Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Pria Mencurigakan


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berhenti di depan toko bunga yang ada di pinggir jalan raya. Seorang pria berkemeja putih turun membawa tas hitam yang selalu setia menemaninya. Senyum manis selalu mengembang di wajah ketika melihat wanita cantik di depan mata tampak serius melayani para pembeli yang datang ke toko Rosella tersebut.


"Kau sudah pulang?" Wanita cantik ini memeluk dan mencium pipi suaminya, ia tertawa ketika keningnya dikecup mesra oleh pria yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit terbaik di Kanada.


"Aku pulang karena aku merindukan kalian. Bagaimana kabar calon anak kita?" Pria ini mengelus perut sang istri yang sedang hamil muda. Ya, ntah takdir seperti apa yang menuntun mereka sampai menikah dan memutuskan menetap di Kanada.


"Baik, baby juga merindukan ayahnya. Ayo masuk, aku sudah menyiapkan makan siang yang lezat untukmu."


"Kau memang istriku yang paling baik!"


Keduanya tertawa dan masuk ke dalam toko.


Sudah 6 bulan berlalu, setelah kejadian yang mengerikan itu semua orang berusaha menata hidup agar lebih baik lagi, berusaha menerima kenyataan kalau yang sudah pergi tidak akan kembali lagi. Meskipun sangat sulit dan tidak akan pulih secara utuh namun, semua orang sadar kalau hidup akan terus berlanjut.


Teruntuk Rosella, wanita ini terlihat kuat bila dilihat dari luar tapi, hatinya masih rapuh seperti daun yang kering yang bisa hancur dengan satu kali genggaman. Meskipun begitu, Rosella berusaha dan bekerja lebih keras untuk memulihkan perasaannya. 6 bulan sudah berlalu, Rosella menyibukkan dirinya dengan membuka toko bunga di dekat kafe bibi Jeny.


"Aku pergi!" Rosella meraih tas jinjing di atas meja yang terletak di samping jendela kaca, tidak lupa mencium bunga mawar yang diawetkan yang sengaja di simpan di atas meja kasir miliknya, wanita yang memakai dres warna hijau tosca ini berlari kecil ke luar toko.


"Hey Rosella, tunggu sebentar!" teriak Alexandre dari dalam toko. "Bagaimana bisa kau datang ke makam dengan tangan kosong seperti itu?" Alexandre memberikan bunga mawar merah untuk Rosella. "Ambil ini!" ucapnya sembari mengacak rambut Sella.


Rosella tersenyum menerimanya. "Aku hampir lupa kalau bunga mawar ini kesukaannya. Baiklah ... akan aku taburi bunga mawar ini di atas makam, nanti." Sella mencium sekilas mawar cantik tersebut.


"Kau yakin pergi sendirian ke makam?" tanya Andre.


"Iya, jangan khawatir aku sudah baik-baik saja." Rosella berusaha meyakinkan Andre. Alexandre tidak punya alasan untuk menahan Sella. Setelah Sella pergi Andre kembali masuk ke dalam toko.


Dari jarak yang cukup jauh, seseorang terlihat sendu memperhatikan Rosella dan Andre, ia menggerakkan tongkat dan tertatih menyeberang jalan dan masuk ke toko bunga bertuliskan Rosella.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Alexandre memerhatikan pria yang memakai jaket dan menutupi wajahnya dengan topi, pria itu tertunduk dan memegang tongkatnya sangat erat.

__ADS_1


"Ehm, aku mau beli bunga mawar merah," jawab pria yang enggan melihat penjual bunga tersebut. Namun, cincin yang melingkar di jari pria itu menarik perhatian hingga ia yakin kalau pria dan wanita yang sempat dilihatnya tadi berstatus sebagai suami istri.


"Silahkan kesebelah, sini!" Andre mengajaknya melihat beberpa bunga mawar yang ada di dekat meja kasir. "Silahkan dipilih, Tuan!" Andre tampak ramah melayaninya.


Pria tersebut hanya diam dan melihat-lihat situasi sekitar, hal yang paling menarik perhatiannya adalah figura foto dan mawar merah yang ada di atas meja. Tanpa permisi i mengambil bunga tersebut.


