Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Kelicikan Arion


__ADS_3

Dibawah sinar bulan purnama dengan hembusan angin yang begitu tenang, dua sosok manusia setengah kelelawar terlihat saling bertarung disebuah kastil dengan nuansa khas abad pertengahan eropa. Tidak lagi terlihat rimbunan pepohonan yang menyerupai hutan belantara dengan liarnya kehidupan didalamnya, hutan itu hanya nampak bagi mata manusia biasa namun bagi mata vampir tempat itu tidak lebih dari sebuah kastil kuno yang berumur ribuan tahun silam.


Jerome dengan wujud yang nyaris sempurna bertarung melawan Arion yang kini ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dibanding dirinya. Darah suci Aurora berhasil membuat Jerome menjadi sosok vampir dengan kekuatan yang sangat besar. Tubuh kekar jerome semakin mengembang dan tinggi dengan otot yang semakin membesar, selain itu taring Jerome semakin menyembul panjang yang terlihat dari sela bibirnya lebih dari itu bahkan sorot mata Jerome semakin memancarkan warna kemerahan yang menyala nyaris membuat Arion kesakitan untuk menatapnya.


Berkali - kali Arion menerima pukulan telak dari Jerome yang membuatnya sering tersungkur di tanah, namun Arion terus saja menyerang Jerome meski tubuhnya seperti sudah kalah telak. Keadaan itu dirasakan aneh bagi Jerome, mengenal rivalnya dengan sangat baik membuat Jerome sadar jika tujuan Arion mendatanginya secara tiba - tiba di kastil bukanlah untuk membunuhnya. Arion adalah vampir licik dan cerdik yang tidak akan membiarkan dirinya mengalami kekalahan, perbedaan kekuatan yang keduanya miliki seharunya membuat Arion memilih untuk menyudahi pertarungan malam itu.


Setelah kesekian kalinya Jerome menghantam Arion sampai tersungkur, untuk beberapa saat Jerome terlihat membiarkan Arion merintih kesakitan dilantai yang terbuat dari bebatuan itu. Jerome terlihat tidak ingin lagi menghajar Arion dan cenderung memberikan waktu untuk Arion memulihkan dirinya. Dalam posisi yang masih tersungkur dan dengan nafas yang terengah - engah, perlahan Arion menatap wajah Jerome yang berdiri tepat dihadapannya.


"Ahaha.. apa hanya segini kekuatan darah suci, Jerome?" tanya Arion mengejek Jerome, suara deru nafas Jerome semakin terdengar ketika itu.


"Apa yang kamu rencanakan kali ini, Arion?" tanya balik Jerome, namun pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan sebuah tawa dari Arion.


Arion tidak ingin menjawab pertanyaan Jerome, dia kembali menyerang Jerome dengan semakin brutal. Kecepatan Arion semakin meningkat setiap kali Jerome berhasil menepis pukulan demi pukulan Arion, hingga pada satu titik Jerome berhasil menggenggam lengan Arion yang ingin memukulnya lalu Jerome melemparkan tubuh Arion hingga menabrak dinding yang berada tepat didepannya.


"Hentikan, Arion!! kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan ku!! apa tujuanmu sebenarnya?!" tanya Jerome kembali dengan bentakan, Arion kembali tersungkur dengan nafas yang terengah - engah.


"Apapun itu, semua demi mendapatkan Aurora darimu!!" jawab Arion dengan bentakan, lalu Arion kembali menyerang Jerome.


Tidak ingin terlibat dalam banyak percakapan, Arion semakin menggebu melayangkan serangannya kepada Jerome yang dibalas hanya dengan tepisan. Semakin sering serangan Arion mengarah pada Jerome, semakin keras pula deru nafas Jerome terdengar. Ketika itu Jerome semakin menyadari jika kesadarannya atas tubuh dan pikiran perlahan memudar seiring pertarungan yang dia lakukan bersama Arion, semakin lama bertarung Jerome seakan semakin ingin menghabisi Arion walau dia tidak ingin. Saat itulah Jerome sadar jika Arion sedang memancing emosinya agar dia tidak dapat mengendalikan diri karena pengaruh darah suci yang pernah dia terima dari Aurora, meski ketika itu Jerome masih meraba - raba apa yang diinginkan Arion setelah dirinya benar - benar lepas kendali.


"Kamu memancing nafsu vampirku?!" tanya Jerome pada Arion yang masih saja berusaha untuk memukulnya, namun Arion tidak menjawab apapun dan hanya fokus untuk bertarung.


"Arion!! kamu tahu jika aku lepas kendali maka aku akan menyerang umat manusia!! apa itu yang kamu inginkan?!!" bentak Jerome sembari menahan semua tangan Arion dengan cara menggenggamnya ketika Arion berusaha mendaratkan pukulan di wajah.


