
Setelah kepulangan Jerome dari rumah keluarga Varsha, pagi itu Aurora, Diego dan Arion kembali berkumpul diruang makan untuk sarapan bersama. Suasana ruang makan pagi itu terlihat sedikit canggung karena aura kecemburuan Arion begitu terasa bagi Aurora, kedatangan Jerome yang mendadak itu saja sudah membuat Arion tidak senang dan ditambah sikap ramah Aurora kepada Jerome semakin membuat Arion terbakar api cemburu.
Berbeda dengan raut wajah sang gadis pemilik darah suci, Aurora Varsha terlihat bahagia setelah kedatangan Jerome kerumahnya walaupun secara tiba - tiba. Rona merah pipi yang menyembul di pipi Aurora masih terlihat, wajahnya sedikit tersipu malu, kerinduan dan kecemasannya sejak Jerome menghilang akhirnya terbayar dengan keadaan Jerome dan baik - baik saja bahkan apa yang Arion katakan tidaklah terjadi.
Meredakan api cemburu seorang vampir membuat Aurora kebingungan, dia terlihat ragu apakah sama caranya dengan memperlakukan manusia. Beberapa kali Aurora tampak ingin berbicara pada Arion yang duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada dan tidak bicara sedikitpun sejak tadi, dengan satu tarikan nafas dalam - dalam akhirnya Aurora pun memberanikan diri untuk membuka obrolan ditengah aktifitas sarapan keluarga Varsha.
"Arion..." belum selesai Aurora berkata, Arion memotongnya.
"Tidak sopan berbicara saat sedang makan, selesaikan sarapanmu itu lalu kita akan mulai berbicara" timpal Arion terdengar ketus
Aurora menghela nafasnya dan cemberut, dia kesal dengan sikap Arion karena begitu ketus padahal Aurora baru saja terfikir untuk meredam api cemburu vampir tampan yang dingin itu. Ternyata memang tidak mudah memperlakukan vampir.
"Arion, ayolah... kenapa kamu jadi cemburu buta seperti itu? kita belum punya komitmen apapun dan aku juga masih ragu tentang hubunganku denganmu, tapi ini bukan berarti aku lebih memilih Jerome. Ini masalah ras kita yang berbeda, ini juga tidak mudah untukku" ucap Aurora mencoba memberi pengertian pada Arion, perlahan tatapan mata Arion beralih menatap Aurora.
"Aku tidak sedang cemburu buta, jujur saja aku hanya tidak suka melihat kedatangannya" timpal Arion
"Kenapa?" tanya Aurora penasaran
"Karena itu tandanya aku akan segera meninggalkan rumah ini, melihat Jerome yang sudah berhasil menahan nafsunya seperti itu membuatku merasa tidak ada alasan lagi aku untuk tetap tinggal disini bersama kalian. Dua minggu merupakan pengalaman yang baik untukku bisa hidup ditengah ras manusia, terlebih tujuanku disini adalah untuk mengenalmu lebih dalam" jawab Arion, seketika itu Diego pun terkejut lalu menatap Arion.
"Berarti kamu akan segera pulang, kan?" tanya Diego
"Tentu saja, apa kamu ingin aku untuk tetap tinggal disini?" tanya balik Arion dengan senyum sinis
"Aku hanya sedih kamu akan mengambil black card yang selama ini menopang kehidupan kami" jawab Diego terdengar menyesal
Tentu saja jawaban Diego membuat Aurora tidak enak hati terhadap Arion, sang ayah terlihat begitu bergantung terhadap pemberian Arion padahal selama ini Aurora sudah bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka. Untuk urusan uang, Diego memang sering sekali silap mata dan hal itu menyebalkan bagi Aurora.
"Ayah!! ma.. maaf Arion, ayahku memang..." belum selesai Aurora berkata, Arion memotongnya.
"Pegang saja black card itu, sekaligus aku berharap Aurora berhenti untuk bekerja. Mengingat dia selalu bekerja dengan bantuan Jerome, membuatku semakin kesal" timpal Arion, perkataan Arion membuat Aurora tertawa datar.
"Maaf Arion, aku tidak bisa menerima kartu ini" ucap Aurora sembari mengeluarkan kartu hitam itu dari saku celananya
"Aurora, kenapa kamu mengembalikan kebaikan hati Arion?!" timpal Diego, namun Aurora tidak mempedulikan apa yang dikatakan Diego dan tetap meletakkan kartu hitam itu didepan posisi duduk Arion.
"Kenapa?" tanya Arion mencurigai Aurora, dengan helaan nafas Aurora seakan mempersiapkan hatinya untuk mengatakan alasannya pada Arion.
__ADS_1
"Arion, uang tidak akan berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Untuk merebut hatiku, cobalah untuk bersikap lebih lembut padaku. Lagi pula kamu sendiri yang mengatakan jika aku harus mengajarimu cara membuatku jatuh cinta kan? aku akan berikan caranya secara perlahan padamu" jawab Aurora
Jawaban Aurora seakan menjadi angin segar bagi Arion, mendapatkan kesempatan untuk memiliki Aurora membuat Arion bahagia walau harus kecewa karena pemberiannya untuk meringankan beban keuangan Aurora ditolak.
