Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Dua Wanita Yang Ditinggalkan


__ADS_3

"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?" Rosella histeris di kamar tamu milik bibi Jeny. Ya, malam itu juga biby Jeny menjemput dan membawanya ke rumahnya.


Lembaran kertas bertuliskan tangan Mark sudah basah karena tetesan air matanya. Beberapa lembar foto ketika ia masih duduk di bangku SMA tertumpuk di pangkuannya, anting, bunga mawar yang sudah diawetkan masih tersimpan rapi di dalam kotak yang sudah lama disiapkan Mark untuknya.


Mungkin, hati wanita lain akan berbunga ketika membaca surat dari pria yang mencintainya tapi, tidak dengan Rosella. Hatinya hancur, tubuhnya lemah, jantungnya seakan tidak berdetak normal membuat aliran darah di tubuhnya tidak mengalir sempurna, hingga wajahnya terlihat pucat pasih.


"Bagaimana bisa kau mencintai aku sedalam ini, Mark? Kenapa kau memendam rasa ini hingga membuat aku salah paham dan membencimu? Kembalilah, Mark! Kembalilah!"


Jeritan itu terdengar memilukan, tangannya gemetaran ketika meraba foto-foto dirinya, bunga mawar yang diberikan sembilan tahun yang lalu ia dekap sangat erat.


Cinta yang sudah lama terpendam, cinta yang diselingi oleh kebencian, cinta yang tidak pernah memberikan kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, cinta yang hanya dimiliki dalam ingatan semua sudah berakhir untuk selamanya.


Ketika surat itu masih ada digenggaman, ketika surat itu sudah mulai mengusut, ketika surat itu berhasil membuat hatinya remuk redam, kabar duka datang dari rumah sakit. Pria itu sudah menghembuskan napas terakhir dan dibawa pihak keluarga tanpa sempat ia temui.


"Kau menghabiskan waktumu sembilan tahun tanpa aku. Lalu bagaimana denganku? Aku bahkan harus melewati seumur hidupku tanpamu, Mark! Tanpamu! Setelah apa yang terjadi aku tidak akan bisa hidup tanpamu, kembalilah, Mark!"


Jeritan itu terdengar pilu menyayat hati semua orang yang mendengarnya. Biby Jeny, Jessy dan Alexandre tampak tidak semangat di ambang pintu kamar.


"Kau benar-benar mengakhiri semua ini! Kau mengakhiri kisah kita yang bahkan belum dimulai, Mark! Kenapa kau sejahat ini padaku?"


Rosella memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, napasnya sudah mulai tidak teratur, wajahnya sembab, hidungnya merah namun, air mata masih mengalir deras, tidak pernah berhenti mengalir.


"Rose, tenangkan dirimu, sayang." Bibi Jeny datang dan memeluk Rosella, berusaha menguatkan dan memberikan dukungan untuknya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tenang, Bibi? Takdir tidak pernah berpihak padaku, takdir memisahkan kami untuk selamanya. Tidak, aku tidak bisa seperti ini, Bibi. Aku akn minta pada Tuhan untuk menyatukan kami. Aku akan minta agar Tuhan mengembalikan dia padaku, Bibi. Aku tidak mau kehilangan Mark lagi. Aku tidak mau!!!"


Rosella menapakkan kakinya di lantai yang licin, ia ingin berlari kembali ke rumah sakit, mengejar Mark agar tidak lagi jauh darinya. Namun, sayang lututnya terasa lemah hingga tidak sanggup menopak tubuhnya.


"Hati-hati!" Alexandre memapah dan membawa Rosella kembali ke tempat tidur. "Kalau seperti ini kau bisa menyakiti dirimu sendiri, kendalikan dirimu, Sella!"


"Aku bahkan sudah mati rasa! Aku tidak bisa merasakan apapun lagi, Andre! Dia sudah pergi membawa seluruh hidupku bersamanya! Apa lagi yang bisa aku lakukan selain ikut dengannya?" Sekeras apapun Sella mencoba bangkit dan berdiri, tetap saja tulangnya terasa lunak hingga tidak bisa berdiri tegak.


"Jangan bicara seperti itu!" sentak Andre, pria ini tidak setuju dengan penuturan Rosella, sungguh hatinya teriris melihat wanita yang ia cintai sedang kacau menangisi pria lain. "Apapun yang terjadi hidupmu harus tetap berlanjut, semua sudah terjadi. Ikutlah kembali ke Paris bersamaku. Kita bisa mulai hidup yang baru di sana."


