Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Terkuak


__ADS_3

Hari itu menjadi hari yang menyeramkan bagi Diego, ekspresi wajah Jerome seakan menggambarkan kondisi Aurora dalam keadaan yang buruk. Pikirannya sulit untuk dikendalikan dan kekecewaannya terhadap Jerome memuncak.


Dengan hati yang kacau Diego selesai bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempat Aurora sedang dirawat, Diego kembali keluar dari rumahnya untuk menemui Jerome yang sedari tadi menunggu diluar tepat dibawah pohon yang rindang. Ketika itu Diego melihat Danilson berada disamping Jerome, tanpa basa - basi lagi Diego berjalan mendekati Danilson seraya berkata.


"Bisa kamu antarkan aku menuju tempat Aurora dirawat?" tanya Diego


"Itu memang tujuanku berada disini, tuan Arion memintaku untuk menemani anda ke rumah sakit" jawab Danilson


Mereka bertiga pun menaiki mobil yang digunakan oleh Danilson menuju rumah sakit tempat Aurora dirawat, perjalanan mereka menghabiskan waktu satu jam lima belas menit. Begitu mobil sudah berhenti didepan pintu rumah sakit, Diego, Jerome dan Danilson pun segera turun dari mobil untuk mencari kabar kondisi terakhir Aurora. Dari petugas informasi rumah sakit, mereka semua tahu jika operasi pengangkatan peluru perak yang bersarang ditubuh Aurora berhasil diangkat namun kondisinya masih kritis.


Kini Aurora dipindahkan keruang isolasi untuk mendapatkan perawatan intensif mengingat kondisinya tidak juga kunjung membaik, di kamar nomor tiga saat itu Aurora dipindahkan pasca menjalani operasi. Ketiganya hendak menemui Aurora dikamar itu, namun petugas informasi rumah sakit meminta Diego untuk menemui dokter di ruangannya sebagai orang tua pasien.


Jerome dan Danilson pun berjalan berdua menuju ruang isolasi nomor tiga dan dari balik kaca keduanya melihat Aurora yang terbaring diatas kasur rumah sakit dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya, Jerome merasakan detak jantung Aurora yang lemah tidak seperti suara detak jantung Aurora yang biasanya dia dengarkan. Hatinya merasa begitu terluka melihat kondisi Aurora yang begitu mengenaskan, padahal dirinya ada disekitar Aurora ketika itu.


"Kenapa ini bisa terjadi...?" gumam Jerome ketika itu


Bersamaan dengan gumaman Jerome ketika itu, Danilson mengeluarkan handphone dari dalam sakunya untuk menelepon. Namun sesaat Danilson seperti tersadar akan sesuatu dan segera memasukkan handphone itu kembali kedalam saku, tingkah aneh yang ditunjukkan Danilson membuat Jerome penasaran. Perlahan Jerome menatap Danilson yang berdiri disebelahnya untuk membaca apa yang dipikirkan Danilson ketika itu, namun kekuatan istimewanya tidak bekerja.


"Danilson... apa kamu... menggunakan alat pengacau frekuensi?" tanya Jerome memecahkan keheningan, mendapatkan pertanyaan yang begitu menekan membuat Danilson pun tersentak.


Kegugupan yang dialami Danilson membuatnya tidak dapat bersikap dengan normal dihadapan Jerome, sebagai orang yang mengetahui dalang dibalik kejadian yang tidak sengaja mengorbankan Aurora, Danilson mengalami masa yang sulit ketika harus berdampingan dengan Jerome.


Kedatangannya dikediaman Aurora atas perintah Arion pun dia sadari jika kemungkinan besar akan bertemu dengan Jerome disana, hal itulah yang membuat Danilson mempersiapkan dirinya dengan alat pengacau frekuensi yang dia sembunyikan pada tubuhnya. Sayangnya rasa takut Danilson terhadap Jerome tidak mampu untuk menguasai dirinya agar tidak gugup dan bersikap mencurigakan.


"Hah? ti.. tidak, alat apa itu? kami sudah kehilangan alat itu beberapa hari yang lalu" jawab Danilson dengan panik, semakin curiga lah Jerome ketika itu dengan sikap Danilson.

__ADS_1


Perlahan Jerome membalik tubuhnya agar bisa langsung berhadapan dengan Danilson yang terlihat ingin pergi dari tempat itu, matanya menatap Danilson dengan begitu tajam. Semua kecurigaan Jerome seakan dilimpahkan semua pada Danilson, hal itu membuat Danilson berkeringat begitu deras.


