
"Aku pernah mencintai sekaligus membenci dalam waktu yang bersamaan. Sungguh, sangat menyiksa batinku."
***
"Lepas!" Ozan menarik tangannya dan tanpa sengaja mendorong Vlora hingga terjatuh di kolam renang.
Gaun putih itu terlihat mengambang di air yang dingin, bahkan melilit tubuh Vlora. Ntah berapa meter kedalamannya hingga Vlora sulit bergerak dan hampir tengelam.
"Vlo!" Wajah yang tadinya bengis kini berubah menjadi cemas. Ozan tahu Vlora tidak terlalu mahir berenang, detik itu juga ia menceburkan diri berusaha meraih Vlora.
Mark dan Rosella pun panik di tepian kolam renang. Mereka tidak menyangka akan ada keributan di tempat ini.
Vlora masih sempat terbatuk ketika Ozan meraih tangan dan merangkulnya, ia merasa tubuhnya lemas ditambah gaun yang ia pakai seperti semakin menariknya ke dalam.
Ozan bergerak cepat dan berusaha membawa Vlora ke tepi kolam, hingga berhasil membawa Vlora ke luar dari dalam sana. Orang-orang pun mengerumuninya termasuk Eric dan Sonya.
"Buka matamu, Vlo!" Ozan menepuk halus pipi Vlora, menekan dada guna melakukan pertolongan pertama namun, Vlora sama sekali tidak meresponnya.
Ozan pun semakin panik, ia menekan hidung Vlora kemudian memberi nafas buatan.
"Cepat selamatkan dia! Wanita ini sedang mengandung, Ozan!" celetuk Rosella tiba-tiba. "Kenapa kau ceroboh sekali?" Ingin rasanya Rosella mencabik-cabik wajah Ozan.
"Sayang tenanglah." Mark pun menenangkan Rosella.
"Laki-laki selalu payah dalam urusan percintaan. Kalian bisa melakukan pekerjaan apapun dengan sempurna. Tapi, menyangkut wanita ck...!" Rosella bersecak kesal dan mengkhawatirkan kandungan Vlora.
Mark memilih diam dan sadar kalau ia tidak akan bisa mengalahkan mulut bebek Rosella. Meskipun terkadang istrinya ini cerewet tapi Mark suka mendengar suara Rose.
Telinga Ozan berdengung, jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya gemetaran dan biji matanya membola sempurna.
"Mengandung?" Ozan mengesampingkan pertanyaan yang bersarang di kepala. Semampunya memberikan pertolongan untuk Vlora.
Vlora terbatuk dan mengeluarkan cairan dari mulutnya, kelopak mata yang sempat tertutup sudah mulai terbuka menunjukkan penglihatan yang sayu.
Ozan lantas memeluk dan mencium keningnya.
__ADS_1
"Kau berhasil membuat aku takut, Vlo," ucapnya lirih. Hatinya menjadi lega terlebih lagi ada harapan kalau janin itu miliknya.
***
"Kau baik-baik saja?" Rosella masuk ke dalam kamar di mana Vlora sudah terbaring di atas tempat tidur.
Petugas medis baru saja memeriksa kondisi Vlora dan janin yang ada di kandungannya. Hasilnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik saja.
Vlora tersenyum. "Ya. Terima kasih untuk baju hangatnya."
"Bukan apa-apa." Menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. "Aku mengacaukan semuanya. Aku kelepasan bicara sampai Ozan tahu tentang kehamilanmu ini. Maaf ya."
"Nyonya tidak salah. Aku tahu cepat atau lambat Ozan pasti akan menyadarinya. Tapi, tidak akan merubah apapun." Suara Vlora masih terdengar pelan dan lemah.
Rosella menggenggam tangan Vlora, sebagai seorang wanita ia bisa merasakan sakit hati yang dirasakan Vlora. Tapi, membiarkan Vlora menyendiri seperti ini bukanlah waktu yang tepat.
"Kau tau, Vlo ... aku sudah lebih dulu merasakan sakit lebih dari yang kau rasakan. Diperlakukan tidak adil, dianggap lemah, dianggap sebagai wanita ******* dan yang lebih menyakitkan adalah, pria yang aku cintai menjadi sumber masalah dalam hidupku."
Ada jeda sejenak, Rosella tersenyum membayangkan masa lalu.
