
Dikediaman keluarga Varsha, terlihat Diego dengan serius sedang membaca buku berwarna hitam yang diberikan Arion beberapa hari yang lalu kepadanya. Nyala televisi menjadi teman membaca Diego saat itu, acara memasak selalu menjadi tayangan favorit Diego di pagi hari untuk ditonton.
Pagi itu fokus Diego menonton terpecah dengan buku yang dia baca, suara khas pada televisi sebagai penanda breaking news terdengar dan mengalihkan pandangan Diego dari bukunya. Tatapan matanya kini fokus menonton berita yang menunda acara masaknya.
"Berita penting kah?" gumam Diego disaat intro breaking news terdengar
***BUNYI TELEVISI***
Selamat pagi pemirsa, disini saya akan melaporkan secara live kejadian perampokan yang terjadi pada bank swasta. Diharapkan agar masyarakat untuk tidak beraktifitas didekat lokasi. Disini saya masih tidak dapat menginformasikan apapun kepada anda, karena polisi masih baku tembak dengan para perampok yang masih tidak dapat diketahui jumlahnya
*************************
Pikiran Diego seketika tertuju kepada Aurora, Diego mengetahui pekerjaan putrinya adalah mencari berita yang penting. Mencekamnya suasana yang terlihat dari televisi membuat Diego berharap Aurora tidak meliput kejadian saat itu.
"Hmm... Semoga Aurora tidak ada disana" ucap Diego
Disaat bersamaan Aurora terlihat berlari menjauhi tempat kejadian perkara dimana sebelumnya Aurora bersikeras ingin meliput kejadian itu. Aurora benar - benar mengikuti permintaan Jerome untuk menjauh dari lokasi dan memilih untuk tidak meliput kejadian penting hari itu, sampai pada akhirnya suara ledakan bom terdengar begitu menggelegar dengan dahsyatnya.
Rasa penasaran Aurora tergelitik, dengan segera dia memutar badannya dan mencari sumber suara ledakan itu yang ternyata berasal dari gedung bank swasta yang telah dikuasai perampok dan penuh dengan kepungan polisi itu. Kepulan asap hitam terlihat menjulang tinggi di langit, kobaran api yang melahap sisi dalam gedung terlihat mulai merambat sampai bagian luar.
Mata indah Aurora menatap dengan penuh rasa terkejut. Jerome yang mengatakan akan menuju lokasi untuk menyelidiki tentang keanehan yang menjadi kecurigaannya, secara langsung memenuhi isi kepala Aurora. Ketenangan Aurora hilang, rasa khawatirnya terhadap vampir baik hati itu memuncak. Aurora yakin bahwa Jerome pasti akan memasuki gedung bank itu untuk membereskan para perampok demi menghindari korban berjatuhan.
"Jerome.... apa kamu baik - baik saja...?" gumam Aurora, matanya terus menatap arah kepulan asap dan api yang semakin besar.
Perlahan Aurora memutar kembali badannya untuk melanjutkan berlari meninggalkan lokasi itu sejauh mungkin, janjinya kepada Jerome untuk pergi terngiang di telinganya. Tapi tubuh Aurora tidak juga dapat bergerak, tubuh itu malah bergetar hebat seakan Aurora sedang berperang dengan tekadnya sendiri. Rasa khawatirnya pada keselamatan Jerome membuat dirinya enggan untuk pergi sebelum memastikan jika Jerome baik - baik saja, tapi dilain sisi Aurora merasa dia tidak akan bisa berbuat apa - apa selain akan merepotkan Jerome.
"A..apa... yang bisa aku lakukan...?" gumam Aurora
Seketika Aurora teringat jika Arion pernah memberikannya kekuatan untuk menghantam vampir yang dirasa begitu superior dibanding dirinya, Aurora menatap kedua tangannya dan merasa dia bisa melakukan sesuatu untuk membantu Jerome yang dia yakini berada didalam gedung bank itu. Ketika hatinya sudah mantap, Aurora mengepalkan kedua tangannya lalu berlari untuk masuk kedalam gedung bank demi menyelamatkan Jerome.
__ADS_1
Tidak ingin langkahnya akan dihalangi oleh polisi yang masih berjaga disekitar lokasi kejadian, Aurora memutuskan untuk menyusuri lorong - lorong antar gedung dan mencari jalan tikus untuk sampai di pintu belakang gedung bank. Setelah beberapa menit berlari menyusuri lorong itu dan menghindari penjagaan polisi, sampailah Aurora disebuah pintu yang merupakan pintu belakang dari gedung bank yang dituju.
