
Sore menjelang malam hari dengan langit yang sudah ditemani bulan dengan pancaran sinarnya yang cerah. Di rumah keluarga Varsha terlihat Aurora sedang mempersiapkan makan malam untuk Diego seperti biasa. Dapur sederhana itu adalah tempat favorit bagi Diego dan Aurora karena disanalah mereka sering menghabiskan waktu untuk mengobrol, namun ada pemandangan baru di rumah itu, kehadiran Arion yang berada ditengah keluarga kecil Varsha merupakan sesuatu yang masih terasa aneh. Tentu saja karena baik Diego maupun Aurora sudah mengetahui sosok asli Arion yang seorang vampir, makan malam bersama vampir tentu bukan sesuatu yang pernah dibayangkan oleh Aurora dan Diego.
Di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, Diego dan Arion duduk bersama di meja makan saling berhadapan meski mata dan kepala vampir tampan juga kaya raya itu tertuju pada Aurora yang sedang memasak. Garis bibir Arion tersungging bersamaan dengan tatapan matanya yang mulai berbinar, hal itu disadari oleh Diego dan seketika membuat Diego merasa risih dengan perilaku Arion, Putri semata wayangnya ditatap oleh sosok vampir sangat membuat perasaan Diego tidak nyaman.
"Bisakah kau berhenti menatap anak gadisku seperti itu, Arion?!" ucap Diego kesal
Tidak akan Diego berikan kesempatan bagi Arion untuk menatap Aurora dengan waktu yang lama, kenyataan yang terjadi Diego belumlah menyukai Arion karena banyak hal yang membuat Diego merasa Aurora tidak akan bahagia apabila berhubungan dengan Arion.
"Haah... Diego, apa kamu berharap aku memandangi wajah tua mu itu?" timpal Arion dengan nada menyindir
Jawaban Arion tentu saja membuat Diego kesal, Arion adalah sosok vampir yang terlihat baik dan lembut hanya pada Aurora bagi Diego.
"Bukan itu maksudku!!" bentak Diego
"Berhenti bertengkar, disini sempit. Suara kalian memekakkan telinga, tahu?!" timpal Aurora kesal
memasak dengan suasana gaduh akan merusak mood Aurora, dia hanya peduli kepada dirinya sendiri. Dan jika Diego maupun Arion membuat kegaduhan Aurora akan dengan segera menghentikan keduanya. Aurora tidak ingin rasa masakannya kacau karena moodnya yang buruk.
"Aku hanya diam saja tapi ayahmu yang memulai pertengkaran ini" ucap Arion
"Aku cuma memintamu berhenti memandangi anak gadisku dengan senyum aneh mu itu!" timpal Diego
"Cukup!! duuh~" teriak Aurora
Pada akhirnya semuanya terdiam sampai Aurora selesai memasak, Aurora membawa masakannya menuju meja makan lalu menyajikan masakan itu di atas meja. Setelah tertata rapih, segera Aurora duduk bersama dengan Diego dan Arion. Sempat terdiam beberapa saat, sampai suara helaan nafas Aurora terdengar memecah keheningan di ruang makan.
"Benar kamu gak makan, Arion?" tanya Aurora
Makan malam berdua dengan Diego dan menyisakan Arion yang hanya memandangi dirinya tanpa ikut menikmati makanan yang dibuatnya terasa begitu Aneh bagi Aurora.
"Vampir tidak butuh makanan manusia, Aurora" jawab Arion dengan senyum yang terlihat hangat
"Dia itu butuh darahmu, Aurora! sebaiknya kita usir sekarang juga, siapa yang menjamin dia tidak akan menyerang mu saat malam tiba?!" timpal Diego masih dengan sikap kesalnya
"Ayah, sudahlah. Jika Arion mau, dia sudah menyerang ku sejak tadi. Aku yakin Arion vampir yang baik kok" ucap Aurora
"Itu benar Diego, sudahlah jangan pedulikan keberadaan ku" timpal Arion tanpa beban setelah merasa mendapat pujian dari gadis incaran yang dia sukai
__ADS_1
"Mana mungkin bisa!! huh! berada ditengah vampir tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku!" bentak Diego lalu dia mulai untuk menyantap makan malam yang sudah Aurora buatkan.
Suasana makan malam di rumah keluarga Varsha pun berjalan sepi dan sunyi, hanya terdengar beberapa kendaraan yang kebetulan lewat dan juga suara orang - orang berjalan di depan rumah. Diego sibuk makan namun matanya terus - menerus menatap Arion penuh curiga, sedangkan Arion masih saja terus menatap wajah Aurora dengan senyum penuh artinya itu. Dua puluh menit berlalu, Diego dan Aurora pun selesai dengan makan malam mereka. Ditengah kesunyian itu, perlahan Aurora mengalihkan pandangannya menatap Arion.
