
Draatt!! Draatt!! Draattt!!!
Suara ledakan senjata laras panjang yang dilengkapi dengan peredam terdengar begitu jelas ditelinga Arion dan Jerome, keduanya memiliki ekspresi terkejut yang sama ketika mendengar suara tembakan itu meski mereka ditempat yang berbeda. Arion berusaha mendekati Aurora yang berada di hanggar nomor empat belas dengan cara melompati dari satu hanggar ke hanggar lainnya melewati antar jendela hanggar yang bersebelahan, sedangkan Jerome melompati atap satu hanggar ke hanggar lainnya dengan jaket hoodie yang menutupi seluruh tubuhnya.
Pagi yang sejuk berganti dengan terik matahari yang mulai berada pada puncak tertingginya. Suasana di setiap hanggar masih saja memanas, manusia komplotan para mafia itu masih saja berusaha mengejar kedua vampir yang sedang menuju lokasi Aurora berada. Kecepatan tidak setara diantara dua ras berbeda itu membuat anggota mafia nyaris kehilangan jejak Arion dan Jerome.
"Aurora..." gumam keduanya sembari terus berlari untuk mendekati hanggar nomor empat belas.
Tidak lama setelah bunyi suara tembakan itu, baik Jerome dan Arion pun sampai bersamaan di hanggar nomor empat belas. Arion yang melompat antar jendela langsung bergulung dilantai lalu berusaha mencari keberadaan Aurora, sedangkan Jerome yang melompat dari satu atap hanggar ke atap lainnya langsung menjebol atap yang membuatnya masuk kedalam hanggar nomor empat belas dengan begitu menarik perhatian.
Semua mafia yang berada disana pun segera mengalihkan perhatiannya untuk menatap Arion dan Jerome, melihat keberadaan dua vampir sekaligus disaat bersamaan membuat para mafia itu gentar. Begitu pula dengan Robert yang wajahnya terlihat pucat ketika melihat Arion, tubuhnya pun bergetar hebat.
Tanpa memperdulikan semua mafia yang berada disana, Jerome memusatkan pikiran dan perhatiannya untuk menemukan keberadaan Aurora. Suara tembakan yang Jerome dengar itu diyakini adalah suara tembakan yang mafia arahkan pada Aurora, Arion pun terlihat mencari keberadaan Aurora. Kekhawatiran kedua vampir yang mencintai satu gadis yang sama itu semakin mendebarkan bagi para mafia yang melihat keduanya.
"Aurora!!!" teriak Jerome yang membuat para mafia semakin gemetar ketakutan
Suara teriakan itu dipenuhi rasa amarah yang tersampaikan dengan sangat baik di hati para mafia itu, teriakan yang begitu keras dan menggelegar dari Jerome tidak juga mendapatkan jawaban dari Aurora. Hal itu membuat Jerome begitu khawatir, namun kemarahan yang ditunjukkan Jerome berbanding terbalik ketika melihat Arion hanya diam saja menatap Robert dengan begitu tajam.
Tidak lama kedua vampir itu mencium aroma darah suci yang terasa begitu menyengat, kini tatapan mata Arion dan Jerome pun tertuju pada yacht yang terparkir didalam hanggar. Keduanya bergerak bersamaan untuk mendekati aroma darah suci yang terasa semakin pekat itu, hingga sampailah mereka di haluan kapal dan melihat Aurora terkapar dengan darah yang sudah membasahi lantai.
"Aurora!" teriak Jerome ketika itu, dia segera mendekati Aurora lalu mengangkat tubuhnya dan diletakkan tubuh lemas Aurora saat itu dipangkuan Jerome.
Tubuh kecil Aurora terkulai tak berdaya dalam pelukan Jerome, darah segar mengalir deras dari balik baju yang Aurora kenakan. Baju yang Jerome pilihkan untuk penyamaran Aurora namun ternyata rencana keduanya gagal. Lubang bekas tembakan terlihat dari dada sebelah kiri dan juga perut Aurora, tak sampai disitu bahkan paha sebelah kanan Aurora pun terkana sasaran peluru milik mafia.
