
Sella sadar satu hal, apapun alasannya mereka tidak perlu terlibat dalam hubungan apapun, biarlah ia kembali ke Paris. Seperti dulu melupakan dan mengubur harapannya bersama pria itu.
Masih memakai baju pasien rumah sakit, Sella tertatih menuju pintu yang masih tertutup rapat. Pelan-pelan ia membuka dan mengintip keadaan di luar. Benar saja, ada dua orang yang berjaga di sana. Mungkin, mereka orang suruhan Mark.
Sella gugup di depan pintu, memikirkan cara untuk bisa keluar dari rangan ini tanpa ada yang melihatnya.
Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya salah seorang dari mereka pergi sedangkan yang lain mungkin sedang bicara dengan seseorang dibalik ponselnya. Posisinya memunggungi Sella tidak tahu kalau Sella sudah mulai melangkah ke luar kamar.
Koridor rumah sakit disekitar kamar Sella terlihat sunyi saat itu. Jadi, Sella bisa dengan mudah masuk ke dalam lift tanpa ada yang melihatnya. Sampai di dalam lift Sella segera menekan tombol menuju lantai dasar, ingin pergi, ingin keluar dan ingin menghilang dari tempat ini. Ya. Dirinya sudah memutuskan kembali ke Paris.
Begitu sampai di lantai dasar, kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak orang. Mereka melihat Sella dengan tatapan ingin tahu. Mungkin, bertanya mengapa Sella keluar masih menggunkan baju khas rumah sakit. Tapi, Sella cepat-cepat berlalu pergi.
Satpam pun sangat lengah waktu itu. Di jam makan siang seperti ini pos jaga hanya diisi satu orang dan saat itu tidak menyadari kalau Sella sudah melarikan diri. Ya! Pasti Siapapun akan mengira kalau pasien itu memang sengaja melarikan diri.
Siang itu matahari sangat terik. Tenggorokan Sella terasa kering kerontang, membuatnya semakin letih dan lemah. Kepalanya pun semakin pusing tapi, ia masih berusaha pergi ke tempt tujuan. Tidak ada tempat tujuan lain selain pergi ke Kafe bibi Jeny.
Sella merasa kesadarannya akan menghilang, ia merasa bumi bergoncang hingga memutar apa yang ada di dalamnya. Sella berdiri, terhuyung memegang kepalanya. Tiba-tiba suara bas seseorang mengejutkannya.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya pria berbaju hitam dan memakai topi. Wajahnya tampan dan tampak ramah.
Sella waspada, takut pria ini punya niat yang tidak baik. Sella tetap melangkah tanpa ragu meninggalkan pria yang masih berdiri di belakangnya.
"Sepertinya kau masih sakit, Nona! Biar aku mengantarmu kembali ke rumah sakit."
"Tidak, pergilah," lirih Sella, kepalanya terasa semakin pusing, pandangannya pun kabur tidak jelas melihat wajah pria ini.
"Aku bukan orang jahat. Jadi tidak perlu takut. Lagipula banyak orang di sini jadi tidak mungkin aku melukaimu, Nona!"
__ADS_1
Sell tetap bersikeras, ntah sudah berapa pria berakting seperti ini, awalnya baik dan akhirnya buruk. Mingkin saja pria asing ini ingin menculiknya.
Klang!!!!
Tiga anak kecil tampak berlari sembari menginjak dan menendang kaleng bekas minuman. Anak-anak berusia sekitar 10 tahun ini berhenti di depan Sella.
"Nona, sakit? Wajahnya pucat sekali." Matanya memerhatikan dua orang dewasa ini. "Paman, beri dia minuman!" serunya kemudian.
"Iya, dia mau kembali ke rumah sakit," jawab pria bertopi ini. "Kau lihat, Nona. Anak-anak ini bisa menilai kalau aku tidak mungkin punya niat jahat padamu."
"Tidak, kalian pergilah!" Sella tidak perduli apapun lagi. Sayangnya, semua tidak seperti harapan, semua tampak buram, hitam dan tidak bisa lagi menjaga keseimbangannya detik itu juga Sella kehilangan kesadrannya.
