Cinta Dua Vampir

Cinta Dua Vampir
Menikahlah Denganku !


__ADS_3

"Aku tidak ingin punah, Aurora. Izinkan aku untuk menjadikan dirimu sebagai istriku lalu ayo bangun rumah tangga yang sesuai dengan apa yang kamu bayangkan tentang sebuah pernikahan" ucap Jerome, tentu saja apa yang dikatakan olehnya membuat Aurora dan Diego terkejut.


Cukup lama menghilang kemudian hadir untuk menyatakan cintanya kepada Gadis yang dia dambakan, Jerome sang vampir baik hati dan tampan yang puitis itu akhirnya kembali dari persembunyiannya setelah berhasil beradaptasi dengan darah suci yang ada ditubuhnya. Kembali ke dunia manusia dia putuskan karena dia tidak akan memangsa manusia manapun demi memuaskan dahaganya akan darah.


Pagi itu merupakan pagi penuh kejutan untuk Aurora, kedatangan Jerome yang dikatakan oleh Arion sebagai sebuah petaka bagi umat manusia tidak terbukti sama sekali. Jerome hadir hanya menjadi hal yang mengejutkan bagi Aurora, bukan hanya pada kehadirannya namun pada apa yang disampaikan oleh Jerome tentang tujuan dia menemui Aurora di pagi hari seperti ini.


Keputusan yang pernah Jerome sampaikan untuk tidak lagi berperang dengan klan Gervaso kepada Aurora, Diego dan Arion seakan tidak lagi berlaku. Menginginkan Aurora untuk menjadi istrinya dan memiliki keturunan tentu saja akan membuat Jerome kekal dan Abadi. Pernyataan Jerome pagi itu kembali mengobarkan api permusuhan terhadap Arion Gervaso yang mendengar keputusan Jerome pagi itu meskipun Arion berada di ruangan yang berbeda, kemampuan pendengaran tajam lah yang membuat Arion mampu mendengarkan pembicaraan antara Jerome dan Aurora.


Menikahi Aurora tentunya memutuskan keyakinan Jerome bahwa klan Galant punah akibat keniscayaan, keputusannya itu mengisyaratkan jika dirinya akan mempertahankan klannya selama ini. Peperangan yang akan dia hadapi dengan Arion Gervaso pun siap dia lakukan.


"Je.. Jerome, gak lucu tahu! Da.. datang - datang kamu langsung berkata seperti itu?! aku tidak bisa menerimamu setelah apa yang pernah aku lihat darimu!! lagian, kemana saja kamu selama ini?" tanya Aurora terbata, disaat bersamaan Diego seakan membatu karena anak semata wayangnya malah diperebutkan dua vampir. Tidak pernah akan terbayang oleh ayah manapun tentunya.


"Aku mengasingkan diriku di kastil, disana aku menekan hawa nafsuku dan berhasil. Karena itulah aku mendatangimu dengan semua kabar baik ini" jawab Jerome selalu dengan kelembutannya.


"Ini tidak semudah yang kamu katakan! hati ma.." belum selesai Aurora berkata, Jerome memotongnya.


"Hati manusia tidak sesimpel itu, aku tahu. Selama ini aku selalu berkeliling dunia dan bertemu dengan berbagai macam manusia, dan hanya kamu yang membuatku merasakan apa itu cinta yang dirasakan oleh manusia. Izinkan aku untuk membuktikan padamu, aku pantas untukmu" terdengar begitu puitis Jerome mengatakannya, Aurora sampai kehilangan kata - katanya.


"Tunggu!! tunggu dulu!! ini tidak boleh seperti ini!!" bentak Diego, bersamaan Jerome dan Aurora mengalihkan pandangan mereka menatap Diego.


