Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Wujud Asli Jerome


__ADS_3

Tubuh kekar dengan wajah tampan khas bangsawan dan mata hijau serta kulitnya yang putih itu berdiri kokoh dengan wujud yang menyeramkan, kedua sayap tertancap pada punggungnya dan dua taring tajam menyembul disela bibir tipisnya yang berwarna kemerahan. Jerome.. Vampir yang sempat membuat gadis cantik bernama Aurora terpesona akan paras dan perbuatan baiknya kini menjadi sosok yang menyeramkan bagi Aurora.


Tubuh sang gadis pemilik darah suci itu gemetaran hebat, nafasnya berpacu bersama jantung yang berdetak sangat cepat, bulu kuduknya berdiri dan Aurora merasakan suhu tubuhnya menjadi sangat dingin wajahnya pun mulai pucat pasi. Tatapan mata Aurora terlihat kosong melihat sosok asli Jerome dihadapannya, sedangkan Jerome menatap Aurora dengan begitu tajam seakan ingin segera menjadikan Aurora korban untuk dihisap habis darahnya.


"Kamu bertanya, kenapa aku mengincar mu kan?" Suara yang pernah meneduhkan hati Aurora itu terdengar dan menambah sedikit ketakutan dalam diri Aurora


"Baik aku akan jawab, Aurora" suaranya berat dan begitu menekan, seketika itu Aurora meremas tanah karena ketakutannya mendengar suara Jerome.


"Kamu satu - satunya ras manusia yang memiliki darah suci, bau darahmu begitu menyengat di penciumanku dan aku... sulit untuk menahan agar aku tidak segera menggigit lehermu, lalu menghisap darahmu sampai tubuhmu kurus kering" meski Jerome mengatakannya dengan nada datar, tapi kalimat itu seperti ancaman bagi pendengaran Aurora.


Aurora merangkak untuk menjauhi Jerome, dengan tubuh yang terasa lemas dan ketakutan saat itu Aurora menunjukkan seberapa besar keinginannya untuk hidup walau tanpa mengucap apapun. Tapi baru beberapa langkah merangkak untuk menjauhi Jerome, terdengar suara keras seperti kayu yang patah dan tidak lama sebuah pohon besar melewati Aurora seakan terlempar begitu saja.


Seketika itu Aurora memutar kepalanya menghadap kearah Jerome yang berada dibelakangnya dan Aurora melihat Jerome sedang mematahkan sebuah pohon besar dengan tangan kosong lalu melemparkan pohon besar yang sudah patah itu kearah Aurora, melihat sebuah pohon yang sangat besar mengarah padanya membuat tubuhnya kembali terasa dingin dan gemetar karena ketakutan. Tapi lemparan pohon itu terlalu tinggi, sehingga tidak sampai mengenai tubuh Aurora.


"Vampir memiliki kekuatan yang sangat kuat, kami bisa saja menghancurkan apapun dengan tangan ini. Jangan harap bisa mengalahkan kami hanya dengan benda - benda konyol mu itu" ucap Jerome setelah melempar pohon besar kepada Aurora


Suara menyeramkan itu kembali terdengar dan kali ini terasa seakan mengintimidasi Aurora dengan rasa takutnya, hilang sudah rasa nyaman yang pernah Aurora rasakan ketika bersama Jerome sebelum sosoknya terbongkar. Kini rasa nyaman itu berganti dengan rasa takut yang berlebihan. Dengan sisa tenaga yang tersisa Aurora mencoba menjawab perkataan Jerome agar dirinya mendapatkan ampunan dari Jerome.


"Ma... maafkan.... aku... Jerome.... aku..." terbata Aurora mengatakannya, namun Jerome seakan tidak ingin menunjukkan belas kasihan.


"Lari lah, aku akan tunjukkan jika ras manusiamu tidak akan mampu untuk lari dari kami para vampir" timpal Jerome dengan nada datar yang terdengar mengancam


"Jer..ome... cukup.... aku..." belum selesai Aurora berkata, Jerome memotong


"Lari!!!" suara Jerome terdengar begitu menggelegar


Mendapatkan kesempatan membuat Aurora tidak mau berpikir panjang, dia langsung bangkit lalu berlari sekencang mungkin meski tanpa arah. Dengan nafas yang terengah - engah dan juga detak jantung yang sudah tidak beraturan, Aurora terus memaksakan tubuhnya untuk dapat berlari kencang meninggalkan Jerome.


Namun ketika Aurora sudah merasa berlari sangat jauh, Aurora terkejut melihat sosok Jerome sudah ada didepannya yang seakan menunggu kedatangan Aurora. Dengan sigap Aurora segera berbelok dan mencari jalan lain untuk kembali menjauhi Jerome, tapi hal yang sama terjadi lagi. Jerome kembali muncul didepan Aurora yang entah sejak kapan dia berhasil menyusul, sejenak Aurora kembali terdiam sembari menangis melihat kecepatan Jerome yang begitu tidak masuk akal baginya.


