Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Provokasi


__ADS_3

Sang vampir yang terkenal arogan dan sombong duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, membusungkan dada dengan posisi satu tangan berada dipinggiran sofa. Arion duduk dengan wajah dinginnya menatap Aurora yang sedang bersama Jerome yang juga menatapnya dengan tajam.


Di ruang tamu kediaman keluarga Varsha Aura panas antara dua vampir tampan itu terasa membara, ditambah dengan keadaan Diego yang kembali bersikap seperti robot semakin menambah kebencian diantara Jerome dan Aurora terhadap Arion.


Aurora yang mengetahui jika hal itu adalah perbuatan Arion menahan diri untuk tidak meluapkan amarahnya dan bersikap seolah tidak mengetahui apapun. Tatapan Aurora kini pun lebih tenang terhadap Arion, hal itu karena Aurora tidak ingin Arion mengetahui jika dirinya telah mengetahui sosok sebenarnya Arion adalah seorang vampir.


"Arion..." celetuk Aurora membuka pembicaraan


"Kemana saja kamu? meninggalkan kantor dengan kaca pecah, apa yang terjadi?" agak membentak Arion bertanya


Aurora menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arion, saat itu Aurora ingin marah namun dia berusaha menahannya sebaik mungkin untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan. Kemarahan Jerome pun begitu terasa bagi Aurora meski tanpa melihat wajahnya secara langsung, Aurora yakin kemarahan Jerome disebabkan Arion yang kembali menghipnotis Diego.


"Aku ada urusan, masalah kaca aku minta maaf. Aku tidak sengaja memecahkannya" jawab Aurora sedatar mungkin agar tidak menjadi pemantik emosi Jerome dan Arion.


"Dengan cara apa kamu memecahkannya? sepertinya kamu tidak terluka karena memecahkan kaca, kamu sedang menutupi sesuatu?" tanya Arion lagi dengan menekan, Jerome tahu jika Arion sedang menyindir dirinya.


"Sudahlah, Arion! aku tahu kemana arah pembicaraanmu" bentak Jerome menimpali pertanyaan Arion


"Ooh iya? kemana memang arah pembicaraanku?!" nada Arion pun mulai semakin meninggi saat itu


Perdebatan kedua vampir itu menimbulkan kecemasan bagi Aurora, terbayang jika dua vampir itu menunjukkan wujud mereka masing - masing dan saling bertarung dirumahnya. Aurora memutuskan untuk melerai kegaduhan yang terjadi antara Jerome dan Arion.


"Sudah!! sudah!! berhenti bertengkar!! Jerome tolong diam dan Arion, apa maumu datang kesini? urusan kantor, kita selesaikan besok" seru Aurora menengahi dua vampir yang mulai terdengar tidak dapat mengatur emosinya


"Aku ingin bicara berdua denganmu" jawab Arion tanpa basa - basi lagi, jawaban Arion ketika itu membuat Jerome dan Aurora terkejut.


"Jangan penuhi permintaan dia, Aurora! kamu tahu apa yang akan dia lakukan jika kamu memberinya kesempatan!" ucap Jerome mencoba untuk memberi peringatan kepada Aurora agar tidak memenuhi permintaan Arion, seketika itu Aurora menoleh menatap Jerome yang begitu khawatir padanya jika Aurora menerima permintaan Arion.


"Apa maksudmu?! kamu pikir aku penjahat?! Aku hanya ingin bicara dengannya tanpa gangguan darimu!" timpal Arion membentak Jerome, mendengar perkataan Arion membuat emosi Jerome kembali tersulut.


"Aurora... penuhi permintaan tuan Arion, dia orang baik dan tidak mungkin melukaimu" celetuk Diego tiba - tiba, begitu terasa jika Diego benar - benar sudah berada dibawah pengaruh Arion.


"Melihat apa yang kau lakukan pada Diego saja sudah jelas apa yang akan kau lakukan pada Aurora!! jangan membodohi ku, Arion! aku tidak akan memberimu kesempatan meski itu hanya satu detik pun" ucap Jerome dengan bentakan, tatapan tajam Jerome kepada Arion pun saling berbalas.


