Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Siasat Baru


__ADS_3

Sejenak Aurora memejamkan matanya, mencoba memutar kembali ingatan saat dia memberikan darahnya pada Jerome sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Aurora berpikir keras sampai akhirnya bayangan samar Jerome muncul dalam pikiran Aurora, ditengah kondisinya yang mulai melemah saat itu dengan pandangan mata yang mulai kabur Aurora ingat telah melihat sosok vampir Jerome dengan wujud yang lebih menyeramkan. Tidak begitu jelas saat itu karena asap tebal efek ledakan masih memenuhi gedung bank , tetapi Aurora yakin jika taring Jerome semakin tajam dan panjang serta tatapan mata merahnya semakin menyala. Selebihnya Aurora kesulitan untuk kembali mengingat kejadian saat itu.


Perkataan Arion saat itu membuat Aurora merasa bersalah, memberikan darahnya kepada Jerome semata - mata hanya karena Aurora ingin menyelamatkan Jerome yang sudah rela mati demi dirinya. Hanya cara itu yang Aurora yakini mampu untuk mengembalikan Jerome padanya, Aurora tidak pernah menyangka bahwa darah yang Jerome minum dari dirinya mampu membuat Jerome menjadi vampir dengan evolusi yang sempurna. Namun akibat dari pilihannya itu kini persaingan antar dua vampir yang memperebutkannya menjadi tidak berimbang, Jerome menjadi jauh lebih kuat daripada Arion yang menjadi pesaingnya. Tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Arion, tiba - tiba Aurora menawarkan perlindungan kepada Arion.


"Tinggal lah di rumah ku, aku akan melindungi mu disana" ucap Aurora, seketika itu Arion dan Diego pun terkejut.


"Aurora, apa yang kamu katakan?! Bukankah tadi sudah dikatakan kalau Arion sudah gak mampu untuk melawan Jerome? Membawa Arion ke rumah hanya akan menimbulkan masalah untukmu!" timpal Diego


Mendengar Diego yang seakan menyetujui jika Jerome akan menjadi ancaman yang buruk, membuat Arion kembali menggunakan akal liciknya untuk menarik simpati Aurora. Arion bersikap seolah dirinya tidak akan berdaya untuk menghadapi sosok sempurna Jerome sebagai vampir, Arion ingin membuat Aurora yakin bahwa perubahan wujud Jerome berpengaruh terhadap sikap yang dimiliki Jerome. Dengan wujud terbarunya Jerome akan menjadi vampir kejam dan jahat yang akan memburu Aurora demi menghisap habis darah suci Aurora agar evolusinya semakin sempurna hingga akhirnya mampu memusnahkan Arion dan menjadi satu - satunya vampir yang abadi.


"Itu benar, Aurora. Kamu akan membuatku kerepotan saat Jerome menyerang. Melindungi diri sendiri pun aku mungkin sudah tidak mampu, apa lagi aku juga harus melindungi mu" ucap Arion menyetujui perkataan Diego.


"Kalian tidak mengerti apa yang aku pikirkan..." belum selesai Aurora berkata, Diego memotong.


"Bagian mana yang aku tidak mengerti dari kalimatmu? Kamu tidak akan bisa melakukan apapun jika Jerome menyerang ke rumah kita!" timpal Diego dengan emosi, Aurora menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab perkataan Diego.


"Ayah... Jika Jerome memang berniat membunuhku atau setidaknya dia berniat menghisap darahku, mungkin pagi ini aku sudah tidak ada disini" timpal Aurora


Entah sedang jatuh cinta namun tidak dia sadari atau hanya karena rasa nyaman karena kebersamaan yang selalu indah, terlebih setelah pengorbanan yang dilakukan untuknya dari Jerome membuat Aurora sulit untuk mempercayai jika Jerome adalah vampir yang jahat.


"Maksudmu kamu ingin menguji keberuntungan mu lagi kali ini dengan menjadi pelindungku?" tanya Arion terdengar sedikit menyindir, Aurora mengalihkan pandangannya menatap Arion.


disebuah ruangan dengan dinding kaca yang tertutup gorden itu, dua pria dengan satu gadis tak berhenti dengan perdebatan mereka masing - masing. Baik Aurora, Diego maupun Arion masih saja mempertahankan keyakinan mereka sendiri. Aurora yang keras kepala berusaha meyakinkan Diego dan Arion untuk mengikuti keinginannya.


"Aku akan meminta padanya untuk tidak melakukan apapun padamu, aku yakin Jerome masih akan mendengarkan perkataanku. Aku yakin itu" jawab Aurora dengan penuh keyakinan


"Aku tidak bisa mempercayai itu, sangat beresiko jika aku memenuhi tawaranmu" timpal Arion


"Percaya padaku! Jerome pasti..." belum selesai Aurora berkata, Arion memotongnya.


