Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Alat Pengacau Sinyal


__ADS_3

Pagi hari dengan udara yang sejuk pada hari ke dua pasca Aurora pingsan akibat kehabisan darah setelah memberikan darahnya untuk Jerome. Aurora dan Diego sudah berada didalam sebuah taksi yang terlihat berjalan lambat karena tujuannya menuju tower Gervaso sudah sampai.


Ketika taksi berhenti, empat orang berjas hitam tiba - tiba berlari dan mengerubungi taksi itu. Tidak lama pintu terbuka, Aurora dengan pergelangan tangan yang masih terbalut perban dan Diego pun turun sehingga membuat keempat orang berpakaian jas hitam langsung membungkuk kepada Aurora. Sebuah sambutan yang biasanya hanya diberikan untuk orang - orang penting bagi perusahaan Gervaso, melihat hal itu Diego terkejut karena merasa jika Aurora diperlakukan seperti orang penting bagi Arion sebagai pemilik Gervaso Tower.


Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Aurora saat itu, dia terlihat sudah terbiasa dengan sikap sopan penjaga gedung Gervaso tower yang terkenal tegas dan galak. Namun sikap biasa yang ditunjukkan Aurora saat itu bukan karena terbiasa menerima perlakuan seperti itu sejak dirinya akrab dengan Arion, tapi karena perhatiannya lebih tertuju pada beberapa mobil polisi yang terparkir disekitar area gedung seakan sedang mengepung gedung itu. Rasa penasarannya pun meningkat seiring dengan beberapa polisi yang juga turut menjaga gedung itu, sebuah tanya tentang kejadian apa yang membuat polisi begitu banyak berada di perusahaan Arion muncul dalam benak Aurora.


Semua pertanyaan itu Aurora simpan baik - baik dan akan dia tanyakan ketika bertemu Arion di puncak gedung nanti, baru berjalan beberapa langkah masuk kedalam gedung saat itu Aurora dan Diego ditemui langsung oleh Danilson yang baru keluar dari dalam lift. Wajah Danilson terlihat begitu sedih dan cemas, hal itu membuat rasa penasaran Aurora semakin meningkat. Dalam benaknya Aurora berkata "Pasti ada hubungannya dengan polisi yang berjaga disekitaran gedung".


"Selamat datang nona Aurora dan tuan Diego, maaf kami tidak bisa menyambut kalian dengan baik. Ada hal yang mengancam posisi tuan Arion" sapa Danilson terdengar sedih


"Ada apa, Danilson?" tanya Aurora


"Aah yaah... Ada hal yang sulit untuk aku jelaskan terjadi dan itu mungkin karena kesalahanku, tapi sepertinya tuan Arion mengerti kalau aku sudah melakukan segalanya dengan baik" jawab Danilson terdengar kebingungan


Bukan tanpa tujuan Aurora ingin bertemu dengan Arion, semua penjelasan dari Danilson tidaklah terlalu penting bagi Aurora. Baginya mendengarkan langsung dari Arion lebih penting dan bisa menjawab semua pertanyaannya tentang hari itu dan juga tentang tujuannya untuk menemui Arion.


"Apa kami bisa bertemu Arion? Ada hal yang harus aku tanyakan padanya" tanya Aurora lagi


"Tentu, silahkan ikuti saya" jawab Danilson


Mereka bertiga masuk kedalam lift lalu Danilson menekan tombol lantai Arion room, disana mereka hanya terdiam sampai pintu terbuka. Betapa terkejutnya Aurora ketika melihat apa yang menjadi pemandangan pertamanya saat pintu lift terbuka, ada banyak petugas kepolisian yang menjaga lantai itu seakan sedang terjadi penggerebekan dan tangkap tangan.


"Aa..da apa ini, Danilson?" tanya Aurora terbata


"Anda bisa tanyakan itu langsung pada tuan Arion, nona. Danilson yakin tuan Arion akan senang dengan kedatangan nona Aurora" jawab Danilson


Sebuah lorong masi harus mereka lalui untuk menuju ruangan Arion, ketiganya berjalan menyusuri lorong menuju ruang pribadi Arion di gedung itu, mereka melewati penjagaan polisi yang terlihat begitu ketat. Banyak pasang mata polisi yang memperhatikan langkah ketiganya membuat suasana tegang terasa. Diujung lorong Danilson mengetuk pintu lalu membuka pintunya dengan perlahan, ketika terbuka sedikit Danilson langsung menoleh kebelakang dan memberi gestur tangan agar Aurora dan Diego masuk kedalamnya tanpa Danilson. Didalam ruang pribadi Arion, saat itu Aurora dan Diego melihat Arion sedang bersama seorang polisi dengan pangkat tinggi saling duduk berhadapan.


