Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Bertahanlah


__ADS_3

Hawa panas karena api yang masih menyala dan penuhnya asap yang masih berada didalam gedung bank terasa semakin menyesakkan dada bagi gadis cantik bernama Aurora Varsha, yang harus mengetahui kenyataan bahwa kedua kaki Jerome tertembus peluru yang ditembakkan oleh perampok ketika menyelamatkannya.


Tatapan matanya yang terkejut dengan air mata yang menetes tanpa dia sadari dengan segera diarahkannya pada kedua kaki Jerome yang terjulur lurus ke depan, dua lubang bekas tembakan terlihat menembus paha kanan dan betis Jerome hingga melewati celana jeans yang Jerome kenakan. Asap putih keluar dari kedua lubang itu menjadikan pertanda jika bagian kaki Jerome sedang terbakar.


Perlahan dengan dada yang terasa sesak Aurora menatap Jerome yang tersenyum menatap dirinya dengan tenang. Wajah Jerome seakan mengatakan jika semua baik - baik saja dan meminta Aurora untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Sekuat apapun Jerome untuk menahan rasa panas menyiksa yang dia derita, tidak mampu menipu Aurora yang sangat tahu jika vampir tampan dan baik hati itu sedang kesakitan karena peluru perak itu bisa saja menghancurkan kedua kaki Jerome. Aurora sangat paham jika peluru perak itu adalah kelemahan Jerome sebagai vampir, hal itulah yang membuat Aurora merasa khawatir dan bersalah.


"Ma... maaf... gara - gara aku.. kamu.." belum selesai Aurora berkata, Jerome memotong


"Memang ini karena kesalahanmu" timpal Jerome dengan tegas, seakan tidak memperdulikan kesedihan Aurora.


Jerome tahu jika Aurora sedang dalam perasaan bersalah, memberi jawaban yang menyebalkan akan membuat mood Aurora berubah. Kebersamaan keduanya yang membuat Jerome paham cara memperlakukan Aurora dengan baik, Jerome hanya tidak ingin membuat Aurora khawatir dan merasa bersalah secara berlebihan.


Respon mengejutkan Jerome membuat Aurora kehilangan rasa khawatirnya, meski merasa apa yang Jerome alami adalah kesalahannya tapi respon dari Jerome tidak sesuai dengan apa yang Aurora pikirkan.


"Dasar vampir tidak berperasaan!! setidaknya kamu bilang itu bukan salahku kek, atau gimana gitu supaya aku tidak terlalu merasa bersalah!! tidak berperasaan!! vampir dingin!!" bentak Aurora.


Melihat Aurora yang marah - marah itu malah membuat Jerome tergelitik, rasa takut, khawatir dan cemasnya seketika hilang entah kemana. Perlahan tangan Jerome menggenggam kepala bagian belakang Aurora, lalu menariknya sampai dahi Aurora menempel pada dahinya.


"Melihatmu baik - baik saja itu sudah cukup untuk meredakan rasa sakit ini, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku" dengan suara yang terdengar lembut Jerome mengatakannya


Wajah Aurora pun memerah, dengan dahi yang masih menempel pada dahi Jerome dan kepala yang masih tertunduk raut wajah tersipu malu gadis cantik itu terlihat menggemaskan. Rona merah di pipinya membuat Aurora tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Jerome karena malu.


"Sepertinya kita tidak diberi waktu untuk istirahat" celetuk Jerome tiba - tiba


Ketika itu Aurora mendengar suara langkah kaki dari beberapa orang yang mendekati mereka, ketika Aurora berbalik dia sudah melihat beberapa orang menodongkan pistol kearah mereka. Ketakutan kembali menyelimuti hati Aurora, tatapan mata para perampok itu mengisyaratkan jika tidak ingin memberikan ampun kepada keduanya.


"Tu... tunggu... kita... bisa bicarakan ini... kan...?" tanya Aurora terbata, suaranya begitu bergetar.


