
Seperti biasanya pagi-pagi ALin menyiapkan segala keperluan Dev ke kantor mulai dari baju,jas sampai aksesoris yang akan di kenakannya setelah ia mandi.dengan tubuh masih berbalutkan handuk kimononya ALin membangunkan Dev untuk bersiap.
"Dev ayo bangun ini sudah pagi" ucapannya sambil menggoyangkan tubuh Dev dengan pelan.
Merasa terusik Dev membuka matanya yang masih terasa berat.ia duduk untuk mengumpulkan nyawanya.ia melihat ALin yang sedang duduk di meja rias sedang merapikan penampilannya.
ia berjalan menghampirinya dan memeluk pinggang gadis itu dari belakang, meletakkan dagunya di bahu ALin.
" sudah Dev mandi sana bukannya ada meeting pagi ini?" tanya ALin tanpa menoleh.
"hmmmm tapi untuk sebentar aja sayang,aku ingin menikmati pemandangan indah di depan ku ini,boleh?"
" baiklahhhh sini aku peluk " balas ALin sambil berbalik badan dan memeluk Dev
"muuaahh.. Muahhhh" ALin menciumi Dev dari kening, wajah hidung hingga bibirnya membuat senyum merekah di bibir Dev.
" kamu mau menggodaku ya...hmm?
" tidak Dev itu sarapan pagi biar pacarku semangat kerjanya.jangan banyak marah marah di kantor. Hari ini aku gak ke kantor ya sayang?" ucap ALin masih memeluk tubuh Dev.
" baiklah sayang kamu istirahat saja di rumah,jangan lupa makan dan minum vitaminnya.agar baby kita sehat di sini."sambil mengusap perut ALin yang masih rata dan di balas anggukan dan senyum manis ALin.
setelah sarapan Dev pun pamit dan berangkat ke kantor setelah mencium kening ALin .
ALin menatap kepergian Dev dari pintu hingga benar benar tak terlihat lagi.
ALin kembali masuk.ia kembali menangis sambil mengemasi barang-barang yang ia ingin bawa.ia sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan dev.ia bersikap biasa dari pagi untuk membuat Dev tenang dan tak merasa curiga pada dirinya.
ALin tak habis pikir bahkan Dev sama sekali tak berbicara soal pertunangannya membuat Alin semakin yakin untuk pergi.
ia pergi meninggalkan apartemen Dev tanpa pesan.
ia meninggalkan semua yang Dev berikan padanya termasuk cek yang di berikan Wilson padanya.
__ADS_1
Ia hanya membawa barang barang yang benar benar miliknya beserta tabungan pribadinya selama ini.
Ia tak tahu arah kepergiannya tapi tekadnya sudah bulat
*********
Dev baru saja menyelesaikan meetingnya pagi ini dan kini ia bersiap untuk melanjutkan pertemuan dengan kliennya di luar.
Di perjalanan ia menyempatkan diri untu menelepon ALin namun tak di jawab Dev berpikir ALin sedang istirahat jadi tak mengulangi panggilannya lagi.
Pertemuan yang cukup panjang dan berakhir siang hari.dev berencana akan pulang sebentar ke apartemen nya tiba tiba sang ayah menelponnya.
" Dev sore ini pulang lah ke rumah, papi dan om Santoso sudah tetapkan malam ini pertunangan mu dan Imel akan di langsungkan." suara Wilson di seberang sana membuat Dev begitu terkejut dan mematung
"apa apaan ini pih? kenapa dadakan begini?"
" ini bukan dadakan tapi sudah di rundingkan sebelumnya jadi pastikan kau tidak terlambat" sambung Wilson menutup sambungan telponnya secara sepihak.
Dev merasa marah rahangnya mengeras dan wajahnya tampak merah menahan gejolak di dadanya.
Saat amarahnya terasa membakar tiba tiba Dev ingat ALin.
Jangan sampai ALin mengetahui hal ini lebih dulu ia takut ALin akan berpikir lain padanya .
Dev berlari menuju parkiran hingga membuat Ray dan sekretarisnya heran melihat sikap Dev belum sempat mereka bertanya Dev sudah lari duluan.dev melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan yang tampak tak begitu ramai karena di jam siang.ia ingin segera sampai di apartemennya.
