
Jam kantor akan segera usai, semua pegawai sedang bersiap untuk pulang, tak terkecuali Alin. Dia sedang merapikan semua berkas di mejanya dengan niat akan langsung pulang bersama teman-temannya. Saat akan bergegas keluar, handphonenya berdering. Ia pun membuka pesan masuk dari seseorang yang belum lama ini menjadi pacarnya.
" Honey, pulang bersama aku."
Akhirnya, Alin pun menunda untuk langsung bergegas. Ia duduk kembali di kursinya dan meminta teman-temannya untuk pulang lebih dulu.
"Guys, duluan saja aku. Gua masih ada kerjaan." seru Alin.
Nia yang masih duduk di sebelahnya berbisik, "Ada kerjaan atau mau pulang sama seseorang...???" Nia menggoda sambil mengedipkan matanya.
"Apaan sih Nia, gak kog..."
"Hmm, oke deh aku pulang duluan ya, bye..." Nia melambai ke arah Alin dengan senyum di bibirnya.
Setelah ruangan sepi, baru Alin keluar untuk turun ke bawah. Alin sengaja menunggu sepi untuk keluar dan menunggu Devan di halte depan kantor agar tidak ada yang melihat ataupun mengetahui tentang hubungannya dengan atasannya itu. Dia duduk di kursi di halte sambil memainkan handphonenya.
Di ruangan Devan, sedang bersiap untuk pulang.
"Rey, pulanglah sendiri. Nanti tolong antarkan beberapa pakaianku ke apartemen Alin," pintanya pada asistennya.
"Lu mau nginap disana?" Ray penasaran.
"Antarkan saja, jangan banyak tanya."
"Hmmm, oke. Nanti akan gua antarkan." Akhirnya, Rey mengalah karena dia tahu sifat bos sekaligus sahabatnya itu. Dan mereka pun turun. Ray melihat ke arah kanan kiri seperti mencari sesuatu namun tak berhasil menemukannya akhirnya dia bertanya pada Devan.
"Katanya mau pulang bareng Alin, mana orang-nya?"
__ADS_1
"Dia nunggu di halte depan," Dev memberi tahu.
"Hah, kalian pacarannya diam-diam," Ray tertawa.
"Jangan ketawa kamu, dia yang minta. Katanya dia gak mau orang kantor tahu dan jadi bahan gosip temannya kalau tahu kita pacaran," Dev kesal.
"Hmmmm." Ray mengangguk.
Di depan halte sebuah mobil sport berhenti, Alin yang sudah menunggu dari tadi segera berdiri dan melihat kanan kiri barulah ia masuk ke mobil itu. "Hmmm, pacaran kok kayak maling," dengus Devan yang dibalas tatapan tajam Alin. Merasa dirinya ditatap sinis, Devan hanya tersenyum dan berpura-pura tak melihat wajah Alin, fokus berkendara menuju apartemen Alin.
Alin membuka pintu dan segera masuk diikuti Devan sambil menyalakan lampu ruangan itu. Alin yang merasa sangat letih menghempaskan tubuhnya di sofa empuk berukuran minimalis itu dan langsung menatap ke arah layar ponselnya. Jarinya yang lentik berselancar di atas layar benda hitam itu, ia sedang memesan makanan lewat aplikasi karena ia tak berencana untuk masak malam ini.
Devan hanya tersenyum menatap wajah serius gadis di hadapannya, diam dan menatap lekat wajah kekasihnya itu seperti menjadi candu baginya. Wajah manis dan imut Alin berhasil menarik hatinya.
Tok... tok... tok...
"Pakaian yang lu minta." Ray menyodorkan sebuah handbag ditangannya ke arah Devan.
"Makasih," balas Devan sambil mengambil tas tersebut dan kembali menutup pintu. Alin yang melihat tak ada tamu yang masuk, penasaran.
"Siapa kak?" tanya Alin.
"Ray," jawab Devan singkat sambil menunjukkan tas di tangannya.
"Kenapa gak masuk? Terus itu apa?" Alin masih penasaran.
"Ngapain dia masuk, ganggu saja. Dia kesini cuma mengantar pakaiannya," jawab Dev dan kembali duduk.
"Pakaian? Kak Dev gak berniat menginap kan?" tanya Alin yang sontak terlihat tegang. Pikirannya sudah mendahului mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa? Emang gak boleh?"
"Bukannya gitu, kita kan masih pacaran, kak?"
"Ha...ha..ha... apa yang kamu pikirkan, sayang? Hmmmm?" Devan menggoda Alin dengan tubuh yang di condongkan ke arah Alin dan menaikkan sudut bibirnya. Alin yang hanya tersenyum malu sembari mendorong tubuh Devan. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Devan yang masih duduk dengan senyum lebar di bibirnya karena ia berhasil membuat merah wajah gadis itu. Alin segera bergegas ke kamar mandi di kamarnya berniat untuk mandi.
Tidak butuh waktu lama, Alin pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya berbalut handuk. Ia dikejutkan dengan sosok Devan yang duduk di tepi ranjangnya dengan mata ya tertuju ke arahnya. Devan melihat tubuh Alin dari bawah sampai ke atas, pemandangan indah di hadapannya sungguh menakjubkan pikirnya. Meski melihat tubuh itu bukan yang pertama kalinya bagi Devan, tetap saja mampu membuatnya terhipnotis beberapa saat dengan lehernya yang naik turun menelan saliva-nya dan berhasil membangkitkan gairah yang sudah lama ia tahan.
Alin yang merasa dipandang segera bergegas ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya, namun belum sempat ia mundur dari lemari itu, sepasang tangan melingkari perutnya. Jantungnya berpacu sangat kencang.
"Kamu gugup, honey?" bisik Dev dengan nafasnya memburu tepat di telinga Alin.
Alin hanya diam dan merasa tubuhnya sedikit merinding.
"Aku sangat merindukanmu, sayang," ucap Dev sambil menarik tubuh Alin untuk berbalik menghadap dirinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alin dan menyatukan bibir mereka. Perlahan, ia ******* bibir mungil Alin dan merasa tak ada penolakan dari gadis itu, membuatnya semakin memperdalam ciumannya.
Tidak butuh waktu lama, Alin pun merasa terpancing dan akhirnya membalas ciuman itu. Lidah mereka saling bertukar, mengitari setiap ruang di mulut pasangan itu. Setelah merasa puas dengan ciumannya, Devan melepas perlahan bibir Alin dan berpindah ke leher mulus gadis itu. Ia menciumi setiap inci leher Alin dan berhasil membuat terpejam mata gadis itu. Tubuhnya terasa semakin panas dan gairahnya semakin menggebu. Tangan Devan pun mulai beraksi dan mulai menarik ujung handuk yang melilit di tubuh Alin. Namun, belum sempat ia melepasnya, Alin mundur dan melepas dekapan Devan.
Devan yang merasa sudah panas pun menatap wajah Alin seakan menuntut.
"Aku lapar," ujar Alin mencoba mengungkapkan perasaannya.
"Hmm, baiklah," Devan akhirnya mengalah meski dalam hatinya ia tak setuju.
"Kak Dev, mandi dulu ya. Aku menunggumu di dapur," pinta Alin sambill mengulurkan sebuah handuk padanya.
"Oke sayang, tapi nanti kita akan melanjutkannya kan?" goda Dev.
Alin hanya tersenyum ke arah Dev dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, mencoba menahan rasa malu.
__ADS_1