Tatapan tajam mata Arion tertuju pada wajah cantik Aurora, sebenarnya kedatangan Aurora membuat Arion bahagia namun keberadaan polisi membuatnya tidak dapat menemui Aurora secara pribadi saat itu.


"Aurora? Maaf aku tidak bisa menemui mu sekarang, aku sedang sibuk" ucap Arion seakan mengusir Aurora dari ruangan itu


"Ada apa ini, Arion? Kenapa banyak polisi disini? Apa ini semacam... Kunjungan?" tanya Aurora


"Tidak nona, tuan Arion sedang mendalami interogasi dugaan keterlibatan alat temuannya dalam perampokan bank yang baru saja terjadi" jawab kepala polisi itu, terkejut lah Diego dan Aurora mendengar jawaban itu.


Aurora menunjukkan tatapan matanya pada Arion dengan wajah penuh tanya, sesuai yang dia pikirkan tentang kecurigaannya terhadap Arion. Aurora merasa jika saat itu dia akan segera menemukan jawaban atas kecurigaannya itu dengan jelas.


Sebuah tanya terlontar dari mulut Diego yang membuat Aurora mengalihkan pandangannya kepada sang ayah yang terlihat tidak percaya dengan pernyataan polisi itu.


"Tapi mana mungkin Arion melakukannya, dia orang terkaya di negara ini kan?!" tanya Diego yang terkejut


"Itu bukan alibi yang baik untuk melepaskan tuan Arion dari tuduhan" jawab kepala polisi.

__ADS_1


Polisi itu duduk di kursi dengan sikap yang angkuh seakan begitu mengintimidasi, menggunakan jabatannya untuk menekan semua yang berada di ruangan itu. Namun Aurora yang biasa berhadapan dengan banyaknya polisi ketika menyelidiki sebuah kasus demi berita yang harus didapatkannya terlihat bersikap tenang.


"Dengan tuan..?" tanya Aurora


"Kenalkan, kepala polisi Robert" ucap Robert memperkenalkan dirinya.


"Baik tuan Robert, apa yang membuat anda mencurigai Arion terlibat perampokan itu?" tanya Aurora menekan, Robert hanya menunjukkan sebuah benda yang ada di atas meja Arion.


Sebuah benda berwarna hitam berbentuk kotak dengan empat buah antena kecil pada bagian atasnya dan beberapa tombol kecil yang menempel pada badan alat yang berukuran tidak lebih dari sebuah telpon genggam dilihat dengan begitu teliti oleh Aurora dan Diego.


"Tahu apa ini, nona?" tanya Robert, Aurora menggelengkan kepalanya beberapa kali


"Itu adalah salah satu produk dari Gervaso Corp yang belum rilis, fungsinya mengacau frekuensi untuk merusak sinyal bahkan benda - benda yang berhubungan dengan radio, wifi, dan lain - lain" jawab Arion


Penjelasan polisi itu tidak mampu membuat Aurora mengerti, namun Aurora mencoba mencari tahu hubungan antara benda itu dengan keterlibatan Arion dalam kejadian perampokan bank saat itu.


"Aku.. Tidak mengerti" timpal Aurora bingung


"Dengan alat ini kami para polisi tidak bisa menentukan berapa banyak perampok didalam gedung, bahkan beberapa alat mengalami kerusakan dan membuat para perampok bisa melawan kami. Dan alat ini dimiliki oleh perampok, apa yang ada didalam analisamu pertama kali mendengar fakta ini nona?" tanya Robert, ketika itu Diego dan Aurora kembali terkejut dan dibuat heran akan kebenaran fakta itu.


