Cinta Di Jalan Yang Salah

Cinta Di Jalan Yang Salah
bab 8.kejutan pagi


__ADS_3

pagi itu ALin berlari kecil menuju gedung tempatny bekerja sambil sesekali melirik arloji di tangannya.


hari ini memang dia agak sedikit terlambat karna kesalahan bus yang di tumpanginya.


" jangan sampai telat,kan malu kalo harus di liat teman teman" lirihnya semakin mempercepat jalannya...


namun langkahnya harus terhenti saat berada tepat di depan pintu lift yg akan naik menuju lantai tempatnya bekerja.ia semakin terlihat panik karena lift itu sudah penuh dan dirinya harus menunggu lift selanjutnya.


dia berjalan mondar mandir di depan lift sambil sesekali melihat angka yg terlihat diatas pintu lift itu sesekali dia mendengus kesal...


" kenapa lama banget sih?" pikirnya..


tanpa ia sadari seseorang menarik tangannya menuju lift eksekutif yang di peruntukan khusus untuk petinggi perusahaan itu saja...


belum sempat melirik ALin sudah berada di dalam lift itu belum sempat ia membuka mulutnya matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang bersamanya saat ini sungguh membuatnya terkejut..


ya Devan bersama asisten dan sekretarisnya.ya tadinya dia ingin marah krna sudah menyeretnya namun akhirnya ALin pun terdiam dan menundukkan kepala nya tak berani mengatakan apapun apalagi menatap nya..


" lain kali berangkatlah lebih pagi" Devan memecah keheningan di dalam lift itu



"iya pak" jawab ALin singkat



seulas senyum merekah di bibir Devan saat ALin menyebutnya pak


senyum itu terlihat jelas oleh dua orang lelaki dewasa dibelakang nya ya sang asisten dan sekretaris.


hingga sekretaris itu melirik ke arah Ray sang asisten seakan menanyakan ada apa dengan bos mereka karna memang tak biasanya laki-laki itu tersenyum apalagi di pagi hari seperti saat ini..


Ray yang merasa mendapat pertanyaan itu lewat batin hanya mengangkat bahu seakan mengatakan bahwa dirinya tak tau apa apa meski pun sebenarnya dia tau segala hal tentang bos nya itu termasuk sampai hal pribadi sekalipun.namun dirinya harus profesional bukan...


ting.......


pintu lift pun terbuka dengan cepat ALin menundukkan badannya


" terimakasih pak" ucapnya


sambil menghambur keluar dri lift itu secepat mungkin karena dirinya tak ingin dilihat oleh siapapun yang hanya akan menjadi gosip panas nantinya di antara rekan kerjanya...


meski dia sudah keluar dengan cepat ternyata tetap saja tanpa dia sadari dua pasang mata melihatnya tadi..


ya Nia dan Eva melihat adegan itu saat mereka keluar dari toilet secara bersamaan...


" mbak kyaknya si bos deket sama ALin ya" Nia curiga


"hushhh jangan bikin gosip ah" tampik Eva yang sudah tau kisah Devan dan ALin dari sang asisten yg memang dekat dengannya


"kalo gak dekat ngapain ALin bisa naik lift bareng si bos"


"entah... mungkin kebetulan saja"


" apa iya?"

__ADS_1


"udah deh Nia jangan curigaan terus sma temen sendiri..yuk" ajak Eva agar Nia menyudahi obrolan itu...


*****


di sela sela jam kerja yang sebentar lagi akan usai,,, Nia pun menggeser roda kursinya mendekati kursi ALin...


