
Aurora berlari sangat cepat dengan perasaan takut jika tiba - tiba Jerome menangkapnya dan menghisap seluruh darahnya sampai dirinya mengering, Ketakutan yang sama ketika Aurora mencurigai bahwa Arion adalah vampir. Aurora berteriak ketakutan seperti seorang anak kecil yang dikejar badut. Teriakan Aurora sampai terdengar oleh Diego yang berada didalam rumah, seketika itu Diego berlari untuk melihat apa yang terjadi pada anak semata wayangnya itu.
"Ayaaaahh!!!!" teriak Aurora ketakutan, beberapa orang yang kebetulan lewat pun mengalihkan pandangan mereka menatap Aurora.
"Kenapa, Aurora?! kamu kenapa?!! apa benar dia adalah vampir?!!" tanya Diego yang ikutan panik karena melihat ketakutan Aurora
"Vampir?! dasar keluarga aneh!! kami kira ada apa!!" bentak seseorang tetangga yang ikut melihat kepanikan Aurora
Pada era saat ini percaya adanya vampir seperti hal yang konyol dan bodoh. Tidak ada satupun yang percaya pada hal takhayul seperti itu, semua orang yang mendengar percakapan Aurora dan Diego menganggap keduanya orang aneh.
"Hei, kalian ini sudah gila ya?! masih saja ngomongin tentang vampir" timpal orang lain yang juga ikut nimbrung
Kini cemoohan tetangga begitu terdengar ditelinga Diego dan Aurora, sebenarnya mendapatkan cemoohan bukan hal baru bagi Aurora tapi karena dia merasa menemukan keberadaan vampir yang sesungguhnya kini cemoohan itu terasa begitu menyakiti hati. Aurora berbalik dan menatap para tetangganya dengan begitu tajam, air matanya pun tidak terbendung menahan emosi yang ditahannya selama ini.
"Diam kalian!! kalian tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya!! vampir benar - benar ada!!" bentak Aurora, melihat anaknya yang histeris itu membuat Diego ingin mencoba segera menenangkannya.
"Sudah... sudah Aurora, ayo masuk dan biarkan saja mereka" celetuk Diego sembari menarik Aurora untuk masuk kedalam rumah, namun cemoohan demi cemoohan semakin keras para tetangga lontarkan pada keluarga Varsha.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang melempari Aurora dan Diego dengan berbagai benda meski tidak sampai mengenai keduanya, karena itulah Aurora semakin marah tapi tiba - tiba ayahnya menepuk pundak Aurora dengan cukup keras untuk menarik perhatiannya. Diego meminta Aurora masuk kedalam rumah dan meninggalkan mereka yang mencemooh. Aurora menuruti permintaan Diego untuk masuk kedalam rumah meski cemoohan para tetangga masih begitu terdengar, Aurora menutup kedua telinganya untuk mengurangi cemoohan itu terdengar.
Didalam rumah, Aurora terlihat duduk di kursi makan dalam ruang makan rumah keluarga Varsha. Sedangkan Diego disibukkan dengan kegiatannya menyiapkan teh hangat yang akan dia sajikan untuk anak semata wayangnya, Aurora masih terlihat ketakutan dengan tubuh bergetar.
"Apa yang terjadi, Aurora?" tanya Diego sembari memberikan segelas teh hangat kepada Aurora yang Diego letakku di atas meja.
"Vampir.... vampir itu benar ada.." jawab Aurora terbata
Adalah Arion yang ada dibenak Diego ketika Aurora menyebut tentang keberadaan vampir dalam dunianya yang benar - benar ada dan nyata, tentu saja hal itu karena sejak pagi Aurora dan Diego telah merencanakan melakukan tes kepada Arion dengan menggunakan bawang dan sinar matahari langsung. Susuai dengan kecurigaan keduanya terhadap Arion Gervaso.
"Apa Arion menunjukkan sosok aslinya di hadapanmu?!" tanya Diego terdengar penasaran, Aurora pun menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Diego.
"Bukan!! bukan Arion vampirnya, ayah!!" jawab Aurora masih terdengar begitu panik, Diego mengernyitkan dahinya mendengar apa yang Aurora katakan.
"Lalu... siapa?" tanya Diego dengan nada yang terdengar heran, Aurora mengambil gelas berisi teh yang masih terlihat panas itu.
__ADS_1
Perlahan Aurora meniup teh itu untuk menurunkan suhu panasnya sekaligus untuk menenangkan hatinya yang masih penuh ketakutan, melihat anaknya yang masih ketakutan itu membuat Diego pun meyakini jika Aurora benar - benar bertemu sosok vampir. Namun yang Diego bingung adalah perkataan Aurora yang mengatakan jika bukan Arion sosok vampir itu, "Jika bukan Arion, maka siapa?" tanya Diego dalam hati.
"Sosok...vampir itu.... Jerome, ayah" celetuk Aurora dengan suara yang terbata dan bergetar, Diego terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Aurora.
