Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Terpesona


__ADS_3

"Aku akan mengingkari perjanjian darah kami untuk berdamai, aku akan membawa Arion punah bersamaku agar kamu bisa menikmati hidup dengan tenang" ucap Jerome dengan tegas


Disebuah perbukitan yang dipenuhi pepohonan tinggi menjulang seakan menyentuh awan, seorang gadis cantik dengan baju yang basah kuyup sedang berbincang dengan vampir tampan yang sudah kembali sebagai wujud manusianya. Jerome dengan tegas mengatakan untuk mengingkari perjanjian darah terhadap Arion, sebuah kalimat tulus yang ditangkap oleh pikiran Aurora sebagai perlindungan yang Jerome tawarkan untuk dirinya.


Pikirannya tentang akan menjadi mangsa bagi Jerome lenyap sudah, berganti dengan rasa iba dan kembali nyaman berada didekat Jerome. Aurora merasakan ketulusan dari setiap kalimat yang Jerome katakan. Pikirannya mulai tak menentu, ada bahagia dan sedih namun juga memiliki rasa bimbang. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya akan bisa menjadi masalah bagi ras yang sempat dia anggap punah. Larut dalam lamunan masing - masing keduanya pun saling terdiam sampai suara teduh Jerome membuyarkan lamunan Aurora.


Ajakan Jerome untuk pulang membuat Aurora memutuskan suatu hal, Gelengan kepalanya terlihat bergerak dengan lembut dan tatapan matanya kosong menatap tanah yang lembab karena hutan itu memiliki tingkat kelembaban yang cukup tinggi.


"Aku tidak ingin... kamu menghancurkan perjanjian darah itu" Suara pelan Aurora terdengar oleh Jerome setelah menggelengkan kepalanya untuk menolak ajakan Jerome


"Maaf Aurora, aku tidak punya pilihan lain" timpal Jerome


"Ada!" tegas Aurora mengatakannya


Tak lagi pelan suara gadis itu terdengar. Ketegasan Aurora yang mengatakan ada cara lain agar Arion tidak mengincarnya, membuat Jerome bingung. Bagi Jerome, dia sangat mengenal sosok Arion dan bagaimana cara dia untuk mendapatkan semua keinginannya. Tidak ada kata tidak bagi Arion meski dia harus mengorbankan banyak hal demi mencapai tujuannya, hal itu lah yang membuat Jerome tidak tenang membiarkan Arion hidup ketika dia sudah mengincar Aurora.


"Aku punya cara, aku akan lepas dari cengkraman Arion" ucap Aurora lagi berusaha meyakinkan Jerome jika dia bisa melakukan sesuatu, Jerome mengernyitkan dahinya ketika mata mereka bertemu.


"Kamu tidak akan bisa, bagaimana caramu melawan Arion?!" tanya Jerome dengan bentakan


"Tentu bukan secara langsung menantangnya, aku bisa bertahap pergi dari lingkarannya dimulai dari aku keluar dari kerjaan ku sekarang, lalu aku akan pindah rumah untuk sementara, dan..." belum selesai Aurora berkata, Jerome memotong


Jawaban Aurora yang seakan mampu menghindar dari Arion dengan cara yang mudah akhirnya memantik emosi Jerome, Arion dengan kemampuan dan kelicikan juga kekuasaan yang dimilikinya bukanlah hal yang bisa diremehkan begitu saja. Jerome sangat memahami rivalnya itu, Aurora yang sudah mencuri hati Jerome membuat jerome tidak ingin Aurora menjadi mangsa Arion.


"Aurora!! ini bukan bercandaan!! nyawamu sedang terancam!!!" bentak Jerome, tapi bentakan Jerome dibalas sebuah senyum di wajah Aurora.


"Aku mengandalkan mu untuk melindungi ku dari Arion" ucap Aurora terdengar begitu pasrah


Jerome langsung merubah sosoknya menjadi setengah kelelawar yang menyeramkan, dia mendekatkan wajahnya untuk menatap Aurora dengan tatapan ingin membunuhnya. Tubuh Aurora gemetaran, sorot matanya pun menunjukkan ketakutannya kembali pada Jerome, dan bulir air mata mulai menggenangi pelupuk mata indah Aurora.


"Hanya dengan tatapan seorang vampir, kamu sudah seperti ini. Bagaima..." belum selesai Jerome berkata, tiba - tiba Aurora tersenyum dan menyentuh pipi Jerome dengan lembut meski tangannya gemetaran.


"Ti... tidak... apa... ak... aku berani.... Ii..ini.. hanya... pembiasaan diri..." ucap Aurora terbata, nafas Aurora semakin tidak beraturan saat itu.


