
Vlora yang memang belum sepenuhnya bisa melupakan pengalaman buruk saat berada di bawah kendali Niko dulu semakin ketakutan. Mulutnya dibekap hingga ia tidak bisa teriak.
Tubuh Vlora gemetaran, keringat jagung pun sudah membasahi dahinya, ia masih berusaha menjauhi pria yang ukuran tubuh dan tenaganya lebih besar darinya.
"Kita mulai dari mana, sayang?" Mata pria ini pun seakan menel*njangi sekujur tubuh Vlora. Biji matanya berhenti tepat di perut buncit Vlora, semirik senyuman jahat tergambar di wajahnya.
"Mmmppppppp!" Vlora mencoba menjerit tapi, tangan pria ini semakin kuat membekap mulutnya.
"Pria mana yang menghamilimu? Ck, sudah lama tidak bertemu kau masih liar juga!" Tangan pria yang masih bebas ini ingin meraba perut Vlora.
Vlora merasa sangat direndahkan, ia sekuat tenaga menginjak kaki dan menendang selangk*ngan pria mesum yang sudah mel*cehkannya.
"Akhhhh, brengs*k! Beraninya kau jal*ng!" Pria itu menjerit dan melepaskan Vlora, ia kesakitan memegang bagian terpenting didirinya.
Vlora mengambil kesempatan, meskipun perutnya besar ia tetap mencoba menjauh dan berlari sampai tidak sengaja menabrak seseorang.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Ozan melihat Vlora tergesa-gesa dan sesekali melihat ke arah belakangnya. Ozan menjadi khawatir terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya. Akhirnya Ozan mempercepat langkahnya.
Buk!!!
"Sayang, kau kenapa?" Ozan meraih bahu Vlora, terkejut melihat wajah Vlora tampak pucat pasih.
"Ozan ... Ozan, ak-aku takut, aku rakut...."
Ozan semakin panik. "Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?"
"I-itu di-dia! pria itu ...."
Vlora kesulitan bicara sebab menahan sakit perut yang datang tiba-tiba, ia hanya menunjuk arah toilet.
Mendengar kata pria membuat darah Ozan mendidih, ia melihat siluet pria seperti buru-buru masuk ke dalam toilet wanita yang tampak sepi.
"Tunggu di sini," ucap Ozan, ia ingin memastikan sendiri siapa pria yang dimaksud Vlora.
"Aku takut," jawab Vlora sembari menahan kram di perutnya.
"Mereka akan menjagamu." Ozan menunjuk dua pengawal yang baru memastikan Katerine sudah meninggalkan restoran.
Vlora mengangguk sembari memegang perutnya.
Sepasang kaki panjang itu berjalan cepat mencari pria mencurigakan yang sempat dilihatnya. Tangannya bergerak membuka satu persatu pintu yang ada di sana, hingga akhirnya menemukan seorang pria duduk di atas closet.
"Si-siapa kau?"
Ozan tidak menjawab, ia mengulurkan tangan mencengkram kerah kemeja pria yang sudah membuat Vlora ketakutan.
__ADS_1
"Kau apakan istriku, brengs*k!" teriak Ozan, ia meninju dan menghempaskannya hinga tersungkur di lantai yang licin.
Bruk!!!
"Akhhh ak-aku tidak tahu siapa istri Anda, Tuan!"
BUG!!!
"Wanita hamil itu istriku! Kau apakan dia!" Bahkan, tanpa ampun sedikitpun Ozan semakin membabibuta menghajarnya.
Darah segar mulai keluar dari hidung dan sudut bibirnya, pria ini mulai menyadari jika Vlora adalah istrinya.
"Ak-aku cuma menyentuhnya sedikit saja...."
Ozan semakin naik pitam, ia menginjak lengan pria yang sudah kurang ajar terhadap Vlora dan mengambil pistol dibalik kemejanya dan meloloskan timah panasnya.
Dor!
Dor!
Vlora terkejut mendengar suara tembakkan dari dalam toilet, ia yakin peluru itu berasal dari dalam toilet, Vlora berinisiatif untuk mendekat tapi, pengawal mencegahnya.
"Tetap di sini, Nyonya. Tunggu sampai Tuan Ozan keluar."
"Kau gila? Bagaimana kalau Ozan yang tertembak?" Vlora semakin panik.