Nama yang tidak asing bagi Diego, Jerome yang Diego kenal adalah sosok pria yang baik. Terlebih Diego melihat Jerome tidak takut akan sengatan matahari, hal itu karena sepanjang pagi sampai siang Diego sempat ditemani oleh Jerome. Meski ingatannya tidak terlalu baik pada momen itu, namun Diego yakin Jerome tidak pernah menunjukkan tanda-tanda dia adalah seorang vampir.
"Jerome?! Jerome yang membantu ayah sadar dari pengaruh Arion itu?!! bukankah katamu dia yang membantu ayah? kenapa dia sosok vampirnya?!!" bertubi - tubi Diego bertanya, Diego terlihat sangat terkejut karena baginya Jerome adalah sosok manusia normal yang baik hati dan juga hangat.
"Itu benar ayah!! Jerome adalah vampir!!" Aurora mengatakannya dengan berteriak, dia merasa sakit hati ketika Diego menunjukkan ketidakpercayaannya atas perkataan Aurora.
"Tenang Aurora, tenang. Coba ceritakan kenapa bukan Arion yang kamu curigai sebagai vampir, apa yang sebenarnya terjadi" Diego berusaha menenangkan Aurora
"Seperti kata ayah sebelum aku berangkat bekerja, aku menyebarkan bawang - bawangan ini di seluruh sudut kantorku tapi Arion tidak beraksi sama sekali. Bahkan ketika aku membuka gorden agar sinar matahari mengenai langsung ke tubuh Arion, itu tidak bereaksi sama sekali ayah!!" jawab Aurora masih dengan kepanikannya
"Lalu, kenapa kamu mencurigai Jerome?" tanya Diego
"Itu terjadi ketika aku bertemu dengannya ditengah jalan, karena harga bawang putih mahal... jadi aku memungutnya kembali untuk kita jadikan bahan masakan... ayah tahu kan kita gak boleh buang - buang makanan, apa lagi akhir - akhir ini harga bahan masakan juga naik. Aku tidak mau membuang - buang sesuatu secara percuma, meski gajiku sekarang tinggi bukan ber..." belum selesai Aurora mengomel, deham Diego terdengar dan menghentikan omelan Aurora.
"Eeh iya, kenapa aku malah jadi mengeluh~ jadi intinya tadi aku bertemu Jerome saat membawa bawang putih ini dan dia terlihat kesakitan sambil berusaha terus menjauhiku!! aku sudah mencobanya beberapa kali untuk mendekati Jerome, tapi dia malah marah - marah dan membentak ku!!" ucap Aurora
"Aku... tidak tahu kenapa... kan ayah yang ahli vampir, aku hanya mengikuti apa kata ayah~" ucap Aurora
Diego berdiri dan keluar dari ruang makan setelah mendengar ucapan Aurora, karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Diego saat itu Aurora segera menghabiskan teh didalam gelasnya lalu segera menyusul Diego menuju kamarnya. Di kamar itu Aurora melihat Diego membaca beberapa buku, perlahan kaki Aurora berjalan mendekati Diego.
"Apa yang ayah baca?" tanya Aurora penasaran
"Ayah tertarik mendengar ceritamu, kenapa Jerome bisa tahan matahari sedangkan dia tidak tahan aroma bawang putih. Pasti ada penjelasan atas hal itu dibeberapa buku tentang mitos vampir ini" jawab Diego sembari terus membaca buku - buku tentang vampir.
Sebagai orang yang tertarik dan percaya dengan keberadaan vampir, Diego memiliki banyak buku yang dia dapatkan dari berbagai tempat. Cerita Aurora tentang Jerome dan Arion semakin mengulik rasa penasaran Diego. Berbanding terbalik dengan ayahnya, Aurora kini merasa mulai merasa aneh dengan dirinya. Cemoohan para tetangga juga semakin membuatnya kesal, jaman sudah maju tetapi pikirannya seperti mundur. Namun beberapa kejadian yang dia alami sejak pertemuannya dengan Arion dan Jerome memang banyak keanehan.
Jerome dengan kecepatan gerakannya yang tidak normal, Arion dengan karyawan yang aneh dan selalu memuji kebaikannya, lalu paras dari dua pria tampan itu yang berbeda dengan teman pria Aurora yang lainnya. Hal itu bukan hal yang wajar dan normal bagi Aurora.
"Haah... aku merasa sedikit menjadi gila tentang vampir - vampiran ini~. Lagian kenapa vampir itu tertarik padaku dan mendekatiku?" celetuk Aurora terdengar begitu kesal
__ADS_1
Kalau saja Aurora tidak mengetahui bahwa vampir adalah makhluk penghisap darah, dia bisa saja tidak peduli dengan keberadaan vampir. Tapi jika benar Arion dan Jerome adalah vampir, tentu saja hal itu membuat Aurora ketakutan akan menjadi mangsa empuk bagi dua vampir itu.
