
Pagi kedua pagi Arion berada di kediaman Aurora, Arion merasa sangat bersemangat terlebih dia merasa jika Jerome telah berhasil dia bunuh. Sementara Aurora dan Diego mulai membiasakan kebiasaan baru dirumah mereka yaitu memulai aktivitas pada pagi hari bersama seorang vampir tampan dan kaya raya.
Setelah percakapan singkat antara Aurora dan Arion, keduanya berjalan bersama menuju dapur. Di dapur saat itu Arion hanya duduk memperhatikan Aurora yang sibuk dengan kegiatannya yaitu memasak sarapan untuk dirinya dan juga Diego, sesekali tangan Arion terlihat mengepal kuat. Didalam benaknya berkata "Sial kau Jerome, apa yang sebenarnya sudah kamu perbuat sampai Aurora begitu mempercayaimu?!", kecemburuan Arion masih saja tidak berkurang bahkan setelah dia berhasil membunuh Jerome.
"Selamat pagi" sapa Diego yang baru saja bangun lalu masuk ke dalam dapur
"Pagi ayah, aku cuma bisa menyiapkan pancake pagi ini. Aku harus buru - buru berangkat kerja untuk mencari berita, tanpa Jerome... aku akan kesulitan hari ini" ucap Aurora
Saat itu kecemburuan Arion terhadap Jerome kembali menggebu, sangat terlihat begitu pentingnya kehadiran Jerome bagi hidup Aurora dan Diego. Sikap Aurora yang masih peduli terhadap Jerome setelah berkali - kali Arion mencoba mempengaruhi Aurora tentang hal buruk yang akan Jerome lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Ooh iya benar juga, selama ini Jerome yang selalu membantumu mencari berita. Jangan memaksakan diri, kamu yang tidak punya pelindung pasti akan kerepotan kalau berita yang kamu liput adalah berita kriminal. Ayah sarankan kamu cari saja berita - berita receh..." belum selesai Diego berkata, Arion memotongnya.
"Diego, sebaiknya kamu melarang Aurora untuk pergi kerja" timpal Arion dengan tegas
"Arion, aku sudah katakan tadi.. keluarga miskin seperti..." belum selesai Aurora berkata, Arion kembali memotong.
"Aku akan membayar sewa untuk tinggal disini" timpalnya seraya memberikan sebuah kartu kredit berwarna hitam kepada Diego, terkejutlah Diego saat itu melihat kartu kredit berwarna hitam yang katanya tidak memiliki limit pemakaian.
"Be.. benarkah kamu akan memberikan kartu kredit ini, Arion?!" tanya Diego mencoba untuk memastikan jika apa yang dikatakan Arion adalah benar,
"Tentu saja, aku juga tidak mau tinggal ditempat aman seperti ini tanpa membayar. Aku punya harga diri untuk itu" jawab Arion dengan tegas, bahagialah Diego ketika itu karena seumur hidupnya dia tidak pernah menyangka akan memiliki kartu kredit hitam.
Aurora sangat mengerti jika Diego tidak akan menolak tawaran Arion, melihat hal itu sedikit membuat Aurora kesal karena Arion selalu saja menggunakan kekuasaannya sebagai vampir yang kaya raya untuk mendapatkan sesuatu. Semua hal yang Arion coba lakukan terhadapnya juga Diego tidak sedikitpun berhasil merebut simpatinya, hanya perasaan bersalahlah yang membuat Aurora menerima Arion dirumahnya.
"Arion! itu sudah berlebihan! lagian aku yang membuatmu terancam sama Jerome, sudah kewajibanku untuk melindungimu!" ucap Aurora menolak apa yang sudah Arion berikan
"Itu karena ulahmu atau tidak, Jerome pasti akan lebih dulu berhasil mendapatkan darahmu. Tidak ada yang berubah dari itu, Aurora" timpal Arion terdengar kesal, perkataan Arion ketika itu membuat Aurora bingung sampai dia mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu?" tanya Aurora
"Kamu dan dia terlalu dekat satu sama lain, mungkin memang sampai detik ini Jerome tidak mengincar darahmu sama sekali tapi itu bukan alasan untuk dapat mempercayai vampir" jawab Arion dengan tatapan mata yang meyakinkan.
