Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Aku Bukan Nona Malam


__ADS_3

Kehidupan Vlora dan Ozan sempurna nyaris tanpa gangguan dari pihak manapun. Mereka hidup bahagia di mansion dengan penjagaan ketat selama 24 jam penuh. Sesekali Ozan mengajak Vlora melihat dunia luar, menonton bioskop, belanja kebutuhan mereka bahkan menuruti permintaan Vlora yang ingin mencoba beberapa wahana permainan anak di kota.


Seperti hari ini, Ozan dan Vlora sengaja menghadiri undangan salah satu seniman yang mengadakan pameran di tempat terbuka. Taman kota disulap sedemikian rupa terlihat berbeda dari biasanya. Beberapa lukisan berjejer rapi menarik perhatian pengunjung di sana.


"Ozan, aku mau yang ini." Vlora menunjuk lukisan matahari terbenam di tepi pantai, warna jingga berpadu dengan air seolah mampu membuatnya larut dalam kedamain.


"Kau akan mendapatkannya, Nyonya!" jawab Ozan, ia menyuruh anak buahnya mengemas apapun yang dilihat Vlora di sana.


"Ozan, sepertinya anakmu lapar." Vlora mengelus perut yang semakin bulat, memang semenjak perutnya kian membesar rasa lapar sering datang tiba-tiba.


"Dia persis seperti aku. Baiklah kita cari makanan lezat di Restoran." Ozan mengandeng tangan Vlora membelah keramaian yang ada.


Orang-orang yang menyadari kehadiran Ozan pun sontak memberi jalan untuknya, kini semakin banyak orang yang mulai yakin jika wanita yang sedang hamil besar itu adalah wanitanya Ozan.


Kelalaian anak buah Ozan hampir membuat Vlora celaka, ntah datang dari mana seseorang menabrak punggungnya dari belakang, beruntung Ozan sigap menahan tubuh istrinya.


"Sayang, kau baik-baik saja." Ozan terlihat cemas. "Perutmu sakit?" Meraba perut Vlora yang sudah tinggal menunggu waktu persalinan.


"Tidak, tidak ada yang sakit."


Namun, Ozan tidak percaya dan tetap memastikan sendiri, ia mengelus perut dan punggung Vlora.


"Maaf, aku tidak sengaja, Tuan," ucap wanita yang tadi sempat menyenggol bahu Vlora.


Ozan menajamkan telinga merasa tidak asing dengan suara ini, ia terkejut melihat Katerine berdiri di samping Vlora.


"Nona Katerine?" Ya. Ozan masih mengingat wanita ini, hanya saja karena sudah lama tidak bertemu dan situasi buruk yang sempat mereka hadapi membuat Ozan hampir membisu di tempat.


"Tuan Ozan? Kau'kah itu?" Katerine terlihat berbinar saat menyebut nama Ozan. "Siapa dia? Maaf ya aku ceroboh dan hampir membuatmu jatuh."


Vlora hanya diam memerhatikan wanita cantik dan sexy ini, jika tidak salah ia seperti pernah melihatnya tapi di mana?


"Dia-dia temanku." Ozan terpaksa berbohong sebab tidak mau keselamatan Vlora terancam.


Vlora terbengong mendengar pengakuan Ozan, perasaan yang kian sensitif pun membuat wajahnya cemberut.


"Benarkah? Tapi kalian terlihat dekat. Kau sedang mengandung?" Kate mengulurkan tangan ingin meraba perut Vlora tapi, Vlora menepis tangannya. "Maaf," ucap Kate tidak enak hati.


Vlora masih diam dan membuang muka.


"Maaf, Kate. Kami harus pergi," ucap Ozan.

__ADS_1


"Secepat itu? Setelah sekian lama kita bahkan baru bertemu lagi. Kalau tidak keberatan banyak yang ingin aku tanyakan padamu." Kate meraih tangan Ozan. "Kau tidak keberatan,'kan?"


Vlora berdecih melihat adegan di depannya. Ozan yang menyadari itu sontak menarik tangannya dari genggaman Kate.


"Kita cari tempat lain, saja."


Bagaimanapun Ozan tahu kalau Kate sangat terpukul dengan apa yang menimpanya. Wanita ini kehilangan Niko dan Mark yang sempat membuat jiwanya terguncang.


Ozan tetap menggenggam tangan Vlora yang berdiri di sisi kanannya, wajah istrinya itu masih cemberut sementara Kate berjalan di sisi kirinya.


