
Layar televisi yang menyiarkan berita terkini tentang kejadian di Gervaso Tower menjadi fokus Diego disebuah ruang tunggu rumah sakit tempat Aurora dirawat, ketika acara itu ditayangkan dua vampir tampan tengah bertarung untuk menyelesaikan masalah mereka disebuah tempat yang jauh dari jangkauan mata manusia. Berita itu membuat Diego yakin telah terjadi pertempuran hebat antar dua klan vampir yang sudah sangat dia kenal, nalurinya sebagai ayah pun terketuk mengingat pertempuran itu pasti demi memperebutkan Aurora.
Merasa tidak memiliki banyak waktu untuk melindungi anaknya, Diego segera menelepon kantor polisi terdekat menggunakan telepon umum yang tidak jauh dari tempatnya menonton televisi tadi dan mengatakan jika dia sangat tahu apa yang sedang terjadi di Gervaso tower sekaligus meminta perlindungan dari polisi untuk keselamatan Aurora. Meski sempat dikatakan jika Diego sedang main - main, namun usahanya untuk meyakinkan polisi yang ada dibalik telepon membuahkan hasil dan polisi pun mengatakan jika mereka akan segera mendatangi rumah sakit tempat Aurora sedang dirawat.
Setelah menutup ganggang telepon itu, Diego mendekati meja perawat yang terlihat kosong untuk mengambil sebuah lem lalu segera berlari menuju kamar isolasi Aurora. Disana Diego bersitegang dengan para perawat yang menjaga dan melarang Diego untuk masuk kedalam kamar Aurora, keadaan Aurora yang kritis membuatnya tidak boleh dikunjungi oleh siapapun. Namun Diego bersikeras mengatakan jika dia harus menjaga Aurora karena dia sedang diincar oleh vampir, hal itu membuat para perawat disana menertawakan Diego.
Tidak ingin menyerah, Diego terus memaksa untuk masuk walau dia harus terlibat saling dorong dengan beberapa perawat baik itu wanita maupun pria. Tidak lama petugas keamanan pun ikut campur untuk mengusir Diego, merasa tida punya pilihan lain saat itu Diego mengeluarkan belati yang terbuat dari perak lalu mengancam orang - orang disana dengan belati itu.
Terjadi negosiasi yang menegangkan antara Diego dan pihak rumah sakit, begitu alotnya negosiasi itu namun pada akhirnya Diego diperbolehkan untuk masuk meski itu hanya bisa dilakukan selama lima menit. Begitu masuk didalam kamar, Diego segera mendekati Aurora yang masih terbaring di kasur rumah sakit. Masih dengan berbagai alat medis yang tertempel ditubuhnya, Aurora terlihat tidak ada sedikitpun tanda - tanda akan segera sadar.
Tatapan mata Diego begitu menggambarkan betapa dia menyesali semua yang terjadi pada anak semata wayangnya, dia tidak menyangka anak yang selama ini dia rawat begitu susah payah dan penuh pengorbanan akan berakhir ditempat seperti ini. Belum lagi kenyataan jika Aurora kini menjadi incaran vampir, hal itu menambah daftar panjang rasa sesal yang menghantui hati Diego.
Tangannya membelai lembut kepala Aurora, disaat bersamaan Diego meletakkan sebuah belati disaku baju rumah sakit yang saat itu dikenakan oleh Aurora. Perlahan tangan Diego yang sebelumnya memasukkan belati kedalam saku baju, kini sibuk mencoba untuk memberikan perekat menggunakan sebuah lem yang dia siapkan tadi agar belati itu tidak mudah untuk terjatuh saat keadaan memburuk.
Dalam keadaan Aurora yang kritis Diego memberikan perlindungan untuk putrinya dari dua vampir yang selama ini menemani Aurora, Diego seperti yakin jika Aurora akan baik - baik saja dan bisa menggunakan senjata itu untuk melawan Jerome dan Arion, walau di lubuk hati terdalamnya Diego sangatlah hancur melihat kondisi Aurora yang mengenaskan.
Tidak lama suara pintu kamar Aurora terbuka pun terdengar, dengan segera Diego menyelesaikan tugasnya lalu segera menatap pintu yang terbuka itu. Disana Diego melihat dua orang polisi dengan pangkat tinggi mendatangi Diego, dari balik jendela kamar saat itu Diego juga melihat beberapa polisi bersenjata lengkap sedang berjaga sesuai permintaan Diego saat ditelepon tadi.