"Vampir punya kecepatan suara, kamu tidak akan bisa lari dengan cara seperti itu ketika kamu telah diincar oleh ras kami" ucap Jerome

__ADS_1


Ditengah ketakutannya itu, Aurora melihat sebatang kayu yang mungkin dapat membuat Jerome terluka atau setidaknya memberikan kesempatan bagi Aurora untuk menyakiti Jerome agar dirinya bisa lari kembali. Tapi belum juga Aurora bergerak, tiba - tiba Jerome mengatakan hal yang kembali membuat Aurora terkejut.


"Kayu itu tidak mampu membuatku terluka atau pun memberikanmu kesempatan untuk lari dariku, Aurora" ucap Jerome seakan dia tahu apa yang baru saja dipikirkan Aurora, ketika itu Aurora bertanya dalam hati bagaimana cara Jerome tahu rencananya.


Semakin pupus harapan Aurora untuk bertahan hidup dan terhindar dari serangan Jerome, semua usahanya seakan sia - sia. Jerome yang mampu membaca rencananya semakin membuat Aurora tidak mampu berfikir apapun untuk menyelamatkan diri


"Aku di anugerahi kemampuan khusus untuk membaca pikiran, nah... bagaimana caramu lolos dari incaran vampir, Aurora?" ucap Jerome lagi, saat itu lah Aurora sudah kehilangan semangat untuk mempertahankan hidupnya.


Kedua kaki Aurora yang dengan kuatnya berlari menghindari Jerome kini terkulai begitu lemas, otot - otot kakinya melemas dan tidak mampu menahan berat tubuhnya. Sekujur tubuh Aurora basah karena lelah dan rasa takut yang dirasakannya. Aurora dengan keyakinannya yang mampu lolos dari kejaran vampir kini hanya mampu terduduk lemah dengan Jerome yang berada dihadapannya masih dengan sosok menyeramkan itu.


Suara derap kaki yang mendekat mengacaukan pikirannya, jantungnya kembali berdegup kencang dengan rasa takut yang mulai memuncak. Jerome mendekati Aurora dengan langkah seperti ingin segera memangsa Aurora, dengan sisa tenaga yang masih dimiliki Aurora kembali menguatkan otot kakinya untuk berdiri dan segera berlari menjauhi sang vampir itu.


Entah apa yang membuat gadis cantik pemilik darah suci itu masih memiliki sisa kekuatan untuk berlari walaupun dia tahu bahwa Jerome tidak akan membiarkannya lolos dan bahkan Jerome sudah mengatakan bahwa dirinya tidak akan mampu mengalahkan vampir.


Aurora lari sempoyongan, walau sebenarnya dia sudah tidak kuat lagi untuk terus berlari. Tapi semangat hidupnya masih ada meski Aurora sudah merasa putus asa, Jerome terus mengikuti Aurora hingga akhirnya Aurora pun jatuh tersungkur karena tersandung sebuah akar pohon. Dalam keadaan telungkup itu Aurora menangis sejadi - jadinya, dia masih tidak menyangka akan mati dengan cara seperti ini.


Beberapa kali Aurora menghentakkan tangannya ketanah untuk melampiaskan penyesalannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya, ditengah tangisan Aurora ketika itu Jerome kembali ke sosok manusianya lalu duduk tepat disebelah Aurora.


"Aku... dan Arion adalah ras vampir terakhir, kami tidak bisa meneruskan ras kami karena tidak ada satu pun wanita di ras kami yang masih hidup sampai sekarang. Aku berkeliling dunia sudah ratusan tahun dan aku benar - benar sudah membuktikan jika aku tinggal sendiri saja baik dari klan maupun ras ku, disaat aku berkeliling dunia itu sepertinya Arion memaksakan diri" ucap Jerome ditengah tangisan Aurora yang terisak - isak


"Arion terus mencari wanita dari ras manusia untuk dihamili dan berharap ada satu wanita yang mampu untuk mengandung benih vampir, tapi yang ada hanyalah kematian dari wanita itu karena janin yang ada dalam kandungan akan menghisap darah ibunya sampai titik darah penghabisan... lalu janin itu mati bersamaan dengan sang ibu" Jerome melanjutkan ceritanya dengan nada yang terdengar begitu marah, kemarahan Jerome saat itu dibaca oleh Aurora.


Perlahan Aurora mengangkat kepalanya, kedua bola matanya yang masih basah dengan derai air mata itu menatap Jerome dengan wujud manusia yang duduk tepat disebelahnya, mata Jerome terlihat melihat jauh ke depan dimana hanya terdapat pepohonan dan juga tatapan tajam penuh amarah yang entah Jerome tujukan buat siapa. Perlahan Jerome menatap wajah Aurora namun kini sorot matanya melunak, dia kembali menjadi Jerome yang Aurora kenal.


"Kamu berbeda, Aurora. Darah suci yang kamu miliki membuatmu dapat menahan isapan darah janin vampir, itulah kenapa Arion mengincar mu" celetuk Jerome terdengar begitu lembut


"Artinya... kamu pun mengincar ku kan..?" tanya Aurora terbata dan mencoba memainkan logikanya, Jerome menghela nafas lalu kembali menatap jauh ke depan.


