
Pagi yang menegangkan karena ulah beberapa perampok pada sebuah bank swasta terkenal di pusat kota belum berakhir, suara tembakan masih terdengar beradu diantara polisi dan para perampok. Selongsong peluru begitu banyak berhamburan di area luar bank, puluhan mobil polisi yang terparkir tak luput dari serangan yang dilancarkan oleh para perampok. Beberapa polisi terlihat tergeletak dengan bersimbah darah, para wartawan berhasil mengabadikan momen dari luar area bank itu.
Tidak kalah mengenaskannya jika melihat kondisi gedung bank yang menjadi tempat berlindung para perampok, serangan melalui tembakan polisi arahkan pada gedung untuk melumpuhkan perampok. Hasil dari tembakan itu membuat pintu, jendela, dan eternit rusak berat, suasana begitu mencekam dengan suara tembakan yang silih berganti terdengar menggema.
Ditempat kejadian perkara, terlihat Jerome dan Aurora duduk bersandar pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat perampokan terjadi, mereka berlindung dari kemungkinan peluru nyasar mengenai mereka. Namun ditengah kacaunya keadaan, Jerome merasa jika Aurora bisa saja tertembak. Belum lagi kenyataan jika Jerome tidak bisa membaca pikiran dari para perampok, keanehan itu membuat Jerome tidak yakin bisa terus membuat posisi Aurora aman.
Biasanya setiap ada kejahatan yang terjadi dan diketahui Jerome, dia selalu dapat membaca motif dari pelaku kejatahan dengan kemampuan khusus vampir yang dia miliki. Berbeda dengan kejadian pada hari itu, sedikitpun tidak ada informasi yang mampu Jerome baca dari pikiran para perampok bank tersebut yang bahkan tidak diketahui jumlah pelakunya oleh Jerome.
"Aurora!! kita pergi dari sini!!" ajak Jerome dengan paksaan, tangan Jerome menarik lengan Aurora dan mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu.
"Hah?! kenapa?! ini berita yang bagus untukku!!" timpal Aurora menolak ajakan Jerome
"Ini beda dari kasus yang pernah kita tangani!! ada yang aneh dengan para perampok itu!" ucap Jerome agak berteriak karena suaranya tertutupi suara tembakan yang silih berganti.
"Aku harus tetap meliputnya!! ini bisa membuatku cepat naik pangkat!!" timpal Aurora yang begitu keras kepala
Memiliki pekerjaan baru sebagai wartawan kembali membuat Aurora berambisi untuk mendapatkan berita yang eksklusif demi meningkatkan karirnya. Apapun yang menurutnya dapat menjadi ladang uang akan selalu diterobos oleh Aurora, terlebih kehadiran Jerome yang selalu melindungi dan membantunya dalam mencari berita membuatnya semakin yakin untuk tetap bertahan meliput kejadian luar biasa itu.
Sesaat setelah mengatakannya, Aurora hendak kembali mengangkat kepalanya untuk mengarahkan kamera kearah gedung bank yang menjadi tempat perlindungan bagi para perampok. Ditengah berisiknya suara tembakan, Jerome masih terus berusaha mengajak Aurora untuk pergi dari tempat itu. Namun sayang, Aurora tidak mendengar apa yang Jerome katakan sampai hal tidak diinginkan terjadi.
Seorang perampok dari balik jendela kaca yang pecah menembakkan senjata laras panjang dengan brutal, Aurora yang melihat dirinya juga menjadi incaran langsung kembali menunduk sembari melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Dibalik mobil itu Aurora berharap dia akan aman, tapi ternyata tidak ketika tembakan membabi buta perampok terdengar.
Peluru demi peluru merusak dan menembus berbagai benda yang menjadi sasarannya, begitu pula mobil tempat Aurora dan Jerome berlindung. Jerome melihat pecahan kaca jendela mobil menghujam Aurora yang menunduk dibaliknya, pecahan kaca itu melukai tangan Aurora yang dia gunakan untuk melindungi kepalanya. Tidak ingin lebih banyak pecahan kaca yang menghujam Aurora, dengan sigap Jerome membopong Aurora menjauh dari tempat kejadian perkara.
Sebenarnya Jerome bisa saja berubah menjadi wujud vampir demi menyelamatkan Aurora dan membawa Aurora jauh dari lokasi penembakan itu, namun banyaknya mata yang berada di lokasi membuat Jerome membatalkan keinginannya. Dia hanya bisa melindungi Aurora dengan cara sebagai wujud manusia.