"Aurora, pertempuran kami pasti akan sangat sengit dan kamu bisa saja terbunuh hanya karena efek dari benturan kekuatan kami. Aku tidak bisa menyeret mu dalam bahaya seperti itu" timpal Arion dengan tegas


"Tapi..." belum selesai Aurora berkata, kali ini Diego yang memotongnya.


"Dengar kata Arion, kamu hanya manusia lemah yang tidak akan bisa melakukan apapun ketika dua vampir bertempur dengan kekuatan penuh. Hentikan kebodohanmu itu, Aurora" nada marah Diego membuat Aurora mengalihkan pandangannya menatap ayahnya itu

__ADS_1


"Dengarkan ayahmu, Aurora" timpal Arion menyetujui perkataan Diego


Aurora menundukkan pandangannya, tubuhnya terlihat sedikit bergetar karena dia begitu kesal diremehkan seperti itu. Terlebih keyakinannya akan kemungkinan Jerome tetap mendengarkan perkataannya ditolak oleh Diego dan Arion, semakin menambah rasa kesalnya. Saat itu Aurora berdiri dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan itu, namun tangan Diego menahan langkah Aurora agar dia tidak keluar sendiri tanpa pengawasannya.


"Kita tidak tahu kapan Jerome akan menyerang dengan kekuatannya itu, aku akan mengawasi mu lebih ketat lagi" celetuk Diego


"Jerome tidak akan melakukan apapun padaku!!!" dengan teriakan Aurora mengatakannya


Teriakan Aurora saat itu membuat Diego dan Arion terkejut, gadis baik hati itu seolah sedang dalam buaian cinta sang vampir tampan dan baik hati bernama Jerome. Kepercayaannya terhadap Jerome begitu tinggi. Aurora sangat yakin jika Jerome tetaplah Jerome yang dia kenal, meski saat ini dia telah mendapatkan darah suci yang membuatnya menjadi vampir over power.


Kepercayaan Aurora tentang kebaikan Jerome membuat Arion cemburu dan putus asa untuk mendapat simpati gadis yang dia cintai itu. Arion merasa kalah beberapa langkah dari Jerome. Kekalahan pertama Arion adalah ketika Jerome berhasil mengambil sepenuhnya kepercayaan Aurora dan yang kedua adalah wujud vampir Jerome yang sempurna akan sulit untuk dikalahkan.


Arion memanglah dalang dibalik perampokan bank yang terjadi, sebuah alat pengacau sinyal dia gunakan hanya untuk menjebak Jerome yang dia ketahui bahwa vampir itu selalu membantu setiap ada kerusuhan yang terjadi di kota. Arion memang berhasil menjebak Jerome, namun dia tidak menduga jika Aurora berada disana untuk Jerome. Kematian Jerome setelah melindungi Aurora adalah sebuah keberhasilan terbaik yang Arion dapatkan, namun lagi dan lagi kehadiran dan tindakan Aurora memberikan darah sucinya kepada Jerome membuat kematian Jerome tidaklah terjadi. Namun vampir licik itu tidak menyerah untuk mencuri perhatian Aurora Varsha.


"Baiklah Aurora, aku percaya padamu untuk menjadi pelindungku" celetuk Arion saat itu


Apa yang dikatakan Arion saat itu membuat Aurora dan Diego kaget, tidak seperti sebelum - sebelumnya dimana Arion menolak permintaan Aurora tapi kini tiba - tiba dia menerimanya begitu saja. Didalam benak Arion berkata "Jika Jerome mendapatkan kepercayaan Aurora karena mereka selalu berdekatan, mungkin aku akan mendapatkan hal yang sama jika aku selalu dekat dengannya. Ini kesempatan untukku"


"Be.. Benarkah? Kamu mau percaya padaku?" tanya Aurora terlihat senang dari bias matanya.


"Arion, aku tahu kamu bukan orang bodoh. Meminta perlindungan manusia lemah seperti Aurora? Darimana kamu berpikir itu akan bekerja?" timpal Diego terdengar sedikit menahan emosinya, dia merasa Arion sedang menyeret anak semata wayangnya kedalam masalah.


"Arion! Kamu..." belum selesai Diego berkata, Aurora memotongnya dengan penuh semangat.


"Aku pasti akan melindungi mu, serahkan saja padaku!!" seru Aurora menimpali perkataan Diego


Arion tertawa kecil melihat semangat Aurora demi melindunginya, setidaknya hal kecil seperti ini membuat rasa sukanya kepada Aurora meningkat. Arion merasa cara yang kali ini dia lakukan akan berhasil untuk merebut perhatian Aurora dari Jerome.


"Tapi ada sedikit masalah, aku tidak bisa keluar dari gedung ini selama menjadi tahanan polisi. Tidak ada yang bisa menjadi penjamin untukku, jadi polisi akan..." belum selesai Arion berkata, Aurora memotongnya.


