
"Apa aku lupa menutup jendela...? tidak... aku rasa aku tidak pernah lupa untuk menutup jendela ketika akan tidur..." gumam Aurora, ketika itu Aurora kembali menatap kanan kiri mencari keberadaan Jerome yang terasa begitu nyata ada didekatnya walau saat itu Aurora juga merasa dia hanya bermimpi.
Bergegas Aurora mendekati jendela kamarnya lalu memperhatikan jalanan depan rumah yang terlihat sangat sepi seperti tidak ada kehidupan, tentu saja sepi karena saat itu jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. Dinginnya hembusan angin saat itu terasa menusuk tulang bagi Aurora dan membuyarkan sejenak kebingungan dalam pikirannya. Aurora segera menutup jendela lalu menguncinya dengan sangat rapat, setelah memastikan jika jendela itu terkunci perlahan Aurora jalan mundur dengan mata yang masih menatap kaca jendela.
Pikiran kalutnya mulai menyerang, terbayang sosok Jerome yang dia yakini sebagai vampir tiba - tiba ada didepannya dengan wujud vampir yang menyeramkan. Dua taring tajam vampir itu bisa saja menghisap habis darah Aurora hingga kering. Yang lebih mengerikan Jerome akan membawa Aurora terbang menuju sarangnya dan menjadikan Aurora mangsa bagi kaum Jerome. Bulu kuduk Aurora berdiri, badannya gemetar dan kecemasan mulai hinggap dipikirannya.
Seperti kebanyakan cerita tentang vampir dalam sebuah film, mereka biasa memangsa para wanita dengan pesona ketampanan mereka. Aurora yang merasa sempat terpesona dengan Jerome pun semakin yakin jika dirinya akan dijadikan mangsa oleh Jerome.
"Hiiii~ serem!!!" agak berteriak Aurora mengatakannya
Karena tidak terjadi apapun, bergegas Aurora merebahkan dirinya di kasur dan mengambil selimut tebal lalu meringkuk didalamnya. Aurora takut untuk memperhatikan sekitar kamarnya, bayangan tentang kehadiran Jerome masih saja mengganggu pikirannya. Aurora berusaha untuk terus terjaga agar ketika Jerome datang kembali, dia dalam keadaan sadar dan tidak mudah dikendalikan bahkan ditangkap oleh Jerome. Tapi percuma, karena tidak lama Aurora terlelap dalam tidurnya lagi.
Terbangun dari tidur dengan keadaan yang menegangkan di malam hari pada pagi yang cerah, Aurora tersentak kaget karena kepalanya terlepas dari selimut yang dia gunakan sebagai penutup seluruh badannya. Sinar mentari pagi mulai menghangatkan kamar kecil miliknya, cahayanya pun mulai terang menyinari setiap sudut kamar kesayangannya itu. Menyadari dirinya yang malah tertidur walaupun berniat untuk tidak memejamkan mata sepanjang malam agar terhindar dari Serangan Jerome, membuat Aurora merasa lemah. Pertahanan dirinya dari vampir sangat buruk dan pasti dengan mudah akan menjadi mangsa bagi kaum vampir.
"Haah.... rasanya aku akan berumur pendek..." gumam Aurora terdengar begitu menyesal
Setelah membereskan kamarnya, Aurora memeriksa jendela kamar dan memastikan jika tidak ada hal yang aneh ataupun tanda - tanda jika jendela itu pernah dicongkel. Tapi memang ada yang terasa janggal saat itu di kusen jendela yang Aurora amati, ada sedikit celah yang memungkinkan seseorang untuk membuka kunci jendelanya dengan paksa. Belum lagi Aurora melihat goresan didekat grendel jendela yang terasa seperti sebuah cakaran dari kuku yang begitu tajam, ketika melihat goresan itu membuat bulu kuduk Aurora berdiri.
"Ayaaaah!!!!" teriak ketakutan Aurora ketika itu
Mendengar teriakan anak semata wayangnya membuat Diego tergopoh - gopoh menuju kamar Aurora, dengan sigap Diego membuka kamar Aurora dan melihat anaknya berdiri mematung dekat dengan jendela kamar. Wajah Aurora yang pucat pasi dan terlihat jelas jika dia sedang ketakutan, membuat Diego segera masuk dan seakan bersiap untuk bertarung dengan apapun yang ditakuti Aurora meski hanya dengan sebuah spatula ditangannya.
