
"Ingat Aurora, jangan sampai kamu dan Arion bertemu berdua ditempat tanpa cahaya matahari, selalu bawa bawang yang mudah kamu jangkau, dan pastikan tempatmu itu disinari matahari langsung! apa kamu mengerti?" ucap Diego pada Aurora sembari memberikan sebungkus bawang putih yang banyak kepadanya
Bersemangat Diego menjelaskan semua secara detail kepada Aurora, Diego sangat bahagia karena kini Aurora mulai mengikuti jejaknya untuk mencari keberadaan vampir.
Senyum lebar menghias di wajah Diego ketika akan melepas kepergian Aurora untuk bekerja, Aurora pun menerima plastik berisi bawang yang diberikan padanya lalu mengangguk dengan penuh keyakinan. Aurora kini meyakini jika Arion adalah sosok vampir, dia kini sependapat dengan Diego sang ayah.
"Aku mengerti!" timpal Aurora dengan tegas tanpa keraguan
Aurora Varsha kini seakan bekerja sama dengan Diego untuk membuktikan kecurigaan mereka, dengan sedikit rasa cemas dan takut Aurora meyakinkan dirinya agar tenang dan semua rencananya bersama sang ayah pasti berhasil.
"Baiklah, apa ada yang tertinggal?" tanya Diego
"Sepertinya tidak ada, aku berangkat dulu ayah" jawab Aurora
Diego melepas kepergian Aurora dari rumah dengan penuh semangat berharap Aurora dapat membuka penyamaran Arion, namun Aurora kini merasa takut dan gugup jika benar terbukti Arion adalah vampir. Aurora mulai berpikir yang tidak - tidak ketika Arion menunjukkan sosok aslinya, Arion pasti akan langsung menggigit lehernya lalu menghisap seluruh darahnya sampai dia kering menjadi mumi.
"Hiii~ serem... bagaimana caraku kabur ketika Arion menunjukkan sosok aslinya? apa bawang ini cukup untuk melindungi ku?" gumam Aurora ditengah perjalanannya menuju kantor
Keberadaan semua teman kantornya yang aneh semakin menambah kecemasan Aurora, dia masih meyakini bahwa semua teman kantornya dalam pengaruh jahat Arion Gervaso. Ketakutan akan diserang oleh mereka ketika Aurora berhasil mengungkap siapa sebenarnya seorang Arion menghantui pikiran Aurora, tentu saja karena mereka semua anak buah Arion yang setia setelah pengaruh jahat yang ditanamkan oleh Arion pada teman kerja Aurora.
Gambaran dirinya akan dihisap darahnya oleh Arion pun tiba - tiba tergambar jelas di kepalanya. Aurora dengan semua kekalutannya mulai bimbang dan ragu untuk melanjutkan rencananya itu.
"Aaa~ benar juga... kenapa aku sok kuat dihadapan ayah? apa aku kabur saja ya biar Arion tidak menemukanku?" gumam Aurora lagi
Ditengah kebimbangannya itu, Aurora pun sampai didepan pagar gedung kantornya. Aurora melihat dua orang penjaga gedung yang sangat dia ketahui telah dibawah pengaruh jahat Arion, saat itu kaki Aurora begitu ragu untuk terus melangkah masuk kedalam gedung. Tapi tekadnya untuk membongkar penyamaran Arion sangat kuat, perlahan Aurora melangkahkan kakinya untuk mendekati dua penjaga gedung.
"Selamat pagi nona Aurora, semoga pagi ini anda diberkahi kebaikan seperti halnya tuan Arion yang baik kepada kami" serentak dua penjaga itu mengatakannya, seketika itu bulu kuduk Aurora pun berdiri.
"Selamat pagi juga kalian" sapa balik Aurora sembari terus berjalan masuk kedalam gedung
Namun rasa tegang tidak berhenti sampai disana karena didalam gedung Aurora akan bertemu teman - teman dan juga mantan atasannya yang juga dalam pengaruh jahat Arion, seperti dugaan Aurora saat itu para rekan - rekan kerjanya menyapa dan memuji - muji Arion dihadapan Aurora.
Aurora membalas sapaan mereka semua sembari terus melangkahkan kakinya dengan cepat, didepan pintu ruang direktur utama saat itu Aurora langsung membuka, masuk kedalam, lalu menutup pintu dengan sangat cepat. Kini mata Aurora pun menatap kanan kiri untuk mencari keberadaan Revana, seorang sekertaris yang ditunjuk langsung oleh Arion untuk membantu pekerjaan Aurora.
Tapi pagi itu Revana belum sampai di kantor, Aurora merasa mendapatkan kesempatan emas untuk menyebarkan bawang putih di seluruh ruanganĀ kantornya dan memikirkan bagaimana cara kabur dari ruangan ini jika sewaktu - waktu Arion datang dan menunjukkan sosok aslinya.
