Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
PERTEMUAN


__ADS_3

"Kenapa bunga itu bisa hilang?" Sella panik setengah mati, ia menggeledah semua ruang termasuk laci tempat menyimpan uang, benar saja ada banyak uang di dalamnya. Meskipun begitu wanita ini tidak tergiur sedikitpun karena baginya bunga itu lebih penting dan tidak ternilai harganya.


"Pasti pria itu yang mencurinya!" Andre memainkan jari telunjuk di dagu, berusaha mengingat ciri-ciri pelaku yang sempat membuatnya terkecoh. Hanya karena segelas air putih, ia lalai dan mengakibatkan Rosella mengalami kerugian.


"Aneh, kenapa dia mengincar bunga itu? Padahal di sini masih banyak bunga yang lebih cantik dan segar." Jassy ikut menimpali.


"Ntahlah! Yang pasti bunga itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkin, dia pernah berikan bunga mawar pada kekasih yang sudah jadi mantan special di hatinya. Atau mungkin bunga itu miliknya!"


Jesy berdecih dan melempar kunci mobil yang ada di atas meja. "Sembarangan! Kau juga mau nostalgia dengan mantan kekasihmu?" Matanya sudah membola.


Andre tersenyum dan mengelus perut Jesy. "Tidak sayang ... maksudku bukan begitu!" Andre berusaha membujuk Jesy wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu. Pertemuan yang intens ketika memntau dan menemani Rosella waktu itu menimbulkan benih cinta di hati keduanya. Apa lagi semenjak kepergian Mark, Rosella semakin menutup diri dan akhirnya jadilah alexandre dan Jesy berakhir di pelaminan.


Rosella semakin kesal dibuat dua sejoli yang sedang menanti lahirnya buah hati mereka. "Jangan samakan kisah orang lain dengan bunga yang aku miliki itu! Lagi pula mana mungkin bunga itu miliknya kecuali...."


Rosella menggantungkan ucapannya, wajahnya sudah tampak lebih serius dari sebelumnya, ia bergantian melihat Jessy dan Andre.


"Kecuali pria itu Mark...." Sella menutup mulutnya sendiri, kakinya gemetaran mengingat pria yang sudah lama pergi.


Jessy merangkul dan menenangkan Rosella. "Sudah jangan diingat lagi. Kau sudah hampir berhasil pulih seperti sebelumnya."


"Tidak Jessy. Aku rasa ada yang aneh di sini. Bagaimana bisa kisah kami hampir sama? Bunga itu mengingatkan kami pada seseorang." Rosella menepis tangan Jessy, ia berjalan cepat mendekti Andre.


"Kau lihat wajahnya? Apa pria itu mirip dengan Mark?"


"Tidak, pria itu seperti menghindariku. Dia memakai topi, membawa ranel dan--


Rosella memungkas ucapan Andre. "Tongkat?Mark bodoh! Dasar bodoh!" Sella sudah mulai berkaca-kaca, kali ini keyakinannya sangat kuat seperti waktu itu ia tidak percaya kalau Mark sudah meninggal.

__ADS_1


"Rosella, kau berhalusinasi lagi!" Jessy pikir Sella sedang berhalusinasi seperti waktu itu.


"Tidak Jesy, aku yakin pria itu Mark! Kami tidak sengaja bertemu di jalan, tadi." Sella semakin gelisah.


"Ok! Anggap saja pria itu memang Mark! Tapi kenapa dia tidak menyapamu? Apa dia sudah melupakanmu?" Jesy spontan mengatakannya, ia hanya mau mengembalikan kesadaran Sella.


"Aku akan cari tahu jawabannya. Aku harus mencarinya, aku yakin dia masih ada disekitar sini!"


Rosella tidak perduli suara-suara yang memanggil namanya, ia terus berlari mencari pria bertongkat yang diyakini membawa bunga penuh kenangan muliknya.


"Tidak, Mark ... jangan pergi lagi...."


Rosella terus berlari mencari Mark di semua tempat, terutama trotoar di pinggir jalan tempat tadi mereka tidak sengaja bertemu namun, tidak ia temukan di sana. Sella tidak perduli saat itu awan hitam sudah memenuhi sebagian langit Canada. Sella tetap menyeberang jalan dan fokus mencari pria tersebut.