" beres belom?? masih mau gua bantu?" Nia menawarkan


" udah kog nih..tinggal tunggu pulang"


"oh.. pulang bareng yuk"


" lain kali deh gua mau mampir bentar nanti"


"ok deh...oh ya mau tanya Lin"


" tanya apa"


" tadi pagi Lu naik lift bareng si bos ada apa lu Ama dia?"


uhuuuuk....uhuuuukk..... ALin yang sedang minum pun tiba-tiba tersendak saat mendengar pertanyaan Nia


"pelan pelan Lin, lu kenapa sih kyak kaget gitu" sedikit berbisik


" yaaaah gua gak ada apa apa cuma kan tdi pagi gua kesiangan dan si bos nawarin ikut bersama lift nya udah gitu doang" ALin berbohong sama Nia



"oh gitu... sebenarnya ga apa sih kalo lua ada sesuatu juga sama dia gua cuma penasaran aja" dengan senyum menyeringai seakan menggoda ALin


akhirnya jam kerja pun berakhir semua karyawan pun mulai meninggalkan meja mereka bersiap pulang demikian pula dengan ALin berjalan menuju swalayan di samping gedung kantornya krna ia pun harus belanja bulanan...


saat sibuk memilih barang yang akan di belinya tanpa sengaja dia bertemu kembali dengan Devan yang kebetulan sama sedang belanja juga untuk kebutuhan di apartemen nya namun kali ini tidak di ikuti siapa pun


ALin pun sontak kaget saat mendengar seseorang memanggil namanya



"ALin"


"ahhh suara itu lagi" lirihnya dengan ekspresi wajah kaget nya


" kamu itu kenapa setiap ketemu aku seperti nya slalu kaget?"


"gak kog pak"


" kita bukan di kantor jangan panggil pak kembali ke panggilan semula"


" haaahh?"


" kamu lupa aku suruh panggil apa saat kita pertama ketemu?"


"hmmmm iya kak" ALin menjawab ragu dengan senyum paksa di bibirnya


" pulang sama siapa kamu?"

__ADS_1


" sendiri kak"


"aku antar, ayo ikut"


" ah gak usah kak aku bisa sendiri kog"


"usah masuk jangan ngebantah terus ini sudah malam" perintah Devan sambil memasukkan belanjaan ALin ke kursi belakang


" makasih kak" ALin pun masuk tak bisa menolak perintah yang mengintimidasi itu...


****


ALin pun membawa masuk semua belanjaan nya menaruh nya dimeja dapur


lalu membawa segelas jus untuk Devan yang di ajaknya mampir itu...


padahal tadinya ALin hanya basa basi menawari nya mampir eh malah beneran mampir...


" di minum dlu kak"


" kamu tinggal sendirian ?"


" ya kak"


"orang tua kamu kemana?"


"gak ada kak" ALin menunduk lagi


" maaf" ucap Devan saat melihat raut wajah ALin


"oh ya kamu kanapa sih setiap kali ketemu aku rasanya sangat terkejut gitu?". Devan penasaran


"gak kok kak"


"ALinnnnn aku serius apa aku semenakutkan itu?"


" sebenarnya tidak menakutkan kak tpi lebih tepatnya ALin malu ketemu kakak"


" karna kejadian kita yg lalu?"


ALin kembali menunduk


" sudah lah lupakan itu ALin kita mulai kisah yang baru walau pun sebenernya aku senang dengan kejadian malam itu?"Devan tersenyum jahat


"(ya lu senang gua malu karna harus menjual diri demi uang)" batin ALin


" setelah kejadian itu aku slalu nyari info tentang kamu ALin tpi tak pernah berhasil bahkan setelah sekian lama di Jakarta "


" dan aku senang banget setelah tanpa sengaja ketemu sama kamu dan sepetinya takdir kita memang harus bertemu" tambah Devan


ALin hanya diam saja tanpa menjawab apa pun perkataan Devan karna dia sendiri tidak tau apa yg di rasakan nya saat ini di satu sisi dia merasa ada yg peduli padanya karna berusaha mencarinya.


tpi disisi lain ia merasa malu karena orang yang berada di hadapannya saat ini adalah laki-laki yg pernah melihat setiap inci dri tubuhnya bahkan yang telah membuat dirinya Bermandi peluh dengan dipenuhi ******* malam itu....


seketika ALin merasa wajahnya panas saat mengingat adegan malam itu yg masih sangat jelas di ingatannya...

__ADS_1


__ADS_2