"Aku akan menjadi penjamin mu, namaku baik di kepolisian jadi aku yakin..." belum selesai Aurora berkata, tiba - tiba pintu terbuka


Suara yang tidak asing terdengar dengan nada yang tegas dari balik pintu, Robert yang sudah kembali berada didalam ruangan Arion mengagetkan Aurora dan Diego.


"Tidak bisa nona Aurora, tuan Arion tetap harus ditahan karena ini adalah kejahatan serius. Tidak hanya perampokan, tapi banyak nyawa melayang pada kasus ini" timpal Robert

__ADS_1


"Tuan Robert" celetuk Arion sembari mengalihkan pandangannya menatap Robert yang hendak masuk kedalam ruangan itu.


"Tuan Arion, sudah saatnya membawamu ke kantor pol..." saat itu ucapan Robert dipotong oleh Aurora


"Tuan Robert, Arion tidak akan melakukan hal seperti itu. Mohon pertimbangkan aku yang akan menjadi penjaminnya, aku tidak pernah bersentuhan dengan hukum" pinta Aurora, saat itu Robert menghela nafas sebelum menjawab permintaan Aurora.


"Nona, apa kamu tahu seberat apa hukuman yang dituduhkan pada tuan Arion? Dirimu tidak bisa menjadi penjamin yang setimpal dengan apa yang tuan Arion lakukan" ucap Robert


"Kalau begitu aku yang akan menjadi penjamin" celetuk Diego saat itu


Apa yang dikatakan Diego membuat Aurora dan Arion terkejut, setelah penolakan yang begitu keras ditunjukkan oleh Diego tiba - tiba dia mengatakan akan menjadi penjamin untuk Arion sang vampir agar menjadi tahanan rumah.


"Anda siapa?" tanya Robert bingung


"Diego Varsha, generasi ketujuh dari keluarga Varsha. Setiap polisi pasti tahu siapa Varsha" jawab Diego sembari memberikan tanda pengenalnya kepada Robert


Robert menerima tanda pengenal itu dan membacanya dengan seksama, setelah selesai membaca kemudian dia mengembalikan tanda pengenal itu kepada Diego.


"Baik, saya mengerti. Tuan Arion anda akan menjadi tahanan rumah dengan tuan Diego sebagai penjamin, segala sesuatunya tentang penahanan ini akan kami segera kirimkan ke rumah keluarga Varsha" ucap Robert lalu memberi salam untuk undur diri, Arion pun berdiri dari duduknya lalu menunduk memberi hormat pada Robert.


"Terima kasih atas pengertiannya" ucap Arion dengan sopan


Arion berjalan memutari mejanya untuk mendekati Robert, keduanya jalan bersama sampai didepan pintu. Saat itu keduanya terlihat mengobrol sebentar dan berpisah begitu saja, setelah menutup pintu ruangan itu Arion segera berbalik untuk menatap Aurora yang berdiri dan menatapnya dan Diego yang masih duduk membelakangi Arion.


"Terima kasih atas kebaikan kalian, keluarga Varsha. Aku Arion Gervaso akan mengingat hutang budi ini selamanya" celetuk Arion


"Kalau begitu kita harus segera pulang ke rumah, kita tunggu kedatangan Jerome dan semoga Jerome tidak melakukan apapun" ajak Aurora sembari berjalan hendak keluar dari ruangan itu, Arion membuka pintu untuk Aurora.


"Silahkan duluan, penyelamatku" ucap Arion dengan senyuman yang merekah menatap Aurora, Aurora yang berjalan melewati Arion saat itu membalas senyuman itu.


Tatapan Arion mengikuti Aurora yang terus berjalan didepannya, saat itu Arion menahan pintu agar Diego tidak perlu membuka pintu ketika akan menyusul Aurora berjalan. Tapi hal itu dipakai Diego untuk bisa berbicara berdua dengan Arion tanpa sepengetahuan Aurora, ketika sudah berdekatan tangan Diego menepuk cukup keras pundak Arion sampai membuatnya mengalihkan pandangan menatap Diego.


"Aurora terlalu polos memandang dunia ini, aku harap kamu tidak memanfaatkan kepolosannya demi keuntungan pribadimu" ucap Diego memperingatkan Arion


"Diego, aku hanya ingin mendapatkan hati Aurora. Mungkin benar kata Danilson, jika aku mencintainya" timpal Arion

__ADS_1


"Kalian tidak akan bisa bersatu, kamu dan Aurora berbeda ras. Pahami itu dulu, Arion" ucap Diego


"Hmp... Semua itu akan melalui proses, berbeda ras pun tidak masalah jika aku dan dia pada akhirnya akan bersatu atas dasar saling mencintai" timpal Arion dengan sedikit suara tawa


__ADS_2