Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Di mana istriku?


__ADS_3

Katerine tersenyum senang melihat ekspresi wajah Vlora yang terkejut dan ketakutan. Tidak sia-sia ia menculik keluarga supir Ozan dan mengancam nyawa anaknya. Ya! Selama ini Kate sengaja mengulur waktu dan mencari kelemahan Ozan. Setelah kepergian Mark ke Paris beberapa waktu yang lalu, tanpa sepengetahuan siapapun, Kate menekan supir Vlora dan melakukan kesepakatan dengannya.


Kate akan mengemblikan anak dan istrinya jika supir Ozan bisa membawa Vlora ke hadapannya. Kini, wanita itu sudah ada di depan mata.


"Mau apa kau?" Vlora masih memeluk putrinya, ia tidak mau menyerahkan anaknya kepada siapapun.


"Aku mau anakmu, Nyonya Ozan!" Katerine tertawa jahat, sudah lama ia menunggu saat-saat seperti ini dimana ia bisa membalaskan dendamnya. Mark atau Ozan harus merasakan kehilangan seperti yang ia rasakan.


"Kau tidak waras, Kate. Aku tidak akan pernah menyerahkan anakku pada siapapun!" teriak Vlora, ia berharap seseorang datang menolongnya.


"Kalian yang membuat aku tidak waras!!" sentak Kate tidak kalah sengit, ia menggerakkan tangan memberi perintah untuk mengambil anak Vlora secara paksa.


Dua orang berbadan kekar pun bergegas merebut anak Vlora.


Vlora meronta. "Tidak, berikan anakku! Kembalikan anakku!" Tangannya sudah dicekal sementara bayinya sudah berpindah tangan.


Supir Vlora hanya diam menyaksikan semuanya, jika ia melawan itu artinya ia menyerahkan nyawa anaknya.


Bayi yang tidak tahu apa-apa itu menangis tangan Kate. Namun, Kate tidak sedikitpun berusaha menenangkannya.


"Anakku menangis, kenapa kalian semua sekejam ini? Berikan anak itu padaku!! Kembalikan anakku!!!"


Vlora semakin histeris, ia masih meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman anak buah Kate.


"Kalian semua harus merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan! Mark dan Ozan rela melenyapkan nyawa kakakku untuk menyelamatkan wanita malam sepertimu! Lalu setelah itu mereka melupakan aku dan memilih menikahi ja*ang seperti kau dan Rosella itu!!"


Teriakan Kate membuat suara tangisan bayi itu semakin kencang dan memilukan. Melihat itu Vlora menangis dan memohon untuk dilepaskan.


"Tapi anakku tidak tahu apapun. Aku mohon kembalikan dia padaku. Jangan sakiti dia...."


"Untuk apa aku melakukan semua ini kalau harus mengembalikan anakmu lagi, huh?" Emosi Kate belum reda juga, dadanya naik turun mengikuti nafas yang tidak beraturan.


"Kau juga seorang wanita, Kate. Harusnya kau merasa iba melihat bayi itu menangis." Suara Vlora terdengar lirih, ia mencoba kompromi dan tidak mau memancing emosi Kate lagi.


"Perasaanku sudah mati semenjak Mark meninggalkanku. Bagiku Mark dan Ozan sama saja, mereka akan merasakan sakit yang sama jika aku melenyapkan kalian berdua!"


"Jangan! Aku mohon jangan anakku. Aku akan lakukan apapun termasuk menyerahkan nyawaku sendiri tapi, tolong lepaskan putriku. Biarkan dia hidup. Aku mohon!" Vlora semakin menangis mengkhawatirkan putri kecilnya.

__ADS_1


"Menarik ... sekali tepuk tiga nyawa yang aku dapat." Kate megelus pipi bayi mungil yang berada digendongannya, ia yang awalnya ingin melenypkan Vlora begitu saja kini berubah pikiran.


"Aku akan bermain-main denganmu, Ozan. Kau akan merasakan kehilangan yang lebih menyakitkan dari yang aku rasakan." Kate bicara pelan kepada bayi yang sudah mulai tenang di gendongannya.


Masih menggendong anak Vlora, kate membuka pintu mobil dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian ia berjalan bersandar di kap mobil dan menyuruh anak buahnya membawa Vlora ke hadapannya.


"Bawa dia!"


Demi anaknya, Vlora terpaksa menurut dan melangkah tanpa melawan atau bicara sepatah katapun.


"Lepaskan dia!"


Kini, kedua tangan Vlora sudah bebas.


"Putriku...." lirih Vlora ketika melihat wajah anaknya dari dekat.


