
"Arion... Jaga Aurora, jangan sampai aku mendengar kamu menghisap darahnya atau aku akan memusnahkan mu" ancam Jerome yang saat itu menahan tubuh Arion disebuah tembok
Tubuh kekar dengan sayap kelelawar yang menancap di bagian punggung Jerome itu kembali kokoh, luka bakar bekas tembakan terlihat pulih dan nyaris tanpa bekas. Tubuh dan otot Jerome saat itu terlihat membesar, lingkaran jarinya pada leher Arion serta tekanan lututnya di dada Arion menekan dengan sangat kuat hingga membuat Arion kesakitan. Keduanya kini terlihat melayang didinding tembok bank yang mengalami beberapa retakan, tubuh manusia Arion diangkat dengan sangat mudah oleh Jerome yang kini memiliki kekuatan besar meski tubuhnya baru saja mati suri. Jerome melakukan itu hanya agar Arion mendengar peringatan Jerome dengan baik.
"Mau apa kamu dengan wujud hampir sempurna mu itu, Jerome?" tanya Arion
Efek darah suci terhadap tubuh vampir Jerome cukup mengejutkan Arion, dia tidak menyangka bahwa sedikit saja meminum darah itu mampu memberikan perubahan yang begitu besar. Arion dapat merasakan kekuatan Jerome berkembang pesat dari rasa sakit yang dia derita akibat tekanan Jerome pada dadanya.
"Aku akan pergi menuju kastil ku, aku harus menahan rasa lapar ku akan darah. Selamatkan Aurora, aku percayakan dia kepadamu atas dasar janji darah antara aku dan kamu" jawab Jerome
Dengan sangat cepat Jerome terbang keluar dari gedung setelah menjatuhkan tubuh Arion begitu saja kelantai, melewati sebuah lubang di atap yang semula dibuat oleh Arion untuk masuk dan menyelamatkan Aurora, saat itu Arion hanya diam dan menatap Jerome yang terbang pergi menjauh. Setelah merasa yakin jika Jerome telah pergi, perlahan Arion berjalan mendekati Aurora yang pingsan di lantai. Namun baru beberapa langkah, sebuah bom asap terlihat terlempar dari luar ke dekat Arion dan Aurora.
Tubuh mungil Aurora yang terkulai tak berdaya itu diangkatnya dengan kedua tangan Arion dan dengan cepat Arion menggendong untuk membawa Aurora ketempat aman, hingga sampailah mereka berdua dibelakang gedung dimana menjadi tempat Aurora untuk masuk kedalam gedung bank demi menyelamatkan Jerome.
Dengan posisi masih menggendong Aurora, Arion pun menendang pintu besi itu dan berjalan keluar dekat dengan lorong antar gedung yang gelap dan lembab. Nafas sang vampir sombong itu memburu, kedua taringnya muncul dari balik bibirnya yang masih dalam wujud manusia. Kedua bola mata yang selalu menampakkan tatapan yang dingin itu mulai memerah Bahkan taring vampirnya sudah terlihat keluar menembus bibir, matanya pun mulai memerah dan tubuhnya juga sudah terlihat bergetar.
Sebuah alat kecil yang menempel pada telinga Arion mengeluarkan suara dan berhasil mengaburkan pikirannya.
***
"Tuan Arion, anda baik - baik saja?" tanya Danilson dari alat kecil yang menempel ditelinga Arion
"Ya Danilson, aku baik. Tapi nafsu vampirku sedang tidak baik, aku minta kamu segera kesini. Aku ada di lorong belakang gedung bank, ini darurat" jawab Arion dengan suara gemetaran
"Dimengerti" timpal Danilson
***
Aurora dengan luka sayatan pada nadi dipergelangan tangannya yang sudah terbalut kain masih mengeluarkan darah segar yang membuat Arion kesulitan untuk menahan nafsu vampirnya. Aroma darah suci Aurora begitu nikmat bagi Arion, aroma darah itu menyengat dan mengganggu Arion dalam setiap tarikan nafasnya.
Dipandanginya tubuh Aurora yang masih dia bopong dengan kedua tangannya, kepala Aurora yang lemas membuat lehernya terlihat dengan jelas dimata Arion yang sudah memerah. Begitu menggoda hasrat sang vampir itu untuk menghisap intisari darah suci Aurora. Kepala Arion tertunduk dan dia dekatkan pada leher Aurora, dihirup nya dengan perlahan aroma tubuh Aurora kemudian bibir Arion mulai terbuka perlahan. Taring sang vampir itu mulai dekat dan nyaris menempel pada leher mulus Aurora namun tidak lama Arion mendengar suara langkah kaki yang berlari - lari mendekatinya.
Suara langkah kaki itu yang membuat Arion tersadar untuk menghentikan keinginan kuatnya menghisap habis darah Aurora, tubuh Arion bergetar hebat kembali setelah dia berhasil mengalahkan hawa nafsunya.
