Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Tingkah Yang Mencurigakan


__ADS_3

Pagi itu Aurora mempresentasikan semua hasil yang dia dapat ketika belajar dari Revana kepada Arion, di pagi itu juga Aurora mengajukan beberapa ide untuk membangun perusahaan agar lebih kuat menghadapi tantangan kedepannya. Danilson tidak segan - segan untuk mengkritik ide dari Aurora karena Arion terus saja bersikap lembek dihadapan Aurora, semua ide yang dikemukakan Aurora selalu saja mendapat pujian dari Arion tanpa di pertimbangkan lebih dulu.


Untuk pertama kali Danilson melihat sikap yang berbeda dari Arion terhadap orang lain, Arion yang terlalu terkenal arogan dan dingin kepada orang lain selain kepada Danilson membuat Danilson mengambil alih sedikit peran Arion agar Arion tidak menyesal jika keputusannya akan berakibat buruk pada akhirnya.


Rapat itu menghabiskan banyak waktu sampai tengah hari. Matahari sudah mencapai posisi sempurnanya, panas terik nya menyengat seperti menembus kulit walau berada dalam ruangan dan sinarnya yang cerah menembus kaca jendela ruangan Aurora .


Arion.. Sang vampir yang sedang menggunakan perisai pelindung sinar matahari itu kini terlihat menahan rasa terbakar pada kulitnya namun Arion tetap bersikap seolah baik - baik saja agar Aurora tidak curiga padanya. Danilson memahami jika tuannya sedang kesakitan saat itu langsung menginterupsi pertemuan mereka.


"Nona Aurora, kita break dulu" celetuk Danilson


"Aah ooh iya, sudah tengah hari... tidak terasa ya" timpal Aurora sembari menatap jam tangannya


"Hei, aku masih ingin mendengar presentasi Aurora" terdengar kesal Arion mengatakannya, Danilson pun mendekati Arion dan berbisik padanya.


"Tuan, pakaian pelindung sinar matahari masih belum sempurna. Danilson tahu tuan sedang menderita karena sinar matahari yang menyengat ini" bisik Danilson pada Arion, mendengar bisikan itu membuat Arion tidak memiliki pilihan lain untuk menyudahi bertemu Aurora meski berat hati.


Danilson lah yang memiliki ide untuk membuatkan perisai untuk Arion agar terhindar dari sengatan sinar matahari yang mampu membakar tubuh Arion, Danilson bukanlah ras keturunan vampir. Dia adalah manusia biasa yang pernah mendapatkan kebaikan hati seorang Arion Gervaso hingga membuat Danilson bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupnya kepada Arion, karena kesetiaannya itulah akhirnya Arion memutuskan untuk mengungkap jati dirinya bahwa ia adalah seorang vampir terakhir yang tersisa dari klan Gervaso.


Kejujuran Arion tidak merubah apapun penilaian dan kesetiaan seorang Danilson, rasa balas budi yang besar membuat Danilson semakin bertekad untuk menjadi pelindung Arion. Kebersamaan keduanya yang sudah bertahun - tahun semakin menguatkan hubungan yang erat diantara keduanya.


"Arion? ada apa?" tanya Aurora


"Danilson mengingatkan aku tentang rapat yang harus aku hadiri sebentar lagi, sayang sekali Aurora... aku masih ingin mendengarkan ide - ide hebat mu" jawab Arion sembari menghela nafas


"Ooh begitu... baiklah, jika kamu membutuhkan penjelasan lebih lanjut aku bisa datang ke kantormu" ucap Aurora, seketika itu Arion terlihat senang.


Tidak terlihat lagi raut wajah Aurora yang menaruh curiga bahwa Arion adalah seorang vampir, dirinya kini malah bersemangat untuk menunjukkan kinerjanya kepada Arion sebagai bosnya. Aurora merasa bahwa ini kesempatan emas untuk Aurora agar posisinya semakin bagus dalam pekerjaannya.


"Benarkah?" tanya Arion antusias

__ADS_1


"Yah tapi jangan panggil aku diluar jam kerja, aku akan meminta uang lembur yang sangat banyak jika kamu melakukannya" jawab Aurora dengan ancaman, Arion pun tertawa mendengar ancaman Aurora.


"Baiklah Aurora, aku pamit dulu" ucap Arion menutup pertemuan diantara mereka


Aurora dan Revana menemani Arion dan Danilson meninggalkan kantor, setelah saling berjabat tangan ketika itu Arion dan Danilson langsung memasuki mobil mereka. Ketika mobil Arion sudah berjalan, Danilson langsung merobek benda yang terlihat seperti latex elastis berwarna senada dengan warna kulit Arion. Dibalik benda itu Danilson melihat tangan Arion melepuh karena luka bakar yang cukup parah, dengan segera Danilson membaluri tangan Arion yang terkena luka bakar dengan cairan khusus berwarna merah.


"Bagian mana yang terasa tembus oleh sinar matahari tuan?" tanya Danilson terdengar khawatir


"Hanya di bagian kedua tangan dan juga sebagian pipiku" jawab Arion dengan sedikit rintih kesakitan, Danilson pun merobek benda serupa itu dari wajah Arion.


Seketika itu pipi dan dahi Arion sudah terkena luka bakar yang juga sama seriusnya dengan kedua tangan, Danilson melihatnya dengan penuh rasa khawatir. Perlahan tangannya dia balurkan cairan khusus dan mengoleskannya pada wajah Arion dengan hati - hati.


