
Melewatkan hari minggu yang penuh dengan ketegangan dan ketakutan akan sosok vampir, Aurora memulai harinya kembali pada hari senin yang cerah. Hari dimana Aurora harus kembali beraktivitas sebagai direktur utama dalam kantornya. Namun Aurora masih takut untuk kembali bekerja, berada di kamarnya seakan menjadi satu - satunya tempat yang aman bagi Aurora.
Rasa takutnya sulit hilang walau Diego sudah melakukan pengamanan yang ketat untuk rumah mereka, kini setiap sudut luar rumah Aurora tampak penuh dengan lapisan perak. Berada di kantor dengan teman - teman yang aneh tetaplah menjadi hal yang membuat Aurora merinding, walau kecemasannya tentang Arion adalah sosok vampir tidak terbukti. Hal itu yang membuat Aurora enggan beranjak untuk pergi bekerja.
"Aurora!! sudah jam setengah delapan, apa kamu tidak terlambat?" tanya Diego pada Aurora dengan sedikit berteriak, Aurora masih tidak ingin keluar dari kamarnya.
Suara itu sudah Aurora duga akan terdengar dengan kalimat yang sama persis seperti pikirannya, namun Aurora masih enggan untuk beranjak dari kasurnya. Aurora sudah sangat hafal dengan tingkah Diego jika dirinya selalu terlambat untuk bekerja.
"Haah... anak itu, sudah aku bilang akan memberikannya beberapa senjata untuk melawan vampir" gumam Diego sembari berjalan menuju lantai dua dimana kamar Aurora berada.
Ketika Diego membuka pintu kamar Aurora, disana Diego melihat Aurora duduk di kasur sembari memeluk kedua kakinya. Tubuhnya terlihat tertutup oleh selimut dan hanya menyisakan bagian wajah agar dia dapat melihat sekeliling, Diego terkejut melihat Aurora yang menutup dirinya dengan selimut itu.
"Aurora, ada apa?!" tanya Diego panik
"Ada vampir ayah~!!" jawab Aurora ketakutan, Diego pun menghela nafasnya sembari berjalan mendekati Aurora.
"Kalau Jerome memang ingin menghisap darahmu, dia pasti sudah melakukannya sejak pertama kalian bertemu" celetuk Diego sembari melepaskan selimut yang membalut tubuh Aurora
"Iya terus apa?! ayah mau bilang, biarkan saja Aurora pergi keluar dan membuat banyak kesempatan untuk vampir itu menghisap darah Aurora. Gitu?!" agak membentak Aurora mengatakannya, dia terdengar sangat kesal pada ayahnya.
"Nih, bawa ini" jawab Diego sembari memberikan beberapa benda yang terbuat dari perak
Ada sebuah bola - bola perak, tongkat kecil yang juga terbuat dari perak, dan terakhir adalah semprotan bawang putih. Semua benda - benda itu diyakini oleh Diego dapat membuat vampir menjauhi Aurora, dengan penuh keraguan Aurora menerima benda - benda yang diberikan Diego.
"Ini bisa membuatmu terhindar dari vampir" ucap Diego dengan begitu meyakinkan, namun keyakinan tinggi Diego tidak berbanding lurus dengan Aurora yang nampak begitu meragukan perkataan Diego.
"Ayah... yakin? dia itu vampir loh... gerakannya bisa sangat cepat dan tidak terlihat! dia bisa tiba - tiba muncul di belakangku lalu menye..." belum selesai Aurora berkata, Diego memotongnya.
"Tidak akan terjadi kalau lehermu berbau bawang!" seru Diego menimpali perkataan Aurora
Sebuah ide konyol dari Diego berhasil membuat Aurora kesal, namun Diego juga kesal karena Aurora masih saja ragu dengan semua yang sudah dipersiapkan Diego dengan baik. Diego yang merasa sudah fasih dalam menangani vampir tentu saja sangat percaya diri dengan kemampuannya itu untuk melindungi Aurora.
"Ayah mau aku pakai parfum dari air bawang putih ini?!! bentak Aurora begitu kesal
"Ya mau gimana lagi kan? kalau kamu gak kerja, nanti kita makan apa?" timpal Diego terdengar sedih
"Ayah sebenarnya sayang sama aku gak sih?!!!" bentak Aurora begitu marah pada Diego
Setelah perdebatan antara ayah dan anak yang begitu heboh, pada akhirnya Aurora pun mau untuk berangkat kerja. Dengan membawa semua peralatan anti vampir yang diberikan Diego pada Aurora, kini Aurora sedikit mendapatkan keberanian untuk keluar dari zona amannya. Setelah berpamitan pada Diego dan menerima sedikit saran penggunaan benda - benda anti vampir ciptaan Diego, Aurora pun berjalan dengan kewaspadaan tinggi menuju kantornya.