Kondisi Aurora yang tak sadarkan diri dengan darah yang banyak mengalir membuat tangan JeromeĀ yang menopang tubuh Aurora bergetar . Rasa bersalah pada diri Jerome membuat tubuhnya bergetar hebat, bahkan mengalahkan rasa lapar akan darah suci Aurora yang tercecer begitu banyak dilantai haluan kapal.
"Aurora!! Aurora!! sadarlah!! tetap bersamaku, jangan pejamkan matamu!!" teriak Jerome berkali - kali untuk menyadarkan Aurora yang terlihat pingsan, disaat itu Arion hanya terdiam dengan mengepal kedua tangannya begitu kuat.
__ADS_1
Disisi lain ketika itu Robert perlahan ingin meninggalkan hanggar nomor empat belas, diam - diam langkahnya semakin cepat mendekati salah satu mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika tangannya sudah menyentuh ganggang pintu mobil, Robert kembali menatap para anak buahnya yang terlihat masih membatu karena rasa gentar yang menguasai hati dan pikirannya.
"Jangan takut!! bunuh semuanya!! tembak lagi mereka!!" perintah Robert dengan teriakannya, seketika itu para mafia mulai mengarahkan senjata laras panjangnya kearah Jerome, Arion dan Aurora yang berada di haluan kapal.
Teriakan Robert terdengar jelas ditelinga Arion, mata sang vampir tampan dan kaya raya itu kini memerah dan kedua tangannya mengepal dengan erat membuat urat di tangan Arion terlihat kekar. tatapan mata merah itu tertuju pada para mafia yang terlihat bersiap menyerangnya namun Arion tidak menghindari apapun meski tubuhnya memiliki beberapa luka tembak.
"Jerome... bawa Aurora kerumah sakit terdekat" celetuk Arion yang kini tatapan matanya tertuju pada para mafia yang terlihat dari haluan kapal.
Saat itu ada keanehan yang Jerome rasakan dari suara Arion yang bergetar, Jerome merasa Arion sedang dalam puncak emosi dan dendam yang paling tinggi. Kedua vampir ini memanglah rival abadi, perseteruan diantara mereka bahkan sering terjadi sebelum mengenal Aurora. Hal itulah yang membuat Jerome sangat memahami karakter Arion. Namun tidak ingin hal itu mengganggu fokusnya terhadap Aurora, Jerome memutuskan untuk menepis prasangkanya.
"Mereka tahu cara membunuh kita, jumlah mereka memang tidak lebih dari empat belas orang... apa kamu yakin bisa mengatasi mereka sendiri?" tanya Jerome dengan suara yang gemetaran
"Aku akan membalaskan rasa sakit yang diderita Aurora" penuh dendam Arion mengatakannya
Tanpa basa - basi lagi Jerome pun melompat tinggi membawa tubuh tak berdaya Aurora dengan erat untuk keluar dari hanggar nomor empat belas melewati lubang di atap yang sempat dia buat saat masuk tadi, tersisa lah Arion dan empat belas mafia ditambah Robert dan Militao. Arion berjalan hingga ujung haluan kapal dan menatap para mafia yang berada dibawahnya. Tatapan dingin Arion ketika itu semakin membuat para mafia ketakutan, beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan senjatanya.
"Ayo kita coba penemuanmu Danilson" gumam Arion sembari merogoh sakunya
***Beberapa jam sebelumnya***
Danilson terlihat berada dihadapan Arion dengan kedua jenis injeksi berbeda warna ditangan kiri dan kanannya, satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna hijau. Dengan wajah datar dan terus menatap kedua injeksi itu Arion perlahan menerima kedua injeksi itu dari tangan Danilson, dengan wajah terlihat senang Danilson menatap Arion.