"Aurora... selamat tinggal..." celetuk Jerome saat itu


Mendengar celetukan Jerome membuat Aurora bingung, ketika Aurora menoleh saat itu Jerome sudah merubah wujudnya menjadi setengah kelelawar yang sedang mengepakkan sayapnya sembari berlutut. Bersamaan dengan itu suara bombardir tembakan yang begitu keras terdengar dan menggema di ruangan, Jerome langsung menyelimuti tubuh Aurora didalam dekapan kedua sayap Jerome.


Didalam dekap hangat sang Vampir, Aurora bisa merasakan setiap kulit tebal dari sayap milik Jerome dihujam dengan begitu banyak peluru yang memang diarahkan ke tubuh vampir Jerome. Suasana itu mencekam bagi Aurora, dia merasa aman akan dirinya namun cemas dengan keadaan Jerome.


Tidak Jerome biarkan satu peluru pun untuk menembus pertahanannya agar tidak mengenai gadis cantik dari ras manusia yang begitu Jerome cintai. Perlahan kepala Jerome tertunduk dan Aurora yang mendongakkan kepalanya bisa dengan jelas melihat wajah jerome dari balik dekapan sayap sang vampir, perlahan mata Jerome tertutup namun senyum teduhnya masih bisa Aurora lihat, Jerome sedang dalam keadaan yang kritis dan membuat Aurora menangis penuh sesal.


"Jer...rome..." celetuk Aurora, tangan Aurora dia arahkan ke pipi Jerome untuk mencoba menyadarkannya. Tapi tidak ada reaksi yang ditunjukkan Jerome, merasa Jerome sudah mati membuat hati Aurora merasakan sakit hati.

__ADS_1


"Jerome!!!" teriak Aurora ketika menyadari jika Jerome sudah mati dari tembakan para perampok


Tidak lama terdengar bunyi runtuhan atap gedung dan erangan kesakitan dari para perampok, suara itu menarik perhatian Aurora namun karena sayap Jerome membuat Aurora tidak tahu apa yang terjadi diluar sana. Tidak lama suara erangan pun berhenti dan terdengar sunyi lagi, perlahan sebuah jari jemari terlihat di celah kedua sayap Jerome yang melindungi Aurora. Ketika sayap itu terbuka lebar, Aurora melihat Arion dengan wujud manusia yang membuka kedua sayap Jerome.


"Aurora, kamu baik - baik saja?" tanya Arion yang begitu mengkhawatirkan Aurora


Tangisan Aurora kembali pecah melihat harapan masih ada, dia langsung berdiri dan memeluk Arion dengan sangat erat. Air matanya yang deras itu membasahi jas dan baju Arion, tapi Arion membiarkannya meski ini merupakan kali pertama vampir ini betah dengan baju yang terkotori oleh orang lain. Arion menatap tubuh kaku Jerome yang mengeluarkan banyak asap dari tembakan yang diterimanya secara langsung, perlahan tangan Arion dia arahkan di kepala Aurora kemudian mengusapnya dengan lembut.


"Dia melakukan yang memang seharusnya dia lakukan" celetuk Arion


"Selamatkan dia!! tolong selamatkan dia... Arion..." timpal Aurora


"Tidak ada yang bisa dilakukan Aurora, terlalu banyak perak yang masuk kedalam tubuhnya. Dia tidak mungkin bisa menahan rasa sakit itu, ini sudah.... berakhir untuknya" ucap Arion menolak permintaan Aurora, mendengar perkataan Arion membuat Aurora kecewa.


"Kamu pasti tahu sesuatu!! aku yakin kamu tahu apa yang bisa menyelamatkannya!! tolonglah Arion... aku mohon padamu..." ucap Aurora sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Arion


Mereka berdua saling bertatapan mata, tapi tetap saja Arion tidak mengatakan apapun demi menyelamatkan Jerome. Arion hanya menggelengkan kepala sembari berjalan melewati Aurora untuk mendekati jasad Jerome yang sudah kaku itu, tangan Arion menutup mata Jerome lalu merebahkan tubuh Jerome dilantai.