Aroma tubuh Aurora kini benar - benar bau bawang setelah beberapa semprotan cairan bawang dia semprotkan pada bagian lehernya. Bahkan saking takutnya Aurora juga menyemprotkan pada semua bagian kulitnya yang tidak tertutup oleh kain, nalarnya gadis cantik itu sulit untuk berfikir jernih. Rasa takutnya membuat Aurora seperti bukan mantan wartawan yang punya banyak referensi tentang berita apapun.
Sepanjang perjalanan menuju kantor saat itu Aurora tidak melihat keberadaan Jerome sama sekali, dia berpikir jika Jerome takut untuk menemuinya dibawah sinar terik matahari sejak dia tahu sosok Jerome sebenarnya. Aurora pun bisa bernafas lega ketika dirinya sudah sampai didepan gerbang kantor, tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama saat dia ingat jika hari ini dia pulang dan melewati jalan yang sama pada saat matahari terbenam.
__ADS_1
"Selamat pagi Aurora" sapa salah satu orang pria setengah baya yang bekerja sebagai penjaga gedung kepada Aurora, mendapat sapaan normal itu membuat Aurora terkejut.
"Hah? apa katamu tadi?" tanya Aurora dengan nada kaget, sejenak penjaga gedung yang menyapa Aurora terdiam dengan wajah bingung.
"Aku bilang selamat pagi Aurora, apa ada yang salah?" tanya pria itu, Aurora terdiam menatap penjaga gedung yang menatapnya bingung.
"Kenapa emangnya? dia itu lebih tua darimu, ketika dia menyapa maka akan lebih sopan kalau kamu balas sapaannya seperti biasa" dengan ketus seorang pria lebih muda yang juga bekerja sebagai penjaga gedung menimpali kebisuan antara pria setengah baya dengan Aurora.
"Hah? eeh maaf! aku hanya sedang bingung! Selamat pagi juga pak!" sapa Aurora
"Sudah aku bilang, lebih baik gak usah sapa dia" timpal pria yang lebih muda kepada pria setengah baya
Perkataan pria penjaga gedung yang muda itu membuat Aurora kesal, selama ini memang antara pria itu dengan Aurora memiliki hubungan yang kurang baik. Pria setengah baya itu hanya tertawa kecil sembari mempersilahkan Aurora untuk segera masuk, walau merasa ada yang janggal namun Aurora memutuskan untuk memikirkannya nanti.
Didalam gedung Aurora bertemu teman - temannya dulu ketika masih menjadi wartawan, mereka saling sapa dan bertanya - tanya kenapa Aurora tiba - tiba bisa menjadi seorang direktur utama. Ditengah obrolan antara Aurora dan teman - teman kantornya saat itu, begitu terasa jika mantan atasan ngomongin Aurora dibelakangnya. Sikap - sikap sopan yang selama ini Aurora dapatkan, tiba - tiba hilang begitu saja berganti sikap yang Aurora duga dihari pertama dia bekerja sebagai direktur utama.
Aurora tidak begitu menanggapi komentar miring mantan atasannya itu, dia pun memutuskan untuk kembali berjalan menuju ruangan direktur utama setelah selesai mengobrol dengan teman - temannya. Didalam ruang direktur utama, Aurora melihat Revana berdiri dengan kedua tangan yang melipat dan tatapan tajam.
"Pagi... Revana..." sapa Aurora terbata
"Ini sudah jam berapa, kenapa baru datang?!" agak membentak Revana saat itu
"Haah? eeh aku..." belum selesai Aurora menjawab, Revana langsung berbalik memunggungi Aurora.
"Haah~ sudahlah, kenapa tuan Arion memintaku untuk menjadi sekretaris mu? padahal aku sudah susah payah mendaftar untuk menjadi sekertaris tuan Arion menggantikan Danilson, tapi nasibku kini malah bekerja untuk perempuan muda tidak berpengalaman dan di kantor yang kecil pula seperti ini~" terdengar sedih dan begitu menyesal Revana mengatakannya
Kejutan yang baru bagi Aurora, semua keanehan pada teman kerjanya hilang. Semua kembali normal, walau sesaat Aurora sedikit menyesal jika mengingat sikap beberapa orang yang tidak menyukainya akhirnya akan kembali dia terima. Terbayang hari - harinya akan mulai diwarnai dengan beberapa hal yang menyebalkan, setidaknya itu lebih baik bagi Aurora dibandingkan harus bekerja dengan orang aneh bertingkah seperti robot.
