
Bip..bip..bip... bunyi sebuah alat itu terdengar menggema ditengah keheningan yang terjadi pada ruang khusus milik Arion di tower Gervaso. Arion yang duduk dengan kondisi hati yang kacau kepalanya semakin tertunduk seiring bunyi yang ia dengar, air mata vampir tampan dan kaya raya itu tiba - tiba mengalir dari sela kedua matanya.
Bunyi itu adalah sebuah tanda bahwa Danilson tewas terbunuh. Sebagai pelindung sang vampir, Arion memasangkan sebuah chip ditubuh Danilson agar dirinya bisa mengetahui jika penjaganya itu dalam bahaya. Namun kondisi Arion yang saat itu masih syok karena tragedi yang menimpa Aurora membuatnya tidak dapat membantu apapun terhadap kondisi Danilson.
Didalam sebuah ruangan yang redup tanpa memberikan kesempatan senja untuk memberikan sinar terakhirnya untuk menembus ruang kerja miliknya, Arion meratapi nasibnya yang tragis karena kehilangan satu - satunya ras manusia yang selama ini jadi pelindungnya. Kesedihan itu adalah kesedihan kedua paska dirinya mengalami guncangan hebat dengan kewarasannya karena rencananya untuk membunuh Jerome gagal dan meninggalkan Aurora sebagai korban yang saat itu sedang kritis.
Sebuah ruang dibawah tanah akhirnya menjadi tujuan Arion saat itu, dengan pikiran yang kalut karena rasa kehilangan dan gelisah juga terpuruk dengan kondisi Aurora akibat kecerobohannya Arion memutuskan untuk menyelesaikan konflik abadinya dengan Jerome secara pribadi.
Terjadi keributan di Gervaso Tower, orang - orang berhamburan keluar setelah mendengar pengumuman dari Arion. Gedung pencakar langit yang dapat menampung lebih dari tiga puluh lima ribu orang tersebut kini berangsur sepi, meski ada beberapa orang yang masih terlihat lalu lalang disekitar area gedung.
Sore hari yang cerah hari itu, tidak akan ada satu pun orang yang akan menyangka mereka bisa pulang lebih awal dari hari biasanya. Sebagian besar dari mereka adalah karyawan yang bekerja untuk Arion, dimana Arion terkenal dengan kedisiplinan dan juga mengedepankan profesionalisme. Pulang lebih awal tidak pernah ada didalam kamus Arion.
Senja yang indah tidak mengiringi keindahan di atap gedung milik Arion, sosok vampir yang sempurna terlihat sudah berada disana dengan raut wajah dipenuhi Amarah. Perlahan kakinya menapak atap gedung lalu berjalan mendekati pintu darurat, tangannya yang terlihat mengeluarkan semua urat - urat itu menggenggam ganggang pintu darurat itu lalu menariknya dengan keras sampai pintu terlepas dari engselnya. Tangan kekar itu adalah milik Jerome, wujud sempurna sang vampir yang telah memiliki darah suci dalam tubuhnya terlihat melangkahkan kakinya yang berat dengan mata merah sempurna dan taring yang menyembul dari sela bibirnya menuju lorong yang pintunya berhasil dia jebol.
Dilantai paling atas yang menjadi lantai dimana ruang kerja pribadi Arion berada terlihat begitu sepi dan tidak ada satu orang pun, di keheningan itu tiba - tiba terdengar suara benturan yang begitu keras. Suara benturan itu disertai sebuah pintu yang terbuat dari besi melayang begitu saja sampai menabrak sebuah tembok, dari arah pintu yang melayang itu terlihat Jerome semakin menunjukkan wujud aslinya.
Suara nafas Jerome saat itu begitu berat hingga menggema di seluruh area lantai puncak, perlahan langkah kaki Jerome memasuki ruangan itu menuju sebuah pintu yang menjadi ruangan pribadi Arion. Saat itu Jerome menendang pintu itu dengan sangat keras yang membuat kedua pintu menjadi rusak parah, mata Jerome pun segera menyisir ruangan itu untuk mencari Arion namun dia tidak ada disana.