Ambisi Arion tidaklah akan selesai demi mendapatkan gadis yang mulai dia cintai, segala cara dia kerahkan untuk merebut Aurora dari Jerome. Sang vampir tampan kaya raya itu terlalu takut untuk kehilangan Gadis cantik pemilik darah suci itu. Arion juga merasa kekuasaan dan kekayaannya merupakan salah satu senjata untuk menaklukkan Aurora juga Diego.
Untuk kesekian kali Arion meyakinkan keburukan yang akan Aurora terima dengan kembalinya Jerome, tentu saja dengan dirinya yang masih berpura - pura tidak mengetahui kondisi Jerome saat ini. Namun Aurora masihlah Aurora yang sama, perkataan Arion sulit membuatnya untuk terpengaruh.
"Itu berarti termasuk dirimu, kan?" dengan sindiran Aurora mengatakannya, Arion pun tertawa mendengar sindirian itu.
"Tentu saja, sejak awal aku sudah mengatakan apa tujuanku. Aku ingin menikahimu dan memiliki anak darimu, dengan seperti itu keturunan klan Gervaso akan memiliki penerus" jawab Arion tanpa beban sama sekali
"Itu sama buruknya, kamu pikir aku..." belum selesai Aurora berkata, Arion memotongnya.
__ADS_1
"Kamu pikir apa yang Jerome inginkan darimu? apa dia pernah terus terang mengatakan apa yang dia inginkan darimu? apa menurutmu Jerome akan suka rela selalu membantumu? pernah kah kamu berpikir jika Jerome juga memiliki tujuan untuk dekat denganmu?" timpal Arion dengan penuh pertanyaan, seketika itu Aurora terdiam.
Suasana kedua pagi hari bersama Arion dikediamannya masih saja tidak memberikan kenyamanan, pagi itu Aurora tidak bisa menikmati aktivitasnya membuat sarapan dengan perasaan bahagia. Namun Arion dengan hasrat yang menggebu terus mempengaruhi Aurora agar berubah pikiran terhadap Jerome.
"Mungkin kamu berpikir jika memiliki anak dari bangsa vampir sepertiku adalah ide yang buruk, tapi aku tulus ingin membangun keluarga denganmu. Tidak seperti Jerome yang tidak pernah jelas apa yang dia inginkan darimu, apa menurutmu aku tetap lebih buruk darinya?" tanya Arion lagi karena Aurora hanya terdiam.
"Aku... tidak tahu.." agak bergumam Aurora mengatakannya
"Tapi aku tetap tidak mengizinkan kamu dan anakku menikah, Arion!! aku tidak mau mempunyai cucu seorang vampir!!" bentak Diego menyela pembicaraan antara Arion dan Aurora.
"Diego, anak vampir itu lucu - lucu. Dia hanya akan menghisap darahmu sesekali, tidak akan sampai membuatmu mati kering" timpal Arion tanpa beban
"Itulah yang aku takutkan!!" bentak Diego
Keduanya pun saling balas kata - kata ditengah Aurora yang melamun karena semua pertanyaan Arion, dalam benak Aurora berkata "Benar juga, kenapa aku malah takut pada seseorang dengan tujuan yang jelas daripada orang yang tidak jelas tujuannya apa? Jerome bisa saja menginginkan semua darahku karena dia tidak berniat sama sekali untuk membangun sebuah keluarga dan memilih untuk punah... apa yang sebenarnya Jerome inginkan?"
"... Ra!! Aurora!!!" teriak Diego memanggil Aurora, seketika itu Aurora pun tersadar dari lamunannya.