Mendengar jawaban itu membuat Jerome tersentak, ketika itu dia terdiam sejenak dan terus menatap mata Aurora yang sedikit mengeluarkan air matanya. Secara tiba - tiba Jerome terbang cukup tinggi dan meninggalkan Aurora dibawah, spontan Aurora mendongak untuk melihat apa yang akan dilakukan Jerome di atas sana. Tangan Jerome menebas beberapa ujung batang pohon, mengambil batang - batang pohon itu, lalu melemparkannya kepada Aurora.


Aurora yang melihat Jerome melemparkan beberapa batang pohon itu kepada dirinya, kini hanya bisa pasrah. Matanya terpejam namun kepalanya tetap mendongak kearah Jerome, bersamaan dengan itu batang pohon yang Jerome lempar menancap dengan dalam disekitar tubuh Aurora tanpa mengenai bagian tubuh Aurora satu dahan pun. Tubuh kecilnya kini dikelilingi batang pohon yang tinggi melebihi tinggi tubuhnya.


"Kamu tidak akan punya kesempatan!!" bentak Jerome yang masih terbang di langit, perlahan Aurora membuka matanya dan kembali tersenyum menatap Jerome.


"A... aku... punya!! aku... lolos dari kematian yang... ka.. kamu tujukan padaku!!" seru Aurora menjawab bentakan Jerome


"Itu karena aku mengasihani mu!! jangan samakan apa yang akan kamu hadapi dengan..." belum selesai Jerome berkata, Aurora memotongnya.

__ADS_1


"Nyatanya aku masih hidup!!! aku masih hidup Jerome!!!" teriak Aurora


Bersamaan dengan teriakannya itu, Aurora kembali menangis. Tangisan terisak - isak Aurora terasa menyakitkan bagi hati Jerome, bahkan tangannya perlahan dia sentuh kan pada dadanya. Dalam benaknya Jerome berkata "Perasaan sakit apa ini? kenapa vampir sepertiku merasa sakit mendengar tangisan manusia?"


Perlahan Jerome turun dari terbangnya untuk berdiri didepan Aurora yang masih menangis terisak - isak sambil tertunduk, air mata Aurora begitu deras membasahi tanah dibawahnya. Jerome pun berlutut dihadapan Aurora dengan sosok manusianya, lalu menyentuh pipi Aurora dengan lembut. Perlahan Aurora kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Jerome yang terlihat begitu menyesal, ekspresi wajah Jerome yang menyesal itu mampu meredakan tangisan Aurora.


Hanya cara itu yang ada dibenak Jerome untuk menyadarkan Aurora bahwa yang dihadapinya akan sulit. Ras vampir bukanlah musuh yang sesuai bagi manusia, Aurora yang terlihat terlalu meremehkan membuat Jerome terpaksa kembali melakukan hal yang menyeramkan bagi Aurora, semua itu tak lebih hanya untuk membuat Aurora berpikir ulang dengan sikapnya untuk menghadapi Arion.


"Maaf Aurora... aku bermaksud untuk mengintimidasi mu agar kamu tidak pernah berpikir dapat melawan kami, aku tahu kamu tipe orang dengan keinginan kuat dan berpendirian teguh. Tapi setidaknya kamu harus berpikir realistis, kamu tidak akan bisa mengalahkan vampir" ucap Jerome dengan nada yang terdengar begitu lembut, Aurora menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku... tidak pernah berpikir bisa mengalahkan mu maupun Arion, tapi aku bisa mempertahankan diriku agar tetap hidup entah bagaimanapun caranya. Karena itu, aku minta padamu... lindungi aku dari Arion, karena dengan kamu... kesempatan hidupku akan jauh lebih tinggi" timpal Aurora yang suaranya masih sedikit gemetaran, Jerome menghela nafasnya lalu tersenyum menatap Aurora.


Gadis cantik pemilik darah suci bernama Aurora Varsha itu berhasil membuat Jerome bahagia dan terharu, menjadikan dirinya sebagai harapan bagi Aurora untuk menjadi pelindungnya sangatlah membuat Jerome bahagia. Tidak dia duga segala hal yang dia tunjukkan hari itu terhadap Aurora tidak merubah hubungan diantara keduanya.


"Tunggu disini, aku segera kembali" ucap Jerome


Jerome tiba - tiba menghilang begitu saja dari hadapan Aurora, namun tidak lama tiba - tiba Jerome kembali muncul dihadapan Aurora membawa tote bag dengan tulisan merk fashion terkenal. Aurora terkejut melihat tote bag itu, lalu perlahan mata Aurora menatap Jerome yang terlihat tersipu malu, perlahan Jerome membuang wajah untuk menghindari bertatapan mata dengan Aurora.