"Aku akan meracunimu, Ozan," gumam Vlora, Ozan tersenyum dan mengedipkan satu matanya.


Diam-diam Kate tersenyum simpul dan siap menjalankan aksinya.


***


Restoran yang tidak jauh dari taman menjadi tempat pilihan Ozan, ia sengaja memesan berbagai makanan lezat untuk Vlora dan membiarkan Kate duduk diantara mereka.


"Kau lahap sekali," ucap Kate yang sedari tadi tidak berhenti memerhatikan Vlora.


Vlora meliriknya sekilas lalu melanjutkan makannya.


Vlora terbatuk dibuatnya, Ozan sigap memberikan segelas air putih.


Santai saja," ucap Ozan membantu Vlora minum dan mengelus punggungnya.


"Ak-aku mau ke toilet." Vlora membersihkan sudut bibirnya.


"Biar aku temani."


"Biarkan aku sendiri tanpamu dan pengawalmu, ozan." Tanpa menunggu jawaban Ozan, Vlora tetap berdiri dan pergi sendirian.


Kini, tinggallah Katerine dan Ozan. Ozan masih diam melihat Vlora yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Mark sudah menikah?" tanya Katerine, raut wajahnya terlihat sendu. "Semua ini tidak adil untukku, Ozan. Mark sudah mengambil semuanya dariku dan kini hidup bahagia dengan wanita lain. Apa dia tidak pernah memikirkan perasaanku?"


Ozan melihat wajah Kate. "Jangan mencari kesalahan Mark, semua terjadi karena ambisi kakakmu sendiri."


"Bahkan kau pun tidak bersimpati padaku. Kau tahu tidak mudah bagiku menghadapi semua ini. Aku pun seorang wanita yang perlu dilindungi seperti kalian melindungi para wanita malam itu. Mark bahkan menikahi salah satu dari mereka!"


"Rosella bukan wanita malam!" sentak Ozan tidak terima. "Justru, kakakmu sendiri yang menculik dan mengurungnya di sana. Sudahlah Kate, kita tidak perlu membahas ini lagi!"

__ADS_1


"Tidak perlu karena kalian sudah hidup bahagia? Lalu bagaimana denganku?"


"Lalu apa maumu?"


"Kau dan Mark! Aku mau kalian berdua!"


Rahang Ozan mengeras, tangannya mengepal kuat di bawah Meja. Tentu, Ozan tahu apa yang dimaksud Kate. Jika tidak nyawa maka, Kate menginginkan mereka menjadi budak atau pesuruhnya.


Kate pun demikian, ia tidak takut menata wajah Ozan yang sudah memerah, Kate sudah memikirkan semuanya. Nyawa harus dibayar dengan Nyawa.


"Ok! Aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun untukmu." Ozan beranjak dari duduknya. "Aku yakin, kau pun bisa hidup bahagia. Jangan sampai kau bertindak konyol atau mengusik hidupku dan Mark! Karena aku tidak akan tinggal diam!"


Ozan meninggalkan lembaran uang dolar di atas meja, lalu berjalan mantap meninggalkan Kate dan menyusul Vlora ke toilet.


***


Vlora membasuh wajah dengan air bersih, berdiri di wasetafle memerhatikan wajah dan penampilannya.


"Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana?" Vlora menjadi semakin resah, ia mengambil tisu dan mengeringkan wajahnya. Setelah dirasa cukup ia pun keluar dari toilet.


Vlora terkejut ketika seseorang mencekal pergelangan tangannya.


"Hai Nona malam, kau masih mengingatku?" Pria berawajah mesum ini tersenyum kepada Vlora. "Sudah lama tidak bertemu. Ah, aku merindukanmu!"


"Aku bukan nona malam!" Vlora menjawab lantang, tentu ia masih ingat pria brengs*k yang pernah mencium dan hampir merampas kehormatannya.


"Lepas!" Vlora berusaha menarik tangannya.


"Benarkah? Apa kau sudah melupakan sentuhanku, cantik?" Ia mendorong Vlora sampai menempel di dinding.


Pergerakan Vlora terbatas sebab perut yang cukup besar membuat Vlora sulit menghindar atau berlari.


"Jangan takut, kalau kau mau kita bisa mengulanginya lagi." Jarinya sudah menari di wajah Vlora.


***


Konfliknya nggak panjang, nggak lebar, nggak tinggi, pokoknya anggap aja lagi ngedrakor🙃


Jangan lupa jempol digoyang...


Jangan lupa kunjungi Rey dan Oca. Makasih

__ADS_1


__ADS_2