"Cukup!! Jerome, aku sudah bilang jangan katakan apapun disaat seperti ini!!" seru Aurora, mendengar perkataan Aurora ketika itu Jerome langsung mengalihkan pandangannya menatap Aurora yang berada disebelahnya.

__ADS_1


"Tapi..." belum selesai Jerome berkata, Aurora memotong.


Hasrat ingin melindungi Aurora sangat membara dalam diri Jerome, terlebih permintaan Aurora agar Jerome selalu melindunginya semakin membulatkan tekad bahwa Jerome tidak ingin memberikan kesempatan untuk Arion dapat mengganggu Aurora.


"Aku bisa tangani ini, oke?" timpal Aurora dengan senyum penuh keyakinan, senyuman itu membuat Jerome tidak lagi ingin membantah perkataan Aurora.


Jerome pun membuang muka seakan berat hati untuk menerima permintaan Aurora, dengan helaan nafas Aurora lalu menoleh kembali untuk bertatapan mata dengan Arion. Bagi Aurora, Arion tidak menunjukkan sedikit pun tanda - tanda jika dirinya sedang menjadi ancaman untuk nyawanya. Meski berat hati karena sudah mengetahui sosok asli Arion, Aurora pun memutuskan untuk menerima permintaan Arion. Semua Aurora lakukan agar kedua ras vampir ini tidak kembali saling bunuh demi dirinya, Aurora sudah bertekad untuk itu.


Tidak hanya cantik, Aurora sang gadis pemilik darah suci yang menjadi incaran vampir itu juga memiliki hati yang tulus dan juga baik. Aurora selalu membenci perseteruan dan cinta damai, dia hanya akan marah ketika ada orang yang meremehkan, merendahkan dan mencelakai ayahnya. Ketika itu terjadi Aurora tidak akan segan untuk memaki orang tersebut dengan kalimat yang kasar. Mengetahui kenyataan bahwa Jerome dan Arion bermusuhan bahkan demi dirinya, Aurora merasa ingin mendamaikan keduanya dengan cara apapun. Aurora tidak ingin jika kedua vampir itu harus berperang demi dirinya.


"Aku mau berbicara berdua denganmu, tapi pertama lepaskan ayahku dan kedua aku ingin ditemani ayah" ucap Aurora memberikan syarat kepada Arion


Sontak perkataan Aurora membuat Jerome terkejut, dia tidak menyangka Aurora akan tetap menerima permintaan Arion untuk bicara berdua meski sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika memberikan Arion kesempatan. Tanpa perlindungan langsung dari Jerome, maka Arion bisa leluasa menghipnotis Aurora agar dia mau menuruti semua keinginannya.


"Aurora!" seru Jerome


Saat itu Jerome membaca pikiran Aurora yang berkata "Jerome, kamu bisa membaca pikiranku kan? aku bisa menangani ini, percaya padaku. Oke". Mendengar ucapan dalam hati Aurora saat itu, Jerome pun tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai perkataan Aurora.


Perlahan Diego seperti tersadar, meski nampak ling - lung tapi dia mulai terlihat kaget melihat keberadaan Arion dirumahnya. Ketika menatap Jerome dan Aurora, Diego kembali terkejut karena Jerome yang diduga Diego adalah vampir versi Aurora kini berada disebelah Aurora.


"A...apa ini? ada apa kok ramai seperti ini?" tanya Diego terdengar sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi, Aurora berlari mendekati Diego lalu memeluknya dengan erat.


Diego hanya mengangguk untuk memenuhi permintaan Aurora agar dia menemani Aurora disini meski dia masih bertanya - tanya dalam hati tentang apa yang sudah terjadi, Diego merasa tertidur dan ketika bangun semua orang sudah berkumpul diruang tamu rumahnya entah sejak kapan. Setelah melepaskan pelukan dari tubuh Diego, Aurora menoleh kebelakang untuk menatap Jerome lalu memberi gestur anggukan kepala kepada Jerome jika dia sudah baik - baik saja dan seakan meminta Jerome untuk keluar dari ruang tamu itu.