__ADS_1
"Tuan Arion!!"
"Aurora!!"
Suara teriakan Danilson dan Diego yang datang bersamaan berhasil menggagalkan niat Arion, mendongakkan kepalanya perlahan kemudian Arion menarik nafas cukup panjang disertai dengan menutup matanya, lalu Arion mengalihkan pandangan matanya menatap Danilson dan Diego yang berlari mendekatinya dengan mata yang sudah kembali menghitam.
"Syukur mereka datang lebih cepat, aku hampir tidak bisa menahannya. Maafkan aku, Aurora... Aku akan lebih berusaha kedepannya agar tidak menyakitimu lagi... Ini kesalahanku" gumam Arion saat itu penuh penyesalan
Dengan kemampuan Diego memahami dunia vampir, Diego memahami jika Arion akan menjadikan Aurora santapan bagi Arion. Emosi Diego memuncak dan tidak tertahankan, kemarahannya kepada Arion dia lampiaskan begitu saja dengan cepatnya.
"Vampir brengsek!! Apa yang kamu lakukan pada anakku?!" dengan bentakan Diego mengatakannya, tangan Diego juga langsung meremas kerah Arion dengan kuat.
"Tenang, Diego. Kita tidak punya waktu untuk bertengkar karena Aurora harus segera mendapatkan perawatan" jawab Arion dengan tenang
"Apa yang terjadi padanya?!" panik Diego bertanya
"Dia merobek urat nadinya untuk memberikan darah suci kepada Jerome" jawab Arion begitu manipulatif.
"Kamu pikir aku percaya pada kata - katamu?!" timpal Diego penuh amarah, senyum sinis Arion pun terangkat.
"Kau tanyakan saja padanya saat sudah sadar" jawab Arion
Diego pun melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Arion, lalu dia menggantikan Arion untuk membopong Aurora yang terkulai lemas kehabisan darah. Sebuah kain yang menjadi penutup pergelangan tangan Aurora kini memerah karena darah Aurora terus mengeluarkan cairan merah itu. Dengan wajah penuh penyesalan Diego menatap anak semata wayangnya itu, dia sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi pada Aurora.
"Tuan Diego, anda bisa kembali ke mobil kita tadi lalu biar supir membawa anda dan nona Aurora ke rumah sakit. Berharap disana ada cadangan darah yang sama dengan milik nona Aurora" celetuk Danilson memberikan solusi untuk Diego
"Tidak perlu darah lagi, itu adalah salah satu keistimewaan dari darah suci yang dimiliki Aurora" timpal Arion, perkataan Arion menarik perhatian Diego dan Danilson.
Keistimewaan manusia pemilik darah suci memanglah luar biasa, itulah yang menjadi penyebab ras vampir memburu siapapun manusia pemilik darah suci. Tidak hanya untuk melanjutkan keturunan vampir, keabadian yang bisa didapatkan ketika menghisap darah suci membuat vampir rela berperang sesama ras demi mempertahankan eksistensi mereka.
"Apa maksudmu?" tanya Diego
"Darah suci dapat beregenerasi dengan sangat cepat, kamu hanya perlu menutup pendarahannya lalu biarkan Aurora istirahat. Hanya butuh tiga jam bagi dirinya untuk lepas dari anemia parah itu" jawab Arion
__ADS_1
"Benarkah itu, Arion?" tampak tidak yakin Diego atas jawaban Arion
"Tentu, itulah alasan kenapa pemilik darah suci bisa mengandung bayi vampir. Bayi vampir didalam kandungan akan menghisap darah ibu manusianya sampai habis karena naluri vampirnya, tapi hasil itu akan berbeda jika Aurora yang mengandungnya. Aurora dapat menahan derasnya darah yang dihisap oleh bayi vampir karena regenerasinya" jawab Arion yang terlihat berusaha meyakinkan Diego, namun saat itu Diego masih dipenuhi keraguan.
"Sebenarnya aku ingin berlama - lama disini dan membuktikan bersama tentang darah suci itu, tapi sepertinya para polisi sedang menyisir lokasi ini. Jika tidak segera pergi, maka kita akan dicurigai" celetuk Arion memecah keheningan sesaat diantara mereka bertiga
"Ooh benar, ayo tuan Diego. Aku akan mengantarkan anda dan nona Aurora untuk menutup luka di pergelangan tangannya" timpal Danilson
"Sampaikan salamku pada Aurora ketika dia sudah sadar, dan Danilson... Aku tunggu kamu di Gervaso tower" ucap Arion lau tiba - tiba dia menghilang begitu saja
Diego sempat terkejut karena Arion tiba - tiba menghilang sampai rasa penasarannya hilang ketika Danilson mengatakan jika Arion baru saja berlari secepat cahaya untuk menghindari sinar matahari langsung, Danilson lalu meminta Diego untuk cepat - cepat pergi dari tempat itu sebelum terlibat dengan polisi. Keduanya kemudian berlari menyusuri lorong - lorong sempit diantara gedung untuk menuju kesebuah mobil berwarna hitam milik perusahaan Gervaso, dengan mobil itu Diego dan Aurora pergi ke rumah sakit terdekat.
