
"Aku datang, kak." Wanita yang menutupi tubuhnya dengan mantel hitam ini meletakkan bunga di atas pusara Niko. Kakak kandung yang tewas ditangan calon suaminya sendiri. Semenjak kejadian itu bukan hanya Niko yang tewas, hati dan seluruh jiwa Katerine pun terasa ikut bersamanya. Sebab Katerine kehilangan dua orang yang sangat ia cintai.
Jika Niko berpindah tempat ke dunia lain, maka lain halnya dengan Mark yang memilih pindah kelain hati. Semua berubah setelah orang tua Mark memutuskan hubungan dan setelah Mark tampil di depan umum menggandeng Rosella.
Mata katerine sudah mulai basah dibalik kaca mata hitam yang menghiasi wajahnya, memandang makam yang sudah lama tidak dikunjungi. Bahkan, suaranya pun bergetar ketika bicara.
"Kakak sudah baik-baik saja di sana. Tenanglah, aku yang akan meneruskan apa yang kakak tinggalkan di sini. Aku janji kakak akan mendapatkan penghormatan dari mereka yang sudah menghancurkan mimpi-mimpi kita."
Kate membuka kaca matanya, meraba nisan yang bertuliskan nama Niko, air mata jatuh membasahi nisan tersebut dan menumbuhkan dendam di hatinya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, seorang pria datang membawa payung hitam dan melindungi Kate dibawah payung yang ia pegang.
"Sudah cukup, Nona. Hari sudah semakin gelap. Lebih baik kita pulang sekarang," ajak Devano salah satu saksi yang lolos di malam itu.
Kate menghela nafas panjang. "Kau sudah mengumpulkan informasi tentang mereka? Aku tidak sabar untuk menghabisi mereka." Kate mengepalkan tangan, geram membayangkan wajah Mark dan Ozan.
"Kita bicarakan nanti, Nona." Devano memberikan jalan untuk Katerine.
"Jangan sampai kau mengecewakan aku!"
Akhirnya Katerine meninggalkan makam Niko. Pergi membawa janji untuk membalas dendam.
***
Markas persembunyian beberapa anak buah Niko berada cukup jauh dari pemukiman penduduk. Tidak ada yang berhasil mendengkus keberadaan mereka termasuk polisi sekalipun. Jumlah mereka tidak terlalu banyak tapi, dendam di hati mampu membakar target hanya dengan satu kali tindakan. Hanya saja mereka memilih waktu yang tepat untuk melakukan itu.
Katerine duduk memandang layar yang menampilkan beberapa foto kebahagiaan Mark, Rosella dan anak mereka yang masih kecil.
"Sepertinya Mark sangat menjaga orang-orang disekitranya. Terlihat dari beberapa moment di mana para pengawal mengelilingi mereka, Nona. Kecil kemungkinan kita bisa menyelakai mereka," ucap Devno.
Katerine tentu paham bagimana liciknya Mark. Pria itu terlihat tenang dan tidak terbaca tapi, sekali bertindak berhasil melumpuhkan lawan termasuk menewaskan Niko.
"Lalu bagimana dengan Ozan?" tanya Kate sembari menghebuskan asap rokoknya.
__ADS_1
Layar itu betgantian menampilkan wajah Ozan dan seorang wanita ketika mereka berada di pusat perbelanjan.
"Aku sudah menyelidiki wanita ini. Dia Vlora wanita malam milik Tuan Niko yang berhasil lolos di malam itu."
"Vlora? Wanita malam?" Katerine tersenyum sinis. "Menarik, pria itu menjadikan wanita malam sebagai simpanannya. Bahkan, mereka tampak bahagia tapi sayang, aku sendiri yang akan melenyapkan kebahagiaan mereka. Kumpulkan informasi apapun tentang Ozan dan wanita itu. Tetap tenang dan biarkan aku yang bertindak!"
Katerine menjentitkan puntung rokok ke dalam asbak lalu kembali ke kamarnya.
***
Pagi Hari
Tempat tidur yang semula rapi danndipenuhi taburan kelopak bunga mawar ini menjadi berantakan akibat malam panas Ozan dan Vlora. Meskipun Vlora sedang hamil muda, Ozan tetap melakukannya dengan hati-hati dan isting yang dimiliki.