"A.. ayah.." terbata Aurora mengatakannya karena terkejut tiba - tiba Diego bersuara


"Kamu itu seorang vampir!! tidak boleh mendekati manusia seperti ini, kau tahu?! aku sebagai ayah dan yang membesarkannya selama ini, tidak akan membiarkan dia menjadi istri seorang vampir!!" bentak Diego begitu marah.


Seperti yang sudah Diego pelajari tentang dunia vampir, pernikahan antara ras vampir dan manusia memiliki beberapa sisi buruk dan sebagai ayah dari putri yang dia cintai tentu saja Diego keberatan jika putrinya dipersunting vampir.


"Tapi, Diego... cinta tidak mengenal ras, usia, ataupun hal - hal lain. Dia datang secara alami dan aku merasakan getaran itu, jika kamu halangi... tentu saja itu menyakitkan" timpal Jerome


"Aku tidak peduli!! aku yang membesarkannya selama ini!! selama ibunya pergi meninggalkan kami dan pergi dengan pria lain, aku lah yang merawatnya sampai dia sebesar dan secantik ini!!! mana mungkin aku merelakan dia menjadi pendamping seorang vampir?! yang benar saja!! aku tidak terima ini!!" masih dengan bentakan Diego mengatakannya, sejenak ruangan itu menjadi sunyi senyap tanpa suara sedikitpun.


"Keluar kau... aku tidak ingin melihat wajahmu..." celetuk Diego memecah keheningan


"Tapii.." belum selesai Jerome berkata, Diego kembali membentak...


"Keluar kau vampir!!" bentaknya

__ADS_1


Meminta Jerome untuk pergi bukanlah keputusan tanpa alasan, sudah dua minggu Arion menceritakan jika Jerome kembali pasti akan membahayakan Aurora. Akan besar kemungkinan Jerome semakin menggebu untuk menghisap darah suci Aurora secara utuh dan habis tak bersisa demi menyempurnakan kekuatan vampirnya. Jerome yang tiba - tiba datang dan merubah keputusannya membuat Diego curiga jika menikahi Aurora hanyalah sebuah alasan dibalik tujuan utama Jerome yaitu untuk menghisap darah Aurora.


Kemarahan Diego terhadap Jerome berhasil membuat Arion tersenyum penuh kemenangan dan rasa percaya diri yang tinggi, disebuah ruang makan Arion yang menopang dagu dengan kedua tangannya yang mengepal menyunggingkan bibirnya dengan senyum sinis. Dia merasa dua minggu mempengaruhi Diego tidaklah sia - sia.


Seketika itu suasana ruangan menjadi sunyi kembali, sampai helaan nafas Jerome terdengar seraya dia berdiri dari duduknya. Jerome membungkuk sedikit memberi hormat pada Diego lalu segera berjalan hendak keluar dari ruangan, namun baru beberapa langkah tiba - tiba Aurora menahan lengan Jerome agar dia berhenti berjalan. Tentu saja tindakan Aurora membuat Jerome dan Diego terkejut.


"Tu... tunggu, Jerome" celetuk Aurora


"Aurora!! lepaskan dia!!" bentak Diego


"Ayah! aku bukan lagi anak - anak!! aku bisa tentukan jalanku sendiri!!" timpal Aurora


"Ini bukan masalah umur atau tentang keputusanmu!! ini tentang..." belum selesai Diego berkata, Aurora memotongnya.


"Tentang dia vampir dan kita manusia?! apa vampir semengerikan yang pernah ayah ceritakan padaku?! ayah tidak selalu benar tentang semuanya!! kali ini izinkan aku untuk menentukan apa pilihanku!!" timpal Aurora dan membuat Diego terdiam, namun mata Diego terlihat berkaca setelah mendengar perkataan Aurora.