"Selamat malam, tuan Varsha" sapa polisi dengan pangkat tinggi itu
"Selamat malam, terima kasih sudah memenuhi permintaanku" sapa balik Diego
"Jujur saja permintaan anda berlebihan, anda juga akan segera ditangkap lalu dijebloskan ke penjara jika yang anda katakan adalah kebohongan" celetuk polisi itu dengan mengancam
"Aku berharap aku dijebloskan ke penjara daripada apa yang aku takutkan benar - benar terjadi" terdengar penuh harap Diego mengatakannya, saat itu perkataan Diego membuat kedua polisi yang masuk kedalam kamar isolasi Aurora terdiam.
"Aku peringatkan pada kalian semua, kalian tidak bisa membunuh makhluk itu dengan menggunakan senjata biasa. Kalian baru bisa membunuh makhluk itu hanya dengan perak, aku sarankan kalian semua mempersiapkan perak untuk melawan makhluk itu" ucap Diego ditengah kebisuan dua polisi itu.
Ucapan Diego tentu saja sulit dipercaya oleh kedua polisi itu, mereka mewaspadai jika Diego memanfaatkan momen ini untuk mencari ketenaran karena kejadian menghebohkan itu untuk pertama kalinya terjadi di kota itu.
"Tuan Varsha, berhenti bermain - main dengan po..." belum selesai polisi yang pangkatnya lebih rendah itu berbicara, Diego memotongnya.
"Aku tidak main - main!!" timpal Diego dengan bentakan, ruangan itu kembali sunyi setelah Diego membentak.
Keadaan Aurora lah yang membuat Diego tidak bisa menganggap remeh lagi keberadaan kedua vampir yang dia kenal itu, Jerome juga telah melunturkan kepercayaan Diego karena Aurora pergi bersamanya ketika kejadian itu menimpa Aurora. Emosi Diego diluapkan begitu saja kepada polisi yang terlihat meremehkannya.
__ADS_1
"Baik, jelaskan lebih rinci tentang makhluk yang anda katakan itu" ucap polisi dengan pangkat tinggi
"Dia adalah seorang vampir" tegas Diego mengatakannya, kedua polisi itu pun terkejut bersamaan.
"Dia sudah gila komandan, sebaiknya..." belum selesai polisi dengan pangkat lebih rendah berkata, polisi dengan pangkat tinggi memotong dengan gestur tangan.
"Sulit untuk dipercaya, tapi coba anda jelaskan lebih rinci" timpal polisi dengan pangkat lebih tinggi itu
"Baik, sosok yang aku takutkan akan datang adalah seorang vampir bernama Arion Gervaso dan aku yakin kalian kenal sosok itu" jelas Diego, kembali perkataan Diego membuat kedua polisi itu terkejut namun tidak satupun diantara mereka yang menimpali perkataan Diego.
"Satu lagi bernama Jerome Galant, keduanya adalah ras vampir yang tersisa di dunia ini. Keduanya memiliki ketertarikan pada anakku yang saat ini terbaring tidak berdaya dihadapan kalian, Aurora namanya dan dia memiliki darah suci yang diperebutkan oleh dua vampir itu. Aku ingin kalian membantuku untuk menahan vampir itu, sekaligus memusnahkan vampir dari muka bumi ini" ucap Diego meneruskan kalimat sebelumnya
"Tuan Varsha, anda sudah tidak masuk akal. Mana ada vampir di dunia ini, anda sedang mempermainkan polisi" timpal polisi dengan pangkat rendah itu
"Ini tidak bohong!! aku berkata yang sebenarnya!!" timpal Diego dengan bentakan
"Tuan Varsha, jika kejadian di Gervaso Tower benar - benar ulah vampir bernama Arion dan Jerome... apa anda punya bukti yang lebih..." belum selesai polisi berpangkat tinggi itu berbicara, salah satu tembok kamar tempat Aurora dirawat tiba - tiba hancur berantakan seakan dihantam oleh sesuatu yang besar dan berat.