"Hei, kamu masih muda tapi sudah jadi direktur utama. Apa yang kamu tawarkan ke tuan Arion? kenapa tuan Arion tertarik padamu?" tanya Revana dengan sinis, Aurora menghela nafas sembari memegang dahinya.
"Aku tidak menawarkan apapun padanya dan aku tidak tertarik padanya, kalau kamu mau kamu bisa saja minta Arion untuk memindahkan mu agar bertugas lagi di Gervaso Tower" jawab Aurora datar
"Heh! gak sopan!! panggil tuan Arion dengan kata 'tuan', kamu juga harus memanggilku dengan kata nona karena aku lebih tua darimu meski kamu adalah direktur disini!!" bentak Revana
Ditengah percakapan diantara keduanya, tiba - tiba seseorang membuka pintu ruang direktur tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Serentak Aurora dan Revana menoleh menatap pintu yang mulai terbuka perlahan, betapa terkejutnya Aurora ketika mengetahui Jerome yang membuka pintu itu. Tubuh Aurora langsung gemetaran, bulu kuduknya berdiri, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Hei!! siapa kamu?!! seenaknya masuk ke..." belum selesai Revana berkata, Jerome menatap Revana dengan tatapan tajam yang begitu mengerikan.
"Diam dan keluar kau!" bentak Jerome ketika itu, Revana pun langsung terdiam dan ketakutan.
Perlahan Revana berjalan keluar dari ruangan itu, Aurora meminta Revana untuk tidak meninggalkannya tapi Revana terlalu takut untuk berada ditempat itu. Begitu Revana keluar, pintu pun terdengar sudah tertutup rapat. Kini hanya menyisakan Aurora dan Jerome di ruangan itu, hanya ada jendela tempat untuk Aurora bisa lari dari tangkapan Jerome namun mengingat ini adalah lantai dua maka melompat dari jendela merupakan pilihan nomer kesekian bagi Aurora.
"Ma... mau apa kamu?!" tanya Aurora dengan bentakan meski suaranya gemetaran
__ADS_1
Keduanya kini saling bertatapan, gadis cantik pemilik darah suci dan vampir tampan yang baik hati itu kembali bertemu walau hubungannya mulai memburuk. Aurora membawa ketakutannya yang terlihat jelas dihadapan Jerome, hal itu membuat Jerome sedih karena dia tidak berniat buruk untuk Aurora.
"Aku hanya ingin bicara denganmu, Aurora" jawab Jerome yang suaranya terdengar lembut agar Aurora tidak semakin panik, tanpa memperdulikan ucapan Jerome dengan segera Aurora mengeluarkan tongkat kecil dari perak dan beberapa bola - bola perak yang sebelumnya diberikan Diego kepadanya.
"Pergi kamu, Vampir!! aku gak mau jadi santapan mu!!" bentak Aurora lagi
"Tolong dengarkan aku, aku tidak tertarik untuk menghisap darahmu. Aku cuma ingin bicara denganmu" timpal Jerome
"Aku tidak percaya padamu vampir!! kamu pasti saat ini haus darah kan?! kenapa aku?! kenapa aku yang sudah baik padamu?!!" masih dengan bentakan Aurora mengatakannya
Setiap perkataan yang Aurora lontarkan selalu disertai dengan lemparan bola - bola perak kepada tubuh Jerome, semua tenaganya dia kerahkan agar bisa tepat mengenai sasaran dan mampu membuat Jerome pergi meninggalkannya karena tidak mampu bertahan.
"Dengarkan aku dulu!! aku tidak..." belum selesai Jerome berkata, Aurora melemparkan bola - bola perak itu ke Jerome.
Bola - bola yang mengenai tubuh Jerome membuat tubuh Jerome mengeluarkan asap seperti terbakar, Jerome merintih kesakitan setiap bola - bola perak itu mengenainya. Semakin yakinlah Aurora jika Jerome adalah vampir, ketakutan semakin menyelimuti dirinya.