Ekspresi wajah Jerome terlihat berat hati, namun pada akhirnya Jerome meninggalkan ruang tamu dengan memberi ancaman kepada Arion agar dia tidak melakukan hal jahat apapun kepada Aurora. Ancaman Jerome diabaikan oleh Arion, dia lebih memilih untuk membuang muka ketika Jerome memberikannya sebuah gestur ancaman kepadanya.


Kini hanya tersisa Aurora, Diego, dan Arion didalam ruang tamu itu, untuk sejenak mereka semua hanya terdiam sampai suara helaan nafas Arion terdengar menggema diruang tamu itu. Aurora tersentak ketika mendengar suara helaan nafas Arion, tapi tepukan ringan tangan Diego di punggung Aurora membuat ketakutan Aurora menghilang seketika.


"Aurora, apa yang terjadi padamu? kamu menghindari ku?" tanya Arion dengan nada suara yang terdengar sedih


"Arion, aku sudah tahu siapa kamu dan sosokmu yang sebenarnya. Jerome sudah menceritakan padaku tentang sosok asli kalian dan permusuhan ratusan abad yang diderita dua klan kalian. Aku juga sudah tahu kenapa kamu dan Jerome memperebutkan ku, semua sudah jelas bagiku" jawab Aurora dengan nada datar


Permusuhan ratusan abad... sosok asli... memperebutkan Aurora... hal itu menjadi tanda tanya dalam benak Diego, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung. Keadaannya yang masih belum sadar sepenuhnya membuat wajah Diego terlihat bodoh dihadapan Arion dan Aurora.


"Apa yang terjadi, Aurora?" tanya Diego yang terdengar begitu bingung

__ADS_1


"Ayah, dengarkan saja dan simpulkan sendiri apa yang sedang terjadi" jawab Aurora, jawaban Aurora saat itu membuat Diego semakin waspada kepada Arion.


Sementara itu sang vampir yang juga menjadi bos bagi Aurora tidak menduga jika gadis incarannya sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang dirinya dan Jerome. Sebuah hal yang belum dia persiapkan sebelumnya jika akan menghadapi situasi ini bersama dengan Aurora. Mencoba tetap tenang dengan pikiran yang terus berjalan di kepalanya, Arion menghadapi Aurora setenang mungkin.


"Jadi... kamu sudah tahu semua dari Jerome, baik... aku tidak akan lagi menutupi siapa diriku sebenarnya di hadapanmu. Tapi apa kamu tahu tujuan kami memperebutkan mu?" tanya Arion, Aurora pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Arion.


"Arion... haruskah aku menjawab pertanyaanmu ketika aku sudah tahu kalau kalian adalah keturunan terakhir dari ras vampir?" tanya balik Aurora dengan sedikit suara tawa sinis, Arion tiba - tiba menghela nafas seakan dia menyesali sesuatu.


"Sepertinya kamu sudah masuk kedalam jebakan Jerome, aku kalah langkah darinya karena dia lebih berani untuk membuka sosok aslinya di hadapanmu" terdengar begitu menyesal Arion mengatakannya, Aurora pun bingung dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Arion saat itu.


Arion mengambil sesuatu didalam saku jas nya, tidak lama Arion melempar beberapa tumpukan foto di atas meja tepat dihadapan Aurora. Perlahan tangan Aurora pun mengambil selembar demi selembar foto yang dilepas oleh Arion, seketika itu ekspresi wajah Aurora pun menjadi kaget. Diego yang penasaran dengan apa yang dilihat Aurora, perlahan tangannya kini juga mengambil lembaran foto yang masih belum diambil oleh Aurora di atas meja.


Sebuah foto yang memperlihatkan Jerome tiba - tiba datang dengan wujud setengah kelelawarnya lalu menghajar Arion dengan wujud manusianya, foto - foto itu seakan mengatakan jika Jerome menjadi sosok jahat yang suka memulai peperangan diantara mereka meski keduanya terikat sumpah darah perdamaian.


