Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Perampokan Bank


__ADS_3

Seorang pria berkulit hitam dengan wajah yang maskulin dan manis untuk dilihat berlari dengan kencang di koridor lantai enam puluh sebuah gedung yang dikenal dengan nama Tower Gervaso, adalah Danilson yang mengenakan setelan jas serba hitam sedang bersiap untuk masuk kesebuah ruangan dengan pintu besar yang tampak mewah.


Dibalik pintu itu ada ruangan khusus bagi Arion selama berada dalam Tower Gervaso, tanpa mengetuk saat itu Danilson membuka pintu dengan cukup keras. Didalam ruangan dengan gorden yang terbuka lebar dan terbebas dari sinar matahari itu Arion terlihat sedang duduk dengan seseorang yang terlihat sangat penting pada sore hari menjelang malam.


"Danilson! kenapa tidak mengetuk pintu itu lebih dulu?!" bentak Arion begitu marah pada Danilson, segera Danilson membungkuk untuk meminta maaf pada Arion dan orang dihadapan Arion itu.


"Maafkan saya tuan Arion, saya membawa berita yang penting untuk anda" jawab Danilson penuh penyesalan, namun kepanikan Danilson dapat ditangkap dengan baik oleh Arion.


"Maaf tuan, saya ada urusan sangat mendesak" ucap Arion sembari berdiri dari duduknya lalu mengajak orang dihadapannya untuk berjabat tangan, pria dihadapan Arion segera berdiri untuk membalas jabat tangannya.


"Saya mengerti, mungkin lain kali kita bisa bicara lebih lama lagi untuk membahas proyek kita" ucap pria berjas hitam dan terlihat seperti orang penting itu.


Arion mengantar orang tersebut sampai pintu keluar ruangannya, lalu saling bersalaman kembali dan keduanya pun berpisah. Setelah menutup pintu, Arion berjalan mendekati Danilson yang masih membungkuk. Tangan Arion menyentuh pundak Danilson untuk memintanya mengangkat tubuh, bahu pria dengan usia sepantaran dengan Arion itu terangkat dan menatap punggung Arion yang berjalan menuju kursi kebanggaannya.


"Ada apa kali ini, Danilson?" tanya Arion padanya


Jika Danilson dengan tergesa - gesa menuju ruangannya, Arion memahami jika asistennya itu memiliki hal penting yang akan disampaikan kepadanya. Meski mereka terlihat memiliki usia yang tidak terpaut jauh namun karena kebaikan dan kuasa Arion, Danilson memilih untuk menjaga sikapnya terhadap Arion walau sebenarnya Arion sudah menganggap Danilson seperti adiknya sendiri.


"Ini tentang nona Aurora dan Jerome, tuan" jawab Danilson, seketika itu dahi Arion pun mengkerut dan nampak marah.


"Apa lagi yang dilakukan gembel itu sekarang?!" agak membentak Arion mengatakannya


"Nona Aurora diterima bekerja di perusahan media lokal sebagai wartawan dan sepertinya Jerome kembali menawarkan bantuan kepada nona Aurora untuk mencari berita, ini kejadian yang sama seperti waktu itu tuan" jawab Danilson, mendengar berita itu membuat emosi Arion pun naik.


"Sialan kau Jerome!! seandainya aku lebih tahan matahari dibanding dia!!" ucap Arion begitu emosi


Keduanya kemudian terdiam beberapa saat untuk memikirkan apa yang bisa mereka lakukan disaat seperti ini demi memisahkan Jerome dengan Aurora, ditengah kebisuan itu Danilson berjalan mendekati sebuah meja yang terdapat beberapa proposal proyek yang akan dikerjakan oleh perusahan Arion. Salah satu dari tumpukan berkas itu ada yang menarik perhatian Danilson, tangannya mengambil proposal itu lalu membacanya dengan seksama.


"Tuan Arion, bagaimana cara Jerome membaca pikiran seseorang?" tanya Danilson saat itu, Arion yang sedari tadi menopang kepala dengan kedua tangannya perlahan mengalihkan perhatiannya menatap Danilson yang masih membaca proposal itu.


Menyandarkan bahu pada kursinya, Arion meletakkan tangan di atas meja. Tatapan matanya tertuju pada indahnya pemandangan kota yang mulai disinari oleh cahaya lampu pada malam hari yang diterangi ribuan bintang dengan bulan purnama sempurna di atas langit malam itu. Wajahnya seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat penting lalu memulai pembicaraan dengan Danilson dengan serius.


