
Setelah berbulan-bulan mengasingkan diri di pulau membuat Vlora merasa asing di keramaian. Seperti saat ini Ozan sengaja membawanya ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota. Ozan bahkan menyuruh beberapa pengawal membawakan belanjaannya.
"Ozan ini sudah terlalu banyak." Vlora menunjuk beberapa kantung belanjaannya. Apa yang selama ini ia inginkan kini sudah didapatkan. Bahkan, keperluan bayinya pun sudah lengkap.
"Belum sayang, kau terlalu asik membeli kebutuhan dapur dan baju ibu hamil, sampai lupa memilih berlian."
Ozan menggandeng Vlora ke tempat perhiasan ternama yang menjadi langganan Rosella.
"Aku tidak butuh itu, berlian darimu saja masih utuh dan tersimpan di lemari. Lebih baik kita pulang, ya."
Vlora semakin risih menjadi pusat perhatian orang- orang di sana. Kedatangan Ozan dan beberapa pria berbaju hitam yang menenteng belanjaan menarik perhatian pengunjung toko. Mereka berbisik dan iri kepada Vlora.
"Wanita itu beruntung sekali, ya."
"Kapan aku mendapatkan pria seperti pengusaha muda itu."
"Aku seperti pernah melihat wanita itu, tapi di mana ya?"
Vlora memilih tutup telinga.
"Kau tidak nyaman karena ada mereka?" Ozan memerhatikan sekeliling yang dipenuhi kaum wanita.
"Mau gimana, lagi? Ini 'kan tempat umum," gumam Vlora.
Ozan dengan mudahnya mensterilkan tempat itu dari kerumunan orang-orang, lalu menyuruh Vlora memilih perhiasan manapun yang ia suka.
"Aku mau yang ini saja." Vlora menunjuk cincin berlian yang menurutnya sederhana.
Penjaga toko pun memberikannya. "Ini, Nona. Sepertinya sangat cocok di jari Nona."
"Boleh aku coba?"
"Silahkan."
Vlora tersenyum dan memasang cincin itu di jari manisnya. "Cantik sekali," ucap Vlora, ia melirik Ozan yang saat itu fokus mengetik sesuatu di ponselnya. Lalu Vlora melihat penjual berlian itu lagi. "Berapa harganya? Cincin sekecil ini pasti tidak mahal, 'kan?" bisiknya.
Penjaga toko itu pun tersenyum dan menunjukkan sertifikat berlian yang dipakai Vlora.
__ADS_1
"Tidak salah?" Biji mata Vlora hampir keluar melihat angka fantastis yang tertulis di sana. Susah payah ia menahan saliva dan bicara terbata. "Ak-aku pikir ini ti-tidak cocok untukku."
Vlora melepaskan cincin dari jari manisnya tapi, belum sempat cincin itu terlepas tangannya sudah dipegang Ozan.
"Kenapa dilepas?" tanya Ozan, ia memerhatikan jari Vlora. "Cantik."
"Ak-aku tidak suka." Vlora terpaksa berbohong.
"Tapi aku suka," jawab Ozan, sebenarnya sedari tadi tanpa sepengetahuan Vlora, ia memerhatikan Vlora terlihat bahagia memakai cincin ini. "Pakai saja." Ozan pun menyelesaikan pembayarannya.
"Terima kasih," ucap Vlora tersipu malu, ia benar-benar merasa diperlakukan seperti wanita yang sangat berharga untuk Ozan.
"Apapun untuk wanita spesial!" bisik Ozan lalu mencium puncak kepala Vlora.
Penjaga toko pun dibuat gemetaran melihat perlakuan Ozan kepada wanitanya. Beruntung sekali wanita ini pikirnya.
***
Beberapa hari kemudian.
Pemberkatan pernikahan Ozan dan Vlora disaksikan beberapa keluarga inti saja termasuk mama Vlora. Sementara orang tua Ozan memang sudah lama meninggal dunia. Hanya Mark dan Rosella yang datang ke gedung tersebut. Ozan remaja yang memang hidup tanpa tujuan dijalanan tidak sengaja bertemu dengan Mark. Sejak saat itu ia hanya mengabdikan hidupnya setia kepada Mark dan kini setelah Mark menikah dan hidup bahagia, Ozan pun melanjutkan hidup menikahi Vlora calon ibu dari anaknya.