"Darahku.... darahku bisa memberinya kekebalan terhadap perak kan, Arion?" celetuk Aurora ketika itu, mendengar perkataan Aurora membuat Arion terkejut.


Aurora dengan kepanikannya masih terus berusaha membujuk Arion agar menyelamatkan Jerome, meskipun dalam hati Aurora memiliki keraguan karena kedua vampir itu telah berseteru untuk dirinya. Seketika Aurora sadar jika intisari darah manusia adalah hal yang mampu membuat vampir bertahan, terlebih dirinya yang memiliki darah suci. Aurora meyakini hanya cara itulah yang mampu menyelamatkan Jerome.


"Jika memang tidak ada cara lain, aku akan memberikan darahku padanya!!" bentak balik Aurora


"Aurora, kamu tidak mengerti!! saat kamu memberikan darahmu padanya, dia akan langsung menyerang mu!! aku dan Jerome sudah berusaha keras untuk tidak menghisap darah dari manusia secara langsung, tapi kalau kamu lakukan itu maka Jerome tidak akan bisa lagi menahan nafsu vampirnya!!" masih dengan membentak Arion mengatakannya, sejenak Aurora terdiam dan menatap wajah Arion.


Meskipun tidak memiliki hubungan sedekat dengan Jerome, Aurora memahami beberapa sifat Arion karena Arion pernah memberinya kesempatan untuk mewawancarai sosok seperti apa Arion itu. Aurora yang mengetahui Arion memiliki sifat yang licik paham jika Arion tidak akan menjawab pertanyaannya begitu saja, sampai pada akhirnya kalimat pamungkas Aurora berhasil membuat Arion memberikan jawaban kepada Aurora secara tersirat.


"Akhirnya kamu mengerti, ide mu itu..." belum selesai Arion berkata, Aurora memotong


"Memang bisa ya... terima kasih informasinya, Arion.." timpal Aurora sembari berjalan melewati Arion untuk mendekati jasad Jerome, tangan Arion langsung menggenggam lengan Aurora untuk menahan langkahnya.


"Tu..tunggu!! Aurora kamu..." belum selesai Arion berkata, Aurora langsung membanting Arion hingga tersungkur dilantai.


"Jangan halangi aku, selama aku masih hidup aku tidak akan biarkan dia mati" ucap Aurora dengan tegas,.


Kekuatan yang Arion berikan kepada Aurora memanglah besar, namun Arion tidak menyangka jika Aurora akan menghempaskan tubuhnya demi seorang Jerome. Rivalnya dalam memperebutkan cinta Aurora.

__ADS_1


Dalam posisi terbaring dilantai, Arion menatap Aurora yang berdiri menatapnya. Arion merasakan kesungguhan yang dimiliki Aurora untuk menyelamatkan Jerome, meski kesal tapi Arion merasa tidak mungkin dia akan terus menghalangi Aurora karena akan membuat citranya buruk dihadapan Aurora.


"Bagaimana kalau aku yang ada diposisi Jerome, apa kamu akan melakukan hal yang sama?" tanya Arion memecah keheningan


"Aku...." jawab Aurora menggantung


Keduanya kembali terdiam, perlahan Aurora mengalihkan pandangannya dan berbalik hendak berjalan mendekati Jerome kembali. Arion merasakan sakit hati dengan sikap yang ditunjukkan Aurora kepadanya, perbedaan sikap yang diberikan Aurora kepada dua vampir ini membuat Arion begitu cemburu.


"Aku tidak tahu... aku tidak bisa menjawabnya..." ucap Aurora meneruskan kalimatnya yang sempat dia gantung sebelumnya


"Aku mengerti, lakukanlah. Aku akan berusaha melindungi mu dari kemungkinan terburuk" timpal Arion sembari beranjak dari posisinya, Arion segera membersihkan debu - debu yang menempel pada bajunya dan berjalan menjauh sedikit dari posisi Aurora dan jasad Jerome.


