Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Noda


__ADS_3

Vlora sengaja membiarkan air itu terus mengalir membasahi sekujur tubuhnua. Mengahapus semua kenangan dan pengalaman hitam di dalam hidupnya. Lebih dari satu tahun yang lalu ia dijual oleh ayah tirinya, dipekerjakan sebagai wanita penghibur namun, Vlora berusaha menjaga diri.


Bukan tidak tergoda hanya saja tidak mau tubuhnya dijamah sembarangan pria. Para pria hidung belang itu sesuka hati menciumnya. Beruntung, ia berada di tempat itu hanya hitungan hari, tidak terlalu lama sebab kericuhan terjadi membuat wanita yang disandra bisa melarikan diri.


Namun kini, ia berakhir di tangan pria yang menolong dirinya selama ini.


Jejak merah di sebagian tubuhnya masih belum hilang juga tapi, Vlora menyudahi semuanya. Wanita bermata perak ini memakai baju rajut yang menutupi sampai ke lehernya, ia hanya membawa sedikit pakaian sebab tidak mau berhutang budi lebih banyak lagi dari Ozan. Ya. Selama ini Ozan yang memenuhi semua kebutuhannya.


Di depan pintu kamar Ozan yang tertutup rapat ia berdiri sejenak, menatap dengan tatapan mata yang kosong seperti hatinya saat ini. Ini adalah yang terakhir kalinya berada di tempat ini.


"Aku pergi," ucapnya lirih dan kembali melangkah keluar unit yang selama ini ia tempati.


***


Ntah sudah yang keberapa kali ponsel di atas nakas itu berbunyi. Tapi, Ozan tidak perduli malah semakin meringkuk di atas tempat tidur. Tapi semakin lama benda itu semakin mengusiknya, masih dengan mata yang terpejam pria ini menjulurkan tangan dan meraihnya.


"Tunggulah sebentar, aku akan datang!" jawabnya tanpa melihat nama orang yang menghubunginya.


"Sudah siang, aku tidur selama itu?" Ozan mengusap wajah dan teringat apa yang sudah ia lakukan di kamar Vlora. Antara nyata dan tidak Ozan tersenyum dan membuatnya lebih semangat lagi.


***


Beberapa saat kemudian.


"Kau di dalam, Vlo?" teriak Ozan, pria yang memakai kaos hitam dan celana jeans ini duduk di sofa menatap pintu kamar Vlora yang masih tertutup. Ozan memerhatikan seluruh ruangan seperti belum tersentuh sama sekali. Di jam segini biasanya wanita itu sudah menyiapkan makan siang jika ia di rumah.


Ozan bangkit dan mengetuk pintu kamar. "Kau sakit, Vlo?"


Hening! Ozan menjadi panik. "Aku masuk!"


Pintu kamar sudah terbuka tapi, Vlora tidak ada di sana, lantas ia masuk dan mengechek kamar mandi.


"Kau baik-baik saja, Vlo?"

__ADS_1


Tidak ada tanda-tanda orang di dalam. Ozan memutar kenop pintu berharap menemukan Vlora tapi, nihil kamar mandi juga kosong.


"Kemana, dia?" Ozan berkacak pinggang, pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Vlora tidak pernah keluar tanpa meminta ijin padanya. Ozan menyingkap tirai jendela membuat cahaya matahari seakan menembus kaca menjadikan ruangan itu lebih terang dari sebelumnya.


Mata Ozan menyipit melihat noda di atas tempat tidur, bahkan selimut itu masih terlihat berantakan. Ozan cepat-cepat meraih dan memerhatikannya.


"Sial!" Tangan Ozan mencengkram kuat selimut ternoda darah yang sudah mengering, darahnya berdesir mengetahui kenyataan ini.


"Brengs*k kau, Ozan!!!" Teriakan Ozan menggema di kamar Vlora. "Aku tidak menyadarinya. Tidak Vlo ... kau tidak mungkin pergi!"


Masih dengan wajah yang panik, ia membuka lemari pakaian Vora. Lipatan pakaian dan beberapa gaun mahal pemberiannya masih tetsimpan rapi di sana. Beberapa kotak perhiasan yang pernah ia berikan pun masih lengkap. Hal ini membuat Ozan menjadi lega.


