"Kau sudah pulang, Mark? Kenapa pergi seorang diri?" Ia melihat gadis yang berdiri di samping Mark.


"Aku baik-baik saja, Mom!" Mark tertatih, dituntun Rosella mendekati mamanya.


Rosella sempat ragu masuk ke rumah mewah milik Mark karena merasa status sosial mereka sangat jauh berbeda. Tapi, Mark memaksa dan tetap meyakinkannya.


"Kalau begitu aku pulang, dulu!"


Belum sempat Mark memerkenalkan Rosella kepada mamanya, wanita ini justru sudah mau melarikan diri.


Mark dan mamanya saling melihat satu sama lain.

__ADS_1


***


Banyak typo besok direvisi, ya. Terima kasih kakak-kakak.


__ADS_2