"Kami vampir sangat peka terhadap frekuensi, dari frekuensi itu maka kami bisa memanipulasinya untuk kepentingan kami. Hanya saja setiap vampir tidak memiliki kemampuan yang sama dalam mengolah frekuensi yang ada, itu yang disebut dengan keistimewaan setiap vampir" jawab Arion


"Tuan... bagaimana dengan alat ini, apa ini bisa membuat tuan tidak dapat mempengaruhi pikiranku?" tanya Danilson sembari menunjukkan proposal yang ada ditangannya, Arion terdiam sejenak dan membaca judul dari proposal itu yang tertulis


***


Jammer Portable Pengacak Frekuensi


***


Setelah membaca judul proposal itu, Arion langsung mengernyitkan dahinya dan menatap Danilson dengan tajam.

__ADS_1


"Untuk apa aku gunakan itu?" tanya Arion


Dengan kecerdasannya Danilson menjelaskan apa yang ada dipikirannya kepada Arion dengan hati - hati. Danilson memang cerdas dan selalu menjadi andalan bagi Arion, keterbatasan Arion sebagai vampir yang hidup di dunia manusia sering kali mendapatkan kemudahan berkat tangan kreatif dan otak pintar Danilson.


"Danilson cuma berpikir cara untuk mencelakai Jerome, dia akan kesulitan jika orang yang mencelakainya tidak dapat ditembus isi kepalanya. Dengan begitu akan ada kemungkinan orang suruhan kita dapat membunuh Jerome dengan peluru khusus terbuat dari perak, Danilson rasa itu akan bekerja dengan baik" jawab Danilson sembari memegang dagu, suaranya terdengar masih ragu - ragu ketika itu.


"Aku mengerti, alat itu bisa membuat Jerome tidak bisa memprediksi gerakan dari orang suruhan kita. Dengan begitu orang suruhan kita bisa mencari kesempatan untuk membunuhnya" timpal Arion, perkataan Arion pun langsung disambut ide dari Danilson.


"Kita bisa memanfaatkan posisi nona Aurora sebagai wartawan untuk menyeret Jerome kedalam jebakan kita, tuan bisa membunuh Jerome tanpa mengotori tangan tuan" ucap Danilson menimpali perkataan Arion


"Benar! Danilson, segera buatkan rencananya. Aku akan memberikan dukungan penuh untuk memuluskan rencanamu" seru Arion terdengar senang, Arion sampai berdiri saat itu untuk menunjukkan dukungannya kepada Danilson.


"Siap tuan!" seru Danilson lalu berlari keluar dari ruangan Arion membawa proposal itu bersamanya


Setelah memastikan Danilson sudah keluar, Arion pun kembali duduk di kursi direkturnya lalu memutar kursi untuk menatap langit malam dari kaca jendelanya dilantai enam puluh. Wajah tampan sang vampir itu kini dihiasiĀ  Senyum licik yang tersungging dari bibirnya, Arion terlihat begitu yakin kali ini rencananya akan berjalan lancar tanpa hambatan. Membunuh Jerome hanya akan mempermudah baginya untuk mendapatkan Aurora, Danilson memanglah selalu menjadi andalan baginya


"Aurora... kamu hanya boleh menjadi milikku, tidak akan aku biarkan seorang pun memiliki hatimu selain aku" gumam Arion saat itu.


Empat hari berlalu setelah pertemuan Arion dengan Danilson untuk merencanakan sesuatu demi mencelakai Jerome, semua berjalan baik - baik saja bagi Aurora dan Jerome. Selama empat hari itu Aurora mendapatkan banyak berita yang membuat bosnya senang, semua berkat bantuan Jerome yang membantu Aurora sepenuh hati.


Jika Arion memiliki Danilson sebagai andalannya maka Aurora memiliki Jerome yang selalu bisa dia andalkan. Aurora menjalani setiap harinya bersama Jerome seakan tidak pernah ragu sedikitpun dengan ketulusan Jerome. Perkataan Arion diruang tamu miliknya seperti tidak berpengaruh apapun untuk Aurora setelah kembali bertemu dan bersama dengan Jerome.