"Alat itu hilang beberapa hari yang lalu, Danilson yang menjadi pengawas proyek menjadi orang pertama yang dijadikan tersangka namun aku sebagai pemilik perusahan yang seharusnya menjadi penanggungjawab untuk semua karyawanku. Kebocoran ini adalah tanggung jawabku" timpal Arion


Seperti tidak ingin memberikan waktu bagi Aurora untuk bermain dengan logikanya, Arion dengan cepat namun tenang memberikan penjelasan tentang benda ciptaan perusahannya itu.


"Anda pemimpin perusahaan yang baik, tuan Arion. Tapi jika nanti dinyatakan Danilson terlibat, maka kami tetap tidak memiliki pilihan lain selain menangkapnya" ucap Robert


"Dia wanita yang kamu sebut?" tanya Robert namun matanya masih menatap Aurora


"Tuan Robert" celetuk Arion dengan helaan nafas, seketika itu Robert pun tertawa.


"Baiklah, silahkan. Aku akan keluar" ucap Robert sembari berdiri dari duduknya


Robert berjalan mendekati Aurora dan Diego yang masih berdiri didekat pintu keluar ruangan, Robert sedikit membungkuk untuk memberi salam pada Aurora ketika mereka berdekatan. Sempat ada kecurigaan dari Aurora jika Robert dibawah kendali Arion, tapi melihat sikapnya yang tidak kaku seperti robot membuat Aurora memupuskan kecurigaan itu.


Kini hanya tinggal Arion, Aurora dan Diego yang berada di ruangan itu. Dengan gestur tangan Arion meminta Diego dan Aurora berjalan menuju kursi yang berada tepat didepan mejanya. Segera mereka berdua berjalan mendekat, lalu duduk berhadapan dengan Arion yang terlihat begitu stres. Arion hanya diam saja menunggu Aurora mengatakan apa yang ingin dipastikan Aurora darinya, sedangkan Aurora bingung harus memulainya dari mana.


Berbeda dengan Aurora dan Arion, Diego sibuk dengan pikirannya sendiri yang berlagak seperti detektif yang sedang ingin mengungkap sebuah kasus besar. Diego terlihat banyak diam dengan wajah yang menampakkan sedang berfikir keras.


"Bagaimana keadaanmu, Aurora?" tanya Arion memecah keheningan diantara mereka yang cukup lama itu


Arion hanya melemparkan pertanyaan nya kepada Aurora, melihat Diego yang serius dengan dirinya sendiri membuat Arion mengabaikan Diego begitu saja.


"Aku... Sudah membaik...." jawab Aurora terbata, setelah jawaban itu Arion menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ada keperluan apa?" tanya Arion


"Aku.. Bingung bagaimana memulainya, aku yakin kamu akan marah jika aku tanyakan hal ini" jawab Aurora


"Katakan saja, aku sudah lelah dengan semua tuduhan mulai yang menyerang diriku, perusahaan ku, bahkan tangan kananku sendiri. Apa yang akan kamu tuduhkan padaku sekarang?" terdengar menyindir Arion mengatakannya, pertanyaan itu membuat Aurora tidak tega untuk mengatakan tuduhan Jerome kepada Arion.


Melihat Aurora terdiam setelah mendengar perkataan Arion, ketika itu Diego yang ternyata menguping pembicaraan antara Aurora dan Arion tidak ingin membuang waktu. Diego sebenarnya tidak betah berada didekat vampir untuk waktu yang lama, jadi dia berpikiran untuk mewakilkan Aurora bertanya agar dia bisa cepat pulang.


"Jerome bilang dalang perampokan bank itu adalah kamu, kata Aurora saat itu Jerome bingung kenapa kekuatan khususnya untuk membaca pikiran seseorang tidak bisa bekerja, hanya ada satu cara yang membuatnya seperti itu. Yaitu orang yang ingin dibaca pikirannya telah berada dibawah kendali hipnotis mu, bagaimana menurutmu?" tanya Diego tanpa beban


"Aa.. Ayah... Jangan menuduhnya langsung seperti itu!" timpal Aurora terlihat salah tingkah.


Aurora berkeinginan untuk membatalkan niatnya bertanya kepada Arion tentang kecurigaan Jerome, tetapi dia melupakan Diego yang tidak menyukai berada dekat dengan Arion sehingga tidak dapat mengontrol ketika Diego malah tanpa basa - basi mengungkapkan kecurigaannya itu.