"Aku mau yang ini," ucapnya dengan kepala yang masih tertunduk.


"Maaf, kalau yang itu tidak dijual! Silahkan pilih bunga yang lain saja," jawab Andre. Mana mungkin ia menjual bunga kesukaan Rosella.


"Aku akan membayarnya mahal." Pria ini masih tidak mau melepaskan bunga itu.


Andre menghela napas dalam. "Begini saja, pilij bunga mawar yang paling cantik nanti biar kita awetkan seperti itu," ucap Andre memberi solusi.


"Tidak, aku cuma mau ini. Bunga ini mengingatkan aku pada seseorang!"


"Ya sudah!" Pria ini mengalah dan meletakkan mawar itu di atas meja. "Aku pilih bunga yang lain saja. Ehmm tenggorokkanku mendadak kering, boleh aku minta minum?"


"Ya, baiklah tunggu di sini sebentar, Tuan!" Alexandre pergi mengambil minum di pantry.


Pria ini pun tidak mau membuang kesempatan, ia memasukkan bunga itu ke dalam tas ransel yang menggantung di punggung lalu tidak lupa meletakkan lembaran uang dolar di atas meja, seperi seorang pencuri ia pun cepat-cepat pergi.


Andre kembali dengan segelas air putih di tangannya. "Tuan, ini untukmu!" Namun, ia tidak menemukan siapapun di sana. "Kemana dia? Pria itu mencurigakan sekali." Alexandre tidak mau ambil pusing, ia pun mengembalikan gelas itu ke tempatnya semula.


***


Rosella berjalan kaki di atas trotoar, ia baru saja meninggalkan makam orang yang dicintainya. Rosella sesekali menyapa orang yang ditemuinya di jalan dan terkadang menunduk untuk sekedar membaca pesan di gawainya. Tanpa sengaja ia menabrak bahu pengguna jalan yang lain.


"Akh...," rintih Rosella ia mengambil handpone miliknya yang terjatuh di kakinya. "Maaf, aku tidak sengaja." Rosella terdiam memerhatikan pria yang memunggunginya, pria itu mendekap ranselnya sangat erat, sementara satu tangannya lagi memegang tongkat.

__ADS_1


"Anda baik-baik saja?" tanya Rosella. Pria itu hanya mengangguk melihatnya. "Anda mau pergi ke mama? Biar aku antar," tawar Rosella merasa iba pada pria tersebut.


"Tidak, perlu!" Ia pergi tanpa bicara apapun lagi.


Rosella tertegun melihat dan mendengar suaranya. Aliran darahnya berdesir hangat melihat pria itu tertatih semakin menjauhinya.


"Kasihan sekali dia!" gumam Rosella, ia pun kembali ke toko bunga miliknya.


Sesampainya di toko, Sella mencium aroma lezat dari dapur. "Aku lapar sekali, Jesy hari ini kai masak apa?" Sella menyandarkan punggunya di kursi hitam miliknya.


"Seperti biasa selalu masak makanan lezat!" Jessy datang membawa dua gelas jus jeruk. "Minumlah!"


"Kau baik sejkali." Hanya satu kali tegukkan jus jeruk itu habis tidak tersisa. "Berapa bunga yang sudah berhasil kalian jual?" tanya Rosella.


"Aku ada di dapur, Alexandre yang menjaga tokomu!" jawab Jessy.


"Ada apa menyebut namaku?" Andre datang tiba-tiba "Bukalah lacimu ada banyak uang di situ. Tadi ada pria aneh dan mencurigakan datang kesin, dia meninggalkan banyak uang di atas mejamu!"


"Pria mencurigakan?"Rosella dan Jessy terkejut mendengarnya.


"Iya, awalnya dia mau membeli bunga mawar. Tapi dia minta bunga mawar yang ada di atas mejamu. Menurutnya bunga itu mengingatkannya pada seseorang!"


BRAK!!!


Rosella menggebrak meja.


"Terus bungaku ada di mana?" Rosella baru menyadari kalau bunga mawar itu sudah tidak ada lagi di atas meja.


__ADS_1


__ADS_2