"Jawab aku... jika kamu memang tidak menyembunyikan sesuatu, untuk apa kamu menggunakan alat itu?" tanya Jerome lagi begitu menekan Danilson


Danilson memilih untuk menghindari pertanyaan Jerome, dia berbalik lalu segera berlari menjauh dari Jerome. Dengan kecepatan bergerak yang dimiliki Jerome membuat Danilson tidak bisa kabur darinya, Jerome meremas kerah baju Danilson dengan tangan kirinya lalu mengangkatnya hingga kaki Danilson tidak bisa menapak dilantai. Tangan kanan Jerome pun menggeledah semua saku yang ada di pakaian Danilson untuk mencari alat pengacau frekuensi, tepat disaku celana sebelah kanan Jerome menemukan alat yang dimaksud.


Jerome meremas alat itu hingga hancur berkeping - keping, lalu dia menatap mata Danilson untuk kembali ingin membaca pikiran Danilson.


Mata sang vampir itu menatap tajam Danilson tanpa berkata apapun, kemarahan terlihat dari tatapan mata Jerome dan membuat Danilson semakin tertekan dan tidak bisa mengendalikan diri dan pikirannya.


"Jerome!! aku akan laporkan kamu kepada tuan Arion!!" ancam Danilson dengan bentakan ditengah terpojok nya karena Jerome tidak memberikan kesempatan kepada dirinya untuk pergi, namun ancaman itu tidak membuat Jerome mengurungkan niatnya.


"Aku tanya sekali lagi, apa yang Arion rencanakan kali ini?!" tanya Jerome penuh emosi


Isi hati dan pikiran Danilson yang dipenuhi skenario tentang keterlibatan Arion untuk kasus yang Aurora liput pun terungkap dengan sangat baik dengan kekuatan pikiran yang Jerome miliki. Didalam hati Danilson yang terbaca oleh Jerome saat itu, Robert ternyata telah bekerjasama dengan Arion demi membunuh dirinya. Robert tidak ubahnya seperti Danilson, mereka berdua sama - sama manusia yang menjadi anak buah Arion.


Bahkan persenjataan untuk melawan vampir yang digunakan oleh mafia juga merupakan ide dan sudah disiapkan oleh Danilson atas perintah Arion. Memanglah bukan Aurora yang menjadi target, namun kecerobohan yang dilakukan oleh Arion dan Danilson berhasil membuat Aurora dalam keadaan sekarat.


Mata sang vampir tampan yang selalu menjadi pelindung bagi Aurora itupun semakin memerah, emosinya nyaris tidak mampu dia kendalikan. Jerome begitu marah dengan semua yang telah Arion rencanakan, kelicikan Arion yang kembali ditujukan padanya malah membahayakan nyawa gadis yang sama - sama mereka cintai. Tidak hanya itu, bahkan Jerome berhasil dikecoh dengan Arion yang terlihat membantunya dalam kasus penyerangan mafia saat itu yang membuat Jerome merasa bahwa Arion tidak terlibat apapun. Tidak habis pikir Jerome ketika itu atas semua hal yang telah Arion lakukan demi mendapatkan Aurora, cara dan sikap yang Arion tunjukkan membuat Jerome merasa jika tidak bisa lagi mentolelir tindakan Arion.


Ditengah kemarahannya terhadap Danilson dan Arion saat itu, tiba - tiba suara Diego membuat Jerome mengalihkan pandangannya yang sudah dipenuhi dendam dan kebencian.


"Jerome!! apa yang kamu lakukan pada Danilson?!" bentak Diego dari belakang Jerome, dengan raut wajah penuh amarah Jerome menoleh kebelakang menatap Diego.


Ketika itu Diego melihat urat - urat Jerome membesar sampai menimbulkan alur urat baik di wajah sampai leher Jerome, matanya juga memerah menandakan jika Jerome akan berubah menjadi sosok sempurna vampirnya. Apa yang dilihat oleh Diego saat itu membuatnya gentar, tubuh Diego begitu gemetaran karena takut akan sosok menyeramkan Jerome. Dalam hati Diego berkata "I..inikah sosok vampir sebenarnya?! apa ini yang kamu lihat, Aurora?!"