Semakin brutal Aurora melemparkan semua bola - bola perak itu kearah Jerome, namun Jerome hanya terus berusaha menghindari semua lemparan itu tanpa merubah posisinya berdirinya saat itu. Hingga pada titik Aurora sudah kehabisan bola - bola perak, melihat senjatanya sudah habis Aurora berpikir untuk melewati Jerome untuk keluar melewati pintu. Aurora mengancam Jerome dengan mengacungkan tongkat perak kearah Jerome, namun Jerome masih diam dan meminta Aurora untuk tenang dengan gestur tangannya.
"Sudah puas? sekarang diam dulu dan biarkan aku bicara, oke?" tanya Jerome
"Tidak!! aku tidak mau bicara sama vampir!! minggir dari sana!!" jawab Aurora dengan bentakan
"Ayolah Aurora, aku hanya ingin bicara denganmu" ucap Jerome memaksa, Aurora menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu dia terlihat menangis.
"Tolong...~ tolong lepaskan aku... aku gak mau jadi santapan mu..." ucap Aurora dengan air mata yang deras keluar dari matanya, melihat Aurora yang menangis itu membuat Jerome merasa bersalah namun Jerome harus tetap memaksa Aurora untuk tetap berasa disana dan mengobrol dengannya.
"Aku... aku harusnya percaya kata Arion... aku harusnya meninggalkanmu dan tidak bertemu denganmu lagi... kenapa...? kenapa kamu jahat padaku...? kenapa Jerome? padahal aku percaya padamu kalau kamu adalah orang baik.... kenapa kamu mengincar ku untuk kamu jadikan santapan...? kamu jahat..." terbata Aurora mengatakannya
Air mata gadis cantik pemilik darah suci itu membuat Jerome merasa sedih dan kecewa dengan kenyataan bahwa dirinya adalah vampir yang berhasil membuat Aurora ketakutan akan menjadi santapan baginya. Jerome mengingat kembali bagaimana awal pertemuannya dengan Aurora, gadis yang dia tolong itu ternyata adalah gadis yang mampu meneruskan keturunan vampir.
Jerome begitu tulus ingin berteman dengan Aurora, kebaikan hati Aurora membuat Jerome merasa nyaman untuk selalu berada disisi Aurora. Namun tidak bisa dia hindari ketika aroma bawang yang Aurora bawa berhasil mengungkap sosoknya yang sebenarnya, kekecewaannya itupun sangat mendalam dan Jerome ingin agar Aurora sadar bahwa dia tidak akan menjadikan Aurora santapan agar dirinya terus bertahan hidup di dunia manusia ini.
Jerome menyesal telah menjadi sumber ketakutan bagi Aurora, dia pasrah ketika tubuhnya merasakan panasnya terbakar perak agar Aurora tidak lagi merasa bahwa kehadirannya adalah sebuah ancaman yang menakutkan bagi Aurora.
"Maaf... Aurora...." gumam Jerome tiba - tiba ditengah tangisan Aurora saat itu
Aurora yang mendengarkan gumaman Jerome pun terkejut, seketika matanya mantap Jerome yang terlihat begitu menyesal telah membuat Aurora ketakutan. Tiba - tiba Jerome merubah sosoknya menjadi manusia setengah kelelawar dihadapan Aurora, melihat sosok menyeramkan itu membuat Aurora terdiam karena syok.
"Je...ro...me..." gumam Aurora karena syoknya melihat sosok itu
Dengan cepat Jerome bergerak maju dan menabrak tubuh Aurora lalu memeluknya dan membawa Aurora keluar dari ruangan itu melewati kaca jendela, mereka berdua pun terbang ke langit biru cerah pada pagi itu. Karena terlalu syok, Aurora sampai tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa pasrah jika memang ini adalah akhir dari hidupnya.
Tatapan mata Aurora terlihat kosong menatap langit dalam pelukan tubuh berotot setengah kelelawar Jerome, isi dalam otaknya hanya kapan ini akan berakhir, apakah akan sangat sakit mati karena digigit vampir, dan bagaimana ayahnya jika dia mati....
__ADS_1
Semua lamunan itu terhenti ketika Jerome mendarat ditengah hutan rimba yang begitu rimbun, Jerome melepaskan pelukannya dan membiarkan Aurora untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Perlahan Jerome mundur beberapa langkah dan membiarkan Aurora melihat sosok aslinya, seketika itu Aurora terduduk karena kakinya sudah tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya.
"Selamat... tinggal... dunia..." gumam Aurora terdengar begitu pasrah menatap hari - hari terakhirnya di dunia.