"Huh?! Sepertinya kamu tahu apa yang aku inginkan, cepatlah lepas kendali dan serang umat manusia itu. Aku akan datang untuk menyelamatkan Aurora dan membunuhmu setelahnya!!" jawab Arion


Vampir yang mendapatkan Darah suci membutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi kembali dengan nafsu menghisap darah manusia, hal itu yang menyebabkan Jerome memutuskan untuk bersemedi disebuah kastil yang tidak terlihat oleh manusia. Ketenangan mengatur nafsu dan emosi berpengaruh penting bagi Jerome, deru nafas yang semakin liar membuatnya hanya akan kembali membunuh manusia untuk menghisap darah mereka secara brutal tanpa ampun. Menyadari dirinya terlambat mengetahui niat Arion membuat emosi Jerome meningkat, dengan susah payah Jerome mengendalikan diri dengan pencapaian nyaris mencapai puncak kembali harus menurun karena emosinya terpancing oleh Arion dengan kelicikan yang melekat pada diri Arion.


Naik pitam lah Jerome mendengar apa yang Arion rencanakan dengan cara memancing emosi Jerome yang kesulitan untuk menahan nafsu vampirnya, Jerome yang saat itu masing menggenggam kedua tangan Arion langsung membawanya terbang cukup tinggi lalu menghempaskannya dengan cepat ketanah. Serangan Jerome membuat Arion tergeletak tak bergerak, Jerome terdiam sesaat untuk memastikan jika Arion sudah tidak mampu lagi bergerak lalu tidak lama setelahnya Jerome pun hendak meninggalkan Arion disana.

__ADS_1


Namun baru juga Jerome berpaling wajah, Arion kembali bergerak namun wujud manusia setengah kelelawarnya sudah hilang berganti dengan wujud manusia. Menyadari Arion kembali bergerak, Jerome langsung mengalihkan pandangannya lagi untuk menatap Arion.


"Arion!! kamu akan mengorbankan banyak nyawa tidak berdosa!!" bentak Jerome yang nafasnya semakin menderu, Jerome meyakini jika sedikit lagi dia akan benar - benar kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya sendiri.


"Ha.. ahahaha... ha!!! Aku tidak peduli, Jerome!! yang aku pedulikan hanya Aurora!! musnahlah mereka semua, selama aku bisa bersama Aurora maka aku tidak peduli apapun!!!" timpal Arion dengan teriakan


"Kau gila, Arion!! kita sudah sepakat.." belum selesai Jerome berkata, Arion memotongnya.


"Kau yang membuatku begini, Jerome!! segala cara sudah aku gunakan untuk menjauhkan mu dari Aurora, tapi dia selalu melihatmu dengan cara berbeda denganku!!" timpal Arion


"Jangan katakan jika kejadian..." belum selesai Jerome berkata, Arion kembali memotongnya.


"Segeralah lepas kendali dan bunuh manusia - manusia itu!! bangkitkan lah kebencian Aurora kepadamu!!" timpal Arion lagi dengan teriakan


Gigi Jerome pun bergemeretak menahan luapan emosinya, dengan kesadaran yang semakin memudar itu Jerome mencoba untuk melawan balik hawa nafsunya. Jerome duduk bersila dan mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafasnya yang menderu - deru itu, dia tidak ingin lagi terpancing emosinya karena ulah Arion dan memenuhi harapan Arion agar dirinya lepas kendali lalu menyerang umat manusia.


"Sial! dimana mereka jatuh?!" gumam Arion sembari mencari - cari peluru itu disekitaran tempat dia berdiri


Tidak jauh dari posisinya saat itu Arion melihat satu buah peluru perak yang tergeletak diantara bebatuan, perlahan Arion berjalan mendekati peluru itu seraya tetap mengawasi Jerome yang masih berkonsentrasi untuk menekan hawa nafsu. Beberapa langkah berjalan, Jerome tidak menunjukkan reaksi apapun. Namun Arion tidak ingin lengah, dia mencari cara untuk memastikan jika Jerome benar - benar sudah larut dalam konsentrasinya.


"Apa kamu tahu, aku saat ini tinggal satu rumah dengan Aurora karena dia yang menawarkan perlindungan untukku. Dia takut jika tiba - tiba kamu mendatangi lalu membunuhku, dia manusia yang baik kan?" tanya Arion sembari mengendap - endap berjalan mendekati sebuah peluru yang sempat dia lihat sebelumnya, namun Jerome tidak bereaksi apapun.


"Diego juga ketakutan dengan apa yang sudah aku ceritakan tentangmu padanya! tentang seberapa mengerikannya kamu setelah menerima darah suci dari Aurora, dia memintaku untuk membunuhmu jika diperlukan dan siap untuk membujuk Aurora agar memberikan darahnya juga untukku! Kalau saat itu tiba, kamu bukan satu - satunya vampir yang mendekati kata sempurna!" ucap Arion lagi kembali memancing Jerome, namun Jerome benar - benar telah larut dalam konsentrasinya.


