
Rossella rasanya aku ingin menyebut namamu, menyapamu dan bicara denganmu. Tapi, aku terlalu pengecut untuk melakukan itu. Aku yang dikenal orang sebagai bad boy yang digandrungi banyak wanita membuat aku besar kepala. Hingga aku mengabaikan secuil rasa yang menggelitik jiwa ketika aku berada di dekatmu.
Dengan bangga aku menerima siapapun yang datang kepelukanku, ke pangkuanku, bahkan sampai naik ke atas ranjangku. Ya. Tidak ada yang bisa menolak pesonaku, tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan dan tidak ada yang bisa lolos dari genggamanku.
Tapi semakin hari aku semakin merasa hampa, aku semakin sadar aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku, yang tulus denganku tanpa embel-embel nama besar keluarga dan hartaku.
Aku butuh sosok itu tapi, aku sadar tidak akan ada wanita baik-baik yang mau menerima pria berandalan seperti aku.
Aku masih ingat hari itu, ketika pulang sekolah hujuan turun dengan derasnya, semua murid menunggu di koridor sekolah berharap hujan reda secepatnya. Tapi, tidak dengan gadis berkaca mata tebal yang pernah menarik perhatianku, gadis itu tetap berjalan menembus hujan, merentangkan tangan dan sesekali mengangkat kepala, memejamkan mata seakan membiarkan air hujan itu mengguyur seluruh tubuhnya, senyumannya mengembang seakan menikmati hujan di siang hari.
Gadis cupu berkaca mata tebal, selalu kepang dua di kepala, memiliki tanda lahir di pipi dan selalu menundukkan kepala bila aku melihatnya ternyata berhasil membuat hatiku berdebar. Diam-diam aku memperhatikannya dari jauh, diam-diam aku selalu mencuri pandang melihat gadis itu terlalu fokus pada apapun yang ia geluti, diam-diam aku menyebut namanya tanpa ada seorang pun yang mendengar, diam-diam aku mau gadis itu menjadi milikku. Rossella bagiku dia terlalu indah, terlalu cantik, terlalu sempurna untuk aku miliki. Kepolosan dan kepribadiannya terbungkus rapi hingga tidak ada setitik noda yang bisa merusaknya dan Rossella terlalu mustahil untuk bisa aku peluk.
Tanpa aku sadari kaki ini melangkah maju mendekatinya, membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuh dan ransel yang masih menggantung di punggungku. Semua itu karena aku ingin melihat Rossella dari dekat. Aku mengabaikan orang-orang yang memanggil namaku, aku terus melangkah dan berhenti tepat di depanmu dan ketika itu gadis cupu itu membuka mata dan terkejut melihatku.
"Dasar anak kecil." Ah, aku mengutuk diriku sendiri, kenapa aku mengatakan itu? Kenapa terdengar seolah-olah aku mengejeknya?
Gadis cupu ini hanya diam dan menundukkan kepala. Aku mengulas senyum memperhatikannya, ia seperti anak kelinci yang imut, ingin rasanya aku membawanya pergi dari sini. Rossella sepertinya aku menyukaimu.
"Mark, kau bisa sakit. Ayo ikut denganku!" Olivia datang mengalihkan perhatianku, gadis itu melindungiku dengan payung yang ia bawa, sementara tangannya melingkar di lenganku. Selalu seperti ini, kehadiran Olivia membuat aku minder dan semakin yakin kalau aku adalah murid paling brengs*k yang pernah ada dan aku yakin Rossella pun berpikir yang sama. Tidak mungkin gadis polos seperti dia mau dekat denganku.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" Olivia menarik dan mengajakku semakin menjauhi gadis cupu itu.
Hari terus berlalu dan tidak ada yang berubah dari diriku. Ntah mengapa semakin hari aku semakin penasaran dengannya dan aku marah karena dia tidak sedikitpun melihatku.
Apa aku semenjijikan itu untuknya?
Pernah seuatu ketika. Bolla basket yang aku lempar menggelinding di kakinya, aku sengaja melakukannya hanya untuk melihat responnya. Ternyata dia tersenyum dan mengembalikan bola itu padaku.
"Ini milikmu, Mark!"
