
Pintu rumah sakit dibuka dari luar, anak kecil yang usianya belum genap 2 tahun itu berlari mendekati baby box, ia menarik celana pria dewasa yang berdiri di dekatnya. Lalu mengangkat kedua tangan minta digendong.
"Kau datang my boy?" Ozan menggendong Marsell dan memerlihatkan putri kecilnya yang sedang tidur. "Putri cantik sedang tidur, kau ingin menciumnya?"
Marsell mengangguk.
"Baiklah, tapi kalau kalian sudah dewasa kau tidak boleh menciumnya, ya!" Ozan menempelka bibir Marsell di pipi anaknya.
Rosella, Mark dan Vlora tertawa melihatnya.
"Selamat untuk kelahiran putri kecilmu, Vlo. Dia cantik seperti ibunya," ucap Rosella ia datang membawa hampers mewah untuk keponakannya, tidak lupa mengirimkan hadiah lain ke kediaman Vlora dan Ozan.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan Nyonya."
"Kau selalu seperti ini. Kapan ibumu datang?"
"Ibuku pun sedang sakit, mungkin beberapa bulan lagi baru bisa datang."
"Oh, aku ikut prihatin untuk itu. Tapi tenang saja. Aku akan sering-sering datang menjengukmu nanti."
"Jangan khawatir, Nyonya. Aku sudah belajar cara mengurus bayi. Aku dan Ozan akan bekerja sama mengurusnya."
"Tentu saja. Aku sudah siap menjadi satpam yang berjaga di malam hari," ucap Ozan, ia menurunkan Marsel dari pangkuannya, anak itu berlari kearah ibunya.
"Kau memang harus menjadi suami siaga seperti aku!" Mark pun tidak mau kalah.
Kehadiran Mark dan Rosella sangat menghibur Vlora. Mereka terlibat perckapan yang diselingi canda dan tawa. Sampai Mark mengajak Ozan bicara di luar ruangan.
***
"Wanita itu muncul di hadapanku!" ucap Ozan ketika mereka berdiri di atas rooftop tempat tertinggi di rumah sakit itu.
Mark masih tenang memandang lurus kedepan, kedua tangannya mengepal di saku celana mengingat Kate yang kemungkinan akan berulah.
"Kau takut?" cetus Mark menarik sudut bibirnya.
"Bahkan aku orang pertama yang akan menghadapinya nanti. Meskipun dia seorang wanita tapi aku tidak akan segan mengangkat senjata!"
"Aku yakin dia tidak akan bertindak secepat itu. Dia pasti akan mengulur waktu dan menunggu sampai kita lengah. Ketatkan pengamananmu, Ozan. Jika bukan dirimu, Kate pasti mengincarku!"
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu berhasil menjalankan rencananya, Tuan!"
"Aku tahu, tapi dia seperti rubah yang licik. Dia pasti sudah belajar dari pengalaman hingga lebih hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai kau memberinya cela untuk masuk, kau mengerti?"
Ozan mengangguk paham, seperti apapun situasinya ia tidak akan memberikan kesempatan untuk Kate menyakiti keluarganya.
"Dalam waktu dekat aku dan Rosella berencana pergi ke Paris. Akan aku tinggalkan anak buahku di sini untuk menjaga keluargamu. Kau tau kan mereka paling bisa diandalkan."
"Nikmti liburan Tuan di sana. Jangan pusingkanjadi aku di sini. Percayalah, aku bisa menangani semuanya."
"Kau sangat berharga untukku Ozan. Ingat pesanku, apapun yang terjadi tetaplah jadi dirimu sendiri, kau sudah beristri dan punya seorang putri, mereka menjadi prioritas utamamu. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan!"
Mark menepuk pundak Ozan. "Aku pergi," pamitnya. Ozan diam mencerna ucapan Mark dan mengikutinya dari belakang.
Beberapa saat kemudian, tinggallah Vlora dan Ozan di ruangan itu. Vlora memangku anaknya dan sesekali mengajak bicara. Ozan pun ikut mengelus pipi putrinya.
"Ozan, aku seperti tidak asing dengan wanita itu. Dia pasti tau kalau aku pernah menjadi wanita malam. Masa laluku pasti akan mencemari nama baikmu."