"Tapi ini tidak adil untukku, kamu dan Jerome bisa bersama sepanjang hari. Sedangkan aku..." belum selesai Arion berkata, Aurora memotongnya.
"Aku akan membagi waktuku dengan adil untuk kalian" timpal Aurora, perkataan Aurora membuat Arion terkejut.
"Waktu? bagaimana?" tanya Arion penasaran
Membiarkan sarapannya untuk terhenti, mata Arion dengan serius menatap mata Aurora. Badannya yang tegap dia condongkan kedepan dengan lengan yang dia sandarkan pada meja. Arion sudah sangat siap dengan penjelasan yang akan Aurora berikan padanya. Dalam hatinya berharap Aurora akan memberikan jawaban yang akan menguntungkan dirinya.
"Aku tahu kamu tidak bisa bebas keluar ketika ada matahari, lagian kamu bukanlah seorang pengangguran. Jadi meski aku beri kamu waktu ketika matahari masih bersinar, itu semua akan jadi sesuatu yang sia - sia kan?" jawab Aurora, seketika itu Arion mengernyitkan dahinya.
"Itu benar, lalu kamu akan memberikan waktumu ketika malam sudah menenggelamkan cahaya matahari?" tanya Arion mempertegas apa yang ada didalam pikirannya, Aurora mengangguk.
"Disaat pagi, aku dan Jerome terganggu dengan pekerjaan. Begitu pula denganmu, ketika malam aku dan kamu akan terganggu oleh rasa lelahku. Aku rasa itu adil untukmu dan untuk Jerome, bagaimana menurutmu?" tanya Aurora, sejenak Arion terdiam seraya berpikir keras dengan penawaran Aurora kepadanya.
"Bagaimana dengan Jerome? apa dia menerima idemu ini?" tanya Arion penasaran, Aurora menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sepertinya aku yang menentukan cara untuk mendekatimu" celetuk Arion terdengar senang karena dia menjadi orang pertama yang diberi tahu Aurora tentang saran yang diberikan, seakan Aurora lebih mementingkan Arion ketimbang Jerome.
"Tidak buruk, aku menerima tawaranmu itu" ucap Arion dengan penuh keyakinan, Aurora pun tersenyum mendengar jawaban Arion.
Tidak lama terdengar beberapa suara deru mesin mobil yang seperti terparkir didepan rumah keluarga Varsha, baik Diego dan Aurora pun sempat menoleh kesebuah jendela dimana mereka bisa melihat keluar. Bersamaan dengan itu Arion berdiri dari duduknya yang membuat Aurora kembali mengalihkan pandangan untuk menatap Arion, dengan senyum Arion membalas tatapan Aurora sembari berkata...
"Itu jemputanku, aku tidak sabar untuk menunggu matahari tenggelam ditelan oleh kegelapan agar aku dapat bertemu kembali denganmu" celetuk Arion. Tatapan tajam Arion membuat Aurora salah tingkah, beberapa hari tinggal bersama membuat Arion sedikit menunjukkan perubahan. Vampir yang terkenal kaku dan dingin itu mulai bisa bersikap lembut kepada Aurora.
"Terima kasih atas pengertiannya" timpal Aurora dengan senyumnya yang manis.
Arion pun berpamitan pada Diego dan Aurora, tidak lupa Arion membawa kembali kartu hitam miliknya dan hal itu membuat Diego sedih sampai menangis memohon pada Aurora untuk menerima saja kartu kredit itu. Namun Aurora bersikeras tidak mau menerimanya dan meminta Arion untuk segera pergi membawa kartu hitam itu bersamanya, ayah dan anak ini sudah mulai bertukar posisinya.
Hari berlalu, pagi pun menjelang. Setelah menyiapkan sarapan untuk dua orang, Aurora segera bersiap berangkat kerja. Aurora mengatakan pada ayahnya jika dia akan sarapan di kantor karena takut terlambat dihari pertamanya berkerja setelah cuti selama dua minggu penuh, tapi Diego terlihat cuek pada Aurora. Semua itu karena masalah kartu hitam, seketika itu Aurora mengomel pada Diego sepanjang dia masih berada dirumah itu.
Didepan pintu rumah keluarga Varsha, Aurora melihat Jerome berdiri bersandar pada sebuah pohon menunggu Aurora keluar rumah. Dengan senyuman Jerome menatap Aurora yang baru saja keluar dari rumahnya, dengan helaan nafas Aurora pun berjalan mendekati Jerome. Saat itu Aurora masih dibayang - bayangi rasa kesalnya pada sang ayah yang seperti anak kecil.