Keputusan Aurora membuat Diego merasa jika Aurora tidak mengerti semua yang Diego lakukan hanya karena ingin melindungi putrinya itu. Untuk pertama kalinya Diego patah hati terhadap sikap yang Aurora tunjukkan, dan hal itu membuatnya sedih hingga tak mampu berkata - kata


Melihat ayahnya yang selalu menyayanginya akan menangis karena ucapannya membuat Aurora merasa bersalah, seketika itu ingatan Aurora tentang ayahnya yang selalu merawat paska sang ibu meninggalkan mereka terlintas dalam benaknya. Semua pengorbanan sang ayah yang sempat dilihat langsung oleh Aurora pun kembali terputar, hal itulah yang membuat Aurora memiliki tekad kuat untuk menjadi sukses dan bisa membalas jasa sang ayah. Namun apa yang dilakukannya hari ini, tentu saja tidak dapat dia banggakan sama sekali.


"A...ayah..." celetuk Aurora, seketika itu Diego pun tersenyum.


"Kamu benar anakku... kamu sudah dewasa sekarang, aku memang sudah tidak boleh mengatur mu secara berlebihan. Aku ingin menangis karena aku terharu melihat putri kecilku ini sudah sedewasa ini... semua berjalan sangat cepat" celetuk Diego, tertegun lah Aurora ketika itu.


"Lanjutkan apa yang ingin kamu lakukan, ayah akan mendukung setiap keputusanmu" ucap Diego lagi, Aurora menghela nafasnya lalu menatap Jerome.


"Jerome, dengarkan aku..." ucap Aurora


"Katakan saja, Aurora. Aku mendengarkan" timpal Jerome


"Benar kata ayah... aku dan kamu sulit untuk bersatu dan pasti kamu tahu sebelum kamu... Arion juga mengatakan hal yang sama padaku, jadi disini aku hanya bisa katakan... ini bukan mustahil, tapi akan sulit... beri aku waktu untuk memikirkannya, begitu pula dengan dirimu... menikah beda ras tentu tidak akan pernah menjadi hal yang mudah, aku dan kamu sangat berbeda. Jadi..." Aurora menggantung kalimatnya sejenak, lalu dia tersenyum.


"... berjuanglah untuk mengenal manusia lebih baik, begitu pula aku. Bagaimana jalan kedepan, biarlah menjadi misteri... cinta tidak akan mudah, tapi kitalah yang saling mengalah agar cinta bisa berjalan dengan baik..." ucap Aurora melanjutkan kalimatnya yang sempat dia gantung tadi, Jerome tersenyum lalu membelai rambut Aurora dengan lembut.


Pagi itu Aurora tampak lebih cantik dari biasanya bagi Jerome, setelah cukup lama menghilang lalu melihat kembali gadis yang dia cintai seakan sedang memberikan harapan besar padanya membuat Jerome bahagia. Rona merah pada pipi Aurora dan senyumnya yang menawan semakin memikat hati sang vampir yang kini ditubuhnya memiliki darah suci milik Aurora. Kerinduannya selama ini terbayar dengan indah dan Jerome sangat bersemangat untuk merebut hati Aurora.

__ADS_1


"Aku mengerti, baiklah... aku pamit dulu, kamu selesaikan dulu urusanmu dengan ayahmu. Kalian butuh waktu untuk berdua, seperti yang biasa kalian lakukan selama ini" timpal Jerome, pandangan matanya dia alihkan menatap Diego lalu sedikit menundukkan kepalanya seakan dia tahu apa yang diinginkan Diego setelah ini.


"Darimana kamu tahu aku dan ayah... aah iya, lupa. Kamu bisa membaca pikiran... apa ayah ingin berbicara berdua denganku?" tanya Aurora dengan nada kesal, Jerome tertawa lalu kembali berbalik untuk meninggalkan rumah keluarga Varsha.


Jerome membuka pintu ruang keluarga, keluar, lalu menutup lagi pintu itu dengan rapat. Namun Jerome terdiam sejenak didepan pintu masuk ke ruang keluarga, tatapan matanya kini beralih pada sebuah pintu ruang makan yang tertutup. Langkah kakinya dia arahkan pada ruang makan, namun baru beberapa langkah berjalan Jerome membatalkan untuk masuk kedalamnya.