"Masakanmu gosong!! kenapa kamu melamun!!" teriak Diego karena pancake buatan Aurora sudah mengeluarkan asap hitam yang begitu tebal
Aurora dan Diego pun panik untuk memadamkan pancake yang gosong itu, percikan api juga mulai menyambar dibeberapa tempat sehingga menambah rasa panik keduanya. Sedangkan Arion saat itu hanya diam dan menertawakan kepanikan Aurora dan juga Diego, tidak ada gerakan sedikit pun dari Arion untuk membantu keduanya memadamkan api dan juga asap hitam yang mengebul itu.
Di restoran itu Arion tetap memesan makanan meski dia tidak makan makanan manusia, namun untuk menghindari kecurigaan para pengunjung saat itu dengan terpaksa Arion tetap memesan satu set menu sarapan manusia. Melihat seorang vampir yang makan makanan manusia membuat rasa penasaran Aurora pun tergelitik, secara terus - menerus Aurora menatap Arion dengan tajam sampai menarik perhatian Arion.
"Ada apa, Aurora?" tanya Arion
"Apa tidak masalah kamu memakan makanan itu?" tanya Aurora penasaran
"Tidak ada masalah, hanya saja ini tidak akan membuatku kenyang dan aku tetap harus mencari makananku sendiri. Aku harap kamu tidak keberatan untuk ikut dengan ku setelah ini, aku ingin membeli sarapanku" jawab Arion datar
"Apa itu... sekantung da..." belum selesai Aurora berkata, Deigo langsung menutup mulut Aurora dengan cepat.
"Jangan bicara sembarangan, Aurora!!" bentak Diego
"Maapp~" celetuk Aurora penuh penyesalan, perlahan tangan Diego pun terlepas dari mulut Aurora.
Setelahnya mereka bertiga hanya diam dan menikmati hidangan sarapan mereka masing - masing, hingga tiga puluh menit berlalu dan saat itu Danilson datang ke rumah makan keluarga itu bersama beberapa orang berjas hitam. Dari kejauhan Danilson melihat keberadaan tuannya lalu dia segera berlari kecil untuk mendekati Arion, setelah memberi hormat Danilson langsung berkata...
"Kami datang untuk menjemput tuan, silahkan. Mobil sudah..." belum selesai Danilson berkata, Arion memotongnya.
"Berikan salah satu kunci mobil itu, aku ingin berduaan bersama Aurora menuju suatu tempat" timpal Arion, perkataan Arion ketika itu membuat Aurora dan Diego terkejur.
__ADS_1
"Tu.. tunggu, kita mau kemana?! kamu tidak bilang kalau.." belum selesai Aurora berkata, Diego menimpali
"Aku juga tidak mengizinkan kamu membawa Aurora!" timpal Diego dengan bentakan
"Pertama aku ingin membeli menu sarapan untukku dan kedua aku rasa kita telah sepakat untuk tidak membiarkanmu bekerja sampai kita bisa memastikan keadaan Jerome, aku benar kan Diego?" ucap Arion, apa yang dikatakan Arion membuat Aurora dan Diego terdiam.
"Kamu harus datang ke kantor sesegera mungkin dan meminta cuti panjang, tentu Diego akan menyetujui apa yang aku katakan. Karena itu aku ingin mengantarmu kesana, aku akan mendampingimu dan memastikan keselamatanku" tegas Arion mengatakannya, baik Aurora dan Diego pun akhirnya semakin terdiam.
Dengan gestur tangan Arion meminta kunci pada Danilson, tanpa banyak kata Danilson langsung memberikan kunci salah satu mobil yang terparkir didepan restoran keluarga itu. Tanpa berkata apapun lagi, Arion berdiri dari duduknya lalu memberikan gestur tangan agar Aurora ikut dengannya. Walau terlihat ragu namun pada akhirnya Aurora menerima ajakan Arion, pergilah keduanya meninggalkan Danilson dan Diego disana.