Suara lembutnya memanggil namaku. Aku menerima bola itu untuk aku musiumkan tidak ada yang boleh memegang sentuhan tangannya selain aku. Setelah hari itu gadis cupu itu sering menyapaku, sering tersenyum padaku hingga aku merasa dia menyukai aku. Mungkinkah dia menyukai siswa brengs*k seperti aku?
Aku masih memperhatikannya dalam diam, memotonya tanpa ada seorangpun yang tahu, menyimpan gambarnya di dalam galery ponsel dan dinding kamarku. Rossella murid yang paling berprestasi di sekolah, setiap guru selalu memujinya dan semakin membuat aku yakin kalau aku tidak pantas berada di dekatnya. Aku takut kehadiranku merusak citra baiknya di sekolah.
Tidak terasa tiga tahun hampir berlalu, ntah sudah berapa wanita yang menyerahkan diri dan tubuhnya untukku. Tapi, hanya gadis cupu itu yang menjaga dirinya driku. Pertanyaan besar pun muncul. Apakah Rossella tidak pernah sedikitpun tertarik padaku? Memikirkan ini membuat aku terhina.
Taruhan gila tercetus dari beberapa teman termasuk Olivia. Mereka menjadikan gadis cupu itu sebagai targetnya.
"Bagaimana kau mau ikut bertaruh, Mark? Aku dengar si cupu itu masih bersegel. Aku yakin aku orang pertama yang akan merenggut kehormatannya!"
__ADS_1
"Jangan ganggu dia!" Aku tidak setuju dengan taruhan konyol ini.
"Kenapa? Kau menyukai gadis cupu itu?" Olivia ikut menimpali. "Gadis cupu itu tidak mungkin menyukaimu, Mark. Melirikmu saja tidak pernah apa lagi tidur denganmu?"
Hatiku panas mendengarnya, aku menatap semua orang yang ada di Villa malam itu.
"Aku terima taruhan ini. Tidak ada yang bisa menolak Mark! Aku akan mengadakan pesta untuk menjebaknya. Akan aku cium gadis itu dihadapan kalian semua! Malam itu juga akan aku jadikan dia milikku!"
Hingga malam itu pun tiba, aku berdebar menunggu kedatangan Rossella. Hingga kehadirannya menggetarkan hatiku. Si cupu itu terlihat cantik, dia terlihat lebih anggun dari biasa. Aku terpesona melihatnya.
Aku tidak mau membuang waktu, aku tidak mau ada orang lain yang menyentuh dan mengganggumu. Aku harus menjadikanmu milikku agar tidak ada seorang pun yang berani lagi mengejek, mempermalukan dan mengambilmu dariku.
Aku merasa menjadi pria yang paling bahagia ketika gadis cupu itu tidak menolakku. Hingga membuat aku tidak bisa menahan diri untuk mencium bibirnya.
Sempurna, betapa lembut dan manis rasanya membuat aku lupa diri dan tidak mau melepaskannya, aku meres*pi, ******* setiap permukaan hingga rongga bibirnya.
Malam itu aku katakan kalau aku mencintainya. Malam itu kami resmi menjadi sepasang kekasih dan aku tidak mau kehilangannya.
Orang tuaku sudah berencana untuk mengirimku ke luar negri dalam jangka waktu yang cukup lama sampai aku lulus diperguruan tinggi. Tapi bagaimana dengan Rossella?
__ADS_1
Aku tidak punya pilihan lain selain menjadikanmu milikku seutuhnya, milikku secepatnya, aku ingin bersatu denganmu agar kau tetap menjadi milikku. Namun, gadis cupu ini menolakku. Terlebih lagi dia tahu tentang taruhan itu. Aku marah, aku kecewa dan aku tidak terima hingga aku kalud dan memaksanya.
Aku yang brengs*k ini lupa kalau Rossella wanita yang berbeda dengan wanita lain. Tapi setan dalam diriku tetap memaksa untuk aku renggut kesuciannya malam itu. Aku tidak perdulikan ketakutan dan air matanya. Satu hal yang tidak aku duga adalah. Rossella melawan dan memukul kepalaku menggunakan benda tumpul. Aku terjatuh dan tidak bisa melakukan apapun selain pasrah melihat Rossella pergi meninggalkan aku.