"Selesai menyebar ini, bagaimana cara membuat Arion datang kekantor ini? mengundangnya tanpa alasan tentu akan menimbulkan kecurigaan" gumam Aurora sembari menyebar bawang putih di setiap sudut ruangan itu.
__ADS_1
Suara ketukan pintu mengagetkan Aurora yang masih tegang dengan suasana hatinya, terlebih baru saja dia selesai menabur bawang disebagian ruang kerjanya. Dengan suara yang mulai tenang Aurora mempersilahkan pengetuk pintu untuk masuk, Revana yang muncul dari balik pintu membuat Aurora sedikit tenang. Kini dikepalanya adalah mencari alasan untuk Revana tentang aroma bawang yang menyebar di ruangannya.
"Selamat pagi nona Aurora, semoga hari ini menjadi hari baik. Sebaik tuan Arion kepada kami" sapa Revana
"Selamat pagi Revana, maaf ya aku menjatuhkan belanjaanku untuk makan malam nanti. Ruangan ini jadi agak sedikit bau" ucap Aurora menimpali sapaan Revana
Sebuah alasan yang klise namun Aurora sangat yakin bahwa Revana akan mempercayai alasannya, sedikit waktu yang dimiliki Aurora dia manfaatkan sebaik mungkin untuk memuluskan rencananya.
"Nona Aurora tenang saja, Revana akan segera memanggil..." belum selesai Revana berkata, Aurora memotong perkataannya.
"Tidak usah, aku suka dengan aroma bawang putih" timpal Aurora dengan tegas
"Baiklah nona Aurora, anda memiliki kesukaan yang unik seperti tuan Arion. Revana rasa nona akan sangat cocok jika menjadi pasangan tuan Arion" ucap Revana, mendengar kalimat itu membuat Aurora kesal lalu dia mengernyitkan dahinya.
"Aku masih suka manusia" celetuk Aurora
Bersamaan dengan celetukan Aurora suara ketukan pintu kembali terdengar, serentak Aurora dan Revana menatap pintu ruangan yang tertutup itu. Aurora mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk, perlahan pintu terbuka dan betapa kagetnya Aurora ternyata yang datang adalah Arion dan Danilson.
Kagetnya Aurora saat itu bukan hanya karena kedatangan Arion yang tiba - tiba dan kebetulan dia sejak tadi berpikir cara untuk mengundang Arion untuk datang ke kantornya, tapi karena hubungan buruk diantara keduanya paska makan siang bersama di tower Gervaso. Namun ekspresi kaget Aurora tidak berlangsung lama, senyum liciknya terlihat digaris senyumnya.
Ketika masuk kedalam ruangan saat itu Arion menatap kanan - kiri seakan sedang mencari sesuatu, Aurora memahami kenapa Arion tiba - tiba bersikap aneh seperti itu. "Aroma bawang putih membuatmu terganggu ya, vampir" ucap Aurora didalam hatinya
"Hah?! eeh maksudku, ma.. maaf Arion, aku tidak tahu kamu akan datang! ta.. tadi belanjaanku untuk makan malam terjatuh dan beberapa sayuranku bertebaran, aku belum sempat untuk membereskan kekacauan ini!" jawab Aurora dengan nada yang terdengar panik
Dalam hati Aurora berpikir "Ada apa ini? kenapa Arion tidak beraksi sama bau bawang putih?! bukankah dia vampir?!!"
Reaksi Arion yang tidak sesuai dengan dugaan Aurora kini membuatnya terheran, penuh tanya dalam benak Aurora. Namun dia masih memiliki satu cara yaitu sinar matahari, mencoba mencari kesempatan untuk melaksanakan niatnya Aurora mencari celah agar Arion dapat terkena sinar matahari langsung saat itu.
"Aa.. ada apa kamu datang, Arion? kenapa tidak menghubungiku dulu?" tanya Aurora, seketika itu tawa Arion terhenti lalu tatapan mata Arion pun terlihat begitu menyesal.
"Aku datang secara khusus untuk meminta maaf padamu, Aurora..." jawab Arion dengan nada penuh penyesalan
"Hah?! maaf? untuk apa?!" tanya Aurora terkejut
"Untuk bentakanku kemarin, tidak seharusnya aku membentak mu seperti itu kemarin" jawab Arion terdengar begitu menyesal
Seorang Arion Gervaso yang sombong dan angkuh datang untuk meminta maaf kepada Aurora, sungguh aneh bagi Aurora. Dengan pikirannya yang mulai mencurigai Arion seorang vampir, Aurora tidak ingin lengah sedikitpun. Senyum sinis Aurora tampakkan lalu berkata....
__ADS_1
"Aku tidak masalah, duduklah dulu Arion... kita bicarakan ini baik - baik" ucap Aurora
Arion pun menerima permintaan Aurora untuk duduk disebuah sofa yang berada di ruangan itu, Arion memilih tempat yang tidak terkena sinar matahari karena sebuah gorden menghalangi cahaya matahari dari jendela kantor. Tapi Aurora sudah menduga Arion akan duduk ditempat itu, kakinya perlahan mendekati gorden lalu membuka gorden itu agar sinar matahari tidak terhalangi dan tepat mengenai Arion.