Tidak berhenti sampai disana, Arion juga menunjukkan video dari handphone miliknya yang memperlihatkan Jerome saat menyelinap kedalam kamar Aurora lewat jendela dikamar Aurora yang terletak dilantai dua. Semakin terkejut lah Aurora ketika itu karena ternyata apa yang pernah dia pikir sebagai mimpi ternyata adalah sebuah kenyataan, Jerome memang beberapa kali tertangkap kamera menyelinap masuk kedalam kamar Aurora lewat jendela itu.


"Dia yang sudah terbiasa menjadi seniman, mungkin bisa membuai mu dengan kata - kata yang indah. Tidak sepertiku yang kesulitan untuk merangkai kata - kata agar kamu mau percaya padaku, aku hanya punya bukti ini jika aku tidak seperti yang Jerome katakan apapun itu" celetuk Arion ketika Aurora dan Diego memperhatikan video di handphone milik Arion.


"Aku melihat rumahmu juga sudah dipenuhi dengan teralis yang dibuat dari perak, sepertinya kamu sempat memergoki Jerome saat dia menyelinap ke kamarmu ya" ucap Arion lagi


Semua perkataan dan bukti yang Arion tunjukkan berhasil membuat Aurora bimbang dan bingung, Jerome yang dia kenal sangat baik dan tulus walaupun seorang vampir tidak mungkin untuk berbuat sesuatu tanpa alasan. Semua cerita yang Jerome katakan tentang alasan dua vampir itu berseteru mulai tergambar dalam benak Aurora. Hatinya masih meyakini jika Jerome adalah vampir yang sangat baik hati dan akan menjadi pelindung bagi dirinya.


"Aurora, aku tegaskan lagi... Jerome mungkin memang tidak sepertiku yang bisa mempengaruhi seseorang dengan hipnotis, tapi dia mengendalikan seseorang dengan tutur kata lembutnya. Dia memang berusaha membuatmu terbuai akan kata - katanya, lalu kamu akan masuk perangkapnya" ucap Arion lagi mencoba untuk menyadarkan Aurora dari pengaruh jahat Jerome


"Tapi... dia bilang dia sudah tidak peduli akan keturunan, dia tidak... sepertimu" timpal Aurora terbata, Arion pun tertawa kecil mendengar perkataan Aurora.


"Aku memikirkan ras ku dan berharap ras ku tidak punah, sedangkan dia... apa kamu tahu kenapa dia mengincar darah suci mu?" tanya Arion dengan nada sedikit menekan


Pertanyaan Arion seakan perintah bagi Aurora untuk berpikir bahwa tidak akan pernah ada sarapan gratis di dunia ini, semua orang akan berlaku baik pada orang lainnya apabila dia memiliki nilai tersendiri yang menguntungkan. Sejenak Aurora terdiam dan berpikir "Apa mungkin Jerome benar - benar tidak ingin sesuatu dariku? tapi apa? jika dia tidak menginginkan keturunan, apa yang dia butuhkan dariku?"


"Tidak bisa menjawab? baik aku jawab apa yang sebenarnya Jerome butuhkan darimu" ucap Arion ditengah kebisuan diantara mereka


"A...apa? apa yang dibutuhkan Jerome terhadapku?" tanya Aurora sedikit terbata


"Darah suci mu akan membuatnya hidup abadi jika dia meminumnya. Dia akan kebal dari sinar matahari, bau bawang yang menyengat dan juga tidak terpengaruh oleh perak yang membuat kulit vampir terbakar" jawab Arion dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun

__ADS_1


Mendengar jawaban Arion membuat Aurora dan Diego terkejut, sejenak Aurora melupakan jika Jerome juga seorang vampir yang tentu saja membutuhkan dirinya untuk bertahan hidup. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa vampir membutuhkan darah manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, memiliki darah suci yang memberikan keabadian untuk ras vampir maka sudah menjadi hal alamiah jika ada vampir yang mengincar darahnya.


"Aku ingin menikahi mu dan memiliki keluarga, sedangkan dia... ingin menghisap darahmu untuk kepentingannya sendiri. Siapa yang lebih jahat disini, Aurora?" ucap Arion menekan Aurora untuk berpikir lagi jika ingin mempercayai Jerome


__ADS_2