Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Kemunculan Jerome


__ADS_3

Tatapan mata sang vampir tampan dan kaya raya itu berhasil membuat Aurora menyembulkan rona merah pada pipinya, perlahan Aurora membuang muka agar tangan Arion yang menyentuh dagunya terlepas secara alami. Ketampanan vampir yang maskulin dan dingin itu berhasil membuat Aurora terpesona.


Selayaknya seorang pria yang memang lihai bersikap manis dan romantis terhadap wanita, Aurora merasa jika Arion tidak perlu lagi belajar untuk memikat hati wanita. Walau Arion meminta agar Aurora mengajarinya cara agar membuat Aurora jatuh cinta padanya, tapi Aurora meragukan perkataan Arion setelah melihat langsung sikap Arion kepadanya.


"Ka.. kamu sepertinya sudah paham ca.. cara untuk membuat seseorang jatuh cinta padamu" sindir Aurora namun suaranya terbata


"Tidak, itu tidak benar karena aku tidak bisa membuatmu untuk jatuh cinta padaku" timpal Arion, perlahan Aurora kembali menoleh untuk menatap wajah Arion yang nampak bersungguh - sungguh dengan cintanya pada Aurora.


Pesona Arion yang menanggalkan sikap dinginnya membuat Aurora merasa jika Arion benar - benar mencintainya, semakin canggung bagi Aurora untuk bersikap. Gadis cantik itu cemas karena ketakutan Arion akan melihat wajahnya yang aneh karena salah tingkah, Aurora mulai merasa jika pipinya pun pasti merona.


"Arion beri aku waktu, sudah aku katakan sebelumnya... hati manusia itu tidak semudah yang kamu pikirkan, tentang cinta... itu adalah sesuatu yang rumit" ucap Aurora, suara helaan nafas Arion pun terdengar bersamaan dengan senyumnya yang merekah.


"Aku akan berikan semua waktu itu padamu, kita akan menjalaninya dengan caramu" timpal Arion


Tidak seperti biasanya, Arion seakan mulai bisa bersikap dengan tepat untuk menghadapi Aurora. Perlahan dengan penuh percaya diri Arion merasa jika dia akan berhasil memiliki Aurora seutuhnya.


Setelah itu Arion pun kembali melajukan mobil hingga kesebuah tempat dimana Arion biasa membeli kantung darah dari para pendonor, para pekerja di pusat donor darah itu pun terkesan mengenal Arion dengan sangat baik. Setelah selesai dengan semua urusan, keduanya memutuskan untuk pulang kerumah keluarga Varsha. Mereka menjalani hari - hari seperti biasanya, malam ini menjadi hari kedua bagi Arion tinggal bersama keluarga Varsha.


Masih ada kecurigaan Diego pada Arion yang membuat mereka sesekali bertengkar, keberadaan seorang vampir ditengah keluarga manusia masih membuat Diego tidak nyaman. Apa lagi ada kenyataan jika anak semata wayangnya merupakan incaran bagi para vampir, tidak terkecuali Arion yang secara terang - terangan menginginkan darah suci Aurora agar dia memiliki keturunan darinya. Hal itu yang membuat Diego tidak tenang sepanjang malam, dia selalu waspada dengan setiap gerak - gerik Arion dirumahnya.


Berbeda dengan sikap Diego, Aurora seakan sudah dapat menerima kehadiran Arion disekitarnya. Meski kadang kala tatapan Arion membuat Aurora salah tingkah, pernyataan cinta yang pernah diutarakan Arion kepadanya membuat Aurora tidak dapat bersikap seperti biasa dihadapan Arion.


Bagi Arion sendiri, berada ditengah keluarga manusia membuatnya sedikit merasa canggung dan aneh. Selama ini dia selalu hidup sendiri, tidak pernah bersosialisasi, dan hanya pada Danilson lah Arion dapat berbicara bebas meski tetap ada jarak diantara mereka. Kali ini Arion harus membiasakan diri berkumpul dengan ras manusia, semua dilakukan Arion demi mendapatkan perhatian lebih dari Aurora.


Dua minggu berlalu...


Kecanggungan sudah tidak lagi terasa dirumah keluarga Varsha, Diego seakan sudah terbiasa dengan kehadiran Arion dirumahnya. Bahkan kebiasaannya yang selalu terjaga ditengah malam dengan membawa berbagai peralatan anti vampir berbahan perak kini sudah ditinggalkan, semua dilakukan Diego untuk melindungi Aurora dari serangan Arion. Tapi ada satu hal selama dua minggu ini tidak juga hilang dari hubungan Diego dan Arion, mereka berdua tetap saja sering bertengkar karena mempermasalahkan hal - hal receh.