"A... ada apa Aurora? apa yang membuatmu takut?" tanya Diego sembari mengawasi kamar Aurora dari sudut ke sudut, Aurora malah menangis sembari memberi gestur tangan agar Diego melihat bekas cakaran di kusen jendela kamar.
Perlahan Diego mendekati Aurora dan memperhatikan kusen yang ditunjuk oleh Aurora, disana Diego terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Sejak kapan ini ada disini?!" Diego bertanya pada Aurora yang terlihat masih menangis ketakutan, Aurora hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali karena masih ketakutan dan syok.
__ADS_1
"Ayah mengerti... sepertinya ayah harus membuatkan pertahanan ekstra karena vampir itu sudah berani untuk masuk kedalam kamarmu" ucap Diego sembari mengelus kedua pundak Aurora untuk menenangkannya
Diego menggiring Aurora keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama, di ruang makan Aurora menceritakan tentang mimpinya yang terjadi saat tengah malam. Dia berkata jika sosok Jerome terlihat berada didalam kamarnya lalu mendekatinya perlahan, Aurora juga mengatakan jika Jerome mengucapkan sesuatu didekat telinganya namun dia lupa apa yang dikatakan Jerome ketika itu.
Sebuah mimpi yang dirasa begitu nyata bagi Aurora, membuat dia kini dilanda rasa takut untuk tidur didalam kamarnya dan meminta ayahnya untuk melakukan sesuatu. Diego menyetujui permintaan Aurora dan mengatakan jika dia akan membuatkan teralis khusus yang dilapisi oleh perak, Diego pun berpamitan pada Aurora untuk pergi ke pasar loak dan mencari perak - perak murah yang ada di pasar.
Meski setuju ayahnya untuk pergi, namun sebenarnya Aurora tidak ingin ayahnya meninggalkan rumah karena dia masih trauma dengan semua yang terjadi. Kehidupan tenang yang selama ini Aurora rasakan berubah total, kini Aurora harus hidup penuh rasa takut dan khawatir akan kemunculan vampir dalam hidupnya.
Memiliki Diego yang selalu ada dan sigap untuk apapun yang terjadi pada Aurora membuatnya bersyukur karena sang ayah selalu berada disisinya. Kecemasan Aurora sedikit berkurang karena Diego begitu menjaga Aurora dengan baik. Ayahnya yang mendalami tentang dunia vampir itu membuat Aurora yakin jika Diego mampu untuk menjaga Aurora dari serangan vampir.
Menjelang siang ketika itu Diego pun pulang membawa beberapa besi dan juga perak bersamanya yang dia dapatkan dari pasar loak, tidak ingin membuang waktu saat itu Diego langsung mengerjakan pembuatan kerangka teralis yang dilapisi perak untuk menjadi pelindung tambahan di jendela dalam kamar Aurora. Ditengah pengerjaannya, Diego melihat Jerome berjalan mendekati rumahnya dan seperti akan bertamu.
Ketika mata Diego dan Jerome bertemu, Jerome langsung melambaikan tangan untuk menyapa Diego yang masih disibukkan dengan pekerjaannya membuat teralis jendela kamar Aurora. Melihat Jerome menyapanya, Diego bingung harus bersikap seperti apa disaat seperti itu. Langsung memusuhi Jerome ketika mereka tidak siap tentu saja hanya akan membuat vampir satu ini marah lalu tiba - tiba menyerang Aurora, tapi jika Diego ramah dan mempersilahkan Jerome masuk maka bisa saja Jerome menjadikan kebaikan hatinya untuk menyerang Aurora saat itu juga. Sikap yang sulit bagi Diego saat itu untuk ditampilkan pada Jerome yang terlihat bertingkah seperti biasanya pada Diego.
Diego melambaikan tangan dan meminta Jerome untuk diam dan menunggunya membukakan pintu, Jerome pun merespon lambaian tangan Diego dengan jempolnya menandakan dia setuju untuk menunggu Diego membukakan pintu.
"Siapa?" tanya Aurora
"Jerome datang, bagaimana menurutmu?" tanya Diego
"Ya tentu saja usir ayah!! jangan tanyakan hal yang sudah pasti!!" agak membentak Aurora menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ayah ingin mengusirnya juga ketika mata kami bertemu saat sedang mengerjakan teralis jendela, tapi kalau kita menunjukkan permusuhan yang begitu kental... ayah takut dia langsung bersikap agresif yang menyerang mu sekarang" ucap Diego memberitahu pertimbangannya kepada Aurora
"Lalu ayah maunya gimana?!! membiarkan aku bertemu vampir itu?!!!" tanya Aurora dengan bentakan meski suaranya begitu terasa jika dia sedang bergetar ketakutan, Diego pun menghela nafasnya lagi ketika mendengar pertanyaan Aurora.