"Jadi ini yang kamu katakan padaku?" tanya Arion
"Benar tuan, kemurniannya hampir mendekati darah suci milik nona Aurora!" terdengar antusias Danilson mengatakannya
"Benarkah? kenapa kamu bisa yakin?" tanya Arion lagi
__ADS_1
"Karena susunan DNA yang dimiliki darah nona Aurora mirip dengan injeksi berwarna merah itu, meski itu hanya darah suci buatan tapi kemurniannya menyerupai darah milih nona Aurora" jawab Danilson begitu meyakinkan, kini tatapan mata Arion beralih pada injeksi berwarna hijau.
"Lalu ini apa?" tanya Arion penasaran, Danilson menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arion.
"Itu antidot yang bisa menekan efek darah suci, jika tuan merasa tidak mampu untuk menahan hawa nafsu tuan akan darah suci... injeksi berwarna hijau itu akan menekan efeknya, tapi Danilson yakin tuan akan langsung merasa lemas dan tidak berdaya selama beberapa jam setelah menggunakannya" jawab Danilson yang seakan kehilangan rasa antusiasnya
"Begitu ya, aku mengerti. Terima kasih" timpal Arion lalu meletakkan kedua injeksi itu di laci meja kerjanya.
"Tuan Arion..." celetuk Danilson, dia menggantung perkataannya dan menunggu respon Arion.
"Apa ada masalah, Danilson?" tanya Arion yang heran dengan sikap Danilson ketika itu
"Danilson harap saat dimana tuan akan menggunakan kedua injeksi itu tidak pernah terjadi" jawab Danilson penuh harap, Arion tertawa kecil mendengar jawaban Danilson ketika itu.
"Aku juga berharap seperti itu, tapi Jerome membuatku khawatir. Dan satu lagi.. apa sampel darah Aurora yang aku dapatkan ketika tragedi perampokan bank masih ada?" ucap Arion
"Ada, itu masih ada di laboratorium kita. Apa tuan ingin aku membawanya kesini?" tanya Danilson
"Tidak usah, simpan saja di laboratorium dan letakkan ditempat yang mudah untuk aku temukan" jawab Arion
****Masa lalu berakhir*******
Setelah ingatan itu kembali terputar, Arion tanpa ragu menyuntikkan cairan injeksi kedalam tubuhnya. Melalui leher, Arion membiarkan cairan berwarna merah masuk kedalam pembuluh darahnya dan tidak lama cairan injeksi itu pun mulai beraksi. Dimulai dari pembuluh darah yang terlihat membesar, mata Arion pun perlahan memerah hingga menghilangkan warna hitam dari pupilnya, perlahan sayap muncul dari punggungnya namun ukurannya menjadi dua kali lipat dari yang biasa Arion miliki. Arion tersenyum dan ketika itu terlihat taringnya membesar, kini wujud Arion terlihat mirip dengan perubahan wujud Jerome setelah meminum darah suci Aurora.
"Kalian... melakukan hal diluar batas... aku akan turunkan hukuman untuk kalian..." ucap Arion dengan suara yang menggeram
Para mafia pun lari terbirit - birit melihat sosok menyeramkan dari perubahan wujud Arion, hawa keberadaannya juga begitu mencekam dan menciutkan nyali setiap orang yang melihatnya. Begitu pula dengan Robert, dia segera memasuki mobil untuk pergi dari tempat itu meninggalkan Militao dan juga para anak buahnya. Begitu Robert menyalakan mesin mobil, dia langsung injak gas untuk segera menjauhi Arion.
__ADS_1
Melihat Robert memacu mobil untuk meninggalkan tempat itu, Arion langsung melompat jauh dari haluan kapal untuk menginjak mobil yang digunakan Robert. Berat tubuh Arion saat itu mampu menghancurkan mobil yang digunakan Robert hingga berkeping - keping berikut juga bersamaan dengan orang didalamnya, darah juga terlihat menyembur dari remukan mobil itu.
"Siapa.... selanjutnya....?" tanya Arion dengan geraman.