"Apa yang kamu lakukan?!! aku harus mengambil gambar!!" bentak Aurora kepada Jerome ketika Jerome sudah membawa Aurora cukup jauh dari tempat berbahaya itu, perlahan Jerome meletakkan tubuh Aurora disebuah rumput ditengah taman.
"Tanganmu terluka, perampok itu sangat brutal! aku tidak bisa membiarkanmu berada ditempat berbahaya seperti itu, Aurora!" timpal Jerome dengan bentakan juga
"Untuk itulah aku membiarkanmu berada dekat denganku!! kalau kamu tidak bisa melindungi ku, buat apa aku membiarkanmu dekat - dekat aku?!" ucap Aurora begitu marah pada Jerome
"Aurora!! pikirkan keselamatanmu!!" timpal Jerome juga dengan bentakan, Aurora pun langsung berdiri untuk kembali ketempat perampokan terjadi.
Namun baru beberapa langkah, Aurora merasakan kesakitan pada kedua tangannya. Ketika Aurora melihat tangannya, dia baru sadar jika pecahan kaca tadi membuat kulitnya terkoyak. Jerome berjalan mendekati Aurora lalu menggenggam kedua tangannya untuk memeriksa seberapa parah luka yang dialami Aurora, betapa terkejutnya Jerome melihat banyak bekas sayatan pecahan kaca yang mengenai tangan Aurora. Setelah melihat luka - luka itu, perlahan sorot mata Jerome beralih menatap wajah Aurora dengan penyesalan.
"Jerome.. ini bukan salahmu, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu" celetuk Aurora ketika merasakan kekecewaan Jerome
"Tidak... ini salahku, aku berada di sisimu tapi kamu masih tetap terluka... bodoh sekali diriku ini..." timpal Jerome
__ADS_1
"Jerome! itu tadi tidak bisa diprediksi! kamu gak perlu menyalahkan dirimu seperti itu! Aaaww.." ucap Aurora, rasa sakit mulai terasa ditangannya. Darah juga mulai merembes begitu deras di setiap goresan yang lebar, tangan Jerome yang memegang kedua tangan Aurora tiba - tiba bergetar.
Darah yang mengalir dari tubuh Aurora adalah darah yang berbeda dengan manusia lain, darah itu adalah darah suci yang jika menjadi santapan vampir rasanya akan sangat manis bahkan mempunyai kelebihan membuat vampir akan abadi. Jerome dengan kenyataan bahwa dirinya adalah vampir sedang dalam masalah besar melihat darah yang keluar dari tangan Aurora. Gadis cantik, periang dan baik hati yang begitu dia cintai itu.
"Jerome?" celetuk Aurora yang merasakan jika tubuh Jerome bergetar hebat, dengan segera Jerome melepaskan tangan Aurora lalu berbalik untuk menghindari bertatapan mata dengan Aurora. Tidak berhenti sampai disitu, Jerome bahkan berjalan beberapa langkah untuk menjauhi Aurora.
Sikap aneh yang ditunjukkan Jerome dihadapan Aurora membuat Aurora bertanya - tanya, apa yang terjadi pada Jerome sampai dia terlihat menjauhinya dan kenapa dia tiba - tiba tubuhnya gemetaran. Ketika Aurora ingin mendekati Jerome yang memunggunginya, tangan Jerome meminta agar Aurora tidak jalan mendekat.
"Jer..rome... kamu baik - baik... saja?" tanya Aurora yang khawatir terhadap kondisi Jerome
"Aa... aku baik... baik saja..." jawab Jerome dengan suara bergetar
"Be...benarkah?" tanya Aurora
"Jangan mendekat!! aku... kesulitan untuk menahan nafsuku karena bau darahmu begitu nikmat!! tolong menjauh lah sedikit!!" bentak Jerome begitu keras, Aurora langsung merinding mendengar perkataan Jerome saat itu.
Melihat keadaan Aurora yang parah membuat Jerome menyesal kesulitan untuk membantu Aurora, kemarahan akan kegagalannya membaca situasi yang terjadi pada perampok membuatnya murka. Untuk pertama kalinya Jerome gagal menjadi pelindung Aurora dan hal itu membuat Jerome kecewa atas dirinya. Bau darah suci itu juga bukanlah hal yang mudah untuk Jerome taklukkan, kini dia harus berperang dengan dirinya sendiri agar tidak kalah dengan nafsu vampirnya.
Seketika Aurora kembali teringat bahwa dirinya memiliki darah yang diinginkan oleh Jerome dan Arion, kecemasannya pun bertambah. Bayangan jika dirinya akan menjadi santapan Jerome tiba - tiba tersirat, Aurora memiliki keinginan untuk kabur dan meninggalkan Jerome namun keyakinan hatinya terhadap Jerome tidak mampu dia tepis.