Aurora sendiri semakin terlihat lengket dengan Arion, sering kali keduanya keluar bersama karena kebosanan yang dirasakan Aurora selama dua minggu ini. Dia benar - benar tidak diizinkan Arion untuk pergi bekerja, bagi seorang wanita mandiri seperti Aurora tentu saja hal itu membuatnya sering kali merasa bosan. Sebagai gantinya, Arion sering kali mengajak Aurora untuk keluar berkencan. Hal itulah yang membuat keberadaan Arion terasa menyenangkan bagi Aurora, kini dia sudah terbiasa dengan sikap Arion.


Semua hal yang berhubungan dengan manusia kini sudah tidak menggangu lagi bagi Arion, penerimaan Aurora terhadap dirinya membuat Arion berusaha sangat keras meninggalkan sifat angkuh dan sombongnya. Dalam dua minggu ini, Arion sombong dan angkuh itu sudah berangsur hilang didalam diri Arion.


Semua berjalan baik bagi Arion, rencana demi rencananya sudah membuahkan hasil. Jerome telah tiada membuat Arion tidak memiliki saingan untuk merebut hati Aurora, begitu pula dengan Aurora yang sudah tidak pernah menyebutkan nama Jerome sama sekali dihadapan Arion. "Aku telah menang" begitu pikir Arion setelah melihat semua perkembangan yang terjadi, tapi pagi ini pandangan Arion pun berubah drastis ketika...

__ADS_1


"Jerome?!!" dengan nada terkejut Aurora mengatakannya


Suara ketokan pintu pagi itu membuat semua hal baik yang terjadi pada Arion berubah total, Jerome datang ketika Diego, Arion dan Aurora akan sarapan bersama tepat setelah dua minggu berlalu. Teriakan Aurora saat membukakan pintu bagi tamu yang datang pagi itu membuat Arion dan Diego berlari menyusul Aurora, keduanya sama terkejutnya melihat kedatangan Jerome pagi itu.


Pagi itu sosok Jerome berhasil membuat semua yang berada dikediaman Aurora terkejut terlebih Arion yang menduga telah berhasil membunuh Jerome, tiga minggu waktu yang Jerome butuhkan untuk bermeditasi dan menjauhkan diri dari Aurora.


Ada yang berdebar pagi itu, dia adalah Aurora dengan perasaan yang tak karuan. Tatapan mata teduh dari sosok vampir yang dia sempat rindukan akhirnya bisa kembali dia lihat. Aurora yang terpaku melihat kehadiran Jerome dibuyarkan dengan Suara Arion secara tiba - tiba.


"Jerome?!" ucap Arion terkejut


"Hai Arion, kaget melihatku?!" tanya Jerome dengan sedikit bentakan, seketika itu Aurora menoleh menatap Jerome dengan raut wajah penuh rasa curiga.


Sikap tenang dengan tatapan mata Jerome yang biasa saja membuat Arion terheran, rasa cemas mulai menyerang pikiran Arion. Dia berfikir kedatangan Jerome menemui Aurora adalah untuk menceritakan kejadian ketika dirinya menyerang Jerome disebuah Kastil.


"Ada apa? apa kalian pernah bertemu selama dua minggu ini?" tanya Aurora menekan, Arion pun terdiam menatap Aurora.


"Tidak, kami tidak pernah bertemu dalam dua minggu ini. Aku benarkan, Arion?" timpal Jerome


Arion yang licik menduga jika jawaban Jerome adalah jebakan selanjutnya yang harus Arion persiapkan agar tidak kena perangkap. Arion mulai gusar dan emosinya sulit untuk dia sembunyikan.


"Darimana saja kamu selama ini? Arion ketakutan sampai harus bersembunyi disini selama dua minggu karena kamu menjadi jauh lebih kuat setelah menerima darah Aurora" tanya Diego.


Terlihat berbeda sekali bagaimana Diego memperlakukan kedua vampir itu, Diego seperti tidak ketakutan dengan kehadiran Jerome setelah berkali - kali Arion mencoba mempengaruhinya. Diego masih saja bersikap seolah Jerome tidak berbahaya. Hal itu membuat Arion kembali merasa jika siasatnya belum berhasil.


"Aku... yah, aku kesulitan untuk menahan hawa nafsu setelah menerima darah suci tapi sekarang tidak apa. Kini aku bisa menikmati darah pouch lagi dari pusat donor darah" jawab Jerome dengan sedikit suara tawa kecil yang terdengar, Aurora menghela nafasnya terdengar lega.


"Syukurlah kamu baik - baik saja, Jerome. Aku mengkhawatirkan mu..." terdengar lega Aurora mengatakannya


"Apa kamu merindukanku?" celetuk Jerome menggoda Aurora, seketika itu Aurora terkejut dan wajahnya pun memerah karena pertanyaan yang diajukan oleh Jerome.


"Ma... mana mungkin aku rindu padamu?!! dasar vampir gak tahu diri!!" bentak Aurora malu - malu, Jerome tertawa merespon sikap yang Aurora tampakkan ketika itu.