Jerome memutar badan untuk menuju pintu keluar dari rumah, namun ketika itu insting Jerome aktif dan dia langsung kembali berbalik untuk menahan pukulan Arion yang tepat mengarah kepala Jerome. Terlihat Arion dan Jerome saling tatap saat Jerome menahan tangan Arion, keduanya saling tersenyum dengan sinis nya.


"Bagaimana kamu masih bisa hidup?" bisik Arion dengan sindiran


"Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan bahkan sebelum kamu menemukan peluru perak itu dibalik bebatuan, kamu pikir untuk apa kemampuan istimewa ku ini?" timpal Jerome dengan bisikan juga, keduanya saling adu kekuatan sampai membuat keduanya sedikit terlempar ke belakang.


"Asap itu, apa yang mengenai mu saat itu?" tanya Arion lagi


"Gigiku, aku menangkap peluru yang tidak presisi itu dengan gigi. Lain kali buatlah senjata yang lebih baik, kecepatan peluru itu tidak lebih dari sepertiga dari kecepatan ku" sindir Jerome, seketika itu Arion tertawa.


"Aku akan ingat dengan pasti apa yang kamu sarankan" timpal Arion lalu berjalan untuk kembali masuk kedalam dapur rumah keluarga Varsha, sedangkan Jerome berbalik lalu meninggalkan rumah itu.


Disisi lain saat bersamaan, Terlihat Aurora berdiri dan masih memunggungi ayahnya. Setelah membentak, kini Aurora merasa canggung untuk memulai obrolan dengan ayahnya meski Jerome sudah memberikan bocoran jika Diego ingin berbicara berdua seperti biasa saat semua ini belum terjadi. Aurora menarik nafasnya panjang - panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menghancurkan rasa gengsinya. Setelah itu dia berbalik untuk menatap mata ayahnya, namun ketika itu Diego sudah tidak ada dibelakangnya.


Diego terlihat menatap jendela dan memperhatikan Jerome yang berjalan keluar dengan jaket hoodie yang menutup semua kulitnya, semua terlihat normal ketika Aurora dihantui rasa bersalah setelah sebelumnya sempat membentak ayahnya itu.


"Ayah!!! aku pikir kita akan canggung setelah apa yang terjadi pada kita tadi!!" bentak Aurora karena kesal ayahnya seperti tidak memiliki perasaan, tidak ubahnya Diego seperti vampir - vampir itu.


"Hah? memang kenapa kita harus canggung? bukankah ini bukan pertama kalinya kamu membentak ku seperti ini?" tanya Diego datar, karena sangat kesal saat itu Aurora sampai menghentak - hentakkan kakinya.


"Nak, apa kamu serius dengan perkataanmu tadi pada Jerome?" tanya Diego, sejenak Aurora hanya terdiam menatap ayahnya.


"Ada apa? kok kamu diam?" tanya Diego lagi, lalu terdengar Aurora menghela nafasnya.


"Aaah tidak ada, aku serius mengatakannya... bagaimana pun, keduanya terlihat tampan kan? Arion dengan gaya cool khas eksekutif mudanya, Jerome dengan gaya puitisnya. Bagaimana pun aku kesulitan untuk memilih diantara keduanya" jawab Aurora dengan sedikit suara tawa


"Aurora, ayah serius. Apa benar kamu..." belum selesai Diego berkata, Aurora memotongnya.


"Aku harus mencari tahu siapa sosok dibalik tragedi perampokan bank itu, Jerome yang ingin terlihat seperti pahlawan di depanku sekaligus menjebak Arion atau malah Arion yang play victim untuk menjebak Jerome" timpal Aurora terdengar serius

__ADS_1


"Sudah aku duga, anakku memang pintar" timpal Diego dengan bangga


__ADS_2