"Arion..." geram Jerome ketika itu
Tidak lama terdengar suara dari sebuah speaker yang tertempel disudut ruangan Arion, Jerome pun segera mengalihkan perhatiannya menatap speaker itu
"Jerome... aku tahu kamu akan mengacau disini dan aku juga tahu apa tujuanmu kesini, seperti yang pernah kita sepakati... kita tidak boleh bertarung ditempat umum dimana banyak manusia berkumpul, ayo kita pindah ke kastil kita masing - masing dan selesaikan semua disana" suara Arion terdengar dari speaker itu.
Mendengar suara Arion saat itu membuat Jerome kesal, dia berjalan dan mendekati sebuah microphone yang berada di atas meja kerja Arion lalu mengoperasikannya dan berbicara menggunakan microphone itu.
__ADS_1
"Arion, kamu telah melakukan kesalahan yang tidak mungkin bisa aku maafkan... apa kamu tahu bagaimana kondisi Aurora sekarang? apa kamu masih pantas terlihat peduli pada manusia di hadapanku?! keluar kau sekarang!!! hadapi aku!!" bentak Jerome sampai membuat speaker disana berdengung.
"Apa yang terjadi pada Aurora diluar dari rencanaku, aku sudah menghukum Robert yang tidak mematuhi perintahku dengan baik" jawab Arion terdengar begitu tenang
"Itu tidak merubah apapun!!! Aurora masih berjuang antara hidup dan mati, kau tahu?!!" bentak Jerome lagi
"Aku bisa memperbaiki semua Jerome..." timpal Arion, mendengar apa yang Arion katakan saat itu membuat Jerome terkejut.
Jerome bisa membaca jika rencana Arion pasti bertentangan dengan keinginannya terhadap Aurora, selama ini Arion memang selalu gegabah dalam memutuskan sesuatu dan itu membuat Jerome tidak yakin dengan ucapan Arion
"Apa... maksudmu?" tanya Jerome mecoba memastikan apa yang ada dipikirannya sesuai dengan apa yang Arion pikirkan saat itu
"Aku melihat paru - paru Aurora tertembak dan membuat paru - parunya rusak, bagi manusia... hal itu sudah cukup untuk membunuhnya.." belum selesai Arion berkata, Jerome memotongnya.
"...Karena itu, Aurora akan selamat jika dia menjadi bagian dari kita. Dan aku yang akan mengambil tanggung jawab itu.." ucap Arion menyelesaikan perkataannya
"Arion!! aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!!" timpal Jerome dengan amarah yang memuncak.
Di tengah kemarahan Jerome tiba - tiba Arion menerjangnya dari bawah, saat itu Arion menembus lantai demi lantai hingga dia tiba dibawah Jerome dan langsung mencekik Jerome lalu membawanya terbang hingga keluar dari gedung. Arion dengan wujud manusia setengah kelelawarnya mencekik Jerome sampai di langit, saat itu Jerome masih terkejut dengan wujud asli Arion yang berubah menjadi lebih sempurna.
"Ugh!! kau.. meminum darah suci?!" tanya Jerome dengan bentakan dan sedikit merintih kesakitan karena cekikan Arion
"Aku tidak punya waktu... Jerome, Aurora membutuhkanku..." agak menggeram saat Arion berkata
Jerome pun segera memberontak untuk melepaskan cekikan Arion, seketika itu Arion kembali terbang semakin tinggi. Lalu pada titik paling tinggi yang bisa Arion capai, dia segera terbang menukik membenturkan punggung Jerome menabrak puncak dari Gervaso Tower dari lantai paling atas sampai paling dasar. Suara benturan itu mengakibatkan kepanikan dari setiap orang yang kebetulan berada disekitar gedung itu, beberapa dari mereka mencoba mencari sumber suara mengerikan itu.
__ADS_1
Didalam gedung Gervaso tower pada lantai paling dasar, Arion membenamkan tubuh Jerome dilantai. Begitu Arion melepaskan cekikannya, seketika itu Jerome pun terbatuk dan memuntahkan darah berwarna hitam milik vampir. Jerome segera bangkit lalu memutar badannya untuk mengibaskan sayapnya untuk melukai Arion, namun Arion berhasil menghindar dengan cara melompat kebelakang dengan jarak yang cukup jauh.
Mereka terdiam dan saling menatap, tubuh Arion semakin terlihat sempurna dan dia juga terlihat tidak terpengaruh efek dari darah suci Aurora. Seakan Arion sudah menyatu dengan darah suci itu sampai membuat perbedaan ukuran tubuh dan kekuatan keduanya terasa semakin jauh, hal itu membuat Jerome terheran.