Sebuah pecahan kaca yang tergeletak didekatnya Aurora ambil dengan tangan yang bergetar, tak sampai disitu bahkan degup jantungnya semakin cepat dia rasakan. Pecahan kaca itu dia arahkan perlahan ke urat nadinya dan berniat untuk menyobeknya sedikit lalu meminumkan darahnya kedalam mulut Jerome yang sedikit terbuka. Tangan Aurora terlihat gemetaran, nafasnya menderu dengan hebat dia begitu takut untuk melakukannya namun hanya itu satu - satunya cara yang Aurora tahu demi bisa menyelamatkan Jerome.


"Kalau kamu setakut itu, kamu tidak harus melakukannya" celetuk Arion terdengar mengejek, perkataan Arion menarik perhatian Aurora dan dia segera menoleh menatap Arion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sempat terdiam sejenak dan saling menatap, tiba - tiba Aurora tertawa kecil.


"Tolong, lindungi aku ketika dia sudah... bangkit, aku mohon padamu... aku tidak mau menjadi vampir" celetuk Aurora dengan senyuman yang dia arahkan kepada Arion. Menjadi tempat untuk berlindung bagi Aurora membuat Arion merasa sedikit memiliki harapan jika Aurora akan membutuhkan dirinya, Arion bahagia dengan kalimat yang dia dengar dari Aurora.


Satu robekan kecil berhasil melukai nadi pergelangan tangan Aurora, darah suci itu mengalir dengan perlahan setetes demi setetes hingga berlangsung deras kedalam mulut Jerome. Namun vampir itu belum menunjukkan reaksi apapun.


Kulit putih Aurora kini memucat, bulir keringat dingin membasahi tubuh mungil Aurora. Tatapan gadis itu kini mulai kabur dan berkunang - kunang, sedikit saja lebih lama darah itu tidak berhenti mengalir akan membuat Aurora pingsan karena badan Aurora mulai goyah seakan hendak terjatuh. Sebuah gerakan dari tenggorokan Jerome memberi Aurora kekuatan untuk bertahan, gerakan yang membawa harapan bagi Aurora jika usahanya tidak sia - sia. Senyum Aurora terlihat sampai pada akhirnya Arion merubah wujudnya menjadi setengah kelelawar dan berteriak kencang berhasil membuyarkan konsentrasi Aurora. Kepalanya dia arahkan untuk melihat Arion dengan sisa tenaganya karena darah yang mengalir cukup banyak keluar dari pergelangan tangan Aurora.


"Arion... apa yang kamu la..." belum selesai berbicara, tiba - tiba Aurora merasakan jika Jerome telah bangkit.


Nafas Jerome terdengar menggebu - gebu didekatnya, Aurora pun merasakan jika tangannya sedang dipegangi oleh seseorang. Ketika kepalanya kembali menoleh untuk melihat apa yang terjadi, Jerome terlihat begitu menyeramkan.


Meski Aurora sudah tahu wujud asli Jerome, tapi ada hal berbeda yang baru Aurora lihat saat itu. Taringnya keluar sangat besar, bola matanya memerah penuh, dan nafasnya yang menggebu - gebu itu menambah aura seram yang ditunjukkan Jerome kepadanya.


"Jero...me...?" agak bergumam Aurora ketika itu


Jerome berteriak sangat keras sampai membuat seluruh kaca di ruangan itu pecah seketika, teriakan itu juga membuat Aurora pingsan. Ketika Aurora pingsan, Jerome melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Aurora.


"Sadar juga kau, Jerome" ucap Arion


Tanpa berkata apapun tiba - tiba Jerome menyerang Arion dengan cara menabrakkan tubuhnya ke tubuh Arion sampai membentur sebuah tembok. Kerasnya serangan Arion sampai membuat Arion kembali ke wujud manusianya, Arion tidak menyangka Jerome akan menjadi sekuat itu setelah menerima darah suci dari Aurora.


"Arion... jaga Aurora... jangan sampai aku mendengar mu... menghisap darahnya, atau aku... akan memusnahkan dirimu..." ancam Jerome dengan nada yang sedikit menggeram.

__ADS_1


__ADS_2