Sementara di rumah sakit. Ozan terlihat panik. Dirinya meninggalkan ruangan Sella karena baru berkomunikasi dengan Mark. Memastikan kalau Mark baik-baik saja setelah mengklarifikasi hubungannya dengan Kate di depan para awak media. Namun kini, apa yang terjadi membuat ia naik arah.
"Apa kalian tidak melihat nona Sella keluar dari ruangan ini?" Ozan menghardik dua pengawal yang tadi berjaga di depan ruangan Sella.
"Maaf, Tuan! Kami tidak melihatnya!"
Dua orang itu pun bergegas pergi. Sementara Ozan berlari memantau lewat CCTV. Tidak semua orang bisa masuk ke ruangan ini tapi, tidak dengan Ozan. Pria ini sangat mudah mengaksesnya.
Semua tampak jelas, rekaman Sella keluar dari kamar, tertatih ke luar rumah sakit hingga kamera cctv menangkap siluet Sella ketika wanita itu berada di pinggir jalan.
"Sial!" umpat Ozan, ia mencocokkan waktu di layar dengan jam yang ada di tangan. Artinya Sella masih berada di luar bersama pria yang wajahnya tidak tertangkap kamera.
Ozan cepat-cepat berlari, ia ingin mengejar dan menghentikan Sella. Tidak perduli semua orang melihatnya marah sebab, ia tidak sengaja menabrak bahu mereka.
Namun, semua tidak seperti apa yang diharapkan. Mobil itu pergi membawa Sella bersamanya.
__ADS_1
"Nona!!!!" Ozan berusaha mengejar mobil yang semakin melaju kencang.
Tiga anak-anak itu pun bingung melihatnya. Mereka pun mengekori Ozan.
"Paman tunggu! Nona itu sedang sakit dan akan dikembalikan ke rumah sakit!" teriak salah seorang dari mereka.
Ozan menetralkan napas dan melihat satu per satu wajah mereka. "Rumah sakit ada di sana! Bukan di sana!" Ozan menunjuk arah yang berlawanan. Tiga anak ini pun terbengong melihatnya. "Kalian lihat wajah pria itu?" tanya Ozan.
"Dia tampan!" cetusnya.
"Dia terlihat ramah dan baik!" cetus anank yang satu lagi.
Ozan semakin naik darah, siapapun terlihat tampan, ramah dan baik. Ozan tidak lagi menghiraukan anak-anak ini, ia melangkah cepat ke kembali ke rumah sakit.
"Paman! Pria itu punya tato di pergelangan tangannya!" teriakannya berhasil menghentikan Ozan. Pria itu berbalik arah melihatnya. "Aku melihat sendiri, pria itu menggendong Nona dan memasukkan ke dalam mobil. Disaat itulah aku tidak sengaja melihat tato di tangannya, Tuan!"
Wajah Ozan mengetat, seluruh tubuhnya menegang, tangannya mengepal, pikirannya kacau membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Kau yakin?" Bocah itu mengangguk pasti. Ozan memberikan lembaran uang untuk mereka. "Pergilah!" Tiga anak itu pergi tanpa beban sedikitpu.
"Pria bertato, siapa dia?" Matilah, ini untuk pertama kalinya Ozan lalai menjalankan tugas, apa yang akan ia katakan kepada Mark, nanti?
***
Kate sudah kembali ke apartmennya, wanita cantik yang sudah terlihat sehat ini membersihkan dirinya di kamar mandi, berendam di bathub memakai sabun terwangi yang pernah ada, supaya Mark tergoda dengan keharuman dan ingin menyentuhnya lagi dan lagi. Kate yakin kali ini pria itu tidak akan bisa menghindarinya lagi.
Benda pipih ditangan Mark terjatuh setelah mendengar informasi dari Ozan. Tubuhnya gemetaran mengetahui fakta pria bertato itu membawa Sella bersamanya.
__ADS_1
***
Sabar, readers😌 Alur gak bisa diubah, tenang-tenang cuma 50 bab saja. Setelah ini yang masih dibawah 17 tahun jangan baca ya. Bab selanjutnya agak horor dikit hihihi.