Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Genggam Erat Tanganku


__ADS_3

Niko tertawa puas melihat hasil buruan anak buahnya. Dalam satu hari ia bisa meraih untung yang sangat besar. Lebih dari 20 wanita ia dapatkan dari jalanan termasuk wanita paling cantik yang pernah ia temui.


"Kalian awasi semua orang yang ada disini. Pastikan tidak ada satu orangpun yang keluar tanpa pengawasan!" titah Niko pada beberapa anak buahnya.


"Baik, Tuan!"


Dua pengawal Niko pun ikut pergi ke ruangan rahasia di mana wanita itu disekap.


Di ruangan Lain.


Sella sudah sadarkan diri, ia bingung kenapa bisa sampai di sini padahal terakhir kali ia bicara dengan seorang pria di pinggir jalan.


"Dia tidak mungkin menculikku, sebenarnya tempat apa ini?" Sella mencoba membuka pintu tapi berakhir percuma. Pintu dikunci dari luar.


Samar-samar ia mendengar derap langkah kaki semakin mendekekat, hingga pintu kamar itu terbuka lebar. Sella mundur menghindari pria asing yang sudah mulai mendekatinya.


"Kau sudah bangun, sayang?" Niko masuk dan kembali menutup pintu. Ia menarik pinggang Sella tanpa bisa dihindari wanita yang membuatnya bergai rah.


"Lepaskan!" Dekapan pria ini membuat pergerakan Sella terbatas, ia hanya bisa memberi jarak menggunakan tangan yang menempel di dada pria yang tampak mengerikan. "Siapa kau?"


"Mulai hari ini aku adalah pria pemilik tubuh, hidup dan matimu jadi, patuhilah semua ucapan dan peraturanku." Niko hampir menyatukan bibir mereka tapi, wanita ini berhasil menghindarinya.


"Kau sudah gila?" Sella terkejut dibuatnya. "Cuma aku yang berhak atas diriku sendiri!"


Niko tertawa mendengarnya. "Aku suka wanita pembangkang sepertimu. Aku tidak sabar membuat mulutmu mende**h dan menyebut namaku, tapi sepertinya aku harus menahannya karena malam ini kau akan menjadi primadona di sini! Tapi tenang saja tidak akan ada yang bisa menyentuhmu sebelum aku sendiri yang melakukannya!"


"Dasar pria sinting, lebih baik aku mati daripada harus berada didekatmu! Cih!!!" Tanpa takut sedikitpun, Sella meludahi wajah Niko. "Kau tidak akan bisa menyentuhku!"


Semirik di wajah Niko tampak lebih menyeramkan, ia melepaskan Sella dan menghapus cairan yang ada di wajahnya.


Sella mundur beberapa langkah, ia waspada khawatir pria ini akan semakin menggila.


"Kita buktikan saja!" Niko mengambil kain halus dari anak buahnya dan melemparnya di atas tempat tidur. "Pakai baju ini jika tidak aku akan menelanj**gimu di depan semua orang!"


Brak!!!

__ADS_1


Pria itu membanting pintu dan pergi meninggalkan Sella. Potongan kain warna merah yang ia tinggalkan tidak pantas disebut baju. Bentukya lebih menyerupai dalaman wanita.


"Akkkhhhhhhh!!" Sella melemparkan apapun yang bisa dijangkaunya, ia lelah sebab takdir selalu membuatnya dalam situasi seperti ini.


***


Bukan main-main, ntah sudah berapa wanita yang tampil di atas panggung sana, mereka dipanggil sesuai namanya masing-masing. Tidak terhitung berapa banyak uang yang didapatkan Niko dari bisnis ilegal ini dan ntah berapa banyak wanita baik-baik yang ia jadikan korban setiap harinya. Pantas saja saat itu Olivia memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Itulah yang ada di dalam benak Mark.


Mark sudah tidak sanggup menahan diri, ia tidak akan bisa melihat Sella dipertontonkan seperti barang yang dilelang di depan umum. Mark harus melakukan sesuatu.


"Kau pernah melihat wanita berambut hitam dan panjang, kulitnya putih dan tinggi badannya segini?" Mark mengukur dengan bahunya sendiri.


"Tuan ingin memakainya? Tapi wanita seperti itu banyak di sini. Kenapa tidak pilih aku saja?" Ia bersandar di lengan Mark.