"Kau ke swalayan? Kau ke taman? Kau di mana?" Masih memegang selimut, ia duduk di tepian tempat tidur, sisi yang kosong di sudut ruangan menambah kepanikannya.


"Kau pergi, Vlo? Kenapa kopermu tidak ada?" Ozan menjambak rambutnya, wajahnya memerah karena frustasi, ia pun memutuskan untuk mengechek CCTV.


Manik mata Ozan tidak lepas dari putaran rekaman di layar monitor, menjadikan wanita itu sebagai sasaran utama. Hati Ozan terasa sakit dan bersalah melihat Vlora berhenti di depan kamarnya sebelum menarik koper dan keluar dari apartmen.


PRANG!""


Kini, laptop itu hancur menjadi berkeping-keping. Ozan meraih kunci mobil dan keluar mencari Vlora.


***


Vlora berjalan tanpa tahu arah tujuan, mengisi perutnya yang lapar di salah satu kafe yang terletak di tepi jalan raya. Vlora bukan seorang kriminal, juga bukan seorang tawanan yang baru ke luar dari sel tahanan tapi, ia merasa cukup asing berada di luaran.


"Vlora?"


Vlora menoleh melihat wanita paruh baya berpenampilan modis sudah berdiri di sampingnya, ia berdiri dan memastikan tidak salah melihat orang.


"Ma-Mama?" lirih Vlora, ia berdiri di depan mamanya.


"Dari mana saja kau, Nak? Kenapa tidak pulang ke rumah?" Ia memeluk Vlora yang masih linglung.

__ADS_1


Vlora melepaskan pelukan mereka. "Rumah mana? Apa aku punya rumah? Apa ada yang melindungiku di sana?" sentak Vlora, ia tatapannya memancarkan kebencian pada pria yang sudah menjualnya.


"Maafkan Mama, Vlo. Mama menyesal tidak bisa mencegah papam--


"Dia bukan papaku! Dia hanya pria brengs*k yang menikahi Mama lalu menjualku seenaknya!"


Teriakan Vlora menarik perhatian semua orang, termasuk pria berkemeja hitam yang duduk tidak jauh dari mejanya.


"Mama salah, Mama benar-benar minta maaf. Mama tidak tau kalau dia menjualmu. Mama berusaha mencarimu tapi tidak pernah berhasil menemukanmu! Pulanglah, Vlo. Jangan hukum mama seperti ini."


"Mama mau aku pulang ke rumah pria itu? Lalu seenaknya dia mengatur dan menjualku? Sampai kapanpun aku tidak mau kembali ke neraka itu lagi!"


Pria yang sedari tadi memerhatikan mama tirinya pun menjadi yakin jika wanita muda itu adalah anaknya. Anak kandung wanita yang menikah dengan papanya. Beberapa tahun yang lalu disaat papanya memutuskan menikah lagi, ia keluar dari rumah tanpa sempat melihat anak dari ibu tirinya. Beberapa bulan yang lalu setelah papanya meninggal, ia kembali melunasi semua hutang yang ditinggalkan dan mengajak ibu tirinya tinggal bersamanya.


"Kalau kau tidak mau berurusan dengan papaku. Tenang saja, dia sudah meninggal!"


Masih duduk di bangkunya ia bicara lantang, kini perhatian semua orang tertuju pada mereka.


Vlora mengepalkan tangan melihatnya. "Jadi kau anak si botak itu!" serunya tiba-tiba.


"Vlora jangan bicara seperti itu, dia kakakmu juga," ucap Mama Vlora.


Vlora tersenyum sinis. "Meskipun dia sudah meninggal tapi, aku tidak sudi berhubungan dengan keluarga bahkan keturunan pria botak itu! Aku yakin kelakuannya pun sama dengan si botak itu!"


"Kau boleh benci papaku. Tapi, kau juga harus ingat kalau aku pun membenci mamamu. Kehadiran kalian memaksaku harus keluar dari rumah, menghadapi kerasnya dunia luar yang merubah hidupku!"


Dua orang yang sama-sama pernah menjadi korban keegoisan orang tua ini saling bersitatap muka. Tidak ada yang mau mengalah, mereka sama-sama merasa menjadi anak yang paling tersakiti.


***


Jempolin, lagi hihii. Rey dan Oca sudah update di buku baru. Makasih


__ADS_1


__ADS_2