"I..ini.. hadiah yang sudah aku siapkan untukmu... aku tidak tahu apa ini akan cocok, tapi model ini sedang populer sekarang" celetuk Jerome sembari memberikan tote bag itu, Aurora tersenyum mendengar perkataan Jerome.


"Boleh aku.. ambil?" tanya Aurora


"Ten..tentu, semoga kamu suka" jawab Jerome


Aurora menerima tote bag itu lalu membuka isinya, box berwarna coklat muda berisikan sebuah Gaun backless indah berbahan satin dengan warna hitam dan ukuran yang pas dengan tubuh Aurora serta kalung dengan liontin berbentuk setangkai mawar tertata begitu rapih didalamnya. Warna yang menjadi warna kesukaan Aurora serta gaun cantik dengan paduan kalung indah membuat Aurora terpana dengan hadiah yang Jerome berikan. Tersungging senyum manis dari bibirnya lalu perlahan matanya menatap Jerome yang mematung dihadapannya lalu berkata.....


"Eeh, yaah... boleh selama kamu suka dengan hadiahnya" timpal Jerome dengan pipi yang terlihat merona karena melihat senyum cantik Aurora. Untuk pertama kali kulit putih khas vampir Jerome sedikit memerah karena rona yang tersembul dari kedua pipinya.


"Aku ingin pakai baju ini segera karena bajuku kotor, bisa kamu pergi agak jauh dari sini?" pinta Aurora


"Tentu, aku akan berada dibalik pohon itu" jawab Jerome sembari berbalik hendak berjalan membiarkan Aurora mendapatkan privasi


"Jangan mengintip!! aku buat kamu menderita kalau sampai mengintip ku!" ancam Aurora dengan sedikit bentakan, Jerome sempat berhenti berjalan lalu tertawa kecil.


Jerome tidak menyangka dia akan diancam oleh seseorang dari ras manusia, Jerome tertawa kecil lalu mengatakan jika dia tidak akan mengintip Aurora karena takut akan ancaman Aurora. Setelah memastikan jika Jerome sudah berada dibalik pohon seperti yang dia katakan, Aurora mulai berganti pakaian.


Gadis itu benar - benar cantik dan menawan dengan gaun yang Jerome berikan sebagai hadiah yang sebenarnya Jerome siapkan sebagai ucapan terima kasihnya karena Aurora sudah menebus Jerome dari penjara. Tatapan mata Jerome untuk sesaat lama berkedip karena terpaku dengan kecantikan Aurora.


Tidak butuh waktu lama untuk Aurora kembali terlihat cantik meski bekas tanah dan pasir masih terlihat dibeberapa bagian tubuh Aurora, untuk menyampaikan permintaan maaf saat itu Jerome mencarikan sumber air yang bisa digunakan Aurora untuk membersihkan tubuhnya.


Disebuah aliran sungai jernih yang berada di hutan itu, Aurora mencuci tangan dan wajahnya untuk melunturkan semua kotoran yang masih menempel. Kejernihan dan segarnya aliran sungai itu membuat Aurora merasa lega, tubuh yang sebelumnya penuh dengan tanah dan keringat kini terasa begitu ringan setelah Aurora membilas tubuhnya dengan air sungai itu.


"Hei.. hei.. Jerome, bukankah vampir takut matahari? kenapa kamu bisa bebas keluar ketika siang? Arion juga tidak mengalami reaksi apapun disaat aku membuka gorden jendela dan dia terkena sinar matahari, lalu.. kenapa kamu takut aroma bawang putih, sedangkan Arion tidak? kenapa.." belum selesai Aurora membombardir Jerome dengan berbagai pertanyaan, Jerome menimpali perkataan Aurora dengan suara tawa.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa?! aku bertanya dengan serius, tahu!!" bentak Aurora karena kesal melihat Jerome yang seakan menertawainya.


"Jiwa wartawan mu tidak juga hilang meski kamu adalah seorang direktur ya" timpal Jerome menggoda Aurora


Ketika itu Aurora langsung membuang muka untuk menunjukkan dia marah para Jerome, melihat Aurora yang marah membuat Jerome kembali merasa heran atas sikap Aurora kepadanya. "Bukankah seharusnya dia takut kepadaku? kenapa dia terlihat nyaman berada di sekitarku? lalu... perasaan apa ini di hatiku?" ucap Jerome dalam hati


"Aurora..." celetuk Jerome


"Jangan ajak aku bicara!!" bentak Aurora, dia terlihat sangat marah.


"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, sekarang ayo kita pulang dulu. Maaf tadi aku menertawai mu" ucap Jerome sembari berjalan mendekati Aurora yang masih berdiri di pinggir sungai, perlahan Aurora berbalik dan menatap Jerome dengan tatapan tajam.