"Aku buka saja ya, Arion! disini aku menerapkan penghematan listrik untuk menghemat anggaran operasional kantor!!" agak berteriak penuh semangat Aurora mengatakannya, tangannya saat itu sudah membuka semua gorden yang menghalangi cahaya matahari agar mengenai tubuh Arion secara langsung.
"Ooh tidak masalah, lakukan saja" timpal Arion dengan datar dan terlihat baik - baik saja
Seketika itu Aurora merasa menjadi orang bodoh, dua tes yang dilakukan oleh Aurora untuk membuktikan jika Arion adalah vampir menghasilkan sesuatu yang mengecewakannya. Arion tidak bereaksi sama sekali oleh dua tes yang dilakukan dan malah cenderung menatap Aurora dengan raut wajah heran, tatapan Arion seakan mengatakan "Kamu ini orang bodoh ya, jaman sekarang masih percaya vampir"
"Ada apa?" celetuk Arion karena Aurora terlihat syok berat
"Aaa.. ahaha.. tidak ada apa - apa Arion.. tidak usah dipikirkan!! aku cuma... merasa jadi orang bodoh sedunia~" jawab Aurora lalu dia berbalik memunggungi Arion karena sangat malu, Aurora sangat malu atas kebodohannya sendiri percaya perkataan Diego.
Dalam hati Aurora berkata "Aaaa~ siall!!! karena panik aku sampai tidak bisa berpikir jernih dan logis!!"
"Kamu benar baik - baik saja, Aurora?" tanya Arion dengan nada khawatir, Aurora berbalik dan tersenyum semanis mungkin sampai membuat Arion terpesona.
"Maaf Arion.. aku baik - baik saja, kedatanganmu yang mendadak membuatku sedikit... panik" jawab Aurora, senyum Arion pun terangkat dari garis senyumnya.
"Lalu bagaimana dengan permintaan maafku? apa kamu memaafkan ku?" tanya Arion
"Tidak usah dipikirkan, Arion. Aku baik - baik saja. Tapi... benarkah kamu menemui ku cuma untuk meminta maaf?" tanya Aurora penasaran, Arion tertawa kecil lalu duduk bersandar di sofa itu terlihat begitu santai dengan menumpu kaki kanannya di atas lutut kaki kiri selayaknya bos.
"Tujuanku ada dua, pertama meminta maaf padamu dan kedua ingin melihat progres mu menjadi seorang pemimpin dari perusahaan" jawab Arion
"Bukankah dua tujuanmu itu bisa kamu lakukan dengan cara memanggilku ke kantormu? kenapa repot - repot kemari?" tanya Aurora lagi
"Jiwa wartawan mu tidak bisa hilang ya" jawab Arion dengan sindiran, mendapatkan sindiran itu membuat Aurora kesal.
"Iya iya maaf aku terlalu banyak tanya!" dengan nada yang terdengar begitu sebel Aurora mengatakannya, Arion tertawa kecil mendengarkan kekesalan hati Aurora saat itu.
"Aku sedang senggang, Aurora. Lagian disini sangat nyaman, jadi aku mungkin betah berada ditempat ini" ucap Arion dengan lembut, perkataan Arion semakin memupuskan kecurigaan Aurora yang berpikir jika Arion adalah seorang vampir.
Saat itu Arion menjadi sosok yang berbeda bagi Aurora, sosoknya yang tiba - tiba lembut mulai melunakkan hati Aurora. Tentu saja kegagalan dua tes yang dilakukan Aurora juga semakin meragukan dugaannya bahwa Arion adalah seorang vampir.
"Aku mengerti, apa kamu ingin aku mempresentasikan hasil belajarku bersama Revana? jika iya, aku akan segera presentasi sekarang agar kamu tidak menyesal sudah memintaku menjadi pemimpin perusahaan yang sudah kamu ambil alih ini" ucap Aurora sembari tersenyum manis menatap Arion, senyum manis itu kembali membuat Arion terpesona.
__ADS_1
"Boleh, tunjukkan padaku hasil yang kamu dapat. Aku bisa menilai mu cepat belajar atau tidak, dan jika kamu mengecewakanku maka jangan salahkan aku kalau gajimu aku potong ya" timpal Arion, garis senyumnya kembali terangkat ketika mengatakannya.
Senyuman Arion saat itu dilihat oleh Danilson yang sedari tadi berdiri didekat pintu masuk ruang direktur, Danilson terlihat sangat senang melihat senyum Arion. "Tuan Arion, sepertinya nona Aurora benar - benar mencuri hatimu ya. Semoga kamu bisa mencuri hatinya agar hati dingin mu bisa segera mencair" ucap Danilson dalam hati