Di Rumah sakit Diego benar - benar hanya meminta perawat untuk menutup luka yang diderita Aurora, dalam hatinya dia ingin membuktikan perkataan Arion dan juga tulisan yang dia baca dari buku hitam tentang vampir yang mengatakan jika darah suci memang memiliki keistimewaan itu. Pihak rumah sakit sebenarnya menolak permintaan Diego dan mengatakan jika Aurora mengalami anemia berat, tapi setelah berdebat hebat pada akhirnya Aurora tidak sampai harus dirawat di rumah sakit.
Hari berganti dan fajar pun menyingsing, Diego yang masih terlihat cemas sampai membuatnya tidak dapat tidur semalam suntuk. Dia duduk disebuah kursi dekat dengan kasur Aurora dimana Aurora terbaring di kasur itu, dan selama malam itu Aurora tidak juga menunjukkan tanda - tanda akan membaik.
Ditengah putus asanya dan keinginan segera membawa Aurora ke rumah sakit, tiba - tiba pagi itu Aurora terlihat meregangkan tubuh seakan dia baru saja akan bangun dari tidurnya. Terkejut lah Diego melihat apa yang ada dihadapannya, setelah mengatur nafas saat itu Aurora menatap ayahnya yang masih menunjukkan keterkejutannya. Ketika mata keduanya bertemu, seketika tangan Aurora menarik selimut lalu duduk meringkuk di kasur sembari bersandar pada dipan kasur.
"Apa yang ayah lakukan disini?!! Kenapa ayah ada di kamarku sepagi ini?!! Ayah!! Aku ini anakmu, jangan mikir yang aneh - aneh!!!" bentak Aurora, apa yang dikatakan Aurora seakan menunjukkan jika Aurora dalam keadaan baik - baik saja.
Melihat anak semata wayangnya baik - baik saja, membuat rasa senang Diego bergejolak. Dia dengan refleks langsung berusaha memeluk Aurora yang terlihat ketakutan dengan tingkah Diego yang dirasa aneh itu, menangis terharu lah Diego saat itu melihat betapa kuatnya Aurora untuk menahannya agar tidak dapat memeluk Aurora.
"Izinkan ayahmu untuk memelukmu, anakku!! Kamu tidak tahu seberapa khawatirnya ayah kepadamu semalaman ini!!" seru Diego penuh rasa bahagia, dengan tangan dan kaki Aurora menahan agar Diego tidak dapat memeluknya.
"Ayah semalaman ada di kamarku?!! Aaa~ sadarlah ayah, aku ini anakmu!!!" timpal Aurora marah - marah
Setelah beberapa saat, Diego pun menjelaskan tentang kesalahpahaman yang dipikirkan oleh Aurora tentangnya. Tapi yang aneh adalah, ketika itu Aurora seakan melupakan apa yang baru saja terjadi diantara dirinya, Arion dan juga Jerome. Hanya detail - detail penting yang dapat Aurora ingat seperti perampokan, dirinya yang masuk kedalam gedung untuk menyelamatkan Jerome, dan terakhir dia yang menyobek urat nadinya agar Jerome tidak mati.
Banyak detail - detail kecil yang Aurora lupakan, saat itu Aurora mengatakan jika dia merasa semuanya selesai begitu saja lalu dia pulang ke rumah dan tidur untuk beristirahat sampai pagi menjelang. Kenyataan itu membuat banyak pertanyaan di hati Diego dan juga Aurora, namun ketika itu rasa penasarannya hilang seketika saat Aurora teringat perkataan Jerome yang mengatakan jika perampokan itu adalah ulah Arion.
Aurora ingin menemui Arion pagi itu, tapi Diego melarangnya dengan alasan Aurora baru saja melewati masa - masa kritisnya. Pada akhirnya setelah melewati perdebatan alot antara anak dengan ayah, diputuskanlah di keesokan harinya mereka berdua akan mendatangi Gervaso Tower untuk menanyakan tentang kecurigaan Jerome terhadap Arion. Berharap Jerome akan datang dan mendampingi Aurora bertemu Arion, tapi saat itu Diego mengatakan jika hanya ada Arion ketika Diego menemui Aurora dibelakang gedung bank. Keberadaan Jerome yang tiba - tiba menghilang begitu saja tanpa kabar, membuat hati Aurora gelisah.
Ingatan terakhirnya tentang Jerome adalah sosok menyeramkan yang berbeda dari apa yang sudah dilihat Aurora belakangan ini, Jerome menjadi lebih besar dan juga lebih mengancam setelah menerima darah suci Aurora. Tapi kemana dia setelah itu, Aurora pun bertanya - tanya dalam hatinya.
__ADS_1