Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Kemesraan Jangan Berlalu


__ADS_3

Vlora tersenyum menikmati pelukan Ozan. Pelukan yang pernah ia rindukan kini kembali ia rasakan. Mata yang tadinya pura-pura terpejam akhirnya larut dalam mimpi.


Kicauan burung terdengar nyaring di telinga Vlora, menyadarkannya dari alam mimpi, perlahan kelopak mata yang dihiasi bulu lentik itu sudah mulai bergerak, memicing dan terbuka sempurna.


Kedua sudut bibir Vlora terangkat begitu saja, tersenyum melihat pria yang masih tidur pulas di sampingnya. Jika biasanya ia ingin berlama-lama di alam mimpi bernostalgia bersama kenangan dengan Ozan maka, hari ini semua akan berubah. Sebab, semua mimpinya sudah menjadi nyata, hanya dengan ujung jari ia bisa menyentuh tubuh tegap Ozan.


Vlora menyingkap selimut, turun dari tempat tidur dan bertelanjang kaki keluar dari area ternyaman itu. Berdiri di dek kapal menikmati angin laut di pagi hari.


Vlora menghadap lautan lepas, menyentuh embun yang membasahi besi pembatas, rambutnya bergerak bebas mengikuti arah angin yang sedang memermainkannya.


Sementar Ozan, masih dengan mata yang terpejam ia meraba tempat tidur di sisinya ingin memeluk wanita yang menguasai mimpi indahnya malam tadi.


"Vlo...." Mata itu sudah terbuka lebar, Ozan terkejut tidak melihat Vlora di sampingnya, ia menjadi panik dan takut kehilangan Vlora lagi, Ozan lantas menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur, ingin berteriak memangil nama Vlora. Tapi, tirai jendela yang transparan itu tersingkap angin laut, memerlihatkan siluet wanita yang tengah berdiri di luar kamar.


Ozan pun berjalan cepat menyusulnya.


"Kau di sini, Sayang?" Ozan memeluk Vlora dari belakang, lalu mencium pipi mulusnya. "Aku pikir kau pergi lagi."


Vlora tersenyum ia masih merasa semua ini mimpi. Dirinya berdiri di atas dek kapal bersama pria yang ia cintai, melihat matahari yang masih malu-malu menampakkan diri, lautan terbentang luas mengelilingi mereka, ditambah lagi langit seakan merestui kebahagiaan ini.


"Memangnya aku mau pergi ke mana lagi? Bukankah kau tempatku kembali, Ozan?"


"Kua benar, sejauh manapun kau melangkah. Tidak akan ada tempat ternyaman selain berada di sisiku. Tempat ini akan menjadi saksi cinta kita dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Ingatlah, Vlora, sampai kapanpun kau hanya milik Ozan seorang."


"Aku harap kita bisa selamanya seperti ini," lirih Vlora, ntah mengapa tiba-tiba ia merasa gelisah. Takut kemesraan ini berakhir selamanya. Vlora tahu tidak mungkin semua orang menerima hubungan yang mereka jalani. Terlebih lagi ia dikenal sebagai wanita pekerja malam. Sementara semua orang mengenal Ozan dengan baik.


Ozan memutar bahu Vlora membuat mereka saling berhadapan, ia merapikan rambut Vlora yang ditiup angin, lalu meraih dagu Vlora dan mengunci manik matanya.


"Jangan khawatirkan apapun. Tidak perduli situasi yang kita hadapi nanti, aku tidak akan pernah berubah. Aku janji akan selalu percaya padamu." Ozan memeluk Vlora, memberikan kehangatan di pagi hari.


Vlora pun membalasnya, menurutnya pelukan Ozan adalah tempat ternyaman yang pernah ada. Tiba-tiba Ozan menangkup wajah Vlora dan merampas bibirnya. Kecupa*n itu berawal penuh dengan kelembutan, hingga akhirnya berubah semakin dalam dan semakin menuntut.


Masih dengan bibir yang menyatu, Ozan menggiring Vlora kembali ke tempat tidur. Kerinduan yang membuncah sudah menuntut untuk dilepaskan. Ozan dan Vlora hanya mengikuti insting hingga akhirnya berakhir di atas tempat tidur.


"Kita akan segera menikah. Aku tidak sabar menunggu hari itu," ucap Ozan sembari mendekap Vlora.


***


Masih di atas tempat tidur namun, di kamar yang berbeda. Mark turun dari tempat tisur dan memakai handuk kimono yang sudah disiapkan Rossella, kemudian menyusul istrinya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kau di dalam, Rose?" Mark memutar kenop pintu tapi, ia tidak melihat Rosella di sana.