Nafas Aurora terengah - engah ketika itu karena kelelahan setelah berlari dan mengendap - endap, namun jantung yang berdegup kencang itu bukan hanya karena lelahnya dia berlari. Jantung Aurora berdetak kencang karena dia akan masuk ketempat berbahaya dan akan ada kemungkinan dia akan terbunuh didalam sana, apa lagi ketika dia melihat pintu baja yang menjadi pintu belakang gedung bank sudah hancur berantakan karena efek dari ledakan yang sempat terdengar maka menandakan jika dia akan memasuki situasi antara hidup atau mati.
Keinginan kuat Aurora untuk memastikan keselamatan Jerome membuatnya tetap memaksa masuk kedalam, Aurora berjalan mendekati pintu baja itu dan menyelinap masuk dari celah tembok dan pintu baja yang rusak. Didalam gedung Aurora hampir tidak dapat melihat apapun karena lampu yang mati, perlahan Aurora melangkah masuk lebih dalam untuk mencari keberadaan Jerome disana.
"Jerome....? kamu dimana..? apa kamu disini...?" ucap Aurora agak berteriak, kepalanya pun menoleh kanan kiri mencari kemungkinan Jerome ada disekitarnya, namun kepulan asap hita yang memenuhi tempat itu membuat Aurora kesulitan untuk terus berjalan maju. Nafasnya mulai terengah - engah karena asap mulai dihirupnya perlahan.
Berjalan perlahan mengikuti insting dan nalurinya, Aurora sampaiĀ disebuah lorong yang terlihat rusak parah, banyak tembok - tembok lorong yang runtuh karena efek dari ledakan. Api - api juga berkobar dibeberapa tempat, pemandangan itu membuat Aurora kesulitan untuk menelan ludah karena dia merasa sangat takut untuk terus berjalan maju. Dengan kedua tangan yang dia gunakan untuk menutupi bagian hidung dan mulutnya, pada akhirnya Aurora terus melangkah maju meski kini langkahnya terlihat gemetaran, harapannya hanya segera bisa bertemu dengan Jerome
"Jerome.... kamu disini? jawablah aku..." agak berteriak Aurora mengatakannya, kepalanya juga masih menoleh kanan kiri untuk mencari keberadaan Jerome.
Aurora seakan mengabaikan jika suaranya bisa saja menarik perhatian para perampok maupun polisi, hanya keselamatan Jerome lah yang kini dia pikirkan.
Ketika Aurora sampai ujung dari koridor, hal yang membuat Aurora syok pun terlihat. Beberapa tumpukan mayat terlihat memenuhi sebuah ruangan luas yang menjadi tempat para pengunjung bank untuk menjalankan aktifitasnya di bank itu, disana Aurora dapat membedakan antara mayat pengunjung dengan mayat perampok dari pakaian yang mereka gunakan. Beberapa mayat terlihat mengenakan penutup kepala yang menjadi topeng untuk menutupi wajah mereka, sedangkan mayat lainnya terlihat mengenakan pakaian biasa.
"Eeh... kamu... baik - baik saja?" tanya Aurora pada perampok itu dengan suara yang gemetaran
Kepala perampok itu terangkat lalu menatap Aurora dengan tajam, tidak lama tangan kanan sang perampok terangkat dan menodongkan pistol kearah Aurora. Merasa terancam akan ditembak saat itu Aurora terlihat syok berat, kakinya membatu seperti tidak bisa digerakkan dan getaran ditubuhnya terasa begitu hebat, wajah cantik Aurora memucat pasi dengan keringat yang mulai mengalir deras membasahi nyaris sekujur tubuhnya. Posisi Aurora itu menjadikannya dengan mudah menjadi sasaran tembak sang perampok.
DORR!! DOOR!!! DORRR
Peluru panas keluar dari pistol perampok yang di bidiknya sebanyak tiga kali tembakan menuju tubuh kaku Aurora. Namun Aurora selamat karena dengan sangat cepat Jerome menabrakkan tubuhnya pada tubuh Aurora. Secepat kilat Jerome menggelindingkan badannya di lantai dengan tubuh Aurora yang masih dalam dekapannya yang erat kemudian bersembunyi dibalik meja, dirasa aman bagi Jerome tapi suara tembakan berikutnya yang kembali menyasar pada dirinya dan Aurora membuat Jerome menggugurkan pikirannya. Meja besar dan kokoh yang menjadi tempat persembunyian itu berhasil melindungi keduanya dari tembakan perampok yang terus saja mengarah kearah mereka, tidak ada satupun yang berhasil menembus meja itu.