"Janji?" tanya Aurora, Jerome mengangguk lalu menyentuhkan jari telunjuknya di dahi Aurora. Aurora merasakan panas pada dahinya yang disentuh oleh Jerome, refleks saat itu Aurora menepis tangan Jerome agar berhenti menyentuh dahinya.


"Jerome! apa yang kamu lakukan?!!" bentak Aurora


"Aku membagi sedikit sihir vampirku agar kamu bisa terhindar dari kemampuan khusus Arion, mungkin akan sedikit sakit.. tapi ini satu - satunya cara agar kamu terhindar dari pengaruhnya" jawab Jerome


"Kemampuan... khusus?" tanya Aurora terbata


"Kamu sudah melihatnya secara langsung kan? teman - temanmu, orang - orang di kantor mu dan kantor Arion, dan juga apa yang terjadi pada ayahmu" jawab Jerome, seketika itu Aurora tersadar akan kejadian aneh yang baru saja menimpanya.


Ada perasaan bersalah yang Aurora rasakan terhadap Jerome karena pernah mencurigai Jerome lah yang telah memberi pengaruh jahat itu kepada Diego.


"Kamu... benar, apa rasa panas itu akan membuatku terhindari dari pengaruh Arion?" tanya Aurora, Jerome langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak sepenuhnya. Kamu hanya memiliki kemungkinan lima puluh persen lebih besar agar terhindari, tapi aku tidak menjaminnya. Cuma ini yang bisa membuatmu memiliki kesempatan lebih tinggi untuk menghadapi Arion, karena jika kamu sudah dalam pengaruh hipnotisnya maka aku tidak punya pilihan lain selain bertempur mati - matian dengannya" jawab Jerome


"Kalau begitu lakukanlah, aku tidak ingin kalian saling bunuh" tegas Aurora mengatakannya, Jerome tersenyum sembari kembali menyentuhkan jarinya ke dahi Aurora lagi.


Dalam benak Jerome berkata "Tidak pernah ada yang memikirkan kami ras vampir sepertimu, Aurora. Sepertinya kamu tidak hanya dianugerahi darah suci, tapi juga hati yang baik dan bersih"


Setelah selesai dengan semua ritual untuk membuat Aurora terhindar dari pengaruh Arion, Jerome kembali berubah wujud menjadi setengah kelelawar untuk membawa Aurora kembali ke kota. Melihat sosok itu masih saja membuat Aurora gemetaran, Jerome meminta maaf pada Aurora karena hanya dengan cara ini mereka dapat keluar hutan berdua.


Tubuh manusia Aurora tidak akan tahan terhadap tekanan yang timbul ketika Jerome membawa Aurora dengan kecepatan suara untuk keluar dari hutan, karena itulah Jerome terpaksa harus menunjukkan wujudnya dan pulang dengan jalur udara seperti saat keduanya datang ke hutan itu.


Aurora mengatakan jika dia akan terbiasa melihat wujud Jerome suatu saat nanti dan itu bukan masalah baginya, setelah mendengar jawaban Aurora saat itu keduanya mulai meninggalkan hutan. Jerome memeluk Aurora lalu mengajaknya terbang ke langit, hingga beberapa saat berlalu dan Aurora pun sudah sampai didepan rumahnya.


Namun ketika itu didepan rumah Aurora sudah terparkir banyak mobil berwarna hitam, begitu pula di depan pintu masuk rumah saat itu Aurora dan Jerome melihat beberapa pria dengan setelan tuxedo hitam. Aurora dan Jerome meyakini berita tentang hilangnya Aurora dari kantor dan pecahnya kaca jendela kantor membuat Arion kini bergerak untuk mencari Aurora, tidak lama Danilson keluar dari pintu utama rumah untuk menemui Aurora dan Jerome.


"Nona Aurora, anda baik - baik saja?" tanya Danilson yang terdengar khawatir


"Ada apa ini?" tanya Aurora penasaran, Danilson menghela nafasnya lalu memberi gestur tangan agar Aurora segera masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Masuklah nona, tuan Arion menunggu anda didalam" jawab Danilson


Aurora lalu berjalan untuk masuk kedalam rumah diikuti oleh Jerome dibelakangnya, keduanya berjalan terus sampai diruang tamu dan disanalah Arion menunggu keduanya. Aurora melihat Diego dengan mata kosong menatap dirinya, namun kini Aurora tahu apa yang terjadi pada Diego. Aurora langsung mengernyitkan dahinya, dirinya marah terhadap Arion yang kembali mempengaruhi Diego dengan hipnotisnya.


__ADS_2