Dengan terburu buru ia membuka pintu apartemen nya setelah berlarian sepanjang lorong.
" sayang.....sayang....."ia memanggil ALin namun tak ada sahutan.ia mencari seluruh ruang bangunan itu namun ia tak menemukan sosok yang ia cari.
Ia berlari ke kamar yang mereka tempati.ia membuka lemari dan melihat baju baju ALin masih tersusun rapi di sana.
Tapi seketika matanya tertuju pada sebuah amplop di atas nakas di samping ranjang nya.
__ADS_1
Dev membuka amplop itu ia sangat terkejut melihat isinya.beberapa buah kartu yang ia berikan pada ALin untuk digunakannya ponsel yang ia belikan untuk ALin juga ada di sana dan yang lebih mengejutkan bagi Dev sebuah cek bernilai cukup besar dan itu milik papinya Wilson.
Dev sangat marah saat akhirnya ia tahu bahwa ALin pergi meninggalkan dirinya dan itu ulah papinya juga ia terduduk lemas di bawah ranjangnya.
Dev tidak bisa berpikir dan ia tidak menyangka kalau papinya bisa berbuat sekotor itu pada gadis yang benar benar ia cintai hanya karena ia bukan dari kalangan seperti dirinya.
ia terus saja duduk di bawah ranjangnya tidak tahu harus mencari ALin kemana,karna ia tahu ALin tak punya sanak keluarga yang bisa ia datangi. Ia meraih ponselnya dan menelpon Ray.
" Ray tolong bantu aku mencari ALin,ia pergi dari apartemen ku tanpa membawa apapun.apapun caranya kita harus temukan dia.kerahkan orang orang kepercayaanmu untuk mencarinya." ucap Dev dengan suara putus asa. Ia bangun dan segera menuju mobilnya dengan membawa cek yang ALin tinggalkan.
**********
Sementara di kediaman Wilson semua sudah di siapkan.meski mami dan kedua kakaknya tak suka tapi mereka tak bisa berbuat banyak.
Wilson tampak khawatir karena Dev belu juga tiba di sana.
Matanya langsung berbinar saat melihat mobil Dev memasuki pekarangan rumahnya.tapi mereka di kejutkan dengan penampilan Dev yang kusut dan berantakan.wajahnya terlihat begitu bering dan marah membuat ibunya begitu khawatir.
Dev berjalan menuju Wilson dengan wajah merah padam mungkin kalau Wilson bukan ayahnya dia sudah akan menghajar nya.
" papi puas sekarang dengan semua yang papi lakukan? Selama hidupku,aku tak pernah menolak keinginan kalian bukan?tapi hari ini papi benar benar keterlaluan belum cukup dengan menghancurkan hidup kedua kakak ku dan sekarang kau juga berhasil menghancurkan hidupku tuan Wilson." ucapnya dengan penuh penekanan dan amarah yang berkecamuk di dadanya hingga membuat semua yang ada di sana merasa takut termasuk Wilson papi ya karena mereka belum pernah melihat Dev semarah itu.
"katakan sayang apa yang terjadi bilang ke mami jangan buat mami takut seperti ini." Sarah mendekati Dev dan memeluk nya.
"hmmm apa mami bisa mengatasi semua yang telah terjadi saat ini karena ulah dari suami mami ini?" tanya Dev yang semakin panas
" Dev dia papi mu" sentak Sarah
" hah papi....ya papi yang telah membuang darah dagingnya sendiri.sekarang kalian semua bahagia bukan? ALin pergi dengan membawa anakku di kandungannya." Dev tak kuasa menahan tangisnya, ia menangis di pelukan ibunya.dadanya terasa sesak.semua keluarga nya terkejut mendengar apa yang baru saja Dev katakan termasuk Wilson
"apa Dev?" tanya Wilson.
" kenapa? Papi senang bukan? Bukan kah papi yang memaksanya pergi?" ucapa Dev dengan tatapan penuh kemarahan dan menunjukkan cek di tangannya membuat semua mata tertuju pada Wilson.
__ADS_1
Sarah istrinya tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.ia melemparkan pandangannya kesuaminya memintanya penjelasan