"Arion, ada yang mau aku tanyakan padamu" celetuk Aurora memecah keheningan
"Tanyakan saja, aku akan menjawab sebisaku" timpal Arion menerima permintaan Aurora dengan senang hati
"Apa kamu tahu kemana... Jerome pergi?" tanya Aurora, saat itu senyum Arion perlahan menghilang namun dia hanya terdiam
Tentu saja pertanyaan Aurora membuat Arion hanya terdiam, kecemburuan vampir itu tiba - tiba muncul kembali untuk rival abadinya disaat dirinya merasa sudah selangkah lebih maju sejak Jerome menghilang. Sedangkan Aurora tidak bisa berhenti untuk memikirkan Jerome yang saat ini keberadaannya tidak dia ketahui untuk waktu yang cukup lama, Aurora yakin Arion pasti mengetahui keberadaan Jerome mengingat mereka adalah vampir.
"Kenapa diam, Arion? apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Diego, suara helaan nafas Arion pun terdengar berat.
"Itu adalah sejarah lama, tapi mungkin saja dia akan kembali kesana untuk mengendalikan dirinya" jawab Arion dingin
"Kemana?" tanya Aurora menekan
Arion menatap wajah Aurora sebelum akhirnya memberikan jawaban yang dia ketahui, Arion merasa saat ini menuruti semua keinginan Aurora merupakan keputusan yang tepat untuk menarik simpati terhadapnya.
"Di zaman dahulu kedua klan memiliki kastil sebagai tempat berkumpulnya anggota klan yang tersebar di seluruh dunia, kastil itu juga merupakan rumah bagi semua anggota klan" jawab Arion
"Kastil itu memiliki sihir khusus yang aktif hingga saat ini, karena itulah semua teknologi yang ada sampai saat ini tidak bisa digunakan untuk mencari keberadaan kastil itu. Aku juga kurang tahu dimana posisi tepatnya kastil itu jika menggunakan peta dunia, aku kesana menggunakan instingku sebagai vampir" jawab Arion
"Bagaimana cara aku bisa bertemu dengannya?" tanya Aurora, mendengar pertanyaan itu membuat Arion terdiam sembari mengalihkan pandangannya menatap Aurora.
"Ide yang buruk untuk bertemu dengannya, Aurora. Saat ini aku yakin dia ada di kastil itu untuk mencoba mengendalikan dirinya paska menerima darah suci darimu, jika dia gagal maka dunia ini akan dikagetkan dengan sosok pembunuh bernama vampir. Kamu seharusnya memahami dulu seberapa bahayanya tindakan yang kamu lakukan sebelumnya, bersiap untuk kedatangannya adalah hal yang paling utama saat ini" jawab Arion mencoba meyakinkan Aurora.
"Aku setuju, Jerome bisa saja kehilangan kendali dan dia akan melakukan tindakan berbahaya untuk memangsa manusia diluar sana. Saat ini hanya kita yang tahu tentang bahaya apa yang sedang mengancam umat manusia, sudah sewajarnya jika kita bersiap dengan segala kemungkinan" timpal Diego menyetujui apa yang Arion katakan, untuk sejenak Aurora terdiam namun terlihat jelas dari raut wajahnya jika dia tidak setuju dengan Diego dan Arion.
"Mungkin kalian benar..." gumam Aurora, jawaban yang bertentangan dengan hatinya.
Untuk Jerome, Aurora selalu mengandalkan perasaannya dibanding dengan logika. Kebersamaannya bersama Jerome selama ini terlalu banyak hal baik yang mereka kerjakan berdua, bahkan dengan sosok vampir asli yang Jerome tidak pernah benar - benar membuat Aurora merasa bahwa jerome adalah vampir yang jahat.
"Sebaiknya kalian beristirahat, aku akan menjaga kalian ditengah malam untuk mewaspadai Jerome menyerang kita saat kalian terlelap" ucap Arion dengan sinis.
"Bagaimana denganmu? apa kamu tidak tidur?" tanya Aurora dengan hati yang sedikit kesal, kecurigaan Arion terhadap Jerome sangat membuat Aurora kesal namun dia memilih untuk menyembunyikannya dari Arion.
__ADS_1
"Vampir tidak butuh tidur, Aurora. Lain kali aku akan memberitahu kamu tentang kebiasaan kami para vampir lebih detail, tapi aku yakin kamu sudah lelah dengan semuanya" jawab Arion dengan lembut untuk menyenangkan Aurora.
"Ya sudah deh, dasar makhluk aneh. Selamat malam semua" ucap Aurora sembari membereskan piring - piring dari meja makan dan membawanya ke tempat cuci piring di dapur.
Setelah membereskan semua, Aurora pun pergi menuju kamarnya. Tersisa lah Diego dan Arion yang masih duduk berhadapan di ruang makan, seakan keduanya juga sama - sama menunggu Aurora sudah tidak berada disekitar mereka untuk saling berbicara.