"Ozan, sampai kapan kau mengurungku di sini?" tanya Vlora ketika baru keluar dari kamar mandi.
Ozan yang saat itu sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur menjawab tanpa membuka mata. "Setelah anak kita lahir barulah kau boleh melihat dunia luar."
"Kau bercanda? Aku bisa bosan di sini." Vlora menarik selimut Ozan, ia terkejut melihat Ozan masih belum memakai apapun.
"Ozan, lepas!" sentak Vlora dipangkuan Ozan, ia merasa geli dan risih.
Ozan memeluk dan menarik handuk kecil yang melilit rambut Vlora, membuat aroma shampo dari rambut basah Vlora menyeruak hingga masuk ke dalam rongga hidungnya.
"Kau mandi sendiri? Kenapa tidak mengajak aku?" Ozan meletakkan dagu di bahu Vlora, tangannya menarik tali handuk kimono yang dipakai Vlora membuat jemrinya bisa bergerak bebas mengelus perut Vlora.
"Kita bisa mandi seharian, nanti," jawab Vlora sembari menahan tangan Ozan yang semakin menggeranyangi tubuhnya.
"Tapi aku suka menghabiskan waktu denganmu, demi dirimu aku sengaja mengosongkan jadwalku selama beberapa hari kedepan."
"Kenapa kau manja seperti bayi?" Vlora berdiri dan menarik tangan Ozan. "Cepat bersihkan tubuhmu, aku akan siapkan sarapan pagi untukmu!"
"Aku mau memakanmu, saja!" Ozan merangkul Vlora. "Temani aku mandi."
__ADS_1
"No! Mandilah sendiri!" Vlora mendorong punggung Ozan sampai masuk ke kamar mandi. "Aku tunggu di bawah!" teriak Vlora.
Dibalik pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, Ozan tersenyum karena menurutnya Vlora benar-benar lucu dan menggemaskan.
***
Roti keju panggang dan segelas susu hangat sudah tersaji di atas meja. Tapi, belum ada tanda-tanda kehadiran Ozan di sana. Vlora memutuskan untuk melihat-lihat ruangan lain di sana.
Pintu berwarna emas mencolok menarik perhatian Vlora, ia memutar kenop pintu hingga terbuka lebar, tubuh Vlora semakin gemetaran melihat isi di dalamnya. Jika dulu Vlora hanya melihat satu senjata saja tapi kini, berbagai macam senjata api tersusun rapi di dalamnya.
"Untuk apa Ozan menyiapkan semua ini?" lirih Vlora.
"Untuk menembakmu, Vlo," bisik Ozan tiba-tiba, ia cukup terkejut melihat Vlora membuka pintu rahasia miliknya.
Bisikan Ozan dirasa mencekik leher Vlora, ia refleks memutar tubuh dan mendapati Ozan berdiri tepat di hadapannya.
"Kau menakutiku," ucap Vlora, ia merinding melihat wajah Ozan tampak beda dari sebelumnya.
"Kenapa takut? Aku tidak segan menembakmu jika kau berani mengkhianatuku! Jadi, jangan coba-coba lakukan itu, hm?"
Ozan meraih tangan Vlora dan mengajaknya kembali ke meja makan. "Sudahlah, jangan masuk ke ruangan itu tanpa ijinku!"
"Lalu bagaimana kalau kau yang berkhianat, Ozan?"
Ozan sontak menghentikan langkahnya, berbalik arah melihat Vlora.
"Kau boleh meracuniku!" jawab Ozan.
"Apa ada kemungkinan kau berkhianat?" tanya Vlora lagi.
Wajah Ozan yang sebelumnya menegang kini sudah berubah. Ozan tertawa lalu memeluk Vlora.
"Pertanyaan konyol apa itu? Sudah aku bilang, kau adalah duniaku.Aku tidak akan mencari yang lain lagi. Aku tidak mengijinkanmu masuk ke ruangan berbahaya ini. Aku tidak mau terjadi hal yang buruk padamu dan calon anak kita. Nanti ketik anak kita sudah besar akan aku ajarkan dia bermain senjata."
__ADS_1
Vlora terdiam dan menikmati pelukan hangat Ozan, mereka berharap tidak akan ada badai yang datang mengganggu rumah tangga mereka.