"Jangan pikirkan itu Vlo. Aku tidak perduli dengan omongan orang, aku yang lebih tau seperti apa dirimu. Terlebih lagi aku sendiri yang merenggut kehormatanmu, bukan pria lain."
"Terus apa yang kalian bicarakan? Sepertinya kalian dekat sekali."
"Mantan tunangan Tuan Mark? Jadi dia adik kandung Niko? Lalu kenapa dia menemuimu? Apa dia punya niat jahat?"
Vlora menjadi resah, nama Niko dan kejahatan pria itu tidak akan pernah termaafkan, dan kini adik pria itu pun muncul dikehidupannya. Pantas saja wajah itu tidak asing untuknya.
"Tidak ... dia tidak akan bisa berbuat jahat pada kita. Sudahlah, lebih baik kita fokus membesarkan putri kita yang cantik ini." Ozan mengambil alih anak mereka.
***
Tiga Bulan Kemudian.
Tidak terasa putri Ozan dan Vlora sudah menginjak usia 3 bulan, bayi itu tumbuh sehat dengan mengonsumsi Asi ibunya. Bekas jahitan di perut Vlora pun sudah mengering dan tidak pernah bermasalah karena ia rajin mengonsumsi beberapa vitamin dari dokter.
Selama itu juga tidak ada gangguan dari pihak manapun. Bahkan, Kate tidak pernah muncul dihdapan Ozan atau Mark. Pertemuan di Restoran waktu itu menjadi yang terakhir. Menurut informasi yang didapat, Kate menetap di Luar negri.
Siang itu Vlora membawa anaknya ke luar mansion tanpa ijin dari Ozan, ia mulai bosan terkurung di rumah dan berencana datang diam-diam ke kantor Ozan.
Beberapa pengawal menghalanginya.
__ADS_1
"Nyonya tidak boleh pergi tanpa ijin dari Tuan Ozan."
"Aku cuma mau pergi ke kantor dan buat kejutan untuk suamiku. Bukan kejutan kalau aku minta ijin darinya. Lagi pula aku pergi diantar supir." Vlora masih tidak mau mengalah, ia tetap masuk ke dalam mobil.
Salah seorang pengawal mencoba menghubungi Ozan, tapi pria itu tidak bisa dihubungi. Sementara mobil hitam yang membawa Vlora dan anaknya sudah meninggalkan pekarangan.
"Nyonya keras sepala juga. Tuan Ozan bisa marah kalau Nyonya ke luar dari sini."
"Biar aku ikuti mereka." Dia pun bergegas menghidupkan mobil dan mengejar mobil yang membawa Vlora.
Sementara di dalam mobil. Vlora masih memangku putrinya yang sedang tidur, ia tidak sabar melihat ekspresi Ozan nanti.
"Kenapa kita melewati jalan ini?" tanya Vlora ketika supir melewati jalan yang berbeda. Seharusnya mereka berbelok ke arah jam dua, bukan malah mengikuti jalan ke depan.
"Jalan yang biasa rusak parah, Nyonya," jawab supir semakin menambah kecepatan mobilnya
Vlora tidak menaruh curiga sedikitpun, ia berusaha menenangkan putrinya yang tiba-tiba rewel dan menangis.
Setelah lebih dari tiga puluh menit berlalu, mobil itu berhenti di tengah jalan yang sepi. Pepohonan rindang dan menjulang tinggi mengelilingi tempat itu. Ternyata sudah ada mobil lain yang menunggu mereka. Vlora terkejut saat supir turun dan membuka pintu belakang.
"Turun, Nyonya!"
"Apa maksudmu? Kenapa kita turun di sini?" tanya Vlora.
"Nanti Nyonya akan tahu sendiri. Cepat turun!"
Tangan kanan Vlora ditarik paksa, sementara tangan kirinya masih mendekap bayi mungil itu. Karena takut anaknya terjatuh, akhirnya Vlora menurut dan keluar dari mobil.
"Berikan bayi itu padaku!" titah supir yang sudah lama bekerja pada Ozan, bahkan ia pun dibekali ilmu bela diri.
"Ada apa denganmu? Apa kau mengkhianati kami?"
Belum hilang keterkejutannya, kemunculan seorang wanita dari mobil lain membuat Vlora yakin jika supirnya adalah seorang pengkhianat.
***
Jangan lupa jempolin👍
Terima kasih.
__ADS_1