__ADS_1


"Je..Jerome! ada apa? kenapa kamu tiba - tiba marah seperti itu?!" tanya Diego dengan suara gemetaran


"Tu..tuan Diego... Jerome lepas kendali!! kamu harus bawa nona Aurora pergi dari sini!!" dengan teriakan Danilson mengatakannya


Kalimat Danilson kembali memantik emosi sang vampir yang hampir merubah wujudnya itu,bagi Jerome kepedulian yang Danilson tunjukkan tidak sebanding dengan apa yang sudah Aurora alami akibat kelicikan Arion dan Danilson. Tubuh manusia Danilson ketika itu dilemparkan dengan sangat kuat oleh Jerome hingga membentur tembok dan membuat Danilson tewas seketika ditempat, kejadian yang disaksikan oleh Diego itu tentu saja membuat Diego syok dan membatu. Tubuh Danilson dilempar dengan mudahnya seakan tidak berharga oleh Jerome. Diego melihat secara langsung bagaimana vampir bisa dengan mudah membunuh manusia dengan sekali hempasan seperti membuang sebuah boneka tidak berharga.


"A... apa yang kamu lakukan..?" tanya Diego terbata dan bergetar.


Wajah Diego memucat menyaksikan semua kegilaan Jerome, untuk pertama kali Diego melihat Jerome begitu brutal memperlakukan manusia dan hal itu membuat Diego ketakutan.


Jerome tidak menjawab apapun, dia hanya berbalik lalu berjalan melewati Diego begitu saja tanpa sepatah katapun. Ketika Diego berhasil menahan rasa takutnya, dia segera berbalik untuk menatap kemana Jerome berjalan. Tapi sosok Jerome sudah hilang dari pandangan mata Diego, entah kemana dia saat itu yang membuat Diego penasaran.


Sore hari disebuah gedung megah bernama Gervaso Tower, sebuah alat yang berada diatas meja Arion berbunyi begitu keras. Arion yang saat itu duduk di kursi tepat dibelakang meja terkejut mendengar alat itu berbunyi, tangannya langsung menyentuh salah satu tombol yang ada alat itu lalu bergumam "Danilson... begitu ya...". Setelah gumaman nya itu Arion langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan pribadinya, diluar ruangan Arion melihat masih banyak karyawannya yang sedang bekerja.


"Kalian semua dengarkan aku!! aku sedang ingin melakukan sesuatu, kalian dipulangkan!! kabarkan kepada seluruh orang yang ada didalam gedung ini!!" teriak Arion ketika itu, para karyawan itu pun bingung dengan keputusan Arion.


"Aku beri kalian waktu sepuluh menit untuk segera pergi, jika tidak... nyawa kalian yang menjadi taruhannya" ucap Arion lagi sembari berjalan menuju lift yang berada dilantai itu.


Arion memasuki lift lalu menekan sebuah tombol rahasia yang berada dibalik tombol 'lantai Arion', tombol itu membawa Arion menuju lantai bawah tanah dari Gervaso Tower. Begitu pintu terbuka, Arion segera berjalan sedikit terburu - buru keluar dari lift untuk menemui beberapa orang yang bekerja sebagai peneliti dilantai bawah tanah.


"Kalian semua!! segera pergi tinggalkan gedung ini!! aku tidak bisa memberikan detailnya, tapi kalian cuma punya waktu kurang dari sepuluh menit!! kalau tidak, nyawa kalian yang menjadi taruhannya" teriak Arion ketika itu


Para pekerja dilantai dasar pun berhamburan berlari menuju lift untuk memenuhi perintah Arion, meski banyak diantara mereka yang bertanya - tanya apa yang sedang terjadi. Namun para pekerja itu tidak ada yang berani untuk membantah perkataan Arion, mereka selalu menurut apapun perintah Arion selama ini.


Ditengah kepanikan para karyawan Gervaso Tower ketika itu, Arion terlihat berjalan melawan arus. Salah satu tempat penyimpanan yang dingin menjadi tujuan Arion, tatapan mata Arion pun tertuju pada salah satu alat pendingin yang menyimpan berbagai jenis cairan yang diletakkan didalam sebuah tabung penelitian. Tangannya segera meraih ganggang pintu lemari pendingin dan tatapan matanya tertuju pada salah satu tabung kaca berisi cairan merah, ketika tangannya sudah mengambil tabung kaca itu terlihat sebuah tulisan yang terbaca 'Sampel Aurora'

__ADS_1


"Aku... akan melakukan apapun... untuk menyelamatkanmu, Aurora..." gumam Arion ketika menatap tabung kaca itu, dia memasukkan tabung itu kedalam saku jas lalu kembali berjalan keluar dari ruangan menuju lift.


"Datanglah... Jerome, kita selesaikan masalah keluarga kita yang sudah ribuan tahun berjalan" ucap Arion, tatapan matanya terlihat begitu tajam seakan dia sudah menetapkan hatinya untuk segera menyelesaikan semua konflik antar dua klan vampir.


__ADS_2