Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Membujuk


__ADS_3

Ozan tersenyum simpul lalu duduk di tepian tempat tidur. Untuk sesaat hanya ada keheningan diantara mereka. Masih dalam posisi duduk, Ozan meletakkan telapak tangannya di perut Vlora.


Vlora terkejut dan melirik tangan Ozan.


"Adakah kesempatan kedua untukku, Vlora?" tanya Ozan, suaranya terdengar bergetar.


Bukan hanya sekedar menempelkan telapak tangannya di perut Vlora, ia pun meraba dan menggerakkan jemarinya di sana. Ozan merasa sangat bahagia tidak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, sudut mata Ozan sudah mulai basah, menyesali waktu yang sudah terbuang percuma.


Vlora masih bergeming, jika mengikuti ego akan ia usir ayah dari anaknya, jika mengikuti hati ia tidak mau ayah dari anaknya pergi, jujur ada kehangatan di dalam hatinya ketika Ozan meraba perutnya, Vlora berpikir mungkin anaknya pun merasakan kehadiran ayahnya.


Usia kandungannya sudah hampir memasuki usia 11Minggu dan selama itu juga Vlora berjuang sendirian melawan lelah ngantuk mual bahkan terkadang menahan keinginan untuk membeli sesuatu yang tiba-tiba ia inginkan.


"Apa anakku menyusahkanmu?"


"Apa kehamilan ini mengganggumu?"


"Apa ada yang kau inginkan, Vlo?"


"Bicaralah, aku janji akan mengabulkan semua keinginanmu."


Ozan masih berusaha membujuk meskipun Vlora mengabaikannya tapi ia tidak mau beranjak dari duduknya Ozan tidak mau mengalah ataupun kalah semua yang ia lakukan karena mencintai Vlora dan anak mereka bahkan jika diperlukan Ozan akan berlutut dan memohon di kaki Vlora.


"Bicaralah, Vlo. Jika kau masih belum bisa menerimaku. Kumohon, demi anak kita setidaknya berpura-puralah menerima aku."


"Aku menginginkan kalian berada di dekatku. Jangan berpikir aku mendekatimu karena ada anakku di dalam rahimmu. Bahkan, sebelum aku tahu kau hamilpun, aku sudah seperti orang gila berjalan tanpa tau arah. Tapi, pikiranku hanya tertuju padamu."


Vlora terisak, air mata sudah membasahi bantalnya. Jujur, ia masih marah sama Ozan meskipun sebenarnya kebaikan pria ini lebih dari itu kesalahan di malam itu. Kata cinta yang dilontrkan Ozan berhasil menghapus kata yang menyakitkan di malam itu. Darah Vlora pun berdesir hangat.


Mendengar tangisan Vlora pun membuat hati Ozan tercubit. Bahkan, sudut matanya sudah mengeluarkan air mata. Ozan tidak tahu ternyata pengaruh Vlora begitu luar biasa di hidupnya.


Dengan lembut Ozan meraih bahu Vlora sampai menghadapnya, dilihatnya air mata sudah membasahi wajah Vlora. Ozan menggerakkan jemarinya menghapus air mata di pipi Vlora. Mata sayu Vlora masih menatap matanya.


"Jangan menangis ... air matamu terlalu berharga untuk dibuang. Maafkan aku, Vlora." Ozan menakupkan kedua tangannya, ia masih berusaha membujuk Vlora yang masih enggan bicara.


Meskipun begitu, Ozan tidak mau menyerah. Tanpa permisi dan tidak menghiraukan Vlora yang masih mengcuhkannya, Ozan mengecup perut Vlora dan mengajak calon anaknya bicara.


"Hey ... anakku. Kau bisa mendengar suaraku? Aku papamu. Papa yang terlambat menyadari kehadiranmu."

__ADS_1


"Maaf...."


Ozan menjeda ucapannya, tidak sanggup bicara sebab rasa bersalah masih bersarang di dada. Ozan meletkkan daun telinga di perut Vlora, hanya menempel tidak sampai menekan perut Vlora.


Sekuat tenaga Vlora menahan air matanya, menahan tangisan agar tidak pecah di malam yang sunyi. Jujur, baru sekarang ia melihat sisi lain di diri Ozan. Biasanya pria ini terlihat sangar, bermain dengan senjata, tidak segan menghajar musuh, tapi malam ini Ozan terlihat rapuh. Vlora bisa merasakan penyesalan dan ketulusan hati Ozan.