Sella berdecih, menghapus air mata menggunakan punggung tangannya. "Apa yang mau dimulai? Kau berharap aku pergi dari sini dan melupakan semuanya? Melupakan pengorbanan Mark hingga merenggang nayawa karena, aku? Bagaimana aku tetap hidup setelah semua yang telah terjadi?"


Rosella semakin menangis, ia tidak mau apapun di dunia ini. Rosella hanya mau Mark datang menemuinya, wanita ini hanya mau mendekap dan memeluknya, tidak mau yang lain selain Mark.


"Tuhan ... kembalikan dia padaku," lirih Rosella sebelum kehilangan kesadarannya.


Bukan cuma Rosell yang histeris karena ditinggalkan orang yang dicintai. Katerine bahkan kehilangan dua orang sekaligus dalam satu malam. Ketika ia terbangun dari tidurnya, kate tidak menemukan sosok pria yang tadi bersamanya. Belum hilang rasa kesal karena ditinggalkan, kabar dari seseorang terasa menghantam jantungnya.


"Ti-tidak mungkin!" Tangan yang halus itu meraih remote tv dan menyalakannya. Bukan cuma satu tapi, semua stasiun televisi menyiarkan keadaan yang mencekam di malam itu. Katerine hampir tidak percaya Restoran milik kakaknya menjadi penyebab semua ini.


Dua orang yang paling dicintai saling berkelahi dan menodongkan senjata hingga menewaskan keduanya.


"Bohong! Semua ini bohong! Kakak tidak mungkin mati, Mark pun masih hidup! Semua ini bohong!" Katerine menggila di apartmen dan hal yang paling mencolok di matanya adalah kehadiran wanita lain di samping Mark, tampak menangisi pria itu ketika hampir dimasukkan ke dalam ambulance.

__ADS_1


"Siapa dia? Akkkhhhh harusnya aku yang bersamanya! Kau tidak mungkin meninggal, Mark! Kau tidak mungkin mati!!!"


Malam itu Katerine tidak bisa tidur, ia cepat-cepat kembali ke rumah melihat jasad kakaknya yang sudah kaku.


***


SREK!!!


Tirai jendela kamar yang disingkap membuat sebagian sinar matahari masuk melalui cela yang tidak tertutup, Rosella mengerjapkan mata karena cahaya menerpa wajahnya.


"Sampai kapan kau seperti ini? Lihatlah wajahmu itu pucat sekali, tubuhmu pun sangat lemah." Jessy ikut duduk di tepian tempat tidur, merapikan rambut Rosella agar lebih rapi dan tidak menghalangi pandangannya.


"Mark sudah datang? Dia sudah menjemputku? Suruh dia masuk, katakan padanya kalau aku ada di sini, katakan kalau aku tidak akan menghindarinya lagi." Suara Rosella hampir tidak terdengar.


Jessy menghapus air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya, ia tidak tega melihat Sella seperti ini. "Sella, kau harus belajar menerima kenyataan ini. Aku tahu ini tidak akan mudah untukmu. Tapi aku yakin kau bisa melalui semua ini."


Sella tersenyum melihat Jessy. "Kau tahu ... ternyata Mark lebih mencintai aku, cintanya lebih besar dari apa yang aku rasakan padanya. Bagaimana bisa pria setampan dia mencintai gadis paling jelek di sekolah? Kalau nanti dia datang ke sini, aku akan tanyakan sendiri padanya. Jesy aku tidak harus menyembunyikan identitasku lagi, karena pria itu tidak berniat menyakitiku, justru pria itu melindungiku, Jessy ... aku wanita yang paling bahagia dicintai sedalam ini!"


Rosella tertawa tapi, air matanya tetap jatuh membasahi wajahnya. "Jesy ... Mark akan datang menemui aku, 'kan? Pria itu akan menjemputku, 'kan?" Tawa itu sudah hilang berganti dengan tangisan.


Jessy mendekap Rosella kedalam pelukannya. "Iya ... Mark akan datang menjemputmu, bersabarlah...." Jessy berusaha menenangkan Rosella.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Masih ada berapa bab lagi sampai 50?


😭Sabar, ya Rosella


__ADS_2