Rosella menatap lekat mata Vlora.
"Tanpa aku sadari sebelumnya, pria yang aku benci justru rela mengorbankan nyawanya untukku. Terkadang, kita tidak tau seberapa besar cinta yang kita miliki jika, hubungan itu belum diuji. Begitu juga denganku, aku menyadari semuanya setelah aku hampir kehilangan dia. Beruntung, Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk bersama, aku harap, begitu juga denganmu Vlo. Aku tidak mau memuji pria itu. Karena aku yakin, kau tau lebih banyak tentangnya."
"Apa aku harus berikan kesempatan kedua untuknya?" Ntah mengapa Vlora menjadi takut menyesali keputusan menjauhi Ozan. Apa lagi anak ini membutuhkan seorang ayah. Ketika Ozan meraba perutnya saja sudah membuat hati kecilnya bahagia.
Sentuhan sederhana, namun membuatnya nyaman.
"Tidak ada salahnya, bukan?" Rosella membelai rambut Vlora. "Jangan takut, kau tidak sendirian. Akan aku beri dia pelajaran jika dia macam-macam dan menyakitimu."
Vlora tertawa lepas, beban pikiran yang selama ini ia pikul seakan menjadi musnah.
Sementara di luar kamar. Di ruangan lain.
Ozan terbengong mendengar penjelasan Mark. Ternyata sebelumnya Mark sudah tahu di mana Vlora. Bahkan, tanpa sepengetahuannya. Mark dan Rosella diam-diam bertemu dengan Vlora.
__ADS_1
"Aku sudah membujuknya agar mau bertemu denganmu, Ozan. Tapi kau tau 'kan? Wanita adalah mahkluk Tuhan yang paling sulit dimengerti. Tidak mau dipaksa, tidak mau ditinggalkan, tidak mau ikut. Jadi, aku pikir lebih baik kau sendiri yang menjemputnya."
Mark pun pusing, kisah cintanya saja sudah penuh drama. Kini, harus berurusan dengan kisah cinta Ozan.
"Bahkan, aku pun jadi korban." Eric ikut menimpali, ia menunjuk wajahnya yang sudah lebam.
"Harusnya ini malam yang indah bagi kita. Tapi, jadi malam terburuk!" Sonya mengomel sembari mengompres wajah suaminya.
Ozan merasa tersindir. "Siapa suruh kalian buat aku marah? Aku pikir kau calon suami Vlora. Ternyata calon kakak iparku!"
Erick melemparkan kain basah di kearah Ozan. "Kau pikir aku sudi punya adik ipar bengis sepertimu? Jangankan menikah melihatmu saja Vlora mau muntah!"
Kalau bukan calon kakak ipar, sudah Ozan tambah lagi lebam di wajah Eric. Bisa-bisanya pria itu menakutinya.
"Jadi, Vlora mengandung? Aku bersyukur maha karyaku malam itu berbuah manis. Setidaknya masih ada kesempatan kedua untukku!" Ozan masih punya harapan.
"Pergilah temui Vlora. Aku sudah bicara dengannya. Kau harus terima apapun keputusannya, nanti." Rosella datang tiba-tiba. Lalu ia berdiri di samping Mark." Sayang, kita sudah terlalu lama di sini, Marsel pasti mencari kita," ajaknya.
Mark dan Rosella pun pergi.
Ozan tidak mau membuang waktu. Apapun keputusannya, Ozan tetap berhak atas anak yang dikandung Vlora. Sampai kapanpun hubungan darah tidak akan bisa dihapuskan.
Ozan membuka pintu kamar Vlora, dilihatnya Vlora berbaring di tempat tidur. Mata wanita itu masih terbuka menatap langit-langit di ruangan itu.
"Boleh aku masuk, Vlo?"
Vlora menoleh sekilas, lalu mengubah posisinya menjadi memunggungi Ozan.
Ozan tersenyum simpul lalu duduk di tepian tempat tidur. Untuk sesaat hanya ada keheningan diantara mereka. Masih dalam posisi duduk, Ozan meletakkan telapak tangannya di perut Vlora.
Vlora terkejut dan melirik tangan Ozan.
"Adakah kesempatan kedua untukku, Vlora?" tanya Ozan, suaranya terdengar bergetar.
***
__ADS_1
Kasih nggak, ya? Kita apakan Bang Ozan ini?