Perlahan Jerome melepaskan pelukannya dari tubuh Aurora, lalu duduk bersandar pada meja itu untuk mengintip posisi perampok dari balik meja. Jerome mengeluarkan sedikit kepalanya untuk memastikan posisi perampok, saat sudah melihatnya Jerome langsung mengambil sebuah batu didekatnya yang kemudian dia lempar dengan sangat keras sampai mengenai kepala perampok yang masih tersungkur dilantai itu.
"Lima belas orang" gumam Jerome setelah melemparkan batu itu, saat itu Aurora langsung merangkak mendekati Jerome lalu memeluk tubuhnya dengan sangat erat
"Syukurlah!! syukurlah kamu baik - baik saja!!" seru Aurora dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya, mendapatkan pelukan itu membuat Jerome terkejut.
__ADS_1
Seperti melupakan jika dirinya menjadi sasaran tembak perampok itu, Aurora merasa lega ketika melihat Jerome berada di pelukannya dan terlihat baik - baik saja dimata Aurora.
"Aurora..." ucap Jerome sedikit bergumam, tangannya mengelus kepala Aurora yang bersandar pada dada bidangnya. tangan Aurora pun memeluk pinggang Jerome dengan sangat erat, kekhawatiran Aurora begitu terasa bagi Jerome.
Perlahan Aurora mendongakkan kepalanya menatap Jerome, keduanya tersenyum ketika mata mereka bertemu. Tapi sebuah cubitan di pipi Aurora membuyarkan suasana romantis yang baru saja terbangun, Jerome begitu kesal melihat Aurora berada ditempat berbahaya seperti itu. Padahal Aurora sudah berjanji padanya jika dia akan pergi menjauhi lokasi kejadian, namun pada akhirnya Aurora melanggar janji mereka.
"Aaa aaa... Aaaww... sakiitt!" rintih Aurora karena pipinya dicubit sangat keras oleh Jerome
"Kenapa kamu kemari?! bukannya kamu sudah berjanji akan pergi?!!" bentak Jerome sembari melepaskan cubitannya
"Ya habis ada ledakan!! aku kan khawatir!!!" bentak balik Aurora tanpa beban
Gadis cantik itu ditatap oleh Jerome dengan teliti, sebuah kamera dengan gantungan leher terlihat rusak entah karena apa bergantung pada leher Aurora. Tidak seperti biasanya ketika sedang mencari berita, Aurora yang kini berada dihadapannya terlihat tanpa membawa sebuah buku dan bolpoin yang selalu melekat pada Aurora ketika mencari berita, menyadari hal itu membuat Jerome akhirnya mengetahui jika Aurora menuju gedung bank itu hanya demi dirinya.
Pengorbanan Aurora bagi Jerome kembali membuat hatinya bergejolak, cinta sang vampir tampan kepada gadis pemilik darah suci itu semakin menggebu. Keinginan untuk selalu jadi pelindung gadis yang dicintainya itu semakin tinggi dan menggebu. Meskipun saat itu Jerome kesal karena tindakan yang Aurora pilih bisa sangat membahayakan Aurora terlebih Aurora sudah mengingkari janjinya untuk tidak menuju lokasi perampokan itu.
"Tapi kamu bisa dalam bahaya!! untung saja aku ada didekat tempat ini, jadi aku masih sempat menolong mu!!" timpal Jerome masih dengan bentakan
"Ayo kita pergi saja!! disini sangat berbahaya!!!" ajak Aurora dengan seruan, namun ketika itu Jerome hanya terdiam menatap Aurora.
"Hei!! jangan bengong, kita harus segera pergi!!" ucap Aurora lagi, namun Jerome tertawa menanggapi ajakan Aurora.
"Ke... kenapa kamu... tertawa...?" tanya Aurora terbata
"Aku ingin sekali keluar bersamamu, tapi sayangnya aku tidak bisa lagi berjalan" jawab Jerome terdengar menyesal, jawaban Jerome membuat Aurora terkejut dan bertanya - tanya ada apa.
Perlahan tangan Jerome mengambil sesuatu didekat mereka, ketika kedua jari Jerome menyentuhnya saat itu Aurora melihat kedua jari Jerome mengeluarkan asap putih. Jerome menunjukkan peluru yang sempat perampok arahkan kepada mereka, saat itulah Aurora melihat sebuah peluru yang terbuat dari perak.
"Dua peluru tertanam di kedua kakiku karena tembakan pertama tadi, kini dua peluru itu membakar kakiku dari dalam sampai membuatku tidak bisa lagi bergerak... maaf Aurora, aku tidak bisa membawamu keluar dari gedung ini. Aku harap kamu segera keluar dari tempat kamu masuk sesegera mungkin, aku akan menjadi umpan untuk para perampok yang tersisa" ucap Jerome terdengar sedih.
__ADS_1