"Bukan itu maksudku. Sebenarnya sudah hampir satu harian ini adikku belum kembali ke rumah, aku khawatir dia ada di sini." Mark bicara seperti berbisik, ia tidak mau orang lain mendengar ucapannya.


"Aku bisa merasakan ketakutanmu, Tuan. Kalau benar adikmu ada di sini dia pasti merasakan ketakutan yang sama. Aku pun dulu begitu. Apa mungkin dia wanita yang tadi datang bersama Tuan Niko?"


"Kau melihatnya?"


"Iya. Mungkin sebentar lagi giliran wanita itu yang akan dilelang!"


"Ta-tapi kita tidak bisa masuk ke sana."


"Kau tunjukkan saja di mana jalannya!" Mark menarik tangan dan mengajaknya berdiri. "Cepat jalan, jangan sampai ada yang curiga!" Suara Mark terdegar menakutkan.


Ozan memperhatikan gerakan Mark yang mencurigakan, tangan kanan pria itu melingkari pinggang wanita yang tadi bersamanya, tubuh keduanya pun saling bersentuhan hingga Ozan yakin jika Mark sudah beraksi. Sontak Ozan pun siaga dengan senjata dan mengawal dari jauh.


Ruangan itu tidaklah terlalu jauh tapi, sangat minim cahaya.


"Di mana tempatnya?" tanya Mark.


"Di ujung sana, Tuan!" Ia menunjuk ruangan yang dikawal dua orang berbadan kekar. "Cepat bawa wanita itu keluar dari sini, Tuan! Jangan biarkan wanita baik-baik sepertinya terperangkap di tempat ini. Bahkan, jika bisa aku pun akan membantumu. Ada jalan keluar yang lain di sini, tapi aku tidak tahu di mana tepatnya, aku akan mengalihkan perhatian Niko."


Di saat itulah mereka melihat Niko keluar dari ruangan itu. Wajah Niko terlihat marah. Mark dan wanita ini pun berusaha sembunyi agar Niko tidak melihat mereka.

__ADS_1


Mark sudah siap melepaskan amunisinya, ia ingin menembak kepala Niko saat itu juga, tapi diurungkan sebab tidak mau semakin membahayakan keselamatan Sella.


"Pergilah!" titah Mark setelah Niko sudah benar-benar pergi, wanita itupun kembali ke tempat asalnya lalu, Mark berjalan mantap mendekati pintu yang dijaga ketat tersebut.


Gerakan Mark terhendus salah seorang dari mereka, pria itu pun mengeluarkan pistolnya namun, kalah cepat dari Mark yang langsung menembak dadanya.


Dor!!


Dor!!


Dua penjaga itu pun jatuh terkapar bersimbah darah di depan pintu. Mark tidak perduli ia melangkahi mayat itu dan membuka pintu.


Dilihatnya Sella berdiri di samping tempat tidur.


"Sella!!" Mark berlari dan memeluk Sella dari belakang, ia lega melihat wanita ini baik-baik saja. "Syukurlah kau baik-baik saja, apa mereka menyakitimu?"


"Ma-Mark?" Sella memutar badan, matanya sudah berkaca-kaca melihat pria ini berdiri di hadapannya. "Kau datang?"


"Sudah tidak ada waktu, kita harus keluar dari sini." Mark menggandeng tangan Sella dan mengajaknya pergi.


Sella hampir muntah melihat darah berceceran di lantai. "Kau membunuh mereka?" Bola mata Sella terbelalak tidak percaya.


Mark enggan menjawab, ia jongkok dan merogoh saku mayat ini, hingga Mark menemukan kunci dan mengambilnya.


"Biar aku cari jalan pintas di sini, kau bisa keluar dari sana, nanti!"


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Masih ada yang harus aku lakukan!" Mark menggenggam tangan halus itu lagi. "Cepatlah!" ajaknya sembari memerhatikan keadaan sekitar.


"Tidak Mark, aku ingin bersamamu. Aku tidak akan pergi tanpamu, Mark!" Dan disinilah Sella tidak mau melepaskan tangan Mark, tidak mau jauh darinya barangkali sedetikpun.


"Baiklah...genggam erat tanganku!" Mark mengalah dan merasakan hal yang sama dengan Sella.


Keduanya berjalan sembari membuka satu persatu pintu tersembunyi di sana, seketika para wanita yang disekap pun berhamburan melarikan diri.

__ADS_1


***


Gak sabar pengen cepet-cepet lompat ke bab 50. Biar cepat tamat😌


__ADS_2