"Bagaimana... kamu bisa bersatu dengan darah itu...?" tanya Jerome terbata
"Aku masih tidak bisa menyatu dengan darah suci, hanya saja aku punya cara lain yang bisa memaksa darah suci Aurora menyatu bersama dengan darahku... tapi ini tidak akan berlangsung lama, aku akan kembali kehilangan kendali dalam beberapa menit..." jawab Arion terdengar begitu tenang, seketika itu tubuh Arion semakin membesar dan membuat Jerome kembali terkejut akan sosok Arion.
"Aku tidak punya waktu lagi Jerome!! Segera berkumpul dengan keluargamu di alam sana!!" teriak Arion dan teriakan itu menimbulkan gelombang suara yang begitu kuat, semua kaca pada Gervaso tower pun serentak pecah.
Gelombang suara itu tidak hanya merusak kaca, bahkan tembok dilantai dasar juga terlihat retak. Kondisi Jerome yang menerima gelombang suara itu pun tidak luput dari cedera, beberapa kulitnya terlihat tergores oleh angin tajam hasil gelombang suara.
Seakan ingin segera mengakhiri pertempuran itu, Arion membabi buta menyerang Jerome yang masih berusaha memulihkan diri dari cidera yang dia dapat sebelumnya. Jerome tidak dapat menandingi Arion, beberapa pukulan telak dan keras terpaksa harus Jerome terima mentah - mentah. Semakin lama, semakin hilang juga kesadaran Jerome setelah mendapatkan rentetan pukulan dari Arion. "Kenapa perbedaan kekuatan kami sejauh ini?! apa yang Arion lakukan pada tubuhnya?!!" ucap Jerome didalam hati
Ingin membalas serangan, namun bukannya berhasil malah membuat Jerome semakin banyak mendapatkan cidera. Hingga pada satu titik pada puncak pertarungan, Arion menghantam dagu Jerome dengan kuat sampai membuat Jerome terpelanting kebelakang. Masih dalam keadaan terhempas di udara, Arion kembali melancarkan pukulan tepat pada tulang punggung Jerome. Pukulan yang begitu telak sampai membuat Jerome kehilangan kesadarannya, Arion menang.
Pukulan Arion kepada Jerome membuatnya terpental begitu jauh menyapu semua yang ada depannya, Jerome tidak dapat bergerak kembali bahkan tubuhnya semakin menyusut dan kembali pada wujud manusianya. Melihat Jerome yang sudah tidak sadarkan diri, membuat Arion berpikir untuk segera mengakhiri perang dingin antara dirinya dengan Jerome.
Kaki Arion melangkah perlahan mendekati tubuh Jerome yang masih terkapar, Arion masih terlihat sangat berhati - hati menjaga konsentrasinya untuk menyelesaikan pertarungan itu. Begitu sudah sangat dekat, barulah Arion percaya jika Jerome benar - benar sudah tidak berdaya. Arion hendak mematahkan leher untuk membunuh Jerome, namun aksi Arion ketika itu dihentikan oleh polisi yang menodongkan pistol kepadanya.
"Diam ditempat!!" teriak salah satu dari sekian banyak petugas kepolisian yang mengepung Gervaso tower, meski terlihat gagah berani namun sebenarnya tidak satupun diantara para petugas kepolisian itu yang tidak gentar melihat wujud Arion.
Arion yang biasanya begitu mudah untuk dikenali oleh banyak orang karena ketenaran dan kekayaannya, kini tidak dikenali oleh siapapun yang ada disana. Wujudnya sudah benar - benar berubah karena pengaruh darah suci Aurora, hal itu yang membuat para polisi tidak menahan tembakannya. Mereka serentak menembak Arion dengan membabi buta, tapi semua percuma karena Arion tidak mempan oleh peluru biasa.
Kepakan sayap Arion sudah sangat cukup untuk membubarkan kepungan para polisi yang mengelilingi Arion, terpental lah mereka semua dan beberapa diantaranya mendapatkan cidera serius. Tapi Arion seakan tidak ingin membuang waktu untuk mengurus para manusia itu, dia dengan cepat pergi meninggalkan Gervaso tower dengan cara terbang ke langit dan dengan kecepatannya membuat para petugas kepolisian yang mengepung Arion tadi kehilangan jejak.
__ADS_1