Melihat kedatangan Jerome dan respon yang ditunjukkan Aurora ketika itu membuat Arion terbakar api cemburunya, tapi hal yang lebih mengganggunya adalah "Kenapa dia masih hidup? bukankah aku sudah membunuhnya? apa dia berhasil menghindari peluru itu? tidak, aku yakin peluru itu tepat mengenai kepalanya" ucap Arion didalam hati yang membuatnya sedikit melamun menatap Jerome, tiba - tiba Jerome mengalihkan pandangannya menatap Arion lalu tersenyum sinis dengan banyak arti.

__ADS_1


Sesaat Arion sempat melupakan jika Jerome mampu membaca pikirannya, "Sialan kau, Jerome!" geram Arion dalam hati.


Aurora mempersilahkan Jerome untuk masuk kedalam ruang keluarga dengan mengatakan banyak yang ingin Aurora tanyakan padanya, dengan senang hati Jerome menerima ajakan Aurora yang semakin membuat Arion dibakar rasa cemburunya. Tidak ingin membuat masalah, Arion memilih untuk tidak ikut berkumpul bersama Jerome, Aurora dan Diego di ruang keluarga.


Saat itu Arion lebih memilih duduk diruang makan sembari menghubungi Danilson untuk memberitahunya bahwa Jerome telah kembali dengan menggunakan pesan singkat, tidak lama Danilson menjawab dan jawabannya membuat Arion tersenyum sinis. Disisi lain dalam rumah keluarga Varsha, Jerome duduk di sofa berhadapan dengan Diego dan Aurora.


"Aku baik - baik saja, darah suci itu sudah bisa aku tekan" celetuk Jerome ditengah keheningan yang sempat terjadi


"Hah?" kebingungan lah Aurora mendengar perkataan Jerome


"Itu pertanyaan yang ingin tanyakan barusan, kamu membaca pikiranku ya" timpal Diego kesal, Jerome pun tertawa menanggapi kekesalan Diego.


"Itu memang kemampuanku" ucap Jerome


Seperti itulah hubungan ketiganya, tidak ada yang berubah. Diego, Aurora dan Jerome memanglah memiliki kedekatan yang sangat baik dan tidak ada kecanggungan diantara mereka. Tawa kebersamaan yang selama tiga minggu tidak terdengar kini kembali hadir dirumah Aurora berkat kehadiran Jerome.


"Kemana saja kamu selama dua minggu ini, Jerome? apa monster menyeramkan itu benar - benar... dirimu?" tanya Aurora, seketika senyum Jerome pun menghilang dari wajahnya.


Terakhir kali pertemuannya dengan Aurora, Jerome memang telah bertransformasi ke wujud yang lebih menyeramkan. Jerome tidak menduga jika Aurora menyaksikan perubahan pada dirinya, hal itu tentu saja membuat Jerome sedih dan merasa jika Aurora akan ketakutan terhadap dirinya.


"Kamu mengingatnya ya..." penuh penyesalan Jerome mengatakannya, sejenak mereka semua terdiam sampai suara helaan nafas Jerome terdengar.


"Darah suci bagi kami para vampir memang memiliki efek yang luar biasa, tenagaku bergejolak, darahku terasa mendidih, dan rasa haus akan darah segar manusia semakin bergolak. Aku bertarung dengan diriku sendiri untuk menahan rasa lapar ketika darah suci masih tercium dari tubuh Aurora, beruntung Arion berada disekitar dan berhasil menyelamatkan Aurora dariku" ucap Jerome


"Arion ketakutan selama dua minggu ini, dia bersembunyi disini dan berharap kamu tidak pernah menyerangnya" timpal Diego, mendengar perkataan Diego membuat Jerome tertawa.


Percakapan diantara ketiganya berlangsung seru seakan tidak ada Arion disana, disudut lain sudut ruangan Aurora terlihat Arion begitu emosi. Tangannya saling mengepal dengan wajah sinis yang terlihat. Pagi itu menjadi hari yang buruk bagi Arion.


"Tidak apa, semua sudah terkendali. Ooh iya, selama ini aku mengasingkan diri di kastil tua milik klan vampirku yang telah lama ditinggalkan. Baru hari ini juga aku telah berhasil sepenuhnya menahan gejolak darah suci, lalu maksud kedatanganku disini adalah... Aurora, aku berubah pikiran tentang keinginanku" ucap Jerome kemudian dia menggantung perkataannya, Aurora pun penasaran dengan apa yang diinginkan Jerome.


"Apa itu? kamu berubah keinginan tentang apa?" tanya Aurora penasaran, Jerome menatap Aurora dengan hangat dan senyum Jerome pun terasa begitu bersahabat.


"Aku tidak ingin punah... izinkan aku untuk menjadikan dirimu sebagai istriku" jawab Jerome

__ADS_1


__ADS_2