Arion pun tersenyum sinis ketika tangannya sudah berhasil meraih selongsong peluru perak yang terserak dilantai, perlahan tangan Arion memasukkan peluru itu kedalam magasin namun Arion nampak kesulitan. Selain karena tubuhnya juga terbakar ketika menyentuh peluru perak itu, masalahnya juga terletak pada bengkoknya beberapa bagian dari peluru perak itu sehingga menyulitkan Arion untuk memasukkannya kedalam magasin.


Meski kesal namun Arion tidak patah semangat dan secara perlahan mencoba untuk memasukkan peluru itu kedalam magasin, pada akhirnya peluru itu pun dapat masuk kedalam magasin lalu Arion memasukkan magasin kedalam pistol. Perlahan tangan Arion mengarahkan pistol itu tepat kearah kepala Jerome, senyum sinis nya semakin merekah seketika karena Jerome tidak menunjukkan tanda - tanda akan memberi perlawanan ataupun hanya sekedar menyadari apa yang Arion lakukan didepannya.


"Selamat tinggal.... Jerome" gumam Arion lalu dia menarik pelatuknya.

__ADS_1


DOR!!!


Selongsong peluru perak itu berhasil mengenai kepala Jerome dan membuatnya terdorong karena tekanan yang begitu kuat selain itu bahan perak memanglah kelemahan kaum vampir, dari kejauhan itu Arion melihat kepala Jerome mengeluarkan asap tanda peluru perak yang dia tembakkan tadi memberikan reaksi terhadap tubuh Jerome. Tidak sempat bergembira, jam tangan Arion ketika itu berbunyi. Ketika Arion melihatnya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.


"Sial, sebentar lagi pagi. Aku tidak punya waktu untuk memeriksa keadaannya, aku harus cepat pulang atau aku akan terjebak disini sampai malam menjelang" gumam Arion


Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Arion sempat menoleh dan melihat mayat Jerome yang tidak bergerak itu. Setelah yakin jika Jerome benar - benar telah mati, barulah Arion kembali mengeluarkan kedua sayap dari punggungnya lalu terbang ke langit dengan sangat cepat. Gervaso Tower menjadi tujuan pertama Arion saat itu, dia harus segera mengganti pakaiannya yang telah sobek - sobek akibat dari pertarungannya dengan Jerome.


Disisi lain didalam rumah keluarga Varsha, terlihat Aurora terbangun dari tidurnya. Dia segera menatap jam weker yang berada di meja kecil tepat disebelah kasur, pada saat itu jam menunjukkan pukul empat lebih lima puluh menit.


"Sudah pagi~ aku harus bersiap untuk kerja.." celetuk Aurora


Setelah meregangkan tubuhnya beberapa saat, Aurora pun beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Ketika Aurora turun tangga untuk menuju lantai satu, dia melihat pintu ruang keluarga terbuka dan dari sana Aurora melihat Arion keluar.


"Selamat pagi, Aurora. Tidurmu nyenyak?" tanya Arion


Senyum Arion menyambut Aurora pagi itu, masih dengan gaya penampilannya yang sama Arion terlihat bersemangat bertemu dengan Aurora. Tak terlihat tanda bekas pertarungan dari diri Arion, dia begitu bugar dan berbinar didepan Aurora.


"Pagi, Arion. Yaah seperti biasa, aku tidak bisa balik bertanya padamu karena aku tahu kamu tidak membutuhkan tidur" sapa balik Aurora sembari terus berjalan menuruni anak tangga, ketika itu Arion tertawa kecil menanggapi perkataan Aurora.


"Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?" tanya Arion dengan suara yang lembut


"Hmm.. bekerja, jika tidak aku tidak akan memiliki uang untuk bertahan hidup" jawab Aurora, namun dia seakan tidak menghiraukan keberadaan Arion dan terus saja berjalan menuju dapur.


"Terlalu bahaya untukmu jika keluar dari rumah ini, kita tidak tahu apa Jerome sudah berhasil menahan kuatnya dorongan untuk memburu mu atau tidak" timpal Arion terdengar khawatir pada Aurora, sejenak Aurora berhenti berjalan lalu menghela nafasnya.


"Kamu benar, tapi aku tidak punya pilihan. Keluarga miskin seperti kami jika tidak bekerja maka kami juga tidak bisa makan, untung saja aku sempat mendapatkan posisi bagus darimu dulu. Kalau tidak, maka rumah ini pun sebenarnya sudah akan disita oleh bank" ucap Aurora, kemudian dia berbalik untuk menatap wajah Arion yang berada dibelakangnya.


"Lagian Jerome pasti sudah berhasil menahan rasa laparnya, aku percaya dia mampu" dengan senyuman tulus Aurora mengatakannya

__ADS_1


__ADS_2