Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Kesalahan Satu Malam


__ADS_3

"Aku menginginkanmu, Vlora," bisik Ozan ditelinga Vlora.


Ozan mengecup kening, kelopak mata, kedua pipi, hidung dan menyatukan bibir mereka lagi.


Vlora berusaha membrontak tapi, Ozan tidak mau melepaskan tangannya, sehingga ia hanya bisa pasrah menerima ciu man Ozan yang semakin memerdalam tautan bibir mereka.


Lebih dari itu, tangan Ozan sudah mulai menggeranyangi tubuh Vlora, melepaskan kancing piyama yang dipakai Vlora, menyentuh dan meraba dada Vlora. Vlora tercekat dan kembali mendapatkan kesadarannya. Tangan Vlora yang sudah bebas bergerak membuat ia leluasa memukul lengan dan punggung Ozan.


"Ozan, stop! Jangan lakukan ini." Namun sayang, Ozan seakan menuli hingga tidak mendengar rintihan yang keluar dari bibirnya.


Vlora melipat mulutnya, ia tidak mau mengeluarkan suara yang bisa membuat Ozan semakin bernafs*u untuk menyentuhnya.


Namun, pria ini justru semakin menenggelamkan wajah di da danya yang sudah terpampang nyata hingga pria itu bermain-main di sana. Permainan Ozan membuat tubuh Vlora menegang hingga memechkan suara desa*an yang semakin membuat Ozan menggila.


Ya! Ozan seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ia begitu terpesona melihat apa yang ada di depan mata, gelapnya ruangan itu tidak bisa menyembunyikan keindahan dan cahaya kulit putih milik Vlora. Detik itu juga Ozan berhasil menanggalkan piyama milik Vlora.


"Dengarkan aku sebentar saja." Vlora meraih kepala Ozan sampai pria ini melihatnya.


"Tidak untuk sekarang, Vlo. Kita bicara nanti!" Pria mana bisa menahan naf*u yang sudah berada di puncak tertinggi? Lucu sekali disaat seperti ini Vlo mengajaknya kompromi.


Tatapan mata itu melumpuhkan Vlo. Tatapan mata Ozan meluluhkan hati Vlo. Tatapan mata Ozan membuat Vlo mau menyerahkan semuanya pada Ozan yang tidak tahu banyak tentangnya. Hingga ntah sejak kapan tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun.


"Maafkan aku, Vlo." Kata maaf terucap dari bibir Ozan ketika ia mencoba menyatukan tubuh mereka, Ozan melihat ada cairan bening yang keluar dari sudut mata Vlo, ia tidak tau apa yang membut Vlora menangis.


Kenapa harus menangis? Bukankah Vlora sudah terbisa melakukannya? Bahkan, wanita ini ia temui di tempat terkutuk milik Niko. Lalu apa yang salah? Apa yang membuat wanita ini menangis? Pikiran, pertanyaan dan penasaran seakan menghilang begitu saja dikalahkan naf*u dan efek wine yang memabukkan dan menguasai dirinya. Sehingga Ozan melanjutkan apa yang sudah dimulainya.


Vlora tidak bisa lagi menahan air matanya, rasa sakit dan perih yang ia rasakan ketika ozan berhasil merobek dan merenggut kesucian yang selama ini dijaga semakin membuat air matanya mengalir.

__ADS_1


"Kau menangis?" tanya Ozan tanpa menghentikan aksinya. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan bergerak pelan."


Ozan pikir, Vlora sedikit merasakan sakit karena sudah lama tidak melakukan hubungan itu. Maklum, sudah satu tahun lebih senjak Mark dan dirinya menyelamatkan para wanita malam itu, termasuk Vlora yang kini tinggal bersamanya, wanita ini tidak pernah bertemu pria manapun. Vlora lebih banyak melayani kebutuhannya di apartmen dengan alasan ingin membalas budi.


Sementara Vlora sudah berhenti menangis, ia seolah rela dan mengikuti keinginan tubuhnya untuk tetap berada di bawah kendali Ozan. Pria yang selalu mencium seluruh wajah dan menatap matanya ini seolah tidak kenal lelah bergerak di atas tubuhnya. Lagi-lagi mata Ozan membuatnya percaya diri kalau Ozan menyukainya. Seperti dirinya yang diam-diam menyukai barangkali mencintai Ozan yang tidak pernah melecehkannya.


