Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Janji Darah Yang Dilanggar


__ADS_3

Aurora berjalan hendak meninggalkan tower Gervaso, didepan pintu lift ketika itu Aurora berpapasan dengan Danilson yang terlihat kaget melihat keberadaan Aurora ditempat itu dan bukannya berada di ruangan Arion . Mata mereka pun sempat bertemu namun Aurora segera mengalihkan pandangannya menatap pintu lift, dengan rasa penasaran tinggi Danilson memutuskan untuk mendekati Aurora dan bertanya apa yang terjadi.


"Nona Aurora, apa anda sudah selesai makan siang bersama tuan Arion?" tanya Danilson


"Sudah" jawab Aurora singkat


"Dimana tuan Arion? apa tuan Arion tidak mengantar nona untuk pulang?" tanya Danilson lagi semakin bingung dengan sikap dingin Aurora, Aurora menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Danilson.


Bertemu dengan Danilson sedikit membuat Aurora tenang, diantara semua yang dia temui hari itu ditempat kerjanya hanya Danilson lah yang sikapnya tidak aneh. Hal itu membuat Aurora lebih leluasa bersikap seperti biasanya dan juga tenang ketika berada didekat Danilson.


"Aku sudah tanyakan semua hal yang mengganjal pada Arion, tapi dia menjawab seperlunya dan tidak membuatku puas. Tahu apa yang terakhir dia katakan padaku?" tanya balik Aurora sembari menoleh menatap Danilson, namun Danilson hanya terdiam.


Aurora yang dibuat kesal oleh Arion seakan melampiaskan kekesalannya pada Danilson, nada bicara Aurora sangat ketus sehingga membuat Danilson merasa ada sesuatu yang tidak baik terjadi antara Aurora dan Arion.


"Keluar!!" bentak Aurora menirukan Arion yang membentaknya tadi, Aurora kembali menatap pintu lift dan berharap pintu itu segera terbuka.


Kekesalan yang ditimbulkan karena sikap Arion membuat Aurora dengan emosinya menirukan gaya Arion dengan baik dan sama persis. Sang Vampir sombong itu telah membuat gadis cantik pekerja keras bernama Aurora Varsha amat sangat kesal dan emosional, hingga membuat parasnya kini tampak lusuh dan kurang bersemangat.


"Danilson menyayangkan apa yang terjadi diantara nona dan tuan Arion" timpal Danilson terdengar menyesal


"Itu bukan salahmu... semua keanehan ini yang membuatku jadi orang gila, tapi aku yakin pasti ada dalang dibalik semua keanehan itu!" ucap Aurora dengan sedikit berteriak, pintu lift pun terbuka lalu Aurora masuk kedalamnya.


"Aku terdengar seperti ayahku yang terobsesi sama vampir meski itu adalah sebuah legenda dan mungkin hanya mitos, tapi aku bertekad untuk mencari tahu meskipun orang lain akan menyematkan kata orang gila padaku" celetuk Aurora bersamaan dengan itu pintu lift pun perlahan menutup


Siang itu menjadi hari yang buruk bagi Aurora, tidak sesuai dengan yang Aurora bayangkan dihari pertamanya bekerja dengan jabatan yang baru. Sikap Arion yang menyebalkan semakin menambah daftar kejadian tidak menyenangkan untuk Aurora.


Setelah menuruni lantai enam puluh sampai lantai satu, Aurora segera melangkahkan kakinya menuju lobby gedung. Aurora memanggil taksi untuk menuju kantornya, menghabiskan waktu satu jam lebih perjalanan saat itu membuat Aurora punya waktu untuk berpikir dan mencari petunjuk akan dimulai darimana pencariannya.


Ketika sampai dikantornya, Aurora langsung disambut keanehan dari dua pria penjaga gedung. Tidak berhenti disana, ketika masuk kedalam gedung untuk menuju kantornya saat itu para pekerja juga masih menunjukkan keanehan mereka dihadapan Aurora. Mereka mengucapkan salam, lalu memuji - muji kebaikan Arion dihadapan Aurora, mereka seperti papan iklan berjalan dimata Aurora.


Untuk sementara Aurora membiarkan semuanya berjalan aneh seperti itu sembari terus bertekad untuk mencari tahu tentang semua fenomena aneh itu. Aurora kembali fokus untuk bekerja sesuai instruksi dari sekretarisnya yaitu Revana, banyak ilmu baru yang didapat oleh Aurora dari Revana untuk menjalankan perusahaan agar semakin baik dan berkembang.


Hingga sore menjelang dan menjadi waktu dimana Aurora dan Revana pulang dari bekerja, Revana merapihkan meja Aurora ditengah Aurora bersiap untuk pulang. Melihat Revana membereskan ruangan itu sendirian, Aurora pun berinisiatif untuk membantu Revana.


"Nona Aurora, ini tugas Revana. Nona Aurora silahkan pulang" ucap Revana ketika melihat Aurora membantu membereskan ruangan itu.