"Aku sudah menyerah, aku tidak peduli lagi ras ku akan punah atau tidak karena memang semua akibat dari kebodohan pendahuluku. Punahnya klan Galant adalah keniscayaan, perang panjang yang terus dikobarkan pendahulu ku yang membuat ras kami pantas untuk musnah" jawab Jerome


"Galant? apa itu... nama belakangmu?" tanya Aurora

__ADS_1


"Yah.. aku ras vampir dari klan Galant, sedangkan Arion ras vampir dari klan Gervaso. Klan kami berperang hebat pada zaman dahulu kala, tapi sampai titik akhir pun tidak ada pemenang diantara kami. Aku ingat.... di tahun 1851, ketika aku umurku lima tahun aku melihat ibu Arion membunuh ibuku... Tapi tidak berhenti sampai disana, karena ibu ku berhasil membawa ibu Arion untuk mati bersama..." jawab Jerome, sejenak Jerome terdiam lalu menoleh menatap Aurora lagi.


"Itu adalah terakhir kali aku bertemu vampir selain Arion" ucap Jerome meneruskan kalimatnya yang sempat dia gantung sebelumnya, Aurora termenung menatap Jerome yang begitu terlihat sedih.


Cerita vampir yang sulit untuk Aurora percaya kini begitu nyata dia dengar, bahkan Aurora dengan jelas melihat sosok vampir Jerome. Seketika dia teringat Diego sang ayah, ternyata Diego tidaklah berbohong padanya. Kisah vampir rumit yang dialami Jerome membuat Aurora memiliki rasa kasian pada Jerome walau masih saja dia ketakutan.


"Duduk lah Aurora, tubuh dan bajumu basah... tanah - tanah itu pasti menempel kalau kamu terus tiarap seperti itu" celetuk Jerome, mendengar perkataan Jerome saat itu membuat Aurora kesal.


Jerome seakan melupakan kenapa Aurora bisa basah penuh keringat seperti itu dan sampai tengkurap di tanah, tapi saat itu ketakutan Aurora pada Jerome masih begitu terasa di hatinya. Aurora hanya diam menuruti perkataan Jerome untuk duduk disebelah Jerome, meski dalam hatinya terus berpikir tentang Jerome yang akan segera menyantapnya.


"Aku tidak akan menjadikanmu santapanku, tenang saja. Aku sudah bisa mengendalikan hawa nafsuku terhadap darah segar" celetuk Jerome, saat itu Aurora terkejut karena Jerome bisa membaca pikirannya namun tidak lama Aurora teringat jika Jerome memang bisa membaca pikiran.


Aurora sedikit menghela nafas, kini dia merasa tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi dari Jerome. Dengan kekuatan Jerome yang mampu membaca pikiran akhirnya membuat Aurora putus asa untuk bertarung dengan vampir itu.


"Ma.. maaf, duduk ditempat sepi bersama vampir tidak bisa membuatku... tenang..." timpal Aurora terbata, Jerome tertawa kecil mendengar celetukan Aurora.


"Aurora... kamu sudah tahu alasan kenapa Arion mendekatimu dan terlihat baik di depanmu, bagaimana menurutmu?" tanya Jerome


"A... aku... tidak tahu, seperti katamu... aku tidak akan mungkin melawan... vampir kan?" ucap Aurora terbata


Keduanya kini melakukan percakapan seperti biasanya, suasana ketegangan yang telah terjadi berganti dengan tenang dengan Jerome yang kembali menjadi wujud manusia dan bersikap lembut dan Aurora dengan rasa lelahnya dan putus asa yang dia miliki. Setidaknya Jerome dengan wujud manusia lebih terlihat nyaman untuk dilihat bagi Aurora.


"Tapi aku bisa" timpal Jerome terdengar tegas, Aurora pun terkejut mendengar perkataan Jerome.


"A.. apa maksudmu?" tanya Aurora


"Aku akan melindungi mu dari Arion meski aku harus merusak perjanjian darah diantara kami" jawab Arion


"Perjanjian.... darah?" tanya Aurora penasaran dengan apa yang Jerome katakan


"Di Tahun 1900- an aku dan Arion membuat perjanjian darah diantara kami, aku dan dia tidak akan saling menyerang dan tidak saling mengganggu. Tapi aku akan langgar janji itu, aku akan membunuh Arion dan mati bersamanya!" dengan tegas Jerome mengatakannya

__ADS_1


"Ke... kenapa?! buat apa kamu melakukan itu?!!" Aurora pun panik mendengar Jerome yang berniat membunuh Arion lalu mati bersamanya, dengan helaan nafas Jerome kembali menatap Aurora.


"Karena aku tidak ingin... kamu menderita, Aurora. Biarkan ras vampir ini punah seperti yang sudah seharusnya terjadi, inilah takdir kami sebagai ras vampir terakhir" jawab Jerome


__ADS_2