"Diam atau aku habisi dia!" Kate mendorong Vlora sampai membentur kap mobil. Lalu ia menyerahkan kertas dan alat tulis untuk Vlora.


"Kalau mau anakmu selamat, tulis apa yang aku katakan! Jangan sampai air matamu jatuh membasahi kertas itu, kau paham??" teriak Kate lagi.


Vlora mengangguk dan menghapus air matanya. Vlora menulis seperti apa yang dikatakan Kate, hatinya pun terasa teriris membayangkan Ozan setelah ini.


"Bawa surat dan anak ini kepada Ozan. Ingat, kau jangan berani macam-macam karena putri, dan istrimu ada di tanganku!!" ucap Kate.


"Iy-iya Nyonya." Sopir Vlora pergi membawa bayi mungil itu tanpa ibunya.


***


Di kantor Ozan murka karena mendengar informasi anak buahnya yang kehilangan jejak Vlora. Padahal seharusnya istri dan anaknya itu sudah tiba di kantor tapi, sampai sekarang masih belum manampakkan dirinya. Bahkan supirnya pun tidak bisa dihubungi. Detik itu juga Ozan memerintahkan orang-orangnya menyebar mencari Vlora.


Pikiran Ozan semakin kalut khawatir ada ulah Kate dibalik semua ini. Ozan tidak bisa membayangkan apa jadinya bila wanita yang sudah menggantikan posisi Niko itu memang dalang dibalik hilangnya Vlora dan putrinya.


Ozan membuka laci dan mengambil pistolnya, ia menyembunyikan senjata itu dibalik jas hitamnya lalu keluar dari ruangannya.


Namun, belum sempat menekan tombol lift. Pintu mengkilap itu sudah terbuka menampakkan supir yang membawa Vlora dan seorang pengawal yang menggendong bayi mungilnya.


"Putriku...." Ozan menjadi lega, menggendong dan mencium putri kecilnya. "Kenapa kalian buat daddy cemas, sayang?" Bahkan suara Ozan masih bergetar.

__ADS_1


"Di mana Vlora?" tanya Ozan, ia tidak melihat Vlora di manapun.


"Tu-Tuan...Tuan tolong ampuni dan maafkan saya." Supir Ozan bersujud dan meminta maaf bahkan, ia sudah menangis seblum bertemu dengan Ozan.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" Wajah Ozan menegang lagi. "Ikut keruanganku!" Ozan berjalan cepat kembali ke ruangannya kemudian, meletakkan putrinya di dalam box bayi yang memang sengaja disiapkannya di sana.


"Bicaralah!" seru Ozan pada supir yang sudah membungkuk di depannya.


"Aku sudah berusaha mencegah nyonya tapi, tidak berhasil, Tuan."


"Apa maksudmu? Kalau bicara yang jelas!!" teriak Ozan, ia menarik kerah baju sopirnya. "Di mana istriku!!!"


"Nyonya, pergi dengan seorang pria dan


BUG!!!


"Tutup mulutmu! Istriku tidak seperti itu!" sentak Ozan ia memukul keras rahang supirnya, hingga jatuh di bawah kaki pengawalnya.


"Beraninya kau bicara omong kosong, huh!!" Suara Ozan menggema di ruangan itu sampai membuat putrinya menangis lagi


Ozan berusaha merdam emosi dan menenangkan bayinya sampai tertidur lagi.


"Tuan, aku menemukan mereka di tengah jalan tapi, Nyonya sudah tidak ada di dalamnya. Aku hanya menemukan surat ini, Tuan."


Pengawal yang tadi sempat kehilangan jejak ini menemukan mobil yang membawa Vlora melaju pelan diantara kendaraan lain, setelah supir menepikan mobilnya ia sudah tidak menemukan Vlora di dalamnya.


"Brengs*k! Di mana Vlora? Dia pergi ke mana??" Ozan gemetaran dan membuka lipatan surat yang bertuliskan tangan Vlora, seketika darahnya mendidih, matanya memerah, gemeretak giginya pun saling bersahutan.


"Cari dia! Bawa dia hidup atau mati kehadapanku!!!" Ozan murka, ia menghancurkan apapun yang ada di ruangan kerjanya, membuat tangisan putrinya terdengar lagi, Ozan tersadar dan menggendong putri kecilnya.


"Tenanglah, Nak .... ada Daddy di sini." Ozan mendekap dan mencium putri kecilnya.


***


🙄 Kok isinya konflik terus?


😣 Sesuai judul CINTA DI DALAM KEBENCIAN. Nggak panjang-panjang, kok hihihi.

__ADS_1


Jangan lupa jempolin.


__ADS_2