"Tidak apa, aku tidak terlalu buru - buru untuk pulang" timpal Aurora

__ADS_1


"Nona Aurora memang baik hati, sama seperti tuan Arion yang sangat baik kepadaku. Kalian pasti menjadi sepasang kekasih yang serasi" ucap Revana


Revana yang kembali memuji Arion dihadapan Aurora pun kini membuat Aurora jengah, dia menatap Revana dengan tajam dan menunjukkan seberapa bosannya dia mendengar semua orang yang dekat dengannya kini selalu memuji - muji Arion. Tapi tatapan amarah Aurora saat itu hanya ditanggapi dengan sebuah senyuman digaris bibir Revana, seakan emosi Revana tidak terpengaruh sama sekali oleh sikap marah Aurora.


"Revana, bisa berhenti memuji Arion di hadapanku?!" bentak Aurora pada Revana


"Tidak bisa, karena tuan Arion sangat baik sampai - sampai Revana tidak bisa berhenti untuk memujinya" jawab Revana


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?! apa Arion mengancam kalian?!" tanya Aurora kembali membentak


"Tuan Arion sangat baik, mana mungkin tuan Arion mengancam kami?" tanya balik Revana pada Aurora


Sikap yang tidak berubah meski mendapat bentakan seperti itu dan juga senyumnya yang terus terjaga digaris senyum Revana membuat Aurora kini merinding, Aurora merasa sedang berhadapan dengan boneka hidup yang sudah diatur oleh seseorang untuk mengawasinya.


Ketakutan itu membuat Aurora langsung meninggalkan Revana di ruangan itu sendirian, tapi tidak berhenti sampai disana. Ketika Aurora keluar dari ruangan, saat itu dia kembali dikejutkan oleh para karyawan kantor yang berdiri mengelilingi pintu ruangan direktur. Mereka tersenyum semua menatap Aurora, lalu serentak mengucapkan...


"Selamat sore nona Aurora, terima kasih atas kerja kerasnya dan semoga nona bisa mendapat jodoh yang sama baiknya dengan nona Aurora seperti tuan Arion" ucap para pekerja itu bersamaan


"Kalian berhenti mengucapkan hal aneh seperti ini!!" Aurora berteriak lalu berlari melewati para karyawan untuk keluar dari gedung.


Sesampainya di rumah, Aurora langsung membuka pintu dan memanggil ayahnya dengan teriakan tapi saat itu yang menyambut Aurora adalah Jerome. Melihat kehadiran Jerome dirumahnya membuat Aurora ingat akan janji Jerome jika dia akan melakukan sesuatu untuk menyembuhkan sikap aneh Diego, air matanya tidak terbendung ketika Jerome menyambut kepulangan Aurora.


"Ayah!! mana ayahku?!! apa kamu sudah menyembuhkannya?!!" tanya Aurora panik


"Tenang Aurora, tenang. Aku sudah berhasil menyembuhkan ayahmu, hanya saja saat ini dia sedang tidur dan perlu waktu untuk mengolah apa yang terjadi padanya selama ini" timpal Jerome berusaha menenangkan kepanikan Aurora


"Dimana ayahku?!! aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri!!" bentak Aurora masih panik


"Dia ada di kamarnya, pelan - pelan saat membuka pintu agar ayahmu tidak kaget" jawab Jerome


Aurora segera berlari menuju kamar Diego, didepan kamar Diego saat itu Aurora ketakutan untuk membuka pintu. Pikiran buruk begitu menghantui isi kepala Aurora, tangannya sampai bergetar saat hendak menyentuh ganggang pintu. Sampai tiba - tiba tangan Jerome menyentuh tangan Aurora lalu Jerome arahku ke ganggang pintu, mereka berdua bersama - sama membuka pintu itu secara perlahan.


Ketika pintu terbuka, Aurora melihat Diego tidur dengan memeluk guling dan baju setengah terbuka. Diego terlihat begitu nikmatnya tidur dan terlihat seperti Diego yang Aurora kenal dari cara tidurnya yang begitu aneh, kaki Aurora pun tiba - tiba terasa lemas sampai membuat Aurora tidak mampu lagi untuk menopang berat tubuhnya. Aurora terduduk didepan pintu kamar Diego, bersamaan dengan terduduk nya Aurora suara tawa kecil Jerome terdengar.


"Apa ayahmu selalu tidur dengan gaya seperti itu?" goda Jerome kepada Aurora, dengan wajah kesal Aurora menatap Jerome.


"Jangan hina ayahku!! aku tidak akan memaafkan mu kalau kamu hina ayahku meski kamu yang menolong dari sikap anehnya" dengan nada kesal Aurora mengucapkannya, Jerome kembali tertawa lalu menjulurkan tangan untuk membantu Aurora bangkit.

__ADS_1


Ketenangan Aurora setelah melihat keadaan Diego membuatnya sedikit bisa melepas penatnya hari itu, hatinya bahagia karena Jerome menepati janji untuk memulihkan ayahnya. Pria asing yang dia kenal secara tidak sengaja itu selalu bisa memberikan kenyamanan dan bantuan dalam keseharian Aurora. Bersama Jerome hari - hari Aurora tidak seburuk yang dia rasakan saat bersama Arion.