Malam ini merubah segalanya, setelah sama-sama mencapai puncak tertinggi, Ozan melepaskan dirinya dan berbaring di samping Vlora. Matanya terpejam, lengannya menutupi sebagian wajah Ozan, dadanya masih naik turun mengikuti nafas yang belum stabil seperti biasa.


Vlora meraih selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Kini, mereka berada di bawah selimut yang sama. Vlora tersenyum memerhatikan wajah Ozan, ia tidak menyangka mereka sudah melakukannya.


Mungkinkah selama ini diam-diam Ozan juga menyimpan perasaan untuknya?


Vlora mengangkat satu tangan ingin menyentuh wajah Ozan tapi, tiba-tiba pria ini membuka mata dan menghadapnya. Sontak, Vlora menarik tangannya.


Ozan memerhatikan wajah Vlora, mengulurkan tangan menyisipkan rambut halus di belakang telinga Vlora, kini keduanya saling bersitatap muka.


"Maaf ...." lirih Ozan, ia teringat air mata yang sempat mengalir di wajah Vlora. "Maaf sudah membuatmu kesakitan, aku berada di bawah pengaruh minuman keras tapi, aku sadar apa yang sudah kita lakukan."


"Aku akan membayarmu," ucap Ozan kemudian.


"Membayar?" Vlora mengernyit bingung tidak mengerti arti membayar yang dimaksud Ozan.


"Aku tahu tidak seharusnya kita melakukan ini. Biar bagaimanapun juga kau sudah hidup lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku melakukan ini padamu, aku tahu aku salah. Maafkan aku, Vlo."


Ozan mencium kening Vlora. "Tidurlah, besok kita bahas lagi!" Ozan menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur, mengambil pakaian dan memakainya di depan Vlora.


"Kau menganggap ini sebuah kesalahan, Ozan?" tanya Vlora sembari mencengkram selimut yang menutupi dadanya.

__ADS_1


Ozan menatap Vlora. "Hmm. Kau pun begitu, bukan?"


Vlora mengangguk pelan, terpaksa meng-iyakan-ucapan Ozan. "Pergilah!"


"Tidurlah. Mungkin besok aku akan bangun siang. Kau tidak perlu menyiapkan sarapan untukku." Ozan tersenyum simpul lalu keluar dari kamar Vlora.


Vlora merasa jatuh dari puncak tertinggi di mana tadi Ozan membawanya. Kini, pria itu seakan meninggalkannya di dasar jurang yang paling dalam. Tidak akan ada orang yang melihat atau menyadari kehadirannya.


Jantung, hati, tulang semua terasa remuk redam. Vlora menangis karena menyadari kalau Ozan tidak mencintainya. Pria yang ia anggap berbeda dari pria hidung belang di luar sana ternyata brengs*k juga.


"Membayar?" Bahkan, Vlora merasa disamakan dengan seorang pela*ur di luar sana.


"Setidaknya aku melakukannya denganmu. Biarlah, anggap saja sebagai ganti pengeluaranmu selama aku numpang tinggal di apartmen milikmu."


Vlora melilit tubuhnya dengan selimut putih yang menjadi saksi bisu antara ia dan Ozan, ia menahan perih dan tertatih ke kamar mandi. Air matanya semakin tumpah ketika melihat banyak bercak merah yang ditinggalkan Ozan di sebagian tubuhnya.


Vlora terduduk lemas di bawah kucuran air shower yang mengalir deras. Membersihkan diri sebelum pergi dari apartmen ozan.


***


Mark dan Rosella sudah bahagia. Rosella sudah melahirkan putra yang diberi nama Marsello. Usianya sudah 7 bulan hihihi.


Jadi, singkat cerita ini tentang Ozan dan Vlora. Nggak tega liat Ozan jadi jomlo jadi, kita kasih jedah eh, jodoh😅


Sebentar lagi ketemu Oca dan Rey😍


Aku selesaikan Ozan dan Vlora. Terus BERBAGI CINTA DENGAN MADUKU. Rencananya cuma 50 bab. Baru lanjut Rey dan Oca. Pokoknya jangan lupa jempolin.

__ADS_1


Terima kasih🤗



__ADS_2