Berbagai foto - foto dari kejadian yang menjadi sumber berita bagi Aurora dia dapatkan dengan sudut yang sangat bagus dan baik berkat Jerome yang memanfaatkan kemampuan vampirnya untuk sampai di posisi - posisi yang tidak memungkinkan bagi manusia berada disana. Semua itu dilakukan dengan cara menggendong Aurora ke setiap sudut yang dibutuhkan Aurora, meski kadang Aurora merepotkan bagi Jerome namun raut wajah Jerome menyiratkan kebahagiaan yang dia rasakan.


"Kemana kali ini, Aurora?" tanya Jerome penuh semangat, Aurora menatap langit sembari menyentuh dagunya dengan jari.


Wajah cantik gadis pemilik darah suci yang berhasil memikat hati vampir tampan dan baik hati itu menjadi pemandangan indah bagi Jerome, hari - hari yang jerome jalani bersama Aurora begitu membahagiakannya. Jerome adalah seorang musisi jalanan yang suka melakukan hal yang berkaitan dengan kemanusiaan sebelum bertemu dengan Aurora, kelembutan hatinya sering kali dia gunakan untuk membantu ras manusia yang membutuhkan bantuan. Selain sebagai musisi jalanan, Jerome juga sering melukis untuk menunjukkan bakatnya.


Ketika tidak bersama Aurora, Jerome masih sering melakukan aktivitasnya itu.


"Hmm... kali ini kerjaan kita agak sulit karena bos ku tidak memintaku untuk mengambil foto khusus, dia berkata aku boleh membawa berita apapun" jawab Aurora


"Apa foto kemarin mengecewakan bosmu?" tanya Jerome penasaran, Aurora menggelengkan kepala lalu menatap Jerome dengan senyuman.


"Semua foto - foto itu membuatku dapat banyak bonus" jawab Aurora terdengar senang, Jerome membalas senyuman Aurora dan bernafas lega.


"Baguslah, kalau begitu kita bisa sedikit santai sekarang" timpal Jerome, namun tiba - tiba ekspresi senang Aurora hilang dan dia menatap Jerome dengan datar tanpa berkata apapun.


Ekspresi Aurora yang datar itu sangat menggemaskan bagi Jerome, wajah polos itu semakin membuat Jerome menyukai Aurora.


"Ada apa, Aurora? aku salah bicara?" tanya Jerome


"Hei.. sebenarnya aku ingin mentraktir mu makan, tapi apa kamu bisa menikmati makanan manusia?" tanya Aurora datar, Jerome tertawa terbahak - bahak mendengar pertanyaan Aurora.

__ADS_1


"Aku pikir kenapa, tapi kamu benar. Kami ras vampir tidak bisa menikmati makanan manusia" jawab Jerome dengan sedikit suara tawa


Meskipun sudah ratusan tahun hidup di dunia manusia, Jerome tetaplah vampir yang membutuhkan darah untuk membuatnya bisa bertahan hidup. Mengkonsumi makanan manusia hanya akan memenuhi isi perut jerome namun tidak akan memperpanjang usianya di dunia. Hal itu membuat Jerome masih mengkonsumi darah manusia agar bertahan hidup.


"Berarti kamu hanya mengkonsumsi darah manusia kan? berapa banyak manusia yang sudah kamu hisap darahnya?" tanya Aurora menekan Jerome, pertanyaan Aurora membuat Jerome terdiam sejenak.


"Aku... lupa berapa banyak manusia yang sudah aku bunuh ketika aku diajarkan ibu untuk berburu, tapi sejak aku sudah bisa hidup mandiri.... aku menggantinya dengan yang lebih baik" jawab Jerome datar, Aurora mengernyitkan dahinya menatap Jerome dengan heran.


"Mengganti dengan apa?" tanya Aurora penasaran, Jerome menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Pertama aku melakukan pemburuan kepada hewan - hewan besar seperti beruang, rusa, dan juga monyet. Tapi aku hentikan karena rasa darah mereka tidak seenak darah manusia, sejak saat itu aku pun kembali beralih meminum darah manusia" jawab Jerome terdengar begitu serius dan mengintimidasi, perkataan Jerome membuat Aurora merinding sampai dia kesulitan untuk menelan ludah.