Hari pertama setelah hampir tiga minggu menghilang akhirnya Jerome kembali menunggu Aurora ditempat yang biasa, hal yang selalu menjadi kerinduan bagi Aurora sejak kepergian Jerome. Masih dengan penampilan yang sama sambutan senyuman yang juga sama keduanya semakin dekat dan tatapan mata yang saling teduh itu kembali bertemu, Aurora dan Jerome terlihat bersemangat mengulang kebiasaan yang selalu mereka lalui berdua.
__ADS_1
"Pagi Aurora, sepertinya pagi ini sangat membuatmu kesal ya" celetuk Jerome ketika Aurora sudah dekat dengannya
"Yaah... ayah selalu seperti ini ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan" timpal Aurora, mendengar perkataan Aurora membuat Jerome tertawa.
Tidak ingin melihat Aurora mengawali kerjanya dengan mood yang buruk, Jerome dengan sigap membakar semangat Aurora. Jerome yang sudah mengenal kebiasaan Aurora dengan sangat baik mencoba menawarkan untuk mencari berita yang menjadi kegiatan penuh semangat bagi Aurora.
"Sudah siap bekerja dengan penuh adrenalin? aku akan membawamu ketempat - tempat dimana hasil liputan mu pasti disukai bos" dengan penuh semangat Jerome mengatakannya, sejenak Aurora terdiam namun matanya masih terus menatap Jerome.
"Katakanlah yang ingin kamu tawarkan padaku, aku siap mendengarnya" celetuk Jerome memecah kebisuan Aurora, sejenak Aurora kembali terdengar menghela nafasnya.
"Aku kira kamu akan membaca semua yang ada di kepalaku" sindir Aurora, sindiran itu kembali memancing suara tawa Jerome.
"Ini tentang Arion dan kamu, aku sudah tawarkan ini padanya... sekarang tinggal kamu. Aku akan katakan penawaran ku sambil kita jalan ke kantor, aku akan telat jika terlalu lama ditempat ini" ucap Aurora
Keduanya pun berjalan bersama menuju kantor tempat Aurora bekerja, selama perjalanan itu Aurora menceritakan semua yang terjadi pada dirinya, Arion dan Diego selama ini. Tidak lupa Aurora juga menawarkan idenya yang sama persis dengan apa yang dia katakan pada Arion, walau terlihat berat hati namun pada akhirnya Jerome pun menerima keputusan Aurora untuk membagi waktu antara dirinya dan Arion. Setelah beberapa saat berjalan bersama, tibalah mereka berdua didepan kantor Aurora. Disana keduanya berpisah sementara, Aurora pun berlari kecil untuk masuk kedalam kantor.
Didalam kantor, Aurora menaiki lift untuk menuju lantai tiga. Ketika pintu lift terbuka, Aurora kembali berlari kecil sampai mendekati sebuah meja dengan seseorang duduk dibaliknya. Seorang perempuan itu adalah sekertaris dari bos Aurora, disana Aurora melaporkan jika dirinya siap untuk bekerja kembali. Dengan wajah jutek, sekertaris itu memberikan sebuah kertas pada Aurora. Setelah membacanya, Aurora sedikit bingung dengan perintah kerja yang dia terima.
"Aaa... bukankah ini terlalu... berbahaya?" tanya Aurora kepada wanita dihadapannya
"Bahaya atau tidak, aku tidak tahu. Itu perintah bos hari ini dan kebetulan kamu yang datang, jadi aku serahkan saja padamu. Lagian kata bos, kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk informasi itu. Jadi bos berharap banyak pada jurnalis yang mendapatkan tugas itu, lalu pergilah segera dan bawakan bos berita dari informasi itu" jawab wanita itu dengan ketus
Walau kesal dan gondok, tapi Aurora sudah tidak punya pilihan lain. Dalam hatinya berkata "Selama ada Jerome, sepertinya aku akan baik - baik saja", Aurora pun berbalik lalu meninggalkan lantai tiga untuk segera meliput apa yang diperintahkan oleh bosnya itu.
Pintu lift terbuka pada lantai satu lalu Aurora berjalan keluar gedung untuk menemui Jerome yang selalu setia menunggunya, disebuah pohon rindang Aurora melihat Jerome berdiri bersandar pada pohon itu seraya melambaikan tangannya beberapa kali. Aurora pun berjalan mendekati Jerome, begitu sudah berdekatan saat itu Aurora memberikan kertas yang diberikan oleh bosnya itu pada Jerome.
"Tugas baru? kenapa kamu sepertinya tidak senang?" tanya Jerome
"Baca saja, ini sangat tidak masuk akal buat dikerjakan jika aku tidak bersamamu" jawab Aurora terdengar kesal, Jerome pun membaca isi dari kertas itu.
***ISI KERTAS***
Informasi dari inteligen negara yang mengatakan akan ada transaksi narkotika besar - besaran yang didukung oleh oknum pejabat dan juga polisi negara. Temukan lokasi transaksi itu, lalu segera laporkan"
********************
Terkejut lah Jerome membaca perintah kerja yang terasa begitu berbahaya itu, sejenak mata Aurora dan Jerome saling tatap namun tanpa kata apapun.
__ADS_1