Keributan pun terjadi setelah benturan keras yang berakibat hancurnya tembok kamar Aurora, disaat bersamaan sosok wujud vampir sempurna Arion terlihat dari lubang ditembok itu. Arion terlihat mengepak - ngepak kan sayap yang tumbuh di punggungnya dan melayang pelan mendekati Aurora yang masih terbaring diatas kasur itu, tatapan mata Arion terasa begitu lembut dan iba menatap kondisi Aurora.
Dari balik puing - puing tembok yang hancur itu, Diego dan kedua polisi berusaha bangkit dengan menyingkirkan puing - puing tembok yang menimpa beberapa bagian dari tubuh mereka. Ditengah usaha mereka menyingkirkan puing - puing itu, mereka bertiga melihat sosok menyeramkan yang melayang mendekati Aurora. Kedua polisi yang sejak awal tidak mempercayai jika vampir itu ada, sekarang pun akhirnya mereka seakan dipaksa untuk mempercayai mitos itu.
Tatapan mata vampir itu tidak lepas dari tubuh Aurora yang tak berdaya, sosoknya yang menyeramkan seakan tidak sesuai dengan sorot mata yang menyiratkan penyesalan itu. Arion dengan wujud vampirnya yang sempurna tidak lagi memperdulikan keberadaannya yang menjadi tontonan banyak mata manusia.
Semakin terlihat jika Arion hanya memperdulikan tentang Aurora daripada sosoknya yang akhirnya terekspos dan tidak lagi menggunakan penyamarannya sebagai wujud manusia. Deru nafas sang vampir pun terdengar begitu menyesakkan namun tetap saja menyeramkan bagi manusia yang baru saja melihat wujud asli vampir yang selama ini mereka anggap hanya mitos.
"Arion...? kamu Arion kan?!!" tanya Diego masih dengan posisi terduduk karena kakinya tertimpa reruntuhan gedung sedang mencoba memastikan jika wujud itu adalah benar - benar Arion
Dengan darah suci milik Aurora, wujud Arion kini sangat berbeda sampai tidak mudah untuk langsung dikenali. Namun karena pernah satu atap bersama Arion selama lebih dari dua minggu, Diego saat itu begitu mengenali suara Arion saat dia menyebut nama Aurora. Perlahan kepala Arion menoleh menatap Diego yang masih tertimpa beberapa puing - puing dinding, mereka bertatapan mata dan saat itu Diego sangat merasakan tekanan dari seramnya sosok vampir.
"Diego... ini kesalahanmu, kenapa tidak kamu serahkan saja Aurora padaku... Jadi penderitaan seperti ini, tidak perlu Aurora pernah rasakan..." masih terdengar menggeram Arion mengatakannya
Percakapan antara vampir dan Diego itu disaksikan oleh polisi yang juga berada disana, mereka merasakan ketakutan yang hebat akan sosok vampir Arion. Hal itu juga yang akhirnya membuat mereka percaya jika cerita Diego bukanlah karangan.
"Jangan bercanda!! mana ada seorang ayah yang akan merelakan putrinya bersama seorang vampir sepertimu?!!" bentak Diego begitu marah meski dia begitu ketakutan sampai membuat tubuhnya gemetaran
__ADS_1
"Takdirku dan Aurora tidak bisa dipisahkan oleh alasan konyol mu itu, dia lahir untuk menjadi..." belum selesai Arion berkata, ketika itu dari balik jendela kamar Aurora para polisi menembaki Arion dengan membabi buta.
Seakan tidak mempedulikan jika di ruangan masih ada orang, polisi - polisi itu tanpa ragu menghabiskan satu magazine senjata mereka masing - masing untuk menembaki Arion. Saat itu Diego tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi Aurora karena kakinya masih tertimpa puing - puing tembok, begitu pula dengan dua polisi yang tadi ada didalam ruangan yang sama. Ketiganya hanya bisa menutup mata sembari melindungi kepala mereka masing - masing dengan tangan dan merunduk.
"Berhenti!! kalian bisa membunuh anakku!!!" teriak Diego meminta polisi - polisi itu menahan tembakan, namun teriakan Diego tidak terdengar oleh para polisi itu.