Vlora yakin kalau semua orang yang menghadiri pesta pernikahan Eric dan Sonya sudah membubarkan diri. Jika mereka mendengar tangisannya nanti pasti, mereka akan datang berbondong-bondong ke kamarnya.


Vlora memilih melipat bibir dan membiarkan Ozan melakukan apapun yang ia inginkan.


Ozan menyeka air matanya. Lalu kembali bicara. "Terima kasih sudah hadir di dalam rahim wanita yang aku cintai. Wanita luar biasa yang sudah mengubah hidupku. Aku sangat mencintai kalian dan ...."


Ozan mengecup perut itu lagi, mengelus dan bicara seperti berbisik. "Katakan pada ibumu untuk memaafkanku, hmmm."


Vlora tersenyum dan membelai rambut Ozan. Sentuhan itu membuat Ozan menegakkan punggung dan melihatnya.


Mereka saling bersitatap muka, tidak ada yang bicara namun, air mata Vlora sudah menjelaskan semuanya.


"Vlora...." Ozan meraih tangan Vlora dan menciumnya. "Maaf, aku tidak akan berhenti minta maaf.


Vlora terisak dan menggelengkan kepala.


Manik mata Ozan dan Vlora saling mengunci satu sama lain, keduanya menghirup oksigen yang sama, hembusan nafas pun menjadi bersatu.


"Terima kasih sudah memertahankan anak ini. Beri aku waktu dan kesempatan memerbaiki kesalahanku. Pulanglah, Vlo... ikut aku."


Mata itu masih saling mengunci dalam hingga akhirnya Vlora tersenyum dan mengangguk kecil.


Mata Ozan berbinar. "Sungguh? Kau mau pulang denganku?"


"Mungkin, anak ini ingin dekat dengan ayahnya," jawab Vlora.


Ozan mendekap Vlora sampai setengah badannya sudah hampir menimpa Vlora.


"Terima kasih, Vlora. Terima kasih sayang."


"Sayang?" Kening Vlora mengkerut bingung.

__ADS_1


Ozan menegakkan punggungnya lagi.


"Iya, sayangku. Kalian berdua sudah menjadi bagian utama di hidupku. Kau tidak berubah pikiran, 'kan?"


"Ntahlah," jawab Vlora membuang muka.


"Tidak, kau tidak boleh berubah pikiran. Malam ini juga akan aku kemasi barang-barangmu lalu besok pagi kita pergi dari pulau ini."


"Lalu?" tanya Vlora tanpa melihatnya.


"Lalu apa? Tentu saja kita akan menikah!"


Vlora melihat ozan lagi.


"Kau adalah wanita Ozan yang paling berharga. Tidak mungkin kita tinggal satu atap tanpa status yang jelas. Cintaku, hidupku, semuanya untukmu."


Ozan naik ke atas tempat tidur dan berbaring menghadap Vlora.


"Keluarlah, Ozan!"


"Tidak, aku mau tidur dengan calon istri dan anakku." Ozan memeluk Vlora.


"Tidak, turunlah!" Vlora menepis tangan Ozan.


Ozan tidak perduli, ia malah meraih selimut dan menutupi tubuh mereka.


"Hanya tidur. Tidak melakukan apapun. Aku sabar menunggu sampai hubungan kita diresmikan." Ozan meraih bahu Vlora hingga menempel di dadanya. "Tidurlah, sayang!" Ozan mengecup kening Vlora lalu memejamkan mata agar Vlora tidak mengusirnya lagi.


Vlora tersenyum menikmati pelukan Ozan. Pelukan yang pernah ia rindukan kini kembali ia rasakan. Mata yang tadinya pura-pura terpejam akhirnya larut dalam mimpi.


***


Iklan sedikit sajahhhhh


Ozan habis satu bab cuma untuk membujuk😅 pembaca bosan, tau😅. Biasanya 1 bab ada pagi, siang dan malam. Lah ini habis untuk membujuk hihihi.


Hampir lupa Ozan dan Vlora sudah berapa bab? Sudah 10 bab, 'kan? Takutnya kelebihan dan mentemen demo karena bosan😅. Sudah 10 bab atau masih kurang?

__ADS_1


Dahlah, paskan sampai 50 ya. Biar keraji up di KESEMPATAN KEDUA.


Jangan lupa jempolin juga Rey dan Oca. Makasih


__ADS_2