Jangankan untuk menentukan sebuah jawaban, memikirkan langkah apapun saja Aurora mulai tidak mampu. Kejadian malam itu masih membuat Aurora takut, terlebih bekas cakaran pada kusen jendela kamarnya semakin memperparah rasa takut Aurora.
__ADS_1
"Baiklah, ayah akan mengusirnya" jawab Diego sembari membawa sebuah tongkat kecil terbuat dari perak yang dia sembunyikan di balik belakang bajunya
Diego berjalan menuju pintu utama rumah untuk menyambut kedatangan Jerome ke rumah mereka, ketika membuka pintu rumah Diego melihat Jerome berdiri agak jauh dari pintu rumah. Senyum Jerome yang terasa begitu hangat membuat Diego bertanya - tanya dalam benaknya "Benarkah Jerome ini vampir? dia terlihat hangat dan hidup tidak seperti gambaran vampir yang ada didalam buku"
"Siang Jerome, ada apa?" tanya Diego pada Jerome
"Aku ingin menemui Aurora, apa dia ada di rumah?" tanya Jerome
"Yaah... dia ada didalam tapi dia sepertinya tidak ingin bertemu denganmu karena bentakan mu padanya kemarin" jawab Diego berusaha setenang mungkin, tangannya kini Diego arahkan dekat tongkat perak di baju bagian belakangnya
"Aah ya... tentu saja bentakan itu membuatnya marah padaku... aku ingin minta maaf padanya atas bentakanku" timpal Jerome terdengar begitu menyesal
"Tidak, dia bukan marah. Dia ketakutan, kamu tahu kenapa dia bisa ketakutan seperti itu? aku tidak yakin dia ketakutan seperti itu hanya karena sebuah bentakan, Aurora bukan wanita lemah yang bisa ketakutan hanya karena bentakan dari seorang pria" ucap Diego, mendengar perkataan Diego ketika itu membuat Jerome terdiam sejenak.
Tentu saja vampir tampan dan ramah itu mengetahui alasan sebenarnya Aurora marah kepada dirinya. Vampir dari klan Galant dengan kemampuan khusunya mampu membaca pikiran itu sangat mengetahui mengapa Aurora menjauhi dirinya. Namun Jerome bersikap seolah - olah tidak mengetahui apapun agar tidak membuat keadaan diantaranya dan Aurora juga Diego memburuk.
"Sayang sekali... aku tidak tahu kenapa Aurora ketakutan.." jawab Jerome sedikit terbata meski tatapan matanya terlihat tajam menatap Diego
Didalam hati Diego saat itu berpikir cara untuk mempertahankan diri jika Jerome tiba - tiba menyerangnya dan berusaha mendekati Aurora, namun Diego yakin kekuatannya tidak akan cukup untuk menahan kekuatan seorang vampir. Belum lagi tubuhnya yang kini renta dan juga sering merasakan sakit pada bagian pinggang, itu menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya jika harus bertempur melawan Jerome seorang diri.
"Diego kamu banyak - banyaklah istirahat, jangan membawa atau kerja yang berat - berat agar sakit pinggangmu tidak semakin tambah parah" celetuk Jerome tiba - tiba, Diego pun terkejut mendengar celetukan itu.
"A.. apa maksudmu?" tanya Diego terbata
"Aku hanya memberikanmu saran, dari cara berjalan aku tahu kamu sedang sakit pinggang. Baiklah.. aku pamit dulu dan sampaikan permohonan maafku pada Aurora" jawab Jerome lalu dia berbalik untuk meninggalkan rumah keluarga Varsha
Diego segera menutup pintu rumah ketika melihat Jerome pergi, tapi baru beberapa langkah berjalan saat itu tiba - tiba Jerome berhenti dan berbalik lagi menatap jendela kamar Aurora yang berada di lantai dua. Aurora terkejut karena Jerome bisa tahu keberadaannya yang menatapnya dari balik kaca jendela dalam kamar, seketika Aurora bersembunyi dan menjauhi kaca jendela kamarnya itu.
__ADS_1