"Lalu... kamu sekarang kembali memburu... manusia?" tanya Aurora gemetaran


"Tentu tidak, aku membelinya di tempat donor darah. Satu kantungnya bisa aku dapatkan dengan harga dua puluh tiga dollar" jawab Jerome dengan suara tawa kecilnya, jawaban konyol Jerome seketika itu membuyarkan bayangan seram yang ada didalam kepala Aurora tentang vampir.


"Aku pikir kamu masih memburu manusia!! hal seperti itu kenapa kamu bicara seserius itu sih?!!" bentak Aurora terdengar kesal, Jerome pun tertawa terbahak - bahak setelah berhasil mengerjai Aurora.


"Wahahaa... iya iya maaf ya, aku suka aja melihat wajahmu ketakutan seperti itu" timpal Jerome


"Sudahlah, ayo ikut aku. Aku akan belikan kamu beberapa kantung darah sebagai ucapan terima kasihku" terdengar kesal Aurora mengatakannya, Jerome menarik tudung jaket Hoodie nya untuk menutupi tubuh dari sinar matahari langsung.


Aurora berbalik lalu berjalan meninggalkan halaman depan kantornya, Jerome berjalan dibelakang Aurora dengan suara tawanya yang masih terdengar. Ditengah perjalanan mereka menuju salah satu bank darah terdekat, tidak lama terdengar suara sirine polisi yang begitu menderu dan saling bersahutan. Sontak jiwa wartawan Aurora pun tergelitik untuk mencari tahu, beberapa orang dari arah berlawanan terlihat lari mendekati Aurora dengan wajah ketakutan.


"Ma... maaf, ada apa ya?" tanya Aurora ketika seorang wanita berlari mendekatinya


"Ada perampokan bank didepan!! lebih baik kamu tidak kesana, polisi dan perampok sedang baku tembak!!" dengan panik wanita itu menjawab pertanyaan Aurora, kemudian wanita itu kembali berlari.


"Sepertinya bukan perampokan biasa, Aurora" celetuk Jerome


"Sumber berita untukku, Jerome! ayok!!" seru Aurora terdengar senang sembari mengajak Jerome untuk menuju lokasi perampokan, Jerome sedikit berat hati untuk menerima permintaan Aurora.


"Tapi... sepertinya kali ini berbahaya, Aurora" ucap Jerome


"Tidak ada waktu untuk berdebat! ayok!!" timpal Aurora lalu dia berlari mendekati tempat perampokan terjadi


Merasa tidak punya pilihan, Jerome pun mengikuti Aurora yang semakin mendekati tempat kejadian perkara. Suasana mencekam penuh ketegangan sangat terlihat bahkan dari luar area bank tersebut. Puluhan mobil polisi berbaris rapi diarea depan bank, begitu juga dengan banyaknya polisi yang bersiap dengan tembakan yang sudah diposisi siap untuk menembak.


Beberapa wartawan juga meliput kejadian hari itu dari jarak yang lumayan jauh, jangkauan kamera jarak jauh dari para kameramen berhasil membidik setiap kejadian penting untuk dijadikan berita. Suara baku tembak antara polisi dengan perampok yang berada didalam gedung bank terdengar hingga area luar bank, ditengah kepanikan dan ketegangan itu Aurora memilih sebuah mobil yang terparkir sebagai tempat berlindung dan mencoba mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen itu sebagai bahan beritanya.


Beberapa kali Aurora nampak mengeluarkan kepalanya dari balik mobil untuk mengambil beberapa foto, sedangkan Jerome terus diam sembari memastikan jika tidak akan ada peluru yang menyasar Aurora. Jerome mencoba memastikan jumlah perampok yang berada didalam gedung dengan kemampuan khususnya, namun hal janggal bagi Jerome terjadi karena dia tidak mampu membaca satu pun pikiran para perampok itu.


Dalam hati Jerome berkata "Apa yang terjadi? siapa orang yang ada didalam itu? kenapa aku tidak bisa membaca pikiran orang - orang yang ada didalam gedung?"

__ADS_1


"Jerome?!! ada apa?!!" teriak Aurora ketika kembali menunduk mencari perlindungan, ketika itu baku tembak antara polisi dan perampok semakin brutal. Mendengar pertanyaan Aurora ketika itu, Jerome hanya terdiam dan merasa jika kali ini nyawa Aurora bisa saja terancam kalau mereka tetap berada disini.


__ADS_2