Jerome yang memilih menjauh membuat Aurora mengkhawatirkan kondisi Jerome, melihat Jerome yang bergetar hebat karena menahan nafsu agar tidak menghisap darahnya membuat Aurora iba. Aurora hanya bisa berdiri terdiam sembari berusaha untuk menutupi luka - lukanya, matanya terus menatap punggung Jerome untuk berjaga - jaga jika Jerome tiba - tiba menyerangnya.
"Bo... boleh aku tahu, apa dua hal itu... Jerome?" tanya Aurora terbata
"Pertama... perampok yang ada didalam gedung itu... mereka tidak memiliki pikiran sama sekali, mereka bergerak seperti robot. Aku tidak merasakan emosi, adrenalin, ataupun hanya sekedar perasaan takut. Itu berbeda sekali dengan para polisi yang menjadi lawan mereka" jawab Jerome
Jawaban Jerome membuat Aurora langsung berpikir jika itu adalah perbuatan Arion, tapi pemikirannya tentang Arion tidak berhenti sampai disana. Dalam hati Aurora bertanya - tanya tentang apa tujuan Arion melakukan perampokan bank, sedangkan dia sudah kaya raya atas hasil usahanya sendiri dengan membangun perusahaan GERVASO.
"Aku tidak tahu apa yang diinginkan Arion jika memang orang - orang didalam itu adalah suruhan Arion, atau mungkin bisa kita simpulan kalau mereka dalam pengaruh hipnotis Arion" celetuk Jerome yang menjawab pertanyaan didalam hati Aurora, sejenak Aurora sempat melupakan kemampuan khusus Jerome yaitu mampu membaca pikiran lawannya.
"Benar juga... kamu kan bisa membaca pikiran seseorang.... atau mungkin karena kamu berjauhan dengan para perampok itu?" tanya Aurora
"Itu bisa terjadi tapi biasanya dapat aku selesaikan dengan memfokuskan kemampuanku ke satu tujuan yang aku inginkan.... contohnya aku bisa membaca emosi para polisi yang terlibat baku tembak tadi" jawab Jerome, perlahan suaranya mulai tidak gemetaran.
Wajah vampir dengan wujud manusia itu kini terlihat kebingungan dan kecewa, banyak pertanyaan yang terlintas dalam benaknya. Jerome merasa seperti sedang dipecundangi dengan kegagalan yang dia dapatkan hari itu.
"Kamu sudah membaik, Jerome?" tanya Aurora yang merasakan jika Jerome sudah tidak terlalu gemetaran, Jerome pun membalik badannya untuk menatap Aurora.
"Darah vampirku kadang bergejolak ketika mencium bau darah manusia, maaf ya aku membuatmu takut" jawab Jerome dengan suara yang terdengar lembut, Aurora pun kini bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Lalu yang kedua apa, Jerome?" tanya Aurora lagi penasaran, Jerome pun tertawa lalu mengelus kepala Aurora dengan lembut karena kini Jerome mulai mendekati Aurora kembali.
"Kamu... bau darahmu tadi membuatku tidak dapat mengontrol nafsu vampirku, tapi kini sudah tidak apa. Aku sudah baik - baik saja" jawab Jerome dengan senyuman menatap Aurora, wajah Aurora memerah mendapatkan elusan lembut di kepalanya dari tangan Jerome.
Saat itu Aurora hanya diam namun matanya terus menatap Jerome, tidak lama tangan Jerome pun dia lepaskan dari kepala Aurora dan berbalik kembali menatap gedung bank dimana perampokan terjadi. Suara baku tembak masih terdengar meski intensitas tembakannya tidak sepadat diawal, dahi Jerome mengkerut ketika dia merasakan sudah banyak korban jiwa berjatuhan dari pihak polisi.
"Jerome... ada apa?" tanya Aurora memecah keheningan diantara keduanya
"Aurora, ini bukan kasus yang mungkin bisa kamu liput. Kamu harus segera pergi dari sini karena aku tidak tahu apa yang Arion rencanakan kali ini, sudah banyak korban jiwa yang jatuh. Aku harus segera menyelesaikan kekacauan yang diakibatkan oleh Arion" jawab Jerome dengan tegas
"Kamu yakin itu perbuatan... Arion?" tanya Aurora yang meragukan perkataan Jerome, pertanyaan itu membuat Jerome tersadar jika dia seakan menyudutkan Arion tanpa bukti yang jelas dihadapan Aurora. Perlahan Jerome kembali berbalik untuk menatap wajah Aurora, dengan pikiran kosong Aurora menatap Jerome.