"Tuan seharusnya tidak memaksakan diri" celetuk Danilson


"Hahaha, aku merasa nyaman berada disisi Aurora. Sepertinya teknologi pakaian anti mataharimu perlu penyesuaian lagi, Danilson" timpal Arion


"Akan saya kerjakan secepat mungkin" ucap Danilson menerima perintah dari Arion


"Hei Revana, aku pulang duluan ya" ucap Aurora


"Silahkan nona Aurora, Revana yang akan membereskan tempat ini" timpal Revana


Aurora pun bergegas merapihkan barang - barang miliknya, termasuk bawang - bawang yang sempat dia sebar tadi pagi. Meski merasa malu kepada Revana, namun Aurora berusaha senatural mungkin memunguti bawang - bawang putih itu. Setelah selesai membereskan semua barang - barang, Aurora pun berpamitan pada Revana lalu segera meninggalkan kantornya.


Aurora tidak lagi terganggu dengan sikap aneh dari teman - teman kerjanya, dalam hati Aurora berpikir sikap aneh rekan - rekan kerja itu hanya karena pengaruh kuat dan kharisma yang dimiliki Arion. Keakrabannya dengan Arion mungkin yang mempengaruhi respon rekan - rekannya, sehingga kini Aurora sudah mulai terbiasa dengan semuanya.


Ditengah perjalanan pulang saat itu Aurora melihat Jerome duduk di kursi taman yang kebetulan dia lewati, senyum Aurora terangkat saat melihat Jerome menoleh menatapnya. Tangan kanannya langsung Aurora angkat untuk memberi lambaian tangan pada Jerome, begitu pun Jerome merespon Aurora dengan lambaian tangan. Jerome berdiri dari duduknya ketika Aurora berlari mendekatinya, kedua ekspresi mereka sangat menunjukkan jika keduanya senang dengan pertemuan mereka.


"Jerome!! Sedang apa disini?" tanya Aurora dengan berteriak karena Aurora masih agak jauh dari posisi Jerome

__ADS_1


"Aku menunggumu pulang dari kantor!!" jawab Jerome dengan teriakan juga, keduanya tertawa disaat bersamaan.


Tapi keanehan terjadi ketika Aurora sudah cukup dekat dengan Jerome, tiba - tiba Jerome melotot dan melompat kebelakang cukup jauh untuk menjauhi Aurora. Sikap aneh yang ditunjukkan Jerome membuat Aurora heran dan kini langkah cepatnya perlahan melambat sampai dia berhenti, senyum keduanya hilang dari garis senyum mereka masing - masing.


Lompatan Jerome saat itu bukanlah lompatan manusia pada biasanya, untuk seorang manusia lompatan Jerome terlalu tidak masuk akal bagi Aurora. Pikiran Aurora yang kini mulai terkontaminasi dengan kepercayaan Diego terhadap keberadaan vampir pun mulai mengganggu Aurora.


"Je...rome? ada apa?" tanya Aurora ketika raut wajah Jerome terlihat kesakitan dan nampak marah padanya.


"Apa yang kau bawa?!!" bentak Jerome pada Aurora, mendengarkan bentakan itu membuat Aurora tersentak.


"Yang aku... bawa? aku tidak membawa apapun yang aneh, hanya berkas - berkas ku dan.... bawang putih..." jawab Aurora terbata, Jerome terkejut mendengar apa yang dibawa Aurora.


"Buat apa membawa benda itu?!!" bentak Jerome lagi


"A.. apa maksudmu? kamu bertanya tentang... bawang putih? kenapa memangnya dengan bawang putih yang aku bawa?!" tanya balik Aurora dengan sedikit bentakan


Jerome tidak menjawab pertanyaan Aurora dan hanya berbalik untuk meninggalkan Aurora sendiri, melihat respon Jerome yang aneh saat itu membuat  Aurora yakin jika vampir yang sebenarnya adalah Jerome. Tidak ingin kehilangan jejak Jerome, ketika itu Aurora berlari mendekati Jerome.


"Tunggu!! Jerome!!! aku bilang tunggu!!" bentak Aurora pada Jerome, tapi Jerome tidak menanggapi panggilan Aurora sama sekali.


"Kamu bermasalah dengan bawang putih ini?! apa kamu tidak suka aromanya?! atau kamu ini sebenarnya..." belum selesai Aurora berkata, tiba - tiba Jerome menghentikan langkahnya.


"Aroma itu terlalu menyengat dan aku tidak suka dengan aroma bawang putih!" jawab Jerome dengan bentakan


"Kamu.... vampir...?" tanya Aurora terbata


Tanpa menjawab apapun Jerome langsung berlari menjauhi Aurora begitu saja, melihat respon Jerome yang seperti itu semakin membuat Aurora meyakini jika Jerome adalah vampir yang sebenarnya dan bukan Arion seperti yang selama ini Diego duga. Bulu kuduk Aurora pun berdiri mengingat bagaimana dia dekat dengan Jerome selama ini, bahkan dirinya juga pernah menggunakan uang yang banyak untuk membebaskan Jerome dari penjara.


"Jerome... adalah Vampir...." gumam Aurora dengan terbata

__ADS_1


Aurora langsung menoleh kanan kiri lalu segera berlari untuk menuju rumahnya dan melaporkan apa yang dia dapatkan hari ini, ayahnya pasti tahu apa yang harus dilakukan disaat seperti ini karena selama ini Diego selalu menghabiskan waktu untuk mencari keberadaan vampir.


__ADS_2