Arion dengan penampilannya yang tidak berubah duduk dengan gaya angkuh sang CEO muda kaya raya, bahkan hanya untuk menemani makan malam dirumah sederhana milik Aurora saja Arion tetap mengenakan setelan jasnya dengan lengkap. Duduk berdua dengan Diego yang menampakkan ekspresi tidak suka tidak membuat Arion terintimidasi.
"Benarkah Jerome akan menyerang umat manusia, Arion? aku tahu kamu dan dia sedang berebut untuk mendapatkan Aurora, karena itu aku tidak bisa mempercayaimu" tanya Diego mengandalkan instingnya.
"Itu adalah kemungkinan terburuk, aku tidak tahu seberapa kuat pengaruh darah suci bagi nafsu kami untuk menahan rasa haus akan darah manusia. Jangankan kamu, aku pun yang sesama vampir juga merasa resah dengan semua yang terjadi" jawab Arion
"Lalu apa rencanamu? berlindung pada Aurora bukanlah pilihan kan?" tanya Diego
"Disaat terdesak aku mungkin akan meminta Aurora memberikan darahnya meski itu hanya satu atau dua tetes, setidaknya aku memiliki kekuatan yang tidak terpaut jauh dari Jerome" jawab Arion
"Kamu pikir aku akan..." belum selesai Diego berkata, Arion memotong
"Jika begitu aku akan dibunuh dengan mudah olehnya dan kalian akan kehilangan kekuatan utama untuk menahan Jerome" timpal Arion, perkataan Arion saat itu membuat Diego terdiam.
Mendapatkan kesempatan emas untuk masuk kedalam keluarga Varsha membuat Arion menggunakan sepenuhnya kemampuannya untuk membuat Aurora dan Diego bergantung terhadapnya.
"Ingatlah hanya aku yang bisa memberikan Jerome tekanan, tidak ada kekuatan manusia yang bisa membunuh vampir. Aku harap kamu bisa memahami posisimu sebagai makanan untuk kami, para vampir" ucap Arion lagi sembari dia berdiri dari duduknya
"Tu... tunggu! kamu mau kemana, Arion?! pembicaraan kita belum selesai!!" bentak Diego ketika melihat Arion berjalan hendak meninggalkan Diego diruang makan, tapi Arion tidak mempedulikannya dan terus berjalan hingga sampai pintu keluar dari ruang makan.
Arion terus berjalan menuju ruang keluarga dirumah itu, disana Arion menutup pintu dan juga menguncinya agar tidak ada satu orangpun yang bisa masuk kedalam rumah itu. Perlahan Arion membuka jendela lalu keluar melaluiĀ jendela itu, ketika kaki Arion hampir menyentuh tanah tiba - tiba keluar sayap dari punggung Arion dan dia terbang ke langit.
Seperti kecepatan cahaya, Arion terbang dengan kepakan sayapnya yang sangat kuat menuju suatu tempat, sebuah hutan yang lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan gelap menjadi tujuan Arion malam itu, bias sinar sedikit menerangi tanah pada hutan yang berhasil ditembus melalui celah dedaunan rimbun. Suara lolongan anjing hutan dan banyak hewan liar terdengar jelas bagi Arion yang memiliki kemampuan pendengaran yang sangat tajam. Selain satwa liar dan beracun terdapat juga berbagai macam tanaman liar yang juga beracun, hanya kehidupan itulah yang terlihat didalam hutan menyeramkan itu.
Cukup lama memperhatikan seisi hutan dari udara, Arion bergegas menembus kedalaman hutan secepat kilat. Badannya menukik tajam seperti sudah menentukan titik dia akan berhenti. Tapi ditengah perjalanannya hendak mendarat, tiba - tiba sesosok hitam yang juga memiliki sayap terbang bersebelahan dengan Arion. Karena kaget, Arion segera bereaksi untuk menghindari sosok hitam besar itu. Tapi kecepatan Arion kalah jauh dari sosok itu dan dengan cepat Arion tertangkap lalu dihempaskan nya begitu saja hingga ketanah. Arion pun merintih kesakitan karena hempasan sosok hitam besar itu, perlahan hutan - hutan itu menjadi sebuah kastil megah bernuansa eropa kuno. Tidak hanya itu, tanah lumpur yang sebelumnya menjadi tempat jatuhnya Arion kini berubah menjadi ubin yang terbuat dari bebatuan.
"Uhuk... hah... hah.. sepertinya kamu benar - benar bertambah sangat kuat..." gumam Arion dengan rintih kesakitannya
"Mau apa kamu kesini?!" bentak sosok hitam besar itu pada Arion
"Aku ingin melihat keadaanmu, Jerome" jawab Arion
__ADS_1
Sosok hitam tinggi besar itu adalah Jerome yang masih dalam wujud manusia setengah kelelawarnya, tubuh kekar dengan mata merah menyala dan juga sayap besar yang terlihat mengepak - ngepak yang membuat Jerome tidak menyentuh tanah saat itu. Jerome masih tidak dapat mengendalikan kekuatannya!!!