"Aku di sini, tunggulah sebentar!" jawab Rosse dari arah luar.


Mark mencari sumber suara, ia tersenyum melihat Rose sedang berendam di buthup. Punggung putih bak susu itu sangat menggoda dan sayang untuk dilewatkan.


"Kau tidak mengajakku?" Mark menanggalkan handuk kimono miliknya lalu bergabung dengan istrinya.


"Astaga, Mark! Kau mengagetkanku!" Rosella memercikkan air di wajah Mark. "Keluarlah, biarkan aku sendiri dulu. Semenjak kita liburan kau selalu ada di sampingku."


"Kau seperti maghnet yang selalu menarikku, Rosse." Mark merangkul Rose dan memerhatikan bercak-bercak merah yang tadi malam dilukisnya. "Aku belum membuatnya di sini." Mark menunjuk punggung Rosse.


"Tidak, kau sudah membuatku kelelahan, Mark. Biarkan aku mengumpulkan tenagaku lagi."


"Tapi aku masih kuat dan sanggup melakukannya."


Rosella berdecih, karena tidak pernah bisa menang dari Mark. "Berbalik!"


"Hah?"


"Biar aku yang membuatnya di punggungmu!"


"Iya! Cepatlah sebelum Marsel bangun dan mengacaukan semuanya!"


Mark semakin menggebu, ia berbalik arah memunggungi Rosse. "Lakukanlah, sayang. Aku sudah siap menerimanya." Mark bahkan sudah memejamkan mata.


"Hmm baiklah!" Rosella mengambil sabun dan menggosok punggung Mark. "Nikmati ya, Sayang!"


Mark membuka mata. "Kau bercanda?"


"Memangnya apa yang kau pikirkan."


Mark menghadap Rosella lagi. "Kau tidak tau apa yang aku pikirkan?"


Rosella menggeleng.


"Ini yang aku pikirkan!" Mark meminddahkan Rosella di atas pangkuannya, lalu menjelajahi tiap inci tubuh istrinya.


Rosella tertawa sebab Mark membuatnya geli, detik betikutnya tawa Rose berubah menjadi suara des*han manja.

__ADS_1


***


Kapal pesiar sudah berlabuh di dermaga, ratusan orang sudah menginjakkan kakinya lagi di daratan.


Sesuai rencana sebelumnya setelah berhasil memertemukn Ozan dan Vlora. Rosella dan Mark pun mengakhiri liburannya.


"Terima kasih untuk semuanya, Nyonya," ucap Vlora, nasihat yang diberikan Rosella sangat memengaruhi dirinya. Bahkan, tanpa sepengetahuan Ozan selama ia berada di pulau pun, Rose tidak pernah lupa mengirimkan beberapa makanan dan kebutuhannya yang lain.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Nyonya. Kau sudah seperti adikku sendiri. Jadi, anggap aku kakakmu!"


Vlora tersenyum dan mengambil alih Marsel dari ibunya. Marsel menunjuk-nunjuk dua orang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka. Vlora lantas mengikuti arah pandangan Marsel.


Dilihatnya Ozan dan Mark terlibat pembicaraan yang mungkin cukup serius. Raut wajah Ozan tampak menegang, bahkan ketika bicarapun wajahnya merah padam. Vlora tidak bisa mendengar apa yang dibahas ayah dari anaknya itu. Tapi, ia berharap semua baik-baik saja.


Ozan menangkap basah Vlora yang memerhatikannya dari jauh, pria itu tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.


"Jadi, kapan kau menikahi Vlora?" tanya Mark.


"Secepatnya, Tuan. Tapi, pernikahanku akan diadakan secara tertutup. Aku tidak mau anak buah Niko yang masih berkeliaran mengacaukan semuanya. Bahkan, jika perlu aku akan mengurung Vlora supaya mereka tidak bisa mencelakainya!"


"Aku yakin, kau bisa mengatasi semuanya. Jangan khawatir Ozan. Aku tidak akan tinggal diam jika mereka mengusik kita lagi!" ucap Mark, ia tahu anak buah Niko masih menaruh dendam pada mereka.


***




Isinya nggak jelas ya ....


Sabar ya mentemen. Kalau lebih 50 bab, berarti kita sisipkan konflik dikit ya😔


Deal!!!


Deal!!!!


Sepakat?


Sepakat!!!

__ADS_1


Jangan lupa dijempolin👍😂


__ADS_2