Tembakan berhenti bersamaan dengan habisnya peluru didalam magazine, ruangan itu terlihat berasap karena debu - debu tembok yang menjadi sasaran tembak berterbangan. Pandangan pun menjadi kabur, namun terlihat sosok bayangan hitam yang terlihat berdiri dengan sayap yang terbuka seolah menjadikan dirinya menjadi tembok bagi Aurora. Ketika debu - debu itu mulai menipis, terlihatlah sosok Arion yang berdiri dengan gagahnya melindungi Aurora dari semua peluru yang polisi - polisi itu tembakkan. Gentar Lah mereka semua, beberapa diantaranya terlihat menurunkan moncong senjata karena ketakutan.
"Kalian... membahayakan Aurora, tidak pantas untuk hidup lebih lama..." celetuk Arion lalu dengan kecepatannya dia menghantam satu per satu setiap polisi yang tadi menembak
Berhamburan polisi - polisi itu berlari kabur dari Arion yang mengincar nyawa mereka, tapi Arion tidak membiarkan satupun dari mereka kabur. Satu demi satu polisi terbunuh ditangan Arion, polisi terakhir saat itu menjadi sasaran amukan amarah Arion dengan cara mencabik - cabik hingga menjadi beberapa bagian. Arion terlihat sudah tidak lagi memiliki sisi kemanusiaan seperti sebelum - sebelumnya, kini sosoknya sudah menjadi vampir seutuhnya dan menjadi kewajaran bagi manusia untuk takut kepadanya.
Ruangan Aurora begitu hancur berantakan, Arion dengan wujud vampirnya hanya menyisakan brankar dan peralatan medis Aurora agar tidak hancur karena serangan dari polisi dan dirinya.
Setelah puas menyiksa polisi terakhir, Arion berjalan kembali menuju kamar Aurora. Di koridor saat itu Diego dan dua polisi yang tadi ada didalam kamar Aurora menghadang langkah Arion, meski terlihat mereka semua gemetaran melihat sosok asli dari seorang vampir namun mereka tidak bisa membiarkan Arion begitu saja membawa Aurora.
"Berhenti, Arion!! jangan kamu bawa Aurora!! dia akan mati kalau kamu membawanya!!" teriak Diego mencoba memperingatkan Arion tentang kondisi Aurora
Diego berharap jika peringatannya akan membuat Arion menghentikan niatnya terhadap Aurora, walaupun Diego masih belum mengetahui tujuan kedatangan Arion dengan wujud vampir ditempat umum untuk menemui Aurora.
"Penderitaannya akan segera berakhir, Diego... sudah saatnya aku dan dia akan bersatu..." timpal Arion
Dengan tatapan mata yang penuh keyakinan Arion menatap dalam mata Diego, vampir itu seakan tidak ingin membuang banyak waktu untuk segera mewujudkan tujuannya kepada Aurora.
"Apa maksudmu? apa kamu bisa.. menyembuhkannya?" tanya Diego terbata
"Dia akan menjadi vampir sepertiku, aku akan menggigit tanpa menghisap darahnya. Dengan begitu dia tidak akan mati karena hal remeh seperti itu, Aurora akan hidup abadi sepertiku" jawab Arion, terkejut lah Diego dan kedua polisi itu.
Sejak awal Diego memanglah tidak pernah menyetujui jika Aurora berubah wujud menjadi vampir, itulah mengapa Diego memberi perlindungan untuk Aurora dirumah sakit dengan belati yang terbuat dari perak. Namun sayang Diego melupakan tentang melindungi dirinya, tidak ada satupun persenjataan untuk melawan vampir yang Diego bawa untuk dirinya.
Ucapan Arion saat itu membuat Diego takut jika Aurora akan dalam bahaya jika berhasil dibawa oleh Arion, Diego dengan pengetahuannya yang banyak tentang dunia vampir mengetahui jika Aurora menjadi vampir maka hal itu akan memperburuk keadaan Aurora. Keinginan sang vampir itu tentu saja ditolak Diego dengan lantang
"Aku tidak akan biarkan kamu merubah anakku menjadi vampir!!" bentak Diego menolak ide Arion, bersamaan dengan teriakan Diego saat itu kedua polisi yang tersisa menodongkan pistol mereka kearah Arion.
"Kami tidak ingin ada vampir lain selain anda, tuan Arion" celetuk polisi dengan pangkat tinggi
__ADS_1
"Biarkan vampir punah, aku ingin vampir tetaplah sebuah mitos" timpal polisi dengan pangkat lebih rendah
"Kalian hanya membuang - buang waktuku" dengan geraman Arion mengatakannya