
Bandara Internasional.
Pesawat baru saja mendarat dengan selamat di Bandara Kanada. Dua orang ini baru tiba dari Paris. Mereka sengaja datang diam-diam untuk memberikan kejutan pada Sella.
"Dokter, sekarang kita mau ke mana?"
Seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya, Jessy setia mengekori kemanapun Alexandre pergi. Jessy sengaja mengambil cuti agar bisa ikut Andre ke Kanada.
"Kita cari hotel terdekat saja." Pria ini bicara tanpa melihat Jessy, ia terlalu sibuk mengetik pesan di handphone dan berjalan menarik kopernya.
"Kenapa kita harus ke hotel? Dokter mau mesum?" Jessy merentangkan tangan menghalangi Andre. Pria yang memakai jaket kulit ini berdecih melihatnya.
"Pertama, jangan panggil aku dokter, kedua aku tidak mungkin mesum denganmu, ke tiga aku lelah dan sudah tidak sabar mau istrahat dan yang ke empat kita belum bisa bertemu dengan Sella karena ponsel wanita itu belum bisa dihubungi. Jadi, terserah kau mau ke mana!" Andre menyenggol bahu Jessy dan melewatinya begitu saja.
"Dokter tunggu aku! Maksudku Tuan Alexandre tunggu aku!!" Jessy meralat panggilannya, ia mengejar Andre yang sudah masuk ke dalam taxi. Jessy tahu Andre tidak akan macam-macam padanya karena pria itu sangat mencintai sahabatnya Sella.
Taksi yang mereka tumpangi sudah melesat di jalan raya. Jessy dan Andre duduk berdampingan di bangku belakang, Jessy memerhatikan bangunan-bangunan tinggi dari luar jendela. Sementara Andre masih mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan untuk Sella tapi, tidak ada satu pesanpun yang dibaca wanita itu.
"Apa kita ke perusahaan tempat Sella bekerja saja?" cetus Andre yang semakin tidak sabar berjumpa dengan wanita yang sudah ia anggap kekasih. Tujuannya datang ke Kanada bukan hanya untuk menemui Sella. Tapi, sekalian meninjau salah satu rumah sakit yang akan menjadi tempatnya bekerja.
"Perusahaan mana yang memerkerjakan karyawan di hari libur seperti ini? Ah, salah kita sendiri kenapa dari awal tidak bilang kalau mau datang ke Kanada!" Jessy menjadi kesal sendiri, ia melihat Andre. "Tuan benar, kita istrahat saja dulu!"
Akhirnya mereka tetap pada rencana, istrahat di hotel sampai bisa menghubungi Sella.
***
Di rumah sakit lain.
Kondisi Kate sudah mulai pulih, dokter sudah mengijinkannya meninggalkaan rumah sakait. Tapi, Kate tidak mau pulang kalau bukan Mark yang menjemputnya.
"Kakak sudah menyiapkan semuanya?" Wanita ini masih duduk di tempat tidur pasien, memegang benda pipih dan masih mencoba menghubungi Mark.
Niko yang baru datang pun setia menenangkan adiknya. "Sudah, para wartawan sudah menunggu di luar!"
__ADS_1
"Aku takut Mark tidak datang menjemputku, Kak! Aku mau semua berjalan seperti rencanaku. Aku mau Mark menepati janjinya, Kak!"
Melihat Kate seperti ini membuat kesabaran Niko semakin menipis. Haruskah ia berbuat kasar atau mengancam pria itu agar segera menikahi adiknya?
"Kau serahhkan saja padaku, Kate. Kau tahu, 'kan tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Apa pun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu, Kate."
Kate bahagia mendengarnya, apalagi pesan yang ia kirim untuk Mark sudah dibalas pria itu.
***
"Bagaimana perkembangan kasus Leon dan wanita itu?" tanya Mark setelah membalas pesan Kate.
"Polisi sudah mendalami jejak kriminal Leon. Leon juga didakwa atas dugaan penyelundupan obat-obatan dan minuman ilegal. Sedangkan, Samantha menikmati hasil kejahatannya."
"Benar-benar menjijikan! Pria kurang ajar itu sudah berani menyentuh Sella."
"Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Tuan? sekarang, Nona Sella sudah aman."
Ozan mengangguk paham, ia sudah berjanji akan setia dan rela melakukan apapun demi keamanan Mark.
"Ozan ...."
Mark menepuk pundak Ozan, wajahnya sudah mengetat tapi, matanya terlihat sendu.
"Iya, Tuan." Ozan merasa ada yang beda di diri Mark. Tapi, ia tidak bisa membaca dari raut wajahnya.
Mark menghela napas berat dan kembali berucap. "Kau harus tetap menjaganya, kalau terjadi sesuatu padaku, berikan kotak yang aku simpan di ruang bawah tanah."
Ozan tidak setuju. "Tidak, Tuan! Tidak akan terjadi apapun pada Tuan. Aku tidak akan memberikan kotak itu pada wanita itu. Tuan sendiri yang harus menjelaskan semuanya, Tuan!"
Mark tidak mengindahkan ucapan Ozan. Pria yang masih berdiri di depan pintu kamar tempat Sella dirawat hanya berkata. "Kotak itu sudah lama aku siapkan, dia akan tahu seperti apa perasaanku yang sesungguhnya. Aku hanya ingin menebus dosaku." Mark melangkah pelan menjauhi pintu.
.
__ADS_1
.
.
Para awak media memburu dan mengejar Mark ketika pria itu terlihat masuk ke rumah sakit. Tapi, Mark tidak sedikutpun merespon. Mark tetap melangkah panjang menjemput Kate sesuai pesan yang ia kirim sebelumnya.
Sesampainya di ruang Kate dirawat. Pria itu disambut pelukan hangat dari Kate. Bahkan, wanita ini tidak segan menciumnya di depan Nico dan beberapa anak buahnya. Untuk sesaat, Niko dan Mark saling melemparkan pandangan, bola mata keduanya seperti elang yang siap menerkam mangsa. Mark merekam apapun yang ada di diri Nico termasuk tato yang ada di tangan pria tersebut.
Mark tahu kalau pria ini sangat berbahaya. Berbahaya seperti dirinya hanya saja Mark masih punya nurani dengan tidak memperdagangkan manusia terutama menjadikan para wanita sebagai budak se**
"Kenapa di depan banyak wartawan yang mengejarku?" Mark bertanya ketika mereka sudah berjalan di koridor rumah sakit.
"Aku sengaja mengundang mereka," jawab Kate tanpa merasa bersalah.
"Untuk apa?" Kening Mark mengkerut menunjukkan garis-garis dengan jelas.
"Lihat saja, nanti." Kate mendekap dan bergelayut manja di lengan Mark.
Benar saja, begitu mereka keluar dari rumah sakit, kamera sudah menyambut mereka dan para wartawan sudah melontarkan pertanyaan yang mengejutkan Mark.
"Apa benar kalau minggu depan Anda akan menikahi Nona Kate, Tuan?" tanya salah seorang dari mereka.
"Apa Tuan tidak akan menunda pernikahan ini lagi?"
"Di mana acaranya akan berlangsung, Tuan?"
Mark dibikin pusing dengan pertanyaan yang menuntut jawaban darinya. Jika mengelak bisa saja Kate berulah dan mengakhiri hidupnya, atau yang lebih buruk Niko pasti tidak akan tinggal diam. Bukan dirinya yang akan dikejar melainkan orang-orang disekitarnya. Mark yakin saat ini Nico pasti mengawasi pergerakannya.
Tidak! Semua sudah terlanjur.
"Hmmm, ya!" jawab Mark singkat.
Siaran langsung itu disaksikan banyak orang termasuk Sella. Awalnya ia bosan di ruangan, sedangkan Mark sudah pergi beberapa jam yang lalu. Sella bingung mencari koper dan handponennya, Sella yakin Mark menyimpan benda miliknya di suatu tempat. Kini, ia dikejutkan dengan pengakuan pria yang tadi memberinya buket bunga tulip yang cantik. Pria itu menatap kamera didampingi wanita cantik yang terlihat sangat cocok menjdi istri Mark.
__ADS_1