Benar saja, dari ambang pintu Ozan tersenyum dan mendekati Vlora. Raut wajahnya seperti biasa seperti tidak terjadi apapun. Padahal, ia baru saja mematahkan tangan yang sudah lancang menyentuh istrinya.
"Ozan kau tidak apa-apa?" tanya Vlora setelah Ozan berada di dekatnya.
"Memangnya aku kenapa?" Ozan menoleh ke anak buahnya. "Bereskan dia!" titah Ozan.
Dua orang itu pun pergi menjalankan tugasnya. Mereka menggelengkan kepala melihat pria itu masih hidup namun darah segar mengucur dari tangannya.
"Dasar bodoh! Cari mati rupanya!"
"Siapa yang mengirimmu?"
Namun, belum sempat mendengar jawaban pria ini sudah kehilngan kesdarannya.
***
"Jangan buat aku takut!" Vlora memeluk Ozan, hanya Ozan yang bisa menenangkannya.
"Maaf, aku lalai menjaga kalian." Ozan merasakan pelukan Vlora semakin kuat, tubuh istrinya pun seperti menggigil. "Kau baik-baik saja? Apa pria itu menyakitimu?"
__ADS_1
Vlora memejamkan mata, mengigit bibir menahan sakit.
"Lihat aku!" Ozan menangkup wajah Vlora, ia semakin khawatir melihat mata sayu istrinya. Tanpa bicara lagi, ia menggendong Vlora dan membawanya pergi.
Meskipun berat badan Vlora bertambah hampir dua kali lipat dari sebelumnya, tapi Ozan tidak meras keberatan, ia meminta supir mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat.
***
Di rumah sakit.
Tekanan yang sempat dialami Vlora mengakibatkan bayi yang ada di dalam perutnya mengalami setres sampai membuat Vlora merasakan kram luar biasa di perutnya. Bahkan kejadian itu hampir membuat Vlora hampir tidak sadarkan diri. Tim medis bertindak cepat dan memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkan bayi dan ibunya.
Ozan tidak tahu harus berbuat apa, ia meminta Dokter menyelamatkan keduanya. Bahkan, Ozan menyaksikan sendiri proses operasi cecar yang dijalani Vlora.
Hingga akhirnya tangisan bayi mungil mengisi ruangan itu. Ozan meneteskan air mata saat melihat Dokter mengeluarkan bayi mungilnya dari perut Vlora.
"Dia bayi yang lucu!"
"Putri yang cantik!"
Bayi mungil itu berhenti menangis ketika Dokter meletakkannya di dada ibunya, Vlora pun meneteskan air mata melihat bayi mungil itu bergerak-gerak di dekapannya.
"Dia putri kita. Putri kita yang cantik," ucap Ozan sembari menyeka air mata Vlora. "Terima kasih, sayang."
Ozan tahu ucapan terima kasih tidak sebanding dengan kebahagiaan yang diberikan Vlora padanya. Karena Vlora sudah memberinya gelar sebagai sorang ayah.
"Dia anak kita, Ozan...."
Ozan menecup kening Vlora. "Ya, dia anak kita."
Bayi itu mengikuti instingnya, bibirnya selalu tebuka seperti mencari sesuatu. Melihat itu Ozan dan Vlora pun tertawa.
"Sepertinya dia ingin menguasainya. Baiklah, Daddymu ini akan mengalah," canda Ozan menunjuk da da Vlora yang merupakan wilayah kesukaannya.
Mendengar itu, tim medis yang ada di sana pun tertawa.
Hari itu juga Vlora dan bayinya dipindahkan ke ruangan lain. Ozan pun memberitahukan kabar bahagia ini kepada Mark dan keluarga yang lain.
Sementara itu pengamanan di rumah sakit dan di luar ruangan Vlora semakin diperketat. Ozan tidak mau musuh-musuh yang masih berkeliaran di luar mengambil kesempatan menyelakai istri dan putri kecilnya.
***
"Akkhhhh!!! Harusnya Ozan meninggalkan wanita malam itu, bukan malah semakin menerimanya!!!"
Katerine menggila, ia yang awalnya berniat memanas-manasi Ozan dengan menghadirkan pria yang pernah mencium istrinya malah tidak terpengaruh sama sekali. Ozan bahkan menembak tangan pria itu.
__ADS_1
"Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam!!" Anak panah yang dilepaskan Kate tetap sasaran menancap foto Ozan.