"Ayahmu masih membutuhkan waktu untuk sadar, dia akan baik - baik saja" ucap Jerome ketika Aurora menyambut uluran tangannya


Mereka berdua berpindah tempat ke ruang tamu, disana keduanya mengobrol hal - hal tidak penting karena Jerome sengaja mengalihkan perhatian Aurora agar tidak terus kepikiran tentang ayah dan semua hal aneh yang menimpanya pagi ini. Jerome juga berbagi resep - resep masakan dari berbagai negara kepada Aurora, berkat pengalamannya yang sering berkeliling negara membuat Jerome menjadi ahli dalam hal memasak masakan berbagai negara. Sejak berbagi resep itu, kini Aurora dan Jerome menyiapkan makan malam bersama berdasarkan resep yang diajarkan Jerome kepada Aurora.


Namun ditengah serunya aktifitas antara Aurora dan Jerome, ada hal yang menganggu Aurora ketika itu. Jerome terlihat sering menatap jam dinding seakan dia sedang memastikan sudah jam berapa sekarang, Aurora berpikir jika Jerome saat itu sedang memiliki janji dengan orang lain.


"Kamu punya janji?" tanya Aurora ketika Jerome kembali menatap jam dinding


"Hah? tidak, kenapa?" tanya balik Jerome sembari tatapan matanya dia alihkan menatap Aurora


"Aku melihatmu sering menatap jam dinding, apa karena aku ketakutan dan panik tadi sampai kamu tidak tega untuk meninggalkanku? jika iya, aku katakan aku sudah baik - baik saja" jawab Aurora dengan tegas, Jerome pun tertawa kecil mendengar perkataan Aurora.


"Aku tidak punya janji apapun, hanya saja aku ingin menemui seseorang ketika dia biasa pulang kerja nanti. Aku akan pergi jam delapan tepat" jawab Jerome


"Benarkah?" tanya Aurora memastikan jika Jerome mengatakan hal yang sebenarnya


"Tentu, ayo teruskan masakanmu" jawab Jerome tegas


Beberapa menit berlalu, waktu pun menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit. Jerome berpamitan pada Aurora dengan menitipkan pesan jika Diego akan kembali seperti Diego yang Aurora kenal pada keesokan paginya, walau mungkin Diego akan sedikit ling lung namun itu semua adalah gejala normal.Setelah pesan itu disampaikan dan Aurora memahami pesan Jerome, mereka berdua pun berpisah dengan senyum manis digaris bibir mereka masing - masing. Jerome terus tersenyum sampai Aurora menutup pintu rumah, seketika itu senyum Jerome menghilang.


Wajah ramah dan hangat kini berubah menjadi wajah menyeramkan penuh amarah dan dendam, matanya yang biasanya berwarna biru kini berubah menjadi merah darah. Perubahan Jerome tidak berhenti sampai disana, kini gigi taring keluar dari bibirnya. Jerome melepaskan kaos yang dia kenakan lalu kepakan sayap kelelawar yang lebar keluar dari punggungnya dan membawa Jerome terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Disisi lain pada hari dan jam yang sama, terlihat Arion berjalan di puncak tower Gervaso sembari membawa segelas wine masih dengan setelan jas nya, ciri khas seorang Ceo muda kaya raya begitu kental terlihat dari penampilan vampir tampan itu. Arion mendekati sebuah tembok dan bersandar disana untuk menatap indahnya kota pada malam hari dari atas gedung, Arion terlihat sedang merenungi sesuatu saat itu.


Ditengah lamunannya tiba - tiba Arion merasa ada sesuatu yang akan menyerangnya dari belakang, dengan segera Arion berbalik dan melihat Jerome sudah berubah menjadi mahkluk yang menyeramkan seperti manusia setengah kelelawar.


"Arion!!!" bentak Jerome kepada Arion bersamaan dengan hantaman yang dia arahkan ke wajah Arion


Arion menyilangkan kedua tangannya untuk menangkis pukulan Jerome, namun percuma karena tenaga Jerome mampu menghempaskan Arion begitu jauh sampai Arion membentur ujung tembok pada sisi lainnya.


"Kamu telah melanggar janji darah diantara kita, aku akan memberikan hukuman setimpal padamu!!" bentak Jerome pada Arion, ditengah debu yang masih bertebaran itu Arion terdengar batuk - batuk.


"Aaah... sial, aku tidak menyangka kamu akan menyerang dengan transformasi sempurna mu" celetuk Arion


Dari balik debu - debu yang bertebaran itu, sosok Arion pun berubah menjadi kurang lebih sama dengan sosok Jerome. Keduanya yang punya sebuah janji yang disebut janji darah kini harus saling berhadapan dengan menunjukkan sosok asli mereka masing - masing, sebuah pertempuran yang didasari sebuah janji darah kini harus dihadapi Arion dan Jerome.

__ADS_1


__ADS_2