Aurora sengaja mengosongkan pikirannya agar Jerome menjawab pertanyaannya dengan jujur, karena Aurora meyakini selama ini Jerome selalu menjawab apapun sesuai dengan isi kepala Aurora. Entah itu untuk membohonginya ataupun untuk menutupi sesuatu, tapi kali ini Aurora membutuhkan jawaban jujur dari Jerome.
Jerome menghela nafas setelah mengetahui Aurora sengaja mengosongkan pikirannya untuk menguji kejujurannya dalam hal menjawab pertanyaan yang Aurora lemparkan, dengan senyum Jerome menatap Aurora dan bersiap untuk menjawab seadaanya.
"Kamu ingin dengar jawabanku tanpa mengetahui apa jawaban yang kamu inginkan, kan? kamu gadis yang pintar" puji Jerome ketika itu dengan sedikit suara tawa, Aurora berwajah kesal mendengar pujian itu karena perkataan Jerome seakan membenarkan kecurigaannya selama ini jika Jerome menjawab sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
"Tidak ada satu manusia pun yang tidak memiliki emosi, jika manusia itu tidak memiliki emosi maka jawabannya cuma ada satu... dia telah mati, orang yang terpengaruh hipnotis Arion maka dia sama saja mati suri dan tubuhnya dikendalikan oleh Arion. Itu kenapa aku mencurigai jika Arion ada dibalik peristiwa ini" jawab Jerome berusaha menjelaskan sedetail mungkin atas kecurigaannya
"Tapi... untuk apa Arion melakukannya?" tanya Aurora yang terdengar masih meragukan perkataan Jerome
"KIta akan mencari tahu setelah aku mendapatkan bukti yang valid, aku akan masuk kedalam untuk mencari tahu apa yang terjadi dan aku minta padamu untuk pergi menjauhi tempat ini. Aku tidak ingin kamu celaka, Aurora" pinta Jerome pada Aurora
"Tapi... aku tidak bisa membiarkan kamu sendiri menempuh jalur berbahaya itu..." ucap Aurora yang terkesan ingin ikut dengan Jerome untuk melakukan penyelidikan
"Jika perampokan ini memang ulah Arion, aku yakin dia ingin kamu ikut masuk denganku kedalam. Kalau itu terjadi sama saja kita terjebak oleh jebakan Arion mentah - mentah" timpal Jerome yang masih berusaha memberikan pengertian kepada Aurora yang begitu keras kepala
"Kalau begitu, ayo kabur bersamaku!! kamu tidak harus masuk kedalam kan" ucap Aurora dengan sedikit bentakan untuk memaksa Jerome
Pasangan ini meskipun bukanlah sepasang kekasih tetapi hubungan yang terjalin diantara keduanya begitu erat, Jerome begitu mencintai Aurora hingga tidak ingin untuk menyakiti gadis itu. Jerome bahkan merelakan jika rasnya punah demi melindungi Aurora dan tidak ingin memberikan rasa sakit yang menyiksa pada Aurora.
Sedangkan Aurora yang jarang memiliki teman dekat pria karena Diego yang begitu over protective terhadapnya merasa nyaman berada didekat jerome yang dia rasa begitu tulus terhadapnya. Meskipun kini mencemaskan keadaannya karena dekat dengan vampir yang membahayakan Aurora, hanya Jerome lah yang pernah diijinkan oleh Diego untuk dekat dengan Aurora.
"Kalau aku kabur juga, maka akan semakin banyak nyawa manusia tidak berdosa yang akan gugur. Hanya aku yang bisa membereskan kekacauan ini, mengertilah Aurora" timpal Jerome, meski berat hati akhirnya Aurora mau untuk mengerti.
Jerome memaksa Aurora untuk berjanji jika dia harus meninggalkan tempat itu sejauh mungkin apapun yang terjadi, Aurora pun berjanji kepada Jerome untuk pergi. Setelah mengikat janji, Jerome meminta Aurora untuk lari meninggalkan taman itu. Dengan segera Aurora berbalik lalu hendak berlari meninggalkan Jerome disana, namun baru beberapa langkah Aurora kembali berbalik dan menatap Jerome.
"Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri" celetuk Aurora begitu khawatir terhadap keselamatan Jerome
__ADS_1
Dengan anggukan kepala dan senyuman Jerome menjawab perkataan Aurora, setelah mendapatkan jawaban itu Aurora kembali berbalik dan kemudian berlari. Begitu pula dengan Jerome, dengan kecepatan yang luar biasa saat itu Jerome masuk kedalam gedung bank lewat pintu belakang.