Didalam mobil mewah yang melaju pelan, saat itu antara Arion dan Aurora masih saja saling terdiam. Dalam hati Aurora bertanya "Kenapa aku tidak mampu untuk melawan Arion? apa aku sedang dalam kendalinya? tidak... jika memang aku dalam kendalinya, maka aku tidak akan pernah bisa berpikir seperti ini. Aku akan menjadi robot yang hanya akan menuruti permintaannya". Perlahan Aurora mengalihkan pandangannya menatap wajah Arion yang masih fokus mengendarai mobil itu
"Ada apa, Aurora?" tanya Arion, sejenak Aurora terdengar menghela nafasnya lalu kembali menatap kedepan.
"Aku sempat berpikir jika kamu sedang mengendalikan pikiranku" jawab Aurora
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Arion dengan tekanan
"Jangan tersinggung, tapi kalau kamu ingat apa yang sudah kamu lakukan.. tentu kamu paham kenapa aku berkata seperti ini" jawab Aurora
"Pengendali pikiran milikku itu mutlak, kamu tidak akan bisa berbicara bebas seperti ini jika aku benar - benar mempengaruhimu" timpal Arion
Selain kepada Danilson, Arion hanya berbicara dengan lembut kepada Aurora. Itu karena Arion hanya akan merasa nyaman terhadap orang yang berharga bagi hidupnya, setelah Danilson kehadiran Aurora sebagai gadis pemilik darah suci dan berhati baik mulai mencuri perhatiannya dan Arion berhasrat untuk menjalankan kehidupan vampirnya bersama orang yang dia cintai. Gadis cantik itu tidak hanya baik hati dan gigih dalam bertahan hidup, tetapi kepolosannya dalam memandang dunia membuat Arion semakin ingin memiliki Aurora seutuhnya, mempunyai anak bersama Aurora dia yakini merupakan kehidupan abadi yang pasti akan sempurna.
"Aku tahu, tapi disisi lain aku juga bingung.... kenapa akhir - akhir ini aku tidak mampu untuk membantahmu? termasuk kali ini, aku tidak mau menuruti apa yang kamu katakan tapi tubuhku bergerak sendiri untuk mengikutimu" ucap Aurora, sejenak mereka saling terdiam lagi.
"Arion... apa kamu tahu cinta bagi manusia itu rumit? apa lagi jika itu berurusan dengan membangun rumah tangga dengan anak - anak ditengah kita, semua itu tidak semudah yang kamu bayangkan" ucap Aurora lagi memecah keheningan yang sempat terbangun
"Apakah benar seperti itu? aku pikir kita hanya perlu melakukan hubungan badan dan..." belum selesai Arion berkata, Aurora membantahnya dengan nada panik sembari mengalihkan pandangannya menatap Arion.
"Jangan katakan hal memalukan seperti itu tanpa beban, dasar vampir tidak berperasaan!!" bentak Aurora, kepanikan Aurora ketika itu menimbulkan keheranan yang terlihat dari raut wajah Arion ketika mereka saling menatap.
"Begini, Arion! aku tidak mau menikah denganmu, bukan karena kamu dan aku beda ras atau apapun itu. Tapi ini masalah hati! aku tidak bisa karena aku tidak jatuh cinta padamu!" ucap Aurora tegas, Arion pun menghentikan laju mobil dipinggir jalan.
"Apa itu artinya kamu tidak akan pernah bisa jatuh cinta padaku?" tanya Arion, pertanyaan itu membuat Aurora tersentak. Perlahan wajah putih Aurora sedikit memerah, lalu dengan cepat Aurora memalingkan wajahnya.
"Bu... bukan itu maksudnya... tapi... cinta itu rumit, Arion... kamu tidak akan..." belum selesai Aurora berkata, Arion menyentuh dagu Aurora lalu menariknya dengan lembut agar Aurora kembali menatap mata Arion.
Wajah cantik Aurora menegang, tatapan matanya tidak fokus dan tangannya mulai bergemetar. Degup jantung Aurora tidak karuan seiring dengan sentuhan lembut Arion pada dagunya, lalu suara maskulin Arion dengan nadanya yang lembut membuatnya merinding.
"Kalau begitu, ajarkan cara agar kamu bisa jatuh cinta kepadaku" dengan suara yang lembut Arion mengatakannya
__ADS_1