"Itu juga yang ingin ayah cari tahu, ayah yakin kamu punya sesuatu yang ingin dimiliki Jerome sebagai vampir" jawab Diego
"Apa ayah masih berpikir.... Arion adalah vampir?" tanya Aurora, sejenak Diego terdiam lalu menatap langit dari balik jendela kamar.
"Arion adalah vampir, ayah yakin itu. Entah darimana keyakinan ini timbul, tapi ayah merasa memang Arion lah vampirnya" jawab Diego
"Tapi tes yang ayah berikan padaku, tidak beraksi pada Arion!" timpal Aurora kesal
"Jerome juga tidak berpengaruh sama sinar matahari" ucap Diego sembari mengalihkan pandangannya menatap Aurora, mendengar perkataan Diego saat itu membuat Aurora terdiam dan tidak dapat membantah.
Aurora menganggap yang dikatakan ayahnya ada benarnya, kini Aurora semakin pusing tujuh keliling dibuatnya. Aurora mulai terlihat lusuh dan lelah, tampak dari wajahnya terlihat bahwa Aurora membutuhkan istirahat untuk melepas lelah dan penat. Diego yang menyadari Aurora sedang lelah pun meminta sang putri kesayangannya itu untuk bergegas beristirahat.
"Kamu harus istirahat, Aurora. Besok hari minggu kan? istirahatlah dan jangan keluar kemana - mana, kita tidak tahu Arion atau Jerome sedang merencanakan sesuatu karena bagaimana pun mereka pasti memahami jika kamu sedang mencurigai sosok asli keduanya" celetuk Diego
"Ayah... benar... Jerome pasti sedang merencanakan sesuatu...." timpal Aurora terbata, tangan Diego mengelus rambut Aurora dengan lembut.
"Istirahatlah, ayah akan menyiapkan makan malam untuk kita" ucap Diego
Aurora mengangguk menerima saran Diego, Aurora pun beranjak pergi meninggalkan Diego yang kembali sibuk membaca buku - buku tentang vampir di kamarnya. Sore itu Aurora menjalankan aktifitas rutinnya setiap pulang bekerja, yaitu mandi lalu melakukan perawatan wajah dan juga kulitnya.
Tidak terasa sore berganti malam, Aurora dan Diego makan malam bersama di ruang makan rumah keluarga Varsha. Mereka mengobrol dan membahas hal - hal berbau vampir yang didapat Diego dari beberapa buku yang sudah dia baca, tapi Aurora hanya menanggapi semua perkataan Diego dengan anggukan kepala meski dia terlihat antusias dengan pembahasan keduanya.
Setelah selesai makan malam dan Aurora mencuci semua piring juga gelas - gelas, Aurora berpamitan pada Diego untuk tidur lebih dulu karena dia kelelahan dengan semua aktifitas dan juga ketegangannya hari ini. Diego yang masih semangat untuk mencari tahu tentang vampir pun kembali dengan aktifitasnya membaca buku - buku referensi tentang vampir, Aurora berharap akan ada sesuatu yang didapat ayahnya agar dirinya bisa segera terbebas dari segala hal yang berbau vampir.
Didalam kamarnya Aurora pun mencoba untuk tidur dan melupakan semua yang membuat dia lelah hari ini, Aurora begitu lelapnya tertidur malam itu hingga tengah malam dan Aurora pun bermimpi. Aurora melihat samar - samar Jerome ada didalam kamarnya dan berdiri tidak jauh dari kasur yang Aurora tiduri. Perlahan Aurora melihat Jerome berjalan mendekatinya, Aurora yang ketakutan akan sosok Jerome tiba - tiba berada di kamarnya saat itu berusaha menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa.
Malam itu Aurora ditakutkan akan kedatangan Jerome yang dia yakini adalah seorang vampir, Aurora berusaha berteriak namun dia juga tidak mampu untuk berteriak. Hingga Aurora merasa Jerome kini sudah ada didekatnya, perlahan Aurora dapat merasakan jika Jerome mendekatkan kepalanya didekat leher Aurora. Dia tahu Jerome akan segera mengigit dan menghisap darahnya sampai habis, kini Aurora hanya bisa menangis meratapi nasibnya akan jadi santapan vampir.
"Tenang Aurora, aku akan melindungi mu" gumam Jerome didekat telinga Aurora.
"Kyaaaa!!!!" teriak Aurora ketika itu, Aurora berhasil bergerak dan berteriak sangat keras dalam satu tarikan nafas.
__ADS_1
Tapi Aurora tidak mendapati keberadaan Jerome di kamarnya, tidak yakin dengan penglihatannya disaat gelap dengan segera Aurora menghidupkan lampu lalu kembali mencari keberadaan Jerome di kamarnya itu. Tapi Jerome memang tidak ada didalam kamar Aurora, hanya saja jendela kamarnya terbuka ketika itu dan angin pun berhembus masuk menerbangkan gorden kamar.
"Jerome... tadi ada disini kan...?" gumam Aurora dengan terbata karena dia ketakutan.