"Kau lihat seorang pria membawa tongkat di sekitar sini, Nona?" tanya Rosella pada penguna jalan yang lain. Namun, tidak ada seorang pun yang melihatnya.


"Kau di mana, Mark?" Sella tidak menyerah, ia tetap berlari tanpa tahu arah tujuan.


***


Pria ini tersenyum memperhatikan bunga mawar yang ia ambil dari toko bunga tadi. Tidak, ia tidak mengambil tapi, membeli diam-diam.


"Konyol," ia bergumam sendiri. Ingatannya kembali pada beberapa bulan yang lalu.


Timah panas itu berhasil menyerempet paru-parunya, hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi melalui pembedahan perutnya. Dokter pun mengambil tindakan memotong usus sebanyak 5cm. Harusnya ia bisa pulih dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, butuh waktu istrahat untuk menyembuhkan bekas luka agar cepat mengering.


Tanpa di duga, ginjalnya pun mengalami kerusakan parah yang mengakibatkan tubuhnya semakin lemah. Pihak keluarga memutuskan membawanya ke luar negri dan melakukan operasi di sana. Tanpa sepengetahuannya, malam itu juga kabar duka sudah menyebar di semua tempat. Tentu, pihak kelurga yang bertanggung jawab, ia yang lemah tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


Ingatannya hanya tertuju satu wanita yaitu Rosella dan tepat satu bulan yang lalu, disaat kondisinya sudah mulai membaik ia memutuskan kembali ke Kanada. Namun sayang, mobil yang membawanya mengalami kecelakaan lalu lintas.


Kecelakaan ini mengakibatkan kaki dan tangannya patah, lagi-lagi ia harus istrahat selama beberapaa bulan sampai bisa pulih total seperti sebelumnya. Tapi, ia tidak bisa lagi menahan rasa rindu ini. Hingg memutuskan untuk pergi diam-diam tanpa pengawalan.


"Aku kembali, tapi kau sudah menikah." Pria ini tersenyum remeh pada dirinya sendiri, betapa malunya ia sudah mengungkapkan isi hatinya di surat itu. "Harusnya aku tau, kau tidak mungkin mencintai pria sepertiku. Apalagi aku sudah tidak bisa jalan. Tidak apa, aku sudah meninggal, bukan?" Ia terus meraba bunga mawar yang penuh kenangan.


"Aku akan pergi untuk selamanya, kita akan akhiri semua ini di sini." Pria ini berjalan tertatih mendekati danau, setelah puas memandang mawar itu ia pun siap untuk membuang dan melemparkan ke dasar danau terdalam. Menenggelemkan semua beserta kenangan di dalamnya. Namun, belum sempat ia melepaskannya seseorang datang menyebut dan memanggil namanya.


"Mark...!"


DEG!!!


"Ternyata benar, kau masih hidup, Mark?"


Suara itu terdengr lembut dan bergetar membuat darahnya berdesir hangat, jantungnya berpacu lebih cepat membuatnya berdebar-debar, Mark tetap bergeming di tempat, tidak mau berbalik arah melihat wanita yang memanggil namanya.


"Apa yang kau lakukan, Mark? Kau mau membuang aku dari kehidupnmu?"


Langkah kaki sudah mulai terdengar, isakan tangis terdengar menyayat hati, Mark yakin jika wanita itu sudah mulai mendekatinya. Mark menghapus sudut mata yang sudah mulai basah, sungguh ia sedang menahan diri untuk tidak memeluk wanita yang sangat ia rindukan.


Perasaan Rosella pun tidak bisa digambarkan, sedih, bahagia, kesal karena Mark seperti sengaja menghindarinya, semua menjadi satu. Rosella tidak tahan lagi, ia mendekati pria yang diyakini adalah Mark.


"Aku merindukanmu, Mark ... Aku mencintaimu." Rosella memeluk dan mendekap dari belakang, menangis dan menyandarkan kepala di punggung yang masih kokoh ini. "Jangan pergi lagi, aku membutuhkanmu...."


***


Pertemuan yang kuimpikan, kini jadi kenyataan....

__ADS_1


Pertemuan yang kudambakan, ternyata bukan khayalan....


Masok Pak Haji😅


__ADS_2