Mama Vlora menyusul Eric yang tengah berbulan madu di negara lain. Sedangkan Mark dan Rosella pun kembali ke istana mereka.
Mobil mewah anti peluru yang dikemudikan supir itu bergabung dengan pengendara lain di jalan raya. Supir fokus mengemudikan mobilnya, kecanggihan dan kelengkapan mobil itu membuat supir tidak bisa mendengar atau melihat Ozan dan Vlora yang duduk berdmpingan di bangku belakang.
Mereka pulang membawa kebahagiaan dan harapan yang baru.
"Ozan, kita mau ke mana?" tanya Vlora setelah mobil itu berbelok arah dan melewati jalan yang sangat asing untuknya. Bahkan, tidak ada mobil lain di sana.
Ozan yang saat itu tengah asik menatap dan mengelus perut Vlora pun menoleh kepadanya. "ke rumah kita. Di mana hanya ada aku dan istriku ini di dalamnya."
"Kenapa tidak kembali ke apartmen?" Vlora semakin bingung karena selama ini Ozan tidak pernah membahas tempat tinggal mereka yang baru.
"Tempat itu tidak aman untukmu, Vlo. Apalagi aku tidak bisa mengawasimu seharian penuh jadi aku pikir, lebih baik kita tinggal di lingkungan yang tidak bisa dijangkau sembarangan orang."
"Kau terlalu berlebihan. Memangnya siapa yang mau menyakitiku? Bahkan, pernikahan kita pun diadakan secara tertutup. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" selidik Vlora, ia mendekap tangan Ozan yang masih mengelus perutnya.
__ADS_1
"Tidak ada, aku cuma berjaga-jaga saja. Kau tau seperti apa kehidupanku di masa lalu. Aku takut salah satu musuhku menyakitimu. Jadi, karena itulah aku membawamu ke sini." Ozan mencium pipi Vlora. "Aku cuma mau hidup damai denganmu."
Vlora mencium tangan Ozan. "Aku pun begitu, aku ingin menguasai hatimu, melahirkan dan merawat anakmu."
"Jangan khawatir, semua akan berjalan seperti yang kita harapkan." Ozan memeluk Vlora.
Mobil itu sudah memasuki pekarangan mansion pribadi milik Ozan. Tempat ini dijaga sangat ketat dan tidak ada orang yang bisa masuk tanpa ijin darinya.
"Kita akan tinggal di sini? Sepertinya tempat ini lebih sunyi dari pulau," ucap Vlora setelah Ozan membukakan pintu mobil untuknya.
"Kau keberatan Nyonya, Ozan?" Ozan menggendong Vlora dan membawanya masuk melewati pintu yang menjulang tinggi.
"Kau membuatku kaget saja." Vlora melingkarkan tangannya di leher Ozan. "Tempat ini besar sekali. Aku seperti tawananmu saja."
"Kalau perlu aku akan mengikatmu! Supaya kau tidak bisa pergi," canda Ozan.
Vlora memukul dada Ozan. "Itu tidak lucu, Ozan. Jangan buat aku takut."
"Biar saja, supaya kau tidak bisa lari lagi dariku!"
Vlora berdecak dan menggelengkan kepala, ntah mengapa ia khawatir sewaktu-waktu Ozan akan melakukan itu padanya.
***
Di tempat lain, seorang wanita baru ke luar dari pusat rehabilitas. Sudah cukup baginya terkurung di tempat ini, dirinya sudah merasakan kehilangan yang mendalam dan kini waktunya untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Senang bisa bertemu Anda lagi, silahkan masuk, Nona!" pria berpakaian serba hitam membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih, syukurlah kau masih hidup!" jawabnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Bawa aku ke makam kakakku!" ucapnya pada supir yang duduk di bangku kemudi.
"Ke makam?"
"Iya, sudah lama aku tidak mengunjunginya."
"Baik, Nona." Supir melajukan mobil menuju pemakaman pribadi keluarga majikannya.
__ADS_1
***
Jangan lupa jempol digoyang, makasih