"Yah itu akan membuatku marah dan tersinggung sebenarnya, tapi aku sudah lelah. Jadi aku langsung saja menjawabnya..." jawab Arion, dia sejenak menggantung perkataannya dengan helaan nafas.


"Alat yang digunakan oleh perampok itu dapat mengacaukan frekuensi apapun. Hal itu yang membuat kekuatan Jerome tidak dapat bekerja, Diego kamu sudah membaca buku hitam itu kan?" tanya balik Arion saat itu dengan sedikit menekan, Diego hanya mengangguk merespon pertanyaan Arion.


"Disana tertulis hal yang aku katakan tadi, karena itulah aku mengembangkan alat itu untuk menghindari Jerome membaca pikiranku. Meski aku dan dia berdamai saat ini, tapi sejak aku dan Jerome berebut Aurora... Aku merasa alat ini akan memungkinkan ku untuk memberi perlawanan seimbang, serangan ku kepadanya tidak akan pernah efektif jika dia selalu membaca pikiranku" ucap Arion melanjutkan perkataan sebelumnya


"Aku tidak ingin kalian bertengkar lagi!" bentak Aurora


"Tidak akan bisa aku dan Jerome berdamai, Aurora. Klan vampir kami memang dikutuk untuk selalu berperang satu sama lain, bahkan ketika ada dua Aurora sekalipun. Suatu saat klan ku dan klannya akan kembali berperang" timpal Arion


"Maksudmu... Bahkan ketika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan itu tidak akan meredam kondisi permusuhan kalian?" tanya Aurora, Arion hanya mengangguk untuk menjawabnya.


"Saat ini Jerome menjadi vampir terkuat sejak dia mendapatkan darah suci mu, meski itu hanya sebagian kecil tapi itu sudah cukup bagi Jerome untuk membunuhku kapan saja. dengan kesempatan yang ada tentu dia akan menggunakannya sebaik mungkin untuk memilikimu seutuhnya" ucap Arion


"Jerome.. Tidak akan melakukan itu..." terbata Aurora mengatakannya, Arion pun tertawa mendengar perkataan Aurora.


"Aku juga berharap apa yang kamu katakan benar, karena jika tidak maka aku tidak akan punya kesempatan melawannya. Sebelumnya saja aku sudah kalah darinya karena kemampuan membaca pikirannya itu, sekarang dia memiliki sesuatu yang lebih dari itu. Aku yakin kamu paham apa yang sedang membuatku kalut lebih daripada aku akan kehilangan perusahaan ku ini" ucap Arion


Aurora tetaplah Aurora yang teguh dengan pendiriannya, dia tidak ingin antara Arion dan Jerome berperang demi memperebutkan darah suci miliknya. Mendamaikan dua vampir itu tetap menjadi tujuan utama Aurora.


"Kamu tidak perlu takut apapun! Aku akan melindungi mu, Arion!" dengan tegas Aurora mengatakannya


"Hah?!! Apa yang kamu katakan?!! Bagaimana caramu melindungi Arion dari vampir yang hampir sempurna itu?!!" tanya Diego dengan panik, Aurora mengalihkan perhatiannya menatap Diego dengan wajah bingung.


"Apa maksud ayah dengan vampir hampir sempurna?" tanya Aurora bingung


"Sepertinya kamu tidak memberitahu apapun tentang vampir kepada Aurora, ya Diego?" dengan senyum sinis Arion mengatakannya


"Setelah menerima darah suci, vampir akan menjadi lebih kuat dan akan mengalami evolusi" dengan helaan nafas Diego menjawab pertanyaan Aurora

__ADS_1


"Artinya... Wujud yang sempat aku lihat dalam mimpi itu... Adalah kenyataan?" terbata Aurora bertanya pada Arion, wajah Arion terlihat datar dan tidak bereaksi apapun.


"Kamu masih ingat ternyata, itulah wujud delapan puluh persen dari ras vampir. Aku hanya menjadi bonekanya ketika berhadapan dengan Jerome yang sekarang Aurora" dengan